
Irina mengigit bibir bawahnya. Dia menundukan kepalanya seraya memainkan kukunya. Gigitan Irina terlepas saat mendapatkan cubitan di pipinya. Dia menatap orang yang berada tepat berjongkok di depannya karena Irina duduk di tepi ranjang.
"Kamu cuma boleh senyum jangan sedih."ucapnya
Irina menatap sepasang bola mata itu. Dia merasa tersirat nada sedih di kalimatnya barusan. Apakah Ethan marah padanya? Ya, orang yang sedang berjongkok di depan Irina adalah Ethan. Irina kaget setengah mati saat Ethan masuk ke kamarnya lewat balkon.
"Kamu, marah?"tanya Irina.
"Kenapa aku harus marah? Dia cuma temanmu 'kan."
Ethan memang berbicara seperti itu. Namun Irina sangat yakin kalau dirinya marah, bukan lebih tepatnya kecewa.
Ethan mengusap kepala Irina dan turun ke pipi gadis itu. Irina hanya diam tidak bergerak. Tubuhnya seperti tersengat panas matahari saat cowok itu mengelus pipinya secara perlahan.
"Besok, aku jemput kamu jam sepuluh malem."ucapnya seraya menatap intens Irina.
Irina mengangguk. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Maklum saja Irina belum berpengalaman sama sekali, dia biasanya hanya berteman dan tidak lebih. Irina menatap Ethan dengan pandangan memuja sama seperti orang lain. Tapi biarlah, mungkin sekarang wajahnya sudah terlihat konyol.
"Mau kemana?"tanya Irina setelah sekian lama
"Kamu tadi udah setuju sama tawaran aku."ucap Ethan
Ethan berdiri dari posisinya. Dia duduk di samping Irina.
"Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu."ucap Ethan membuat Irina menoleh padanya.
"Apa?"tanya Irina
"Ikut aku."ucap Ethan berjalan ke arah balkon
Irina diam memperhatikan Ethan yang langsung meloncat dari balkon. Angin malam menerpa kulit Irina, dia menggosok-gosokan telapak tangannya seraya melongokan kepalanya ke bawah balkon.
"Mau loncat?"tanya Ethan di bawah sana
"Emangnya mau kemana?"
"Ke gudang belakang."jawab Ethan seraya menengadahkan kepala karena Irina berada di balkon.
"Kamu tunggu aja disana. Aku mau ambil jalan belakang."ucap Irina yang diangguki oleh Ethan
Irina kembali ke kamarnya dan mengenakan jaket. Irina sedikit malu karena Ethan datang disaat dirinya sedang tidur. Irina suka memakai gaun tidur tanpa lengan dan sepanjang lutut. Dia mengendap-ngendap melewati tangga.
Irina mengunci pintu belakang rumahnya saat dia berhasil. Dia tersenyum saat Ethan sudah berada di dalam gudang. Irina menutup pintu gudang itu secara perlahan dan menguncinya dari dalam.
"Mau tunjukin, apa?"tanya Irina penasaran
Ethan tersenyum lembut. Dia mengelus pipi Irina yang duduk di sebelahnya.
"Kamu ingat aku pernah bilang, di dunia ini gak ada yang gratis. Jadi nanti aku minta bayarannya."
Irina mengangguk karena dia sudah sangat penasaran apa yang ditunjukan Ethan. Ethan berjalan ke arah belakang, dia membuka kain berwarna hitam yang menutupi sebuah benda. Irina membelalakan matanya terkejut saat melihat benda tersebut. Dia menangkup mulutnya dengan tangan.
"I-ini beneran? Jadi waktu itu papa gak... aku gak percaya ini."lirih Irina
Sebuah piano yang terlihat sudah lama itu terpampang jelas di hadapannya. Itu adalah piano yang suka dimainkan oleh neneknya saat Irina masih kecil. Irina sangat menyayangi piano tersebut, namun ayahnya malah akan membuang piano itu.
"Makasih."ucap Irina tulus
Ethan tersenyum seraya mengelus puncak kepala gadis itu.
"Ngomong-ngomong, kamu tau darimana kalo aku suka musik."
Irina tersenyum canggung seraya menggaruk lehernya.
"Kenapa kamu gak bicara aja sama papa kamu, kalo kamu gak suka sama bisnis."
Irina terdiam. Darimana Ethan tahu, bukankah Irina belum memceritakan apapun tentang dirinya.
"Aku tau semua tentang dirimu, dari temanmu itu."ucap Etha menjawab kebingungan dari Irina.
"Kapan kamu ketemu Alex?"tanya Irina seraya menelan ludahnya.
"Aku nyamperin dia di kafe,"Ethan mendekatkan wajahnya ke telinga Irina. "Aku mau minta bayaranmu sekarang."
"A-apa?"
Ethan berjongkok di depan Irina dan meletakan tangannya di samping tubuh gadis itu. Dia menatap Irina dalam.
"Aku mau ambil senyuman mu itu sekarang."
Irina menahan napasnya saat mendengar perkataan dari Ethan. Tangannya saling meremat satu sama lain di pangkuannya. Jantungnya berdetak cepat saat Ethan mulai mendekatkan wajahnya. Irina tidak tahu harus apa, dia bingung. Hembusan napas Ethan menerpa hangat wajahnya membuat Irina memejamkan matanya erat.
Cup
Irina membuka matanya saat ada sesuatu yang hangat menempel di dahinya. Ethan menyudahi kecupannya, dia menyatukan keningnya dan Irina.
"Mungkin, masih belum."bisik Ethan
Mata mereka saling beradu dengan kening yang masih menyatu. Ethan menjauhkan dirinya dan mendudukan dirinya di samping gadis yang masih menormalkan detak jantungnya.
Ethan terkekeh, dia membawa Irina kepelukannya. "Kalo malu peluk aja aku."
Irina tersenyum malu. Jantungnya masih berpacu cepat dan yang paling membahagiakan baginya adalah jantung Ethan pun sama berdetak dengan kencangnya.
______________________________
Irina bernyanyi kecil seraya menyapu lantai kelasnya. Irina terjerembab ke lantai saat ada seseorang yang mendorongnya. Irina mendongakan kepalanya. Cowok yang pakaian sekolahnya jauh dari kata rapi. Irina tahu kalau cowok tersebut adalah biang onar di sekolahnya. Irina bangkit lalu menepuk-nepuk rok nya.
"Ada apa?"tanya Irina
Cowok itu hanya diam memandangi Irina. Membuat gadis itu merasa salah tingkah. Bukan salah tingkah karena baper, tapi karena bingung.
"Nama gue, kemal. Lo mungkin udah kenal."ucapnya setelah itu melenggang pergi keluar dari kelas Irina.
Irina menatap aneh cowok yang sudah pergi dari kelas itu.
"Dasar."gumamnya lalu melanjutkan piketnya.
Kok, namanya berasa familiar, ya?
-Tbc
Maaf pendek...
Selanjutnya thor bakalan bikinin yang panjang, kok...
Thor nya lagi busy sama tugas yang diberikan yang mulia ratu...
Maaf kalo ada typo,dll...
See you next chapter... bhubhay...