Escape With You

Escape With You
Chapter 33



Layar 24inc terpampang di hadapannya, pria paruh baya yang masih bersetelan jas kantor itu menopang dagunya menyaksikan rekaan ulang dari percakapan dengan pemuda yang bernama—Ethan.


Sebenarnya ada rasa kagum, ketika pemuda itu menjawab perkataanya dengan nada tenang. Dan bahkan pemuda tersebut membuatnya tidak bisa berkata-kata kembali.


"Pernahkah anda menanyakan perasaan Irina atau memahaminya?"


Pertanyaan itu cukup mengganggu pikirannya. Aldi mengurut pangkal hidungnya, dia merasa tidak ada yang salah dari sikapnya pada Irina. Dia hanya ingin yang terbaik bagi putrinya benar, bukan?


Aldi bukanlah orangtua yang tega memutuskan hubungan secara drastis. Dia cuma berpikir bahwa mereka masih terlalu muda untuk itu. Mereka belum benar-benar mengerti apa itu hubungan yang sebenarnya. Oleh karena itu, Aldi hanya ingin menjaga putrinya agar tidak sakit hati.


"Irina suka main piano, gimana kalo jurusan seni atau musik?"


Sial. Perkataan dua pemuda itu terngiang ditelinganya. Aldi mengambil napas dalam. Bagaimanapun yang terbaik bagi putrinya adalah apa yang dia pikirkan saat ini.


'Kita lihat saja perkembangannya.'batinnya.


______________________________


"Ethan!"


Tidak dapat dipungkiri kalau keberadaan Ethan di belakang gudang rumahnya lagi membuat dirinya tersenyum konyol. Tadi Irina mendapatkan pesan dari cowok itu untuk segera menemuinya di gudang, dan tanpa pikir panjang dia berlari kesini.


Senyum Irina memudar kala mendapatkan wajah Ethan yang tidak terbilang baik-baik saja. Setelah cowok itu tidak menghubunginya seharian, dia datang dengan wajah yang babak belur. Irina menghampiri Ethan dengan raut yang khawatir, tapi justru cowok itu malah tersenyum padanya.


Ethan tersenyum geli melihat sendal bulu yang dipakai Irina. Matanya berkunang-kunang saat nyeri di kepalanya terasa kembali.


"Ethan,"Irina mengunci pintu gudang itu, dia duduk dihadapan Ethan dengan khawatir. Irina memekik saat menyadari ada darah di dahi cowok itu. "Kamu kenapa?"


Ethan yang awalnya menutup mata dengan napas yang terputus-putus. Membuka matanya dan menunduk menatap Irina, dia menyunggingkan senyumnya walau perih menimpa sudut bibirnya.


"Hai."


"Siapa yang ngeroyok kamu lagi?" Irina bertanya seraya membaringkan tubuh Etha di sofa.


"Wangi,"bisik Ethan. "Rambut kamu."


"Tunggu sebentar!"Irina berlari ke rumahnya, dia membawa kotak P3K dan sebaskom air hangat. Irina mengunci pintu kembali.


"Ethan."panggil Irina khawatir


"Iya,"sahut Ethan dengan mata yang masih tertutup. "Masih hidup kok."


"Nggak lucu."sungut Irina seraya menekan kapas dengan keras di kening cowok itu yang luka.


"Sakit, sayang..."Ethan meringis


"Aku gak suka!"


"Katanya waktu itu suka..."


"Aku gak lagi bercanda,"Irina membuang napas kesal. "Aku gak suka kalo kamu luka kayak gini."


Saat Irina mengambil plester, Ethan bangkit dan duduk bersandar.


"Aku juga. Aku sakit kalo kena pukul. Tapi enaknya ada kamu yang ngobatin," Ethan mengusap puncak kepala Irina. "Beruntung banget yah, aku..."


Irina harus berdiri diantara kaki Ethan untuk menyamakan tinggi mereka. Dia membuka plester dengan gumaman.


"Tapi tiap kali kamu luka, aku juga ngerasa sakitnya..."


Irina melanjutkan membersihkan luka lainnya dalam diam. Karena Ethan juga terdiam, meski tatapan cowok itu tak pernah lepas dari wajahnya.


Barulah saat Irina sudah selesai mengobatinya, Ethan menangkap tangan gadis itu dan membawanya ke sebuah genggaman.


"Aku janji gak akan kenal pukul lagi. Aku gak mau kamu sakit,"


"Jangan berantem lagi."


"Aku gak berantem. Mereka yang mulai duluan, aku cuma ngebela diri..."


"Kemal, lagi?"


Ethan mengangguk membuat Irina menghela napasnya pelan.


"Apapun alasannya, kamu gak boleh berantem lagi."


"Kecuali kalo kamu lagi dalam bahaya,"


"Ethan."


Irina memukul bahu cowok itu karena malu, membuat Ethan kembali meringis.


"Maaf-maaf... kamu, sih..."


"Kok jadi aku?"


"Ngomongnya kemanisan."


"Tapi kamu suka 'kan?"


Irina menggeleng walau bibirnya mengulas senyuman membuat Ethan tidak tahan untuk mencubit pipinya.


Ethan menarik Irina untuk duduk disampingnya. Sebelah tangan Irina masih dia mainkan.


"Kamu punya rencana setelah lulus?"tanya Irina setelah terdiam beberapa lama.


Ethan menggeleng sebagai jawabannya.


"Gak mungkin kamu terus-terusan lari dari kejaran Kemal sama anak buahnya 'kan?"


"Iya,"Ethan memainkan jari-jari Irina. "Kalo rencana kamu apa?"


"Buat apa?"Irina tersenyum miris, dia jadi teringat akan perkataan pedas ayahnya. "Orang papa aku--"


"Aku tanya rencana kamu, bukan ayah kamu."


Irina menyandarkan punggungnya di sofa. Ethan pun mengikutinya. Membuat tangan mereka menempel.


Irina menaikan kakinya agar bersila. "Aku pengen masuk kuliah jurusan seni. Nanti bisa main piano setip hari, aku juga pengen punya studio musik sendiri..."


"Kayak Bunda Indah?"


Irina mengangguk antusias. "Nanti semua muridku gak usah bayar iuran, mereka bisa belajar musik gratis. Bisa make alat musik di studioku kapan aja..."


Ethan tersenyum. Cowok itu mengeluarkan ponselnya beserta earphone. Memeriksa isinya sebelum menjulurkan tangan.


"Sini deketan,"


Ethan menyibak lembut rambut Irina, dan memakaikan earphone pada telinga gadis itu.


Sejenak Irina mendengarkan, alunan musik dari gitar akustik menenangkan. Dia menoleh menatap Ethan.


"Penting untuk punya tujuan yang mau kamu capai, gak peduli sesulit apapun itu. Biar waktu aja yang nentuin,"Ethan balas menatap Irina seraya tersenyum. Cowok itu meletakan telapak tangannya di kepala Irina. "Tapi, selagi kamu punya impian. Hidup kamu gak akan pernah mati."


Mau tidak mau Irina harus berpikir kembali. "Kalo kamu gimana?"


"Beberapa waktu yang lalu sih, nggak."


"Kalo sekarang?"


Ethan kembali memainka jari-jari tangan Irina. "Aku mau liat kamu main musik. Punya banyak murid. Pasti mereka bakal manggil ibu guru Irina. Dan pastinya kamu bakalan tambah cantik sampai buat aku pusing."


Irina tertawa. Bukan jenis tawa saat bersama keluarganya. Tapi tertawa karena hatinya sangat tersentuh hebat.


"Kenapa?"tanya Irina, bertepatan dengan lagu yang mereka putar sampai reff.


Irina menatap Ethan dalam diam. Sedangkan cowok itu sedang tersenyum lembut padanya. Dengan terburu Irina mengalihkan pandangannya ke depan sebelum dia benar-benar meledak.


Ethan melepaskan earphone yang tergantung di telinga Irina, supaya bisa berbisik. "Udah di jawab sama lagu."


Beruntunglah saat itu Irina tidak meleleh karena kehangatan yang diberikan Ethan.


-Tbc


Maaf pendek🙏🙏


Besok-besok thor panjangin lagi deh...


Ikutin terus cerita mereka ya gaes... jangan lupa lho koment sama like nya...


See you next... bhubhay...