Escape With You

Escape With You
Chapter 37



Hening.


Di dalam ruangan itu hanya terdengar suara helaan napas dari seorang gadis. Irina meratapi nasibnya saat ini, kedua tangan yang diikat terasa sakit dan punggungnya juga terasa kaku. Sudah terhitung 3 jam cowok yang menculiknya itu meninggalkan dirinya seorang diri di rumah yang pengap ini.


Dan sudah 3 jam pula Irina berdoa agar Ethan atau siapapun itu dapat mengerti isi pesannya. Lagipula Irina meninggalkan ponselnya di mobil Kemal yang terparkir di halaman rumah ini. Dia juga menyalakan GPS-nya, supaya Ethan atau Mang Udin dapat melacaknya. Irina bukanlah gadis yang bodoh, yang tidak melakukan apapun saat dirinya sedang dalam keadaan genting.


Kemal. Cowok itu pergi entah kemana tanpa membawa mobilnya, itu juga menjadi sebuah kesempatana bagus bagi Irina. Irina menghela napasnya lagi, dia menatap sekeliling rumah itu. Sangkar laba-laba dan juga langit-langit yanh sudah bobrok menambah kesan seram.


"Huft... serem juga rumah ini."gumam irina


Irina kembali melihat sekelilingnya. Dia melirik jendela yang tertutupi oleh tirai berwarna cokelat yang lusuh. Irina menggerakan tangannya yang diikat ke belakang berharap ikatan itu akan melemah. Namun sia-sia saja, bukan ikatannya yang melemah melainkan pergelangan tangannya yang perih.


Cklek... Cklek...


Bunyi suara pintu yang berusaha di buka terdengar oleh Irina. Gadis itu hanya bisa menatap waspada pada kenop pintu yang sedang bergerak-gerak. Bisa dipastikan orang di luar sana masih berusaha untuk membuka pintu.


"Siapa?!"Irina berteriak, supaya orang yang di luar sana bisa mendengarnya.


Samar-samar Irina bisa mendengar suara dari luar sana.


".... susah juga buka pintunya!"


"Alahh... si bos gimana, sih?! Nyuruh kita kesini tapi gak ngasih kuncinya."


"Dobrak aja!"


"Jangan ****! Nanti gak bisa ditutup lagi!"


"Yaudah coba lagi aja! Kali ini kita harus seneng-seneng aja dulu!"


Jantung Irina berpacu sangat cepat. Ternyata mereka adalah adalah anak buahnya Kemal.


'Mau apa mereka kemari? Apakah Kemal yang menyuruh mereka? Gue harus gimana sekarang?'batin Irina


Keringat dingin bercucuran dari kening Irina. Dia memejamkan matanya seraya merapalkan doa dalam hati. Sekelebat ingatannya ingat perkataan Ethan waktu pertama kali mereka bertemu.


"Panggil gue tiga kali, gue bakalan ada buat lo."


Irina merapalkan nama Ethan di hatinya. Semoga saja cowok itu bisa merasakannya atau membaca pesan darinya.


Cklek


Dengan mata yang tertutup rapat. Irina menahan napasnya saat mereka sudah bisa membuka pintunya. Dia takut, sungguh! Andai saja tadi dia memilih untuk diantar oleh Mang Udin. Tapi, keinginannya bertemu dengan Ethan membuat dia ingin pergi sendiri. Irina mengernyitkan keningnya saat dirasa suara tapak kaki itu tidak sebanyak tadi. Kenapa? Apa sebagian menunggu diluar? Irina memutar-mutar pergelangan tangannya yang diikat, berharap tali tambang itu bisa terlepas. Dia tidak peduli kulitnya akan berdarah atau lecet, ketakutan menguasai Irina sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar.


'Masa sih gue berakhir sekarang?'batin Irina takut


Irina tidak berani membuka matanya. Kedua tangannya di belakang saling meremat saat merasakan sentuhan di dagunya. Demi apapun dia takut!


"Na..."


Irina tersentak saat mendengar panggilan lirih itu. Dia tahu suara siapa itu, bahkan dia sangat mengenalnya. Dengan perlahan Irina membuka matanya. Sesaat pandangan mereka bertemu, orang itu adalah Ethan. Ya. Ethan-nya, berhasil menemukannya. Mata Irina berkaca-kaca, tubuhnya melemas. Ethan menatapnya dengan pandangan bersalah.


Dengan lembut Ethan membuka tali yang melilit di tubuh Irina dan tangannya. Dia membawa kedua tangan Irina ke dalam genggamannya dan diusapnya dengan lembut.


"Maaf..."lirih Ethan


Mendengar suara Ethan, Irina menunduk. Bahunya bergetar karena tangis. Irina menangis tanpa suara. Sebagian hatinya sangat lega karena Ethan sudah ada di sini, namun sebagian yang lain dia merasa sesak, entah karena apa.


"Na... keluarin suaranya, jangan ditahan."pinta Ethan dengan lirih dan membawa Irina ke pelukannya.


"Hiks..."


"Maaf Na, maaf..."ucap Ethan berulang kali. Mendengar suara tangisan Irina, dia juga merasakan sesaknya. Ethan merasa jika dirinya sangat tidak berguna. Ethan bisa merasakan bajunya basah karena air mata Irina.


Setelah isakan Irina berhenti. Dengan lembut Ethan mendorong bahu Irina agar menatapnya. Irina sedikit menunduk karena dia masih duduk di kursi sedangkan Ethan berjongkok di depannya.


"Maaf..."untuk kesekian kalinya Ethan mengucapkan itu. Tangannya terulur mengusap air mata Irina yang masih bungkam.


"Maaf, karena udah libatin kamu dengan posisi ini. Maaf, karena aku datengnya telat. Maaf, karen--"ucapan Ethan terhenti saat Irina menangkupkan tangannya di mulut cowok itu.


Irina menangkup wajah Ethan dengan kedua tangannya. "Kamu jangan minta maaf terus! Kalo kamu minta maaf terus, kapan kita keluar dari sini nya?"


Ethan terkekeh geli. Irina terlalu polos, bahkan dengan kepolosannya itu dia berhasil mengubah suasana. Ethan membawa satu tangan Irina ke genggamannya, sementara tangan Irina yang lain masih berada di wajahnya.


"Ini kenapa?"tanya Irina seraya menyentuh luka lebam yang berada di sudut bibir Ethan.


"Bukan apa-apa."jawab Ethan seraya tersenyum


"Eh, iya. Orang-orang yang tadi di luar gimana?"tanya Irina seakan tersadar dari situasi


"Mereka udah di urus sama Richard. Tadi, sebelum kesini aku hubungi dulu Richard,"jelas Ethan. "Pulang sekarang?"


Irina mengangguk. Baru saja dia akan berdiri, namun urung kembali karena Ethan sudah membalikan badannya.


"Naik..."


"Kamu mau gendong aku?"


"Iya. Kaki kamu pasti lemas, jadi aku gendong aja. Ayo ceper naik."


Dengan senyuman Irina mengalungkan tangannya ke leher Ethan. Sementara cowok itu mulai berdiri dengan Irina di gendongan punggungannya.


Ethan berjalan keluar dari rumah kosong itu. Dia tersenyum tipis ketika Irina menyandarkan dagunya di bahu Ethan. Dia jadi bisa merasakan hembusan napas Irina di lehernya. Tapi senyuman itu tidak bertahan lama ketika menyadari luka di pergelangan tangan Irina.


Entah kenapa hatinya terasa sakit, melihat orang yang kita cintai terluka karena kita sendiri.


"Ethan kamu bawa motor?"tanya Irina


"Iya, maafin aku ya Na.."


Dengan gemas Irina mencubit pipi cowok itu. "Minta maaf terus... udah aku bilang ini bukan salah kamu. Oh, iya. Gimana sama Kemal?"


"Dia kabur."jawab Ethan


"Eh, kenapa bisa kabur?"


"Anak buahnya udah abis, ya dia kaburlah takut kalah,"tapi gak menutup kemungkinan dia bakal nyari kamu lagi.'lanjut Ethan dalam hati.


Ethan mendudukan Irina di jok belakang motor. Dia mulai mensetater motornya lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang.


Irina melingkarkan tangannya ke pinggang cowok itu dengan kepala yang bersandar. Kenapa hatinya merasa tidak tenang? Bukankah seharusnya dia sudah bisa bernapas lega karena sudah terlepas dari bahaya? Kenapa hatinya tetap saja mengganjal, seolah ada sesuatu yang akan dia lewatkan. Kenapa senyum Ethan terkesan sendu di matanya? Ada apa sebenernya?. Irina menghela napas panjang tenaga dan pikirannya sudah terkuras habis sampai rasanya kepalanya ini pening.


Sementara Ethan pun sama sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Namun cowok itu lebih bisa menutupi wajah kalutnya.


'Kesalahan dalam menggapai mu adalah menyeretmu dalam bahaya. Langkah tersulit menyelematkanmu adalah merelakan kit tak bersama'


-Tbc


Haiola...


Muehhhehe...


Gimana-gimana gaes??


Baper gak? Baper, nggak? Baper dong! Harus baper pokoknya...😂


Thor update 1eps dulu, ya..


Jangan lupa kritik end sarannya...


Bhubhay...