Escape With You

Escape With You
Chapter 8



Irina melangkahkan kakinya dengan santai di koridor kelasnya. Dia memakai headseat dan mulai mengikuti nyanyian dengan suara kecil. Selama beberapa detik dia terdiam di depan pintu kelasnya. Irina berencana untuk mendiamkan kedua sahabatnya. Karena mungkin tahu sendiri alasannya.


Irina membuka pintu kelasnya dan melangkah mendekati bangkunya. Dia menyimpan ransel nya di kursi yang kosong disebelahnya. Karena dia duduk sendiri beginilah jadinya hanya di temani oleh ransel. Miris sekali nasibnya.


"Na.. maafin kita dong."melas Gita seraya menggoyang-goyang tangan Irina


Irina tidak bergeming, dia tetap fokus pada ponselnya.


"Na.. maaf... abis nya, kemarin lo lama datangnya."jelas Dewi


Bagaimana Irina tidak kesal dengan mereka. Kemarin hampir saja dia celaka. Sesudah itu yang tambah kesalnya lagi, mereka berdua sudah pulang ketika Irina baru sampai.


"Plis.. Na, maafin kita yah."ucap Gita


"Kita janji bakal turutin apa yang lo pinta. Tapi maafin kita, yaa..."bujuk Dewi


Irina hampir saja tergiur oleh tawaran Dewi. Namun sepertinya keberuntungan datang padanya kali ini, guru sejarah masuk ke kelas dengan membawa seseorang yang berseragam sama seperti mereka.


"Anak-anak kita kedatangan murid baru. Ayo perkenalkan dirimu!"


"Nama saya Ethan, saya pindahan dari kota sebelah. Salam kenal."ucapnya seraya tersenyum manis


Murid-murid di kelas itu langsung histeris karena kedatangan murid cowok yang bening. Wajar saja, selama ini disekolahnya tidak ada cowok yang bening-bening. Sedangkan Irina yang sedari tadi tidak memperhatikan, tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri saat mendengar nama murid tersebut. Dia mengangkat wajahnya dan menatap ke depan. Tatapan Irina bersitubruk dengan Ethan yang juga sedang menatapnya.


"Kamu duduk dengan Irina. Irina acungkan tangan mu."


Irina mengacungkan tangannya.


"Itu dia. Silahkan duduk!"


"Terima kasih, bu."


Ethan memindahkan ransel Irina ke bawah dan menduduki kursi disampingnya.


"Hai."


Irina diam tidak menjawab sapaan dari cowok itu. Dia menggeser buku sejarahnya ke tengah-tengah agar Ethan bisa menyalin


"Irina."panggil bu Tut—guru sejarahnya


"Iya, bu?"


"Nanti pulang sekolah kamu antar Ethan ke perpustakaan untuk mengambil buku."


"Baik, bu."


Irina melanjutkan kegiatannya. Tapi pikirannya berkelana ke tempat lain.


Kenapa cowok can-eh, anim-eh, tau ah! Pokoknya dia bisa ada disini?


".... Na... IRINA!"


Ethan menyenggol sikut Irina. Gadis itu menaikan sebelah alisnya.


"Irina kamu tidak memperhatikan? Ibu tadi bertanya!"


Irina gelagapan, apa yang ditanyakan gurunya tadi? Dia bingung mau menjawab apa, sampai Ethan menunjukan bukunya yang terisi jawaban. Irina melirik Ethan sekilas lalu menjawab pertanyaan dari Bu Tut.


"Makasih."bisik Irina


"Akhirnya lo mau ngomong juga. Sama-sama."balasnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Irina berjalan mendahului Ethan dengan langkah sebal. Niat awalnya yang akan mendiamkan kedua sahabatnya, malah dicuekin balik. Ini tidak adil, Irina terus menggerutu dalam hatinya.


"Rin, santai aja jalannya."ucap Ethan dengan gaya santainya


Irina membuka sepatunya saat akan memasuki perpustakaan.


"Bu, saya antar murid baru mau ambil buku paket."ucapnya pada penjaga perpustakaan


"Oh iya. Ikuti saya."


Irina membalikan badannya dan menatap Ethan. Dia menunjuk guru yang sedang mengambil buku paket di salah satu rak. "Gue balik dulu. Lo ikutin aja ibu itu."


Ethan mencekal pergelangan tangan Irina saat gadis itu akan berlalu. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap padanya. "Makasih."


Irina mengangguk dan melepaskan cekalan cowok itu.


"Gue duluan."


"Iya."ucapnya seraya tersenyum


Irina melemparkan ransel nya sembarangan dan merebahkan dirinya ke ranjang. Rasanya kepala gadis itu akan pecah sekarang. Mengingat pelajaran yang di pelajari di tempat les nya. Dia butuh hiburan. Tapi apa? Kemana? Dirinya juga dilarang kemana-kemana ketika pulang sekolah, harus belajar. Belajar. Belajar dan belajar. Itu semua membuat Irina mual karena terus menerus melihat jejeran angka.


Disekolah belajar. Pulangnya les. Sampai rumah juga harus belajar lagi?teriak batinnya


Irina menghentikan rutukan yang sedari tadi dia gumamkan, karena mendengar teriakan yang menuruhnya untuk turun ke bawah.


Dengan segera Irina mengganti pakaiannya. Dan menuruni tangga dengan tergesa.


"Ada apa mah?"


"Mamah tadi buat puding, coba kamu cicipin!"


Irina menghela napasnya lega. "Irina kira ada apa. Oh iya, kak Sena sama bang Sat kemana?"


Aleta memotong puding berwarna cokelat itu dan meletakannya di piring kecil. "Kamu tahu mereka sibuk. Nih makan!"


"Enak."komentar Irina saat memakan puding buatan ibunya.


"Nanti kamu tolong beliin mamah bahan untuk membuat bolu ke toko yang di depan komplek, ya!"


Irina menganggukan kepalanya. "Tapi Irina mau nyetir sendiri aja, ya?"


"Gak boleh. Nanti mang Udin anter!"tegas Aleta. "Kalo gitu pudingnya abisin dulu. Mamah mau bawa uang nya dulu."


"Iya, ma."


Aleta kembali ke dapur saat sudah mengambil uang dan kertas yang bertuliskan semua bahan.


"Nih uang sama daftar belanjaannya."


"Iya. Ngomong-ngomong, mamah tumben mau bikin bolu?"heran Irina


"Masa kamu lupa, besok 'kan ulang tahun kakak mu Sena."jelas Aleta


Irina menghela napasnya. Oh iya, dia lupa kalau besok adalah peringatan hari lahirnya 'putri kesayangan ayah'.  "Yaudah mah, Irina berangkat dulu, ya."


"Iya, hati-hati. Sayang..."


Irina melangkah dengan gontai menuju teras rumah. Tanpa memperdulikan tampilan nya, yang hanya memakai celana selutut dan kaus yang kebesaran. Irina meminta mang Udin untuk mengantarnya ke toko depan.


Irina memangku dagu nya di tangan, seraya menatap ke luar jendela dengan muka di tekuk.


Giliran Sena aja, pada inget. Lah, gue?


Trililili...


"Neng itu ponselnya bunyi dari tadi."ucap mang Udin.


Irina tersentak dari lamunannya dia mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo."


"Na. Bu Windi udah nanyain lo! Kenapa lo gak masuk-masuk selama dua pertemuan?"


"Ck. Lex, lo tau keadaan gue gimana! Akhir-akhir ini gue sibuk sama les Matematika."


"Tapi lo banyak ketinggalan disini. Padahal talenta lo bagus."


Mang Udin yang mendengar percakapan itu. Menatap miris pada nyonya muda nya itu. Kasihan sekali, anak itu pasti banyak beban pikiran. Begitulah kira-kira pemikirannya.


"Mang Udin. Emm... Irina bisa minta tolong gak?"tanya Irina ragu


"Minta tolong apa atuh neng?"


"Mang Udin aja yang belanja gimana? Irina turun aja disini, bilangin ke mamah atau papah Irina kerja kelompok. Soalnya ada telepon mendadak."


Mang Udin ragu-ragu untuk menjawab perkataan Irina.


"Gimana mang, bisa 'kan? Plis..."


"Yaudah atuh neng. Tapi neng Irina mau saya antar dulu?"


"Gak. Gak usah deh mang. Irina bisa kok sendiri."yakin Irina


Mobil menepi di pinggir jalan. Irina membukakan pintu mobil. Mang Udin menurunkan kaca mobilnya.


"Yakin neng mau sendiri?"tanya mang Udin


"Yakin kok. Yakin seratus persen malah! Mang Udin cepetan jalan, soalnya di tunggu mamah!"


Bukan apa-apa Irina menyuruh mang Udin agar cepat dari sana, tapi masalahnya lima menit lagi Alex datang menjemputnya.


"Yaudah saya pamit dulu. Neng Irina hati-hati."


Irina menganggukan kepalanya. Suara klakson motor mengalihkan pandangannya.


"Na... ayo buruan!"ucap Alex


"Santai aja napa sih.."gerutu Irina seraya menaiki motor yang agak tinggi itu. "Yuk.. jalan mang!"


"Mang-mang. Emang gue tukang baso, apa?"gerutu Alex yang mulai menjalankan motornya.


"Bukan. Tapi lo itu, tukang ojek."


"Sialan, lo!"ucapnya seraya melajukan motor dengan kesal.


-Tbc


Pendek, iya tau!


Maaf kalo masih ada typo nya, gaes...


Tapi thor juga lagi berusaha kok... ya walaupun thor sekarang lagi gak enak badan... tapi thor setrong kayak batmana... oke see you next chapter... bhubhay...