
Suara hujan berdentang jelas saat terjatuh diatas genting. Udara semakin dingin menusuk ke pori-pori membuat Irina mengusap-ngusap tangannya yang sudah terbalut dengan jaket yang diberikan oleh Ethan. sudah setengah jam berlalu mereka berteduh di warung kopi tersebut. Bukan hanya mereka, tapi banyak juga orang lain yang berteduh seraya meminum kopi dan minuman yang hangat-hangat disana.
Mereka sama-sama bungkam. Tidak mau saling mengalah untuk membuka obrolan. Irina dengan pandangannya ke air hujan yang berjatuhan, sedangkan Ethan menatap dirinya dari samping.
"Kenapa kamu gak kabarin aku, tadi?"tanya Irina setelah sekian lama
"Aku lagi panik. Jadi, aku gak tau. Aku asal pencet nomor aja."jelas Ethan
Irina tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?"tanya Ethan dengan alis yang bertaut
"Kamu bisa lucu juga, ya."
"Baru nyadar, ya."sahut Ethan narsis.
"Udah reda, mau pulang sekarang?"Irina melirik pada Ethan yang dari tadi belum lepas memandangnya.
Ethan tampak menimang-nimang. Dia merasa waktunya belum cukup untuk bersama Irina. Bagi Ethan, senyum Irina merupakan pengisi baterai, sedangkan cowok itu baterainya. Dia membutuhkan Irina, dia ingin lebih lama bersama gadis itu. Sebelum semuanya berubah(?).
"Ini baru jam setengah tiga sore. Mau jalan-jalan dulu?"tawar Ethan
"Huh? Jalan-jalan? Mm... gimana, ya? Mang Udin sebentar lagi juga jemput di halte, jadi aku harus buru-buru kesana."jawab Irina tak enak
Entah hanya perasaan Irina atau mungkin memang benar kalau cowok itu tampak sedih.
Ethan menghela napasnya pelan. "Yaudah, aku anterin ke halte, ya?!"
Irina tersenyum seraya mengangguk.
Mereka mulai berjalan beriringan keluar dari warung kopi. Genangan-genangan air sisa hujan tampak terlihat di jalanan yang berlubang. Ethan menuntun tangan Irina agar bisa meloncati kubangan air tersebut.
"Na,"panggil Ethan lemas
"Apa?"tanya Irina dengan sedikit lirikan pada Ethan
"Waktu itu, kamu pernah janji buat nurutin perkataan aku 'kan?"
"Hm... iya."jawab Irina ragu
"Jangan berubah, ya."
Irina menoleh dan menatap bingung pada Ethan. "Kenapa, tiba-tiba?"
"Gak apa-apa, cuma... aku suka kamu yang sekarang. Apapun yang terjadi, kamu harus jadi Irinanya Ethan, ya?!"
Irina merasakan wajahnya memanas. Gaya bicara Ethan sangat lucu, seperti anak kecil menurutnya. Dia mengalihkan pandangannya ke depan.
"Iya-iya."
"Janji?"Ethan mengulurkan jari kelingkingnya
Irina sedikit tertawa lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Ethan. "Janji."
Mereka tergelak bersama. Semudah itu mereka melupakan permasalahan masing-masing, hanya dengan candaan dan gombalan garing? Semudah itukah? Tentu saja, Tidak. Mereka tertawa hanya untuk menghibur hatinya yang sedang bimbang oleh pilihan. Mereka tertawa hanya karena ingin menyenangkan.
Andai mereka bisa seperti ini untuk waktu yang sangat lama, atau mungkin mereka berharap untuk seperti ini selamanya sampai rambut keduanya memutih.
Tapi biarkan. Waktu ini hanya ada kita. Dan tidak untuk orang lain.
______________________________
22:00
Ethan menyelinap ke kamar Bunda Indah, untuk melihat kondisi wanita paruh baya yang dengan sukarela merawatnya dari kecil.
"Ethan..."panggil Bunda Indah dengan suara yang lirih.
"Bunda belum tidur? Bunda haus? Bentar, Ethan ambil dulu min--"
"Bunda cuma terbangun."potong Bunda Indah
Ethan duduk di tepi ranjang. Dia menggapai sebelah tangan bunda Indah untuk di genggamnya.
"Bun, Ethan lagi bingung..."
"Bingung kenapa?"tanya Bunda Indah lembut
"Jika ada orang yang memberi kita pilihan, antara orang yang kita sayangi dengan orang yang kita hormati, gimana?"
"Sebenarnya, pilihan itu cukup sulit. Kita hanya perlu mendengarkan kata hati kita."ucap Bunda Indah dengan senyuman
Ethan menaikan selimutnya sampai ke leher Bunda Indah sebelum akhirnya berbalik meninggalkan kamar wanita paruh baya itu.
---------
Sementara itu di tempat lain. Irina memandang jam dinding di kamarnya. Sudah setengah sebelas malam, namun rasa kantuk belum juga datang. Irina berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja dia tidak mengantuk. Dia harus apa sekarang? Rasa bosan menghampirinya.
Dengan ragu-ragu dia mengetikan pesan pada Ethan.
Me
[Udah tidur?]
(Delete)
[Lagi apa?]
(Delete)
[Good night]
(Delete)
Irina menepuk keningnya sendiri. Pada akhirnya dia menyerah untuk memberi pesan pada Ethan. Dia tidak pandai membuka obrolan dalam chating. Toh, cowok itu juga sedang offline.
Irina meletakan ponselnya diatas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya.
Mungkin hanya perasaan Irina kalau cowok itu terlihat lesu tadi sore. Apakah terjadi sesuatu pada Ethan?
Irina menghela napasnya kasar. Dia terlentang menatap langit-langit kamarnya yang masih di penuhi dengan gantungan Not.
"Kamu kenapa, sih?"gumam Irina
Mata Irina mulai memberat tanda dia akan segera memasuki alam mimpi. Baru saja dia akan meluncur ke mimpi indahnya itu, sebuah ketukan pada jendela kamarnya membuat dia kembali membuka matanya.
"Gue gak salah denger, 'kan?"tanya Irina pada dirinya sendiri
Ketukan itu mulai terdengar kembali. Membuat Irina turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela setelah mengikat rambutnya menjadi satu.
Irina sedikit menyingkap tirai jendelanya untuk melihat siapa atau benda apa yang mengetuk jendela kamarnya.
Tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba Irina merinding sendiri saat mengingat film horor yang pernah dia tonton. Irina menelan salivanya susah payah dengan pelan dia membuka kuncin jendela dan menyembulkan kepalanya keluar. Ada kertas beserta sebungkus permen karet di teras balkonnya. Dengan perasaan yang campur aduk, Irina mengulurkan tangannya dan mengambil itu semua sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam dan mengunci jendelanya.
Irina menyalakan lampu kamarnya. Sekarang dia tahu yakin siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
Dengan hati-hati Irina membuka lipatan kertas itu seperti sebuah berlian yang berharga dan hanya satu di dunia. Irina membasahi bibirnya yang kering terlebih dahulu sebelum membaca tulisan yang tidak terbilang rapih itu.
-Kata orang senja itu indah, pesona nya tak pernah padam walau malam melahapnya—
Kata orang hujan itu romantis, pencipta hangatnya yang puitis—
Kata aku, kamu itu, Hari. Yang mengandung Senja, Hujan, dan keindahan tersendiri-
~kamu tahu? Yang sebenarnya kurasakan adalah yang kuinginkan. Aku merasa bahagia, karena bersamamu adalah hal yang kuinginkan~
Note: Kalo lagi bosen makan permen karet aja. Bosennya bisa langsung ilang lho, karena kita lebih fokus ke- gimana caranya bisa bikin balon yang lumayan besar.
Ethan. Ag.
Irina terkekeh. Apa-apaansih cowok itu? Pinter banget ngeluarin gombalan recehnya tapi membuat Irina tersenyum-senyum sendiri. Tapi anehnya, senyum itu tidak sampai ke hatinya. Entah kenapa, tapi sekarang dia merasa risau.
"Apaan sih, gue!"rutuknya.
-Tbc
Halo gaes....
Thor update lagi mumpung punya kuota😆😆
Gimana menurut kalian chap. Ini??
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian❤
Maaf kalo ada typo, dll...
Thor pamit dulu...
See you next... bhubhay...