
Setelah berhasil menyelamatkan Ara, mereka melihat sosok misterius di atas atap rumah. Ven bersiap untuk bertarung, namun ternyata sosok itu adalah Daisy Nee-chan, kakak dari Ven. Pertemuan ini membawa kembali ingatan manis dari masa lalu, ketika mereka pertama kali bertemu.
Namun, Daisy Nee-chan terkejut ketika melihat Ven menggendong seorang wanita. Amon, Yuuka, Mika, Dipo, Josse, dan Airi segera mendekati mereka. Josse dan Airi memanggil dengan suara pelan,
"Ven Nii-chan, Ara Nee-chan, kalian tidak apa-apa, kan?"
Ven dengan lembut menyuruh mereka untuk berbicara dengan lebih pelan karena Ara sedang pingsan. Daisy Nee-chan melihat ini dengan ekspresi serius, dan Ven segera mengajaknya ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara.
"Kenapa kau ada di kota ini, Nee-chan?" tanya Ven, penuh kekhawatiran.
Daisy menjawab bahwa ia hanya ingin berlibur dan menikmati acara musik malam. Dia tidak pernah menyangka Ven memiliki bakat menyanyi.
Dipo segera menceritakan insiden dengan Mika yang hampir tidak bisa bangun karena nyanyian Ven. Mika mendengarnya dan langsung mencubit pipi Ven.
Melihat ini, Daisy Nee-chan memeluk kepala Ven erat sekali, hampir membuatnya kehabisan napas. Dipo dan Amon kaget besar dan bahkan sampai mimisan karena khawatir.
Setelah momen yang mengharukan, mereka berpisah. Sebagai tanda persaudaraan, Daisy Nee-chan memberikan Ven lonceng khusus yang dipasangkannya di gagang pedangnya. Setelah itu, Daisy pulang dengan hati yang hangat.
Ven dan teman-temannya kembali ke penginapan dengan perasaan lega. Mereka melewati hari yang penuh kejutan dan akhirnya bisa bersantai sejenak. Namun, mereka tahu bahwa petualangan mereka belum berakhir, dan mereka siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah kembali dari konser, mereka membawa Ara ke tempat tidurnya. Semua orang senang karena Ara mendapatkan hadiah utamanya, Crystal of Light, dan Dipo menyimpannya dalam penyimpanan dimensinya. Ven melihat bahwa Ara sedikit demam karena masuk angin, jadi ia segera mengobatinya dengan cara
menggosok-gosok punggung Ara. Ven meminta Ara untuk membuka bajunya, yang membuat keduanya merasa malu, tetapi ini adalah bagian dari pengobatan. Saat Ven mulai mengobati Ara, secara tidak sengaja, Ara mendesah.
Mika mendengar ******* Ara dan datang ke kamar Ara dengan cepat. Dipo, Amon, dan Yuuka juga segera datang setelah mendengar suara tersebut. Mika terkejut melihat bahwa Ara tidak memakai banyak pakaian dan hanya ditutupi oleh selimut. Ia langsung melontarkan pertanyaan dengan keras,
"Kalian berdua belum menikah, kenapa kalian melakukan hal tidak senonoh itu?"
Ara segera menjelaskan bahwa mereka hanya sedang melakukan pengobatan, dan Ven sedang menggosok-gosok punggungnya untuk meredakan demamnya. Mika merasa malu karena salah paham, lalu bertanya,
"Kenapa kamu tidak menggunakan Taka Elemen Api?"
Ven menjelaskan bahwa Ara hanya masuk angin, dan bukan penyakit serius. Mika kemudian tersipu malu dan kembali ke kamarnya sambil berpikir dalam hati,
"Aku juga ingin merasakan pengobatan seperti itu dari Ven."
Dipo pun muncul dan berkata,
"Mungkin aku juga bisa membantumu, Mika."
Mereka semua kemudian istirahat untuk menghadapi hari besok.
"Ven nii-chan?"
Ven menoleh dan tersenyum sambil mengelus kepala mereka. "Ada apa anak anak?"
Kedua anak itu dengan semangat ingin pergi ke kota berdua. Ven dengan senang hati mengizinkan mereka. Sebelum pergi, Ven memasang tanda pada baju mereka.
"Jika ada apa-apa, kalian cukup panggil aku. Aku akan segera datang jika kalian dalam bahaya."
Ara memberikan sebuah keranjang untuk memudahkan berbelanja. Mereka berdua pergi ke pasar, membeli roti tepung bakpau dan sayuran untuk makan malam.
Tidak sengaja, mereka menabrak seseorang yang menyeramkan. Orang itu mengajak mereka bermain dengan suara aneh. Mereka mulai menyanyikan lagu "Shukusei!!!" dengan semangat.
Se-no
sawattara taiho!
(Ah!) Goku Chu♡ de tenko! (Uh!)
Ichi nii san shii? (Gomennasaai) Haa? ( ゚Д゚) gomennasai ga,
kikoenaai (e〜!) Shukusei! Rori kami rekuiemu☆
Tiba-tiba, muncul hujan panah api dan panah es, serta sebuah kembang api muncul mengarah ke mereka yang ingin menculik Josse dan Airi. Beberapa panah es jatuh ke tanah dan membekukan kaki para penjahat tersebut, sementara panah api membakar baju mereka.
Muncul seorang pemuda bertopeng dengan dua busur silang di tangannya, berpakaian bertopeng, dan tidak lain adalah Ven yang menyamar. Dia dengan gesit menghabisi para penjahat itu dan bertanya pada Josse dan Airi,
"Kalian tidak apa-apa? Sepertinya kalian terkejut dengan apa yang terjadi."
Sambil membuka topengnya, yang membuat mereka tidak terkejut lagi karena hanya Ven yang menggunakan busur silang di tangannya.
"Kami tidak apa-apa," jawab Josse dan Airi dengan senang hati. Ven hampir saja tertawa mendengar lagu mereka.
"Apa yang Nii-chan tertawa kan?" tanya Josse.
"Tidak ada apa-apa kok. Tidak ku sangka kalian juga bisa nyanyi seperti itu, sangat imut," ujar Ven. Josse dan Airi pun merasa malu dengan wajah memerah.
"Ayo segera pulang, yang lain pasti sudah menunggu,"
ajak Ven. Mereka pun pulang dengan selamat. Ven yang kembali sambil menahan tawanya, tahu dengan judul lagu yang mereka nyanyikan, yaitu lagu untuk anak-anak kecil. Ven pun segera membereskan senjatanya yang ia jemur.