Escape With You

Escape With You
Chapter 13



Sejak satu hari dimana Irina tanpa sadar menerima penawaran gila dari Ethan dan hari dimana kejadian yang memacu adrenalin itu terjadi, hidup Irina tidak lagi sama.


"Rin, nanti kalo lo jengukin gue di gudang bawa makanan yang banyak ya!"bisik Ethan pada Irina yang sedang memperhatikan papan tulis.


Itu bukan permintaan tapi perintah. Yang dimaksudkan hidup Irina tidak sama lagi adalah, cowok itu seperti menjadikan Irina pelayan nya. Baru tiga hari Ethan tinggal di gudang belakang rumahnya, namun hati Irina sudah terkuras habis karena rasa kesal.


"Rin jawab dong."bisiknya lagi seraya menyiku tangan Irina.


"Huft... lo sebenernya ngapain pake tinggal di gudang rumah gue segala, nanti kalo bokap gue tau bisa-bisa mati gue."lirih Irina


"Karena menurut gue tempat itu yang paling aman."ucap Ethan tenang


"Kan rumah lo juga pasti aman. Atau jangan-jangan lo gak punya rumah lagi?!"


Keheningan terjadi. Hanya terdengar penjelasan dari guru yang menerangkan. Irina merasa tidak enak hati telah mengatakan itu, dia mengigit bibir bawahnya.


"Than..."


Ethan tidak menjawab. Raut mukanya tidak bisa di tebak, cowok itu hanya menatap lurus papan tulis.


Tetttt


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Guru bahasa jepang mengakhiri pembelajarannya.


"Na, lo mau ikut main gak sekarang?"tanya Dewi seraya menyampirkan ranselnya.


"Kayaknya nggak deh, gue mau les soalnya."


"Yahhh... jadi gimana dong."lirih Gita


"Kalian main aja berdua."ucap Irina


Irina menoleh saat memdengar decitan dari kursi. Dia menatap Ethan yang sudah berjalan santai ke arah pintu, namun ada seseorang yang menghalangi jalan cowok itu.


Samar-samar Irina bisa mendengar percakapan mereka.


"Kak, kenalin nama aku Bunga."


"Oh, hai."


Dewi menepuk bahu Irina membuat gadis itu terlonjak.


"Wah Na, kayaknya tuh adek kelas mau saingan sama lo!"ucap Dewi


"Tenang aja Na, kita pasti bakal bantu nyingkiran adek kelas itu."sambung Gita dengan semangat yang menggebu-gebu, seraya memegang bahu Irina.


"Apaan sih kalian,"Irina menyingkirkan kedua tangan yang berada di bahunya. "Gue duluan. Mang Udin udah jemput."


Kedua sahabatnya itu menganggukan kepalanya. Irina melangkahkan kakinya keluar kelas, dia menengokan kepala ke kiri dan kanan.


Ada apa sama Ethan?


Pertanyaan itu terus menghantuinya bahkan saat dirinya sudah memasuki mobil. Irina menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Dia memejamkan matanya untuk menikmari lagu yang sedang berputar di headseat nya.


"Neng udah sampe."suara mang Udin membuat mata Irina terbuka, dia melihat sekitarnya.


"Oh iya mang. Makasih, ya."ucap Irina seraya membuka seat bealt.


Irina mengetuk jendela mobil saat mang Udin belum beranjak dari sana. "Mang nanti jemput jam tujuhan aja, soalnya waktu les ditambahin."


"Siap neng. Saya pasti datang tepat waktu."ucap mang Udin


Irina menatap mobil mang Udin yang sudah jauh dari tempat les matematika nya. Dia membalikan badan menatap gedung les yang besar itu kemudian beralih menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Masih jam lima sore, Irina melangkahkan kakinya menjauh dari gedung itu rencananya dia mau membolos hari ini. Mungkin Irina memang terlalu sering membolos.


Meong


Suara kucing membuat Irina menghentikan langkahnya. Dia melirik sekitarnya, namun tidak menemukan kucing itu. Suara kucing itu muncul kembali namun kali ini suara itu sangat jelas berada di atas. Irina mendongakan kepalanya, netra Irina menangkap seekor kucing kecil yang berada di dahan pohon, sepertinya kucing itu tidak bisa turun.


"Pus kamu lagi apa disana? Ayo turun,"Irina merentangkan tangannya seraya mengajak kucing itu bicara. "Jangan-jangan gak bisa turun, ya?"


"Lo beneran mau manjat?"tanya orang yang berada di belakang Irina dengan satu tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya.


"Ethan,"Irina membalikan badannya, membuat cengkeraman itu terlepas. "Lo ngapain di sini?"


"Gue lagi jalan-jalan aja."jawabnya. Memang benar penampilan Ethan sekarang sangat kasual tidak memakai seragam sekolah.


"Lo beneran mau manjat?"tanyanya lagi


"Beneran lah. Gini-gini gue juga ahlinya panjat memanjat."ucap Irina menyombongkan diri, dia melangkahkan kakinya untuk mendekati pohon itu namun Ethan menahan tangannya lagi.


"Biar gue aja. Selagi ada cowok kenapa harus sama cewek? Lagian lo pake rok, bahaya."


Dengan mudahnya kucing itu sudah beralih ke pangkuan cowok itu. Irina mendekati Ethan, dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kucing itu. Namun bukannya menyambut, kucing itu mencakar tangan Irina dan berdesis.


"Aduh... kucing lo itu gimana sih, 'kan dari awal gue yang mau tolongin lo... lo kok malah cakar gue."gerutu Irina seraya mengusap tangannya.


"Lo tuh ternyata bodoh, ya."ucap Ethan seraya melepaskan kucing itu.


Irina membelalakan matanya. "Bo-apa?"


"Bodoh. Lo ngapain bolos les lagi?"


"Suka-suka gue lah.."


"Gue tau, pasti lo mau les musik 'kan jadi bolos di les yang ini."tebak Ethan dengan gaya yang menyebalkannya.


Irina menulikan pendengaran, dia berjalan melewati cowok itu.


"Rin..."panggil Ethan


Irina membalikan badannya seraya menaikan sebelah alisnya.


"Tentang omongan lo soal gue gak punya rumah... itu bener."ucapnya seraya tersenyum


Deg!


"Tapi setidaknya gue punya tempat untuk berpulang."lanjut cowok itu seraya mendekati Irina yang diam mematung.


Ethan berdiri tepat dihadapan Irina, dia sedikit membungkukan badannya agar sejajar dengan tinggi gadis itu.


"Tapi gue gak bisa pulang sekarang. Jadi gue masih mau numpang di gudang lo."Ethan mendekatkan wajahnya ke telinga Irina. "Lagipula gue udah tahu di mana balkon kamar lo!"


Ethan menegakan badannya dan mundur satu langkah seraya memasukan sebelah tangannya ke saku celana.


"Meski lo gak ijinin gue tinggal di gudang lo, gue tetep bakalan maksa lo!"


Irina mengrut pangkal hidungnya. Kenapa cowok cantik ini sangat pemaksa. Bukan maksud Irina melarang, tetapi dia takut kalau keberadaan Ethan diketahui oleh ayahnya. Bisa-bisa Irina diterkam dengan omongan pedas dari ayahnya.


"Huft... terserah lo aja, deh."Irina membalikan badannya dan berniat pergi dari sana, namun siku tangannya di cekal oleh cowok itu.


"Beneran nih? Wih, yaudah entar jam delapan malem jangan lupa jengukin gue, sama bawa cemilan yang banyak! Gue pergi dulu."


Irina menatap punggung Ethan dengan datar. Ingin sekali dia menampol kepala cowok itu. Kenapa sifatnya harus semenyebalkan itu.


Inginku berkata kasar!


-Tbc


Maaf pendek gaes....


Thor lagi ngerjain tugas dari yang mulia ratu dulu...


Maaf kalo ada typo dll.. gaes...


See you next chapter... bhubhay...