
Irina bernyanyi kecil seraya merapihkan riasan wajahnya. Dia menepuk-nepuk dress nya agar terlihat rapih. Dia menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Kadang dia terkekeh geli saat mengingat wajah kaget Satria saat diminta jadi tukang bakso oleh Irina.
"Gue mau, asalkanโโ"
Satria menatap Irina dengan senang sebelum akhirnya mengerutkan keningnya.
"โโlo kesananya jadi tukang bakso!"
Jedarr
"What? Lo gila?"pekik Satria, air mukanya tampak frustasi
"Gue waras, kok. Mm.. kalo lo gak mau yaudah ga--"
"Masa lo tega sih sama gue?!"potongnya frustasi
Irina mengulum senyumnya. Lalu dia memincingkan matanya menatap kakaknya.
"Oke, gue mau. Asalkan lo harus turutin apa yang gue perintahin!"ucap Irina mutlak
Satria mendesah pelan. Tangannya terulur mengacak rambutnya. Dengan ragu Satria mengagguk, syarat yang itu lebih baik daripada harus hadi tukang bakso ke acara pertunangan mantannnya.
"Oke, deal!"
Dengan langkah riang Irina menuruni tangga, sudah ada Satria yang menunggunya disana. Cowok itu tampak tampan dengan penampilannya.
"Yo bang Sat... gue udah selesai."teriak Irina seraya mendahului menaiki mobilnya.
Satria menghela napas kasar. Cowok itu memutari mobil dan duduk di kursi pengendara. Sedetik kemudian Satria mendelikan matanya pada Irina. "Na. Lo ngapain duduk di belakang?"
"Lah... biarin dong gue mau duduk di belakang kek, di atas kek atau diluar, itu bukan urusan lo!"sungut Irina
Satria mengusap wajahnya kasar. "Na, kita datang kesana mau jadi pasangan, bukan supir sama majikan!"
"Bacot, ah."Irina menyumpal kedua telinganya dengan headseat
Lagi-lagi Satria meghela napasnya kasar, dia menatap Irina sekilas sebelum menjalankan mobil. Biarkanlah dari pada dia sendiri datang kesana, mending begini saja.
______________________________
Mobil menepi di salah satu hotel berbintang lima. Pertunangan memang diadakan di hotel. Satria memarkirkan mobilnya, mereka turun dari mobil. Irina turun dari kursi penumpang sedangkan Satria dari kursi supir, membuat orang yang berlalu lalang menatapnya aneh.
"Kali ini jalanin peran lo dengan baik!"ucap Satria seraya menggandeng tangan Irina
Irina memutar bola matanya malas. Dia menyelipkan tangannya ke tangan Satria yang sudah di tekuk. "Iya ah, dasar bawel. Yo buruan, gue mau cepet pulang!"
"Baru juga sampe Na..."
"Bodo, ah."
Satria meringis. "Nyesel gue ajak lo."
Suara musik langsung terdengar saat mereka mulai memasuki hotel. Irina berjalan beriringan dengan Satria. Kakaknya itu mengeratkan pelukan di pinggangnya saat akan menyapa mempelai.
"Hai."ucap Satria
"Hai, bro. Gimana kabar lo?"tanya mempelai pria itu seraya menatap Irina
"Baik. Tapi btw, gue disini lho..."
Irina yang di tatap seperti itu tidak nyaman. Dia menghela napasnya gusar, dalam hati dia merutuk dirinya sendiri karena ikut dengan kakaknya. Apalagi sekarang dia seperti kamcong karena tidak mengenal siapapun, Satria juga malah asik mengobrol tanpa memperdulikannya. Dia menyikut lengan kakaknya agak kencang, membuat cowok itu menoleh dengan menaikan sebelah alisnya.
"Gue mau ke toilet dulu."bisik Irina
"Mau gue anter?"tanya Satria
"Gak usah deh."ucapnya setelah itu pergi dari kerumunan kakaknya.
Irina mundur dari kerumunan. Dia memilih tempat yang kosong dan tidak banyak orang. Rasanya risih saat merasa tatapan orang-orang yang menilainya. Irina mengambil segelas jus jeruk, dia meminumnya perlahan.
Ekhem
"Puas ngeliatinnya?"tanya orang itu yang tiba-tiba menoleh pada Irina.
Irina mengerjapkan matanya. "E-eh... maaf."
Orang itu terkekeh. "Hem. Keliatannya lo lupa sama gue."
"Hah?"Irina mengingat-ngingat kembali wajah orang itu. "Siapa?"
"Gue, Kemal."
Lagi dan lagi dia merasa familiar dengan nama itu. Irina menyernyitkan keningnya kembali, dia menghela napasnya kasar saat tidak ada tanda-tanda mengingat orang ini. Kenapa penyakit pelupanya makin parah? Irina menggerutu dalam hati.
"Lo sama siapa ke sini?"tanya Kemal memecahkan keheningan di antara mereka
"Sama abang."
Keheningan terjadi antara mereka berdua. Irina sedang berusaha mengingat nama yang sangat familiar itu, sedangkan Kemal sedang memperhatikan wajah Irina dengan lekat.
"Cantik."bisik Kemal
Irina menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. "Gue tau kalo gue cantik."
Kemal terkekeh geli, dia tidak menyangka jika gadis itu mendengar bisikannya. Irina memalingkan lagi wajahnya dia menyesap jus yang sudah setengah gelas itu.
"Gue permisi dulu, ya."
Irina mengangguk saat Kemal berpamitan padanya. Toh, niat awalnya dia berdiri disini karena tidak mau banyak orang yang menatapnya ataupun suara bising yang memuakan baginya. Irina menyesap kembali jus hingga habis tidak tersisa. Dia menatap datar kakaknya yang sedang asik bercanda ria bersama teman-temannya dan melupakan dirinya disini seperti bocah yang tersesat di tengah-tengah pasar.
"Ck. Nyesel gue ikut lo, bang!"sungutnya seraya menatap bengis Satria yang sedang tergelak bersama teman-temannya
Irina menghela napas kasar. Dia pergi keluar hotel dengan langkah jengkelnya. Irina terus merutuk kakaknya dalam hati. Entah sudah berapa kali dia berdecak hari ini. Irina memutuskan untuk duduk di bangku taman. Semilir angin malam membuat dia meremang. Irina menggosok-gosok telapak tangannya agar lebih hangat. Gadis itu mendongak menatap bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Dia tersenyum tipis, langit malam ini sangat indah menurutnya.
Irina tersentak saat sebuah jaket menyampir di bahunya.
"Lo ngapain kesini?"tanya Irina
"Sumpek aja. Lagian gue gak terlalu suka keramaian."jawab Kemal
Ya benar. Orang yang baru saja menyampirkan jaket pada Irina adalah Kemal. Cowok itu duduk di samping Irina.
"Bintang malam ini, indah ya."gumam Kemal
"Hm."
Kemal tersenyum kecil. Dia menatap gadis itu dari pinggir. Rupanya gadis itu memiliki indera pendengaran yang tajam hingga bisa mendengar gumaman nya. Namun hatinya kembali terkekeh sinis saat tahu kalau ingatan gadis itu sangatlah buruk.
"Na-,"
"Gue duluan, abang gue udah nyariin."ucapnya sebelum meninggalkan Kemal dan memberikan jaket yang tadi cowok itu pinjamkan.
Kemal menerbitkan senyum manisnya dengan mata yang masih menatap punggung Irina yang menjauh. Namun matanya berkilat lain, ada hal yang mencurigakan dalam dirinya.
"Wah-wah... gadis yang menarik!"
-Tbc
Halo gaes...
Gimana sama chap ini?
Berikan terus dukungan kalian ya gaes...
Jangan jadi pembaca gaib aja๐๐๐
Gak rugi kok...
Maaf kalo ada typo,dll...
See you next... bhubhay...