
Ternyata bukan hanya perasaan Irina saja bahwa Ethan lebih diam dari pada biasanya. Saat mereka keluar gerbang cowok itu nampak gelisah menunggu mang Udin yang akan menjemput Irina.
"Hati-hati."ucapnya lalu menyuruh Irina lekas pergi seolah-olah tidak mau lebih lama bersamanya.
Apapun itu yang sedang dipikirkan Ethan, Irina berharap itu bukanlah hal yang buruk. Dan Irina juga tidak perlu terlalu khawatir.
Mungkin sama halnya dengan keputusan Irina yang akan pergi secara diam-diam ke acara pesta ulang tahun Gita.
Malam ini Irina mengenakan dress berwarna putih dengan brukat yang menutupi bahunya. Rambut ia biarkan terurai hingga menjuntai ke pinggang, ditambah aksesoris pita dengan warna yang senada. Irina memasukan kadonya ke dalam tas selempangnya, Irina membuka jendela dan menatap turun ke bawah.
Tidak ada Ethan disana.
Dimana cowok itu? Apakah Ethan memutuskan tidak pergi ke pesta? Dengan segera Irina menghubungi nomor cowok itu.
Panggilan terhubung pada nada sambungan yang kedua.
"Halo, kamu dimana?"tanyanya
"Udah siap?"
"Iya. Mau turun, tapi gak ada kamu yang nangkap aku."
Terdengar suara kekehan di seberang sana. Suara geli cowok itu membuat Irina menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
"Sebentar."sambungan pun terputus, bersamaan dengan ketukan di pintu kamarnya.
Irina beranjak membuka pintu dan sudah ada bi Sulis yang berdiri disana. "Ada apa bi?"
"Itu Neng, di depan ada yang nyariin."
Deg. Itu mustahil. Tapi Irina tetap bertanya. "Siapa?"
"Anak cowok. Katanya mau jemput neng Irina. Aduh mukanya cakep bangeeet Neng, bibi aja gak sanggup liatnya. Jantung bibi langsung berdebar, Neng."
Irina bagai mendengar petir di atas kepalanya. Masa iya Ethan?
"Namanya Ethan... tadi bibi diajak salaman, tangannya enak lem-"
Dengan kecepatan kilat Irina langsung berlari meninggalkan bi Sulis. Dia menuruni tangga dengan tergesa seolah tidak peduli bahwa ia bisa saja terjatuh dan kakinya terkilir atau sejenisnya.
Dan memang benar jika cowok yang berdiri di ambang pintu rumahnya adalah, Ethan.
Irina ulangi, Ethan berdiri di depan pintu rumahnya. RUMAHNYA.
ASTAGA.
Ethan pasti sudah gila atau apapun itu sebutannya. Dengan langkah yang cepat Irina menghmpiri Ethan, dan hampir saja terjatuh jika Ethan dengan kegesitannya tidak segera menahan tubuhnya.
"Ngapain buru-buru, sih." Ethan tersenyum. " Nanti jatoh. Akunya juga gak akan kemana-mana."
Irina menelan ludahnya. Dia memalingkan wajahnya ke belakang dan hanya ada bi Sulis yang mengintip dari celah-celah tangga.
Irina menebak berapa lama waktu yang dibutuhkan ayahnya untuk turun ke bawah dan melihat ini semua.
"Ethan,"cicit Irina dengan tangan yang sudah berkeringat. "Kamu jangan nekat, deh."
"Nekat apa?"
"Kalo ketauan sama papa, gimana?" Irina sangat ketakutan hingga tanpa sadar dia mendorong cowok itu. "Ayo pergi..."
Ethan tidak bergerak sedekitpun oleh dorongan Irina. Cowok itu malah menggenggam kedua tangan Irina dan menempatkan pada kemeja yang di kenakannya untuk mengelap keringat yang ada di telapak tangan gadis itu.
"Lemah banget, belum makan?"tanyanya seraya menatap lekat wajah Irina
"Ethan..."
"Irina,"Ethan kembali menarik tangan gadis itu. "Mama sama papa kamu gak ada di rumah. Tadi aku liat mobil mereka keluar."
Irina terdiam. Dia bingung antara senang dengan perlakuan manis cowok itu ataupun ketakutannya. "Tapi tetep aja ada bi Sulis..."
Tepat di saat itu bi Sulis menghampiri mereka. "Neng Irina tenang aja, bibi gak akan bocor kok. Lagipula dateng ke pesta ulang tahun temen bukan masalah," bi Sulis mengerlingkan matanya pada Ethan. "Jangan lupa lho kouta unlimitednya."
Ethan mengangguk dengan membalas berupa kedipan. Membuat bi Sulis tersenyum-senyum sendiri.
Sepertinya Irina tidak di berikan protes lebih jauh, cowok itu sudah menarik tangannya menuju motor yang sudah terparkir di depan pintu gerbang Irina.
"Kenapa?"tanya Irina
Ethan tersenyum. "Kamu tau kenapa."cowok itu mengikatkan jaketnya pada pinggang Irina seperti waktu itu. Uluran cowok itu pun disambut oleh Irina untuk membantunya manaiki motor.
-----------
Mereka sampai di rumah bergaya minimalis yang megah itu setengah jam setelahnya.
Semasa kecil Irina sering sekali berkunjung ke rumah ini. Namun sekarang hidupnya penuh dengan kekangan, berarti dia sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini. Tetapi rasanya rumah ini tidak banyak berubah selain cat rumahnya.
Sudah banyak teman sekelas yang berdatangan. Sebagian ada yang menyapa dan sebagian lagi ada yang menatapnya heran karena datang bersama Ethan.
Atau lebih tepatnya terpukau dengan tampilan Ethan yang memakai kemeja hitam slimfit. Ini sama sekali tidak bagus karena cowok itu jadi terlihat tampan dan dewasa secara bersamaan.
"Gita udah tau kamu mau kesini?"tanya Ethan saat tengah berjalan ke arah pintu yang didekor banyak bunga itu.
"Nggak. Biarin aja, biar jadi kejutan."
Rumah Gita besar dan pesta diadakan di belakang dengan kolam renang yang sudah dihiasi lilin yang mengapung di atasnya. Lantai yang mereka pijak banyak serpihan kertas berwarna, balon dan pita-pita. Sesuai janji Gita sudah ada Band terkenal yang menempati atas panggung, menambah keriuhan disana.
Ethan persis berjalan disampingnya. Sekali lagi, cowok itu terlihat senang menatap Irina. Seperti seseorang mengagumi sesuatu. Namun detik berikutnya dia menatap tangannya sendiri seperti anak kecil yang tidak dapat apa yang diinginkannya.
"Aku gak boleh gandeng, ya?"
Perut Irina rasanya terlilit. Ingin sekali dia berteriak mengatakan 'iya' karena sungguh dirinya juga menginginkan hal yang sama. Namun apa daya di sekeliling mereka banyak teman sekelasnya.
Teriakan dalam hati Irina terendam oleh teriakan dari gadis yang memakai gaun soft pink, terlihat gaun itu sangatlah panjang sampai si pemilik harus menaiki sedikit gaunnya.
"Irina... demi apaaaa? Sumpah gue kaget banget liat lo dateng! Dapet berkah dari mana coba gue?" Gita berbicara dengan haru. "Sial. Lo udah bikin make up gue luntur."
"Biar kejutan,"ucapnya seraya menyerahkan kotak kado pada temannya. "Nih, selamat ulang tahun, Gigit...."
"Mmm, makasih..."ucap Gita seraya memeluk Irina, Gita melepaskan pelukannya dan beralih menarik tangan Irina. "Ayo lo harus ikut gue jaga kue sama kado."
Irina tersenyum tidak enak. "Gue tunggu disini aja, gue bakal liat lo dari sini kok!"
"Bener? Tapi jangan pulang kalo acaranya belum selesai!"
"Iya-iya."
Saat Gita sudah memastikan Irina berjanji padanya agar tidak meninggalkan acara. Dia kembali ke depan untuk tiup lilin.
Di saat semua orang terpusat pada si pemilik acara. Irina menunduk melihat tangan kirinya. Sebuah pita berwarna putih melingkar di pergelangan tangannya. Itu sebabnya dia tertahan tidak bisa melangkah. Irina tidak tahu kapan pita itu terikat disana.
Debaran kencang menyerbu dadanya ketika matanya mengikuti untaian pita, melihat ujung pita yang lain terlilit di pergelangan tangan Ethan.
Tidak ada yang menyadari itu. Apalagi sekarang lagu selamat ulang tahu sedang bergema. Ethan mendekat dan berdiri di belakang Irina.
"Karena gak boleh genggam tangan kamu,"Ethan menurunkan wajahnya untuk berbisik di telinga Irina. "Seenggak nya dengan cara ini, bisa bikin kamu terus deket aku."
Irina tidak bisa menahan senyumnya. Dia tidak peduli dengan semua orang yang akan menatapnya aneh karena tersenyum konyol tanpa sebab.
"Ulang tahun kamu, kapan?"tanya Ethan santai seolah mereka berdua berada di taman bukanlah di sebuah pesta
"Udah kelewat,"Irina ikut bertepuk tangan dengan tawa yang masih menyisa. "Kalo kamu?"
"Ulang tahu aku dua bulan lagi, tapi kadonya udah dateng sekarang."
Irina menyikut perut Ethan untuk menghentikan cowok itu berbicara yang aneh-aneh dan membuatnya merona.
Sedangkan di ujung sana terdapat sepasang mata yang menyorot mereka berdua layaknya predator. Orang itu melakukan panggilan dengan seseorang yang di telpon nya.
"Bos, gue tau keberadaan Ethan..."
-Tbc
Maaf baru up sekarang🙏🙏🙏
Kemarin-kemarin thor lagi sibuk nyiapin bahan presentasi...
Jangan lupa dukungannya...
See you next... bhubhay...