Escape With You

Escape With You
Chapter 15



I found myself dreaming


In silver and gold


Like a scene from a movie


That every broken heart knows


We were walking on moonlight


And you fulled me close


Split second and you disappeared


And the i was all alone


I woke up in tears


With you by my side


A breath of relief


And i realized


No, we're not promised tomorrow


So i'm gonna love you like i'm gonna lose you


Lagu dari 'Mega Trainor' yang berjudul 'Like i'm gonna lose you' mengalun indah di kamar Irina. Sedangkan gadis itu sedang mengikat rambutnya dan memasukan buku yang sesuai dengan mata pelajaran ke tas ransel.


Dia memakai sedikit lipstik agar bibir nya tidak terlalu kering. Irina menyampirkan tas nya di bahu dan mengambil ponsel yang tergeletak di nakas. Dia mematikan lagu yang mengalun tersebut setelah itu pergi keluar.


"Tumben kamu gak kesingan."ucap Aleta seraya mengoleskan selai cokelat pada roti.


"Iya mah, Irina juga heran."ucapnya seraya mengambil sepotong roti yang sudah di beri selai dan memakannya.


"Selamat pagi mah!"ucap Sena yang baru saja datang seraya mengecup pipi ibunya. "Papa sama kakak kemana mah?"


"Kamu tau sendiri mereka sibuk. Dari pagi buta mereka udah berangkat."


Irina hanya duduk tenang seraya mengunyah rotinya tanpa memperdulikan percakapan yang ada di hadapannya.


"Eh, Irina. Kamu mau berangkat bareng aku?"tanya Sena dengan nada lembut


Cih, cari muka!maki Irina dalam hati.


"Mau nggak?"tanya Sena lagi


"Gak. Gue mau sama mang Udin aja."


"Irina jaga dong bicara kamu, dia 'kan kakak kamu!"ucap Aleta


Irina hanya menganggukan kepalanya dan melirik sekilas Sena yang sedang tersenyum sinis, namun sedikit kemudian merubahnya menjadi senyuman lembut yang membuat Irina mau muntah.


"Mah..."Sena mengoyang-goyang lengan Aleta.


"Apa sayang?"tanya Aleta seraya mengusap kepala Sena


"Hari ini Sena mau nginep di rumah temen, boleh gak?"tanya Sena seraya mengerjap-ngerjapkan matanya, membuat Irina mendengus pelan.


Ratu drama!


Irina terus merutuk Sena dalam hati. Apalagi saat melihat anggukan dari Aleta, membuat mood Irina anjlok seketika. Kenapa Sena selalu diijinkan ini, itu. Sedangkan dirinya tidak? Apa karena kedua kakaknya selalu mengharumkan nama keluarga, sedangkan Irina belum pernah?


"Irina berangkat!"ucapnya seraya berlalu dari ruang makan meninggalkan ibu dan anak yang sedang berbagi kasih, mengharukan.


"Neng, mau berangkat sekarang?"tanya Mang Udin, yang diangguki oleh Irina.


Irina menutup pintu mobil dengan sedikit keras membuat mang Udin tersentak.


Neng Irina kayak lagi kesel, ya? Yaudahlah meningan saya jangan tanya aja.batin man Udin


______________________________


"IRINA, IRINA!"


Irina memutar bola matanya malas saat mendengar suara teriakan dari kedua temannya. Jika ini film kartun mungkin saja teriakan itu mengundang gempa atau kaca-kaca kelas menjadi pecah.


"Irina, ini gawat tingkat mimi peri."ucap Gita heboh


"Na, pokoknya lo harus ikut kita!"Dewi menarik tangan Irina yang sedang duduk dikursinya.


"Ada apaansih?"Irina hanya pasrah saat kedua temannya menyeret dirinya untuk keluar kelas.


"Tuh, Na.. liat!"ucap Dewi seraya menunjukan tangannya ke seseorang yang mengobrol di depan sana.


Irina mendengus kasar. Dia kira ada apaan sampai kedua temannya ribut. Irina kembali masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan Dewi dan Gita yang sibuk memaki adik kelas itu. Irina mendudukan dirinya ke kursi dan memakai headseat nya.


"Na, Irina. Lo gak apa-apa 'kan?"tanya Dewi hati-hati, entah sejak kapan temannya  itu sudah duduk di bangkunya.


"Emangnya kenapa?"tanya Irina bingung


"Ya karen--"


"Na, na... ini darurat, urgent, dan emergency, dan ter-ter gawat! Sahabat gue yang baik melebihi mimi peri,"ujarnya, lalu menghela napas sejenak. "Kenapa nasib lo miris gini sih? Padahal lo udah rajin menabung. Selalu ngasih gue contekan, terus gak marah kalo gue nyuri makanan lo. Tapi kenapa hidup lo menyedihkan begini, kayak kuceng oren yang keujanan?"


Irina dan Dewi menatap aneh pada Gita yang baru memasuki kelasnya. Irina menjulurkan tangannya dan meletakan pada kening gadis itu.


"Lo, sehat?"tanya Irina


"Gue sehat wal'afiat malah!"ucap Gita seraya menyingkirkan tangan Irina yang berada di keningnya.


"Terus lo ngapain tadi?"tanya Dewi menatap Gita aneh, Gita tidak memperdulikan pertanyaan dari Dewi, dia terus berceloteh membuat Dewi ingin menyumpal mulutnya dengan kaus kaki.


"Gue minta dunia lo jangan terguncang. Jangan nangis! Eh-eh, boleh tapi cuman sedetik, oke."


Irina menggelengkan kepalanya seraya mengeluarkan buku dari tasnya. "Gue gak ngerti!"


Saat Irina mulai membaca buku, Gita memperlihatkan layar ponselnya. "Plis... plis... lo harus strong. Kalo gak kuat lo bisa lambaikan tangan, kok."


"Apaan, nih?"tanya Dewi merebut ponsel Gita dan meletakannya di tengah meja agar terlihat oleh mereka bertiga.


Irina melihat video itu, seorang gadis yang menyatakan perasaanya pada seorang pria. See, mereka adalah Ethan dan adik kelas yang dilihat Irina tadi. Sesudah Dewi dan Irina masuk ke dalam kelas, adik kelas itu menyatakan perasaanya pada Ethan. Karena Gita memang suka sekali dengan gosip, jadi dia memilih untuk merekam adegan itu.


"Tenang Na, tenang. Tarik napas, buang. Gue tau kok lo suka sama Ethan! Kalo lo sakit hati, itu bukan bener-bener sakit hati, karena dia cuma idola lo."


"Gue gak pa-pa kok, Git."ucapnya berusaha keras menyembunyikan perasaanya yang sudah tidak menentu, entah karena apa.


"Semua cewek kalo ada di posisi lo, pasti bilang gak pa-pa..."ucap Dewi


Tepat pada Ethan memasuki kelas, semua mata terarah padanya. Itu semua hanya efek yang diberikan oleh seorang Ethan. Baru tiga minggu Ethan bersekolah di sekolahnya, namun sudah bayak guru yang menyukai karena sifatnya yang mudah bergaul dan ramah.


"Lo,"tunjuk Gita pada wajah Ethan. "Tadi lo terima dia gak?"


"Kenapa emangnya?"tanya Ethan santai


"Kenapa? pala lo peang! Lo udah baperin temen gue, terus gak tanggung jawab gitu?"ucap Gita ngegas


"Emangnya siapa temen, lo?"tanya Ethan seraya terseyum


"Git,"tegur Irina dan Dewi


"Ya Irina lah. Mulai sekarang jauhin tempat duduk lo."perintah Gita seraya memelototkan matanya


"Maksudnya, kayak gini?"Ethan menggeserkan kursinya mendekati kursi Irina.


"Ye.. itu mepet, bambang."teriak Gita


Irina dan Dewi hanya menatap Gita seakan 'dia bukan temen gue'. Memang diantara mereka bertiga, Gita lah yang suaranya paling cempreng dan heboh.


Untungnya bel tanda jam istirahat sudah selesai berbunyi membuat Irina dan Dewi menghela napas lega.


Ethan mendudukan dirinya di samping Irina. Dia melirik ke gadis yang sedang membuka buku pelajarannya.


"Gue, gak terima dia."


Hanya satu kalimat tetapi membuat hati Irina tenang. Irina tidak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang. Jantungnya selalu berdetak kencang jika dekat dengan cowok itu, dan merasa sesak saat tahu cowok itu di sukai oleh orang lain.


Ethan menyentuh tangan Irina dengan sikut nya. Karena gadis itu diam tanpa menghiraukan ucapannya.


"Lo, marah?"tanya Ethan dengan berbisik


Walaupun sekarang kelasnya tidak ada guru karena 'kelas mandiri' tetapi tetap saja semua muridnya harus belajar dan tidak boleh berisik.


Irina menoleh pada Ethan. "Kenapa gue harus marah?"


"Karena lo suka sama gue."ucap Ethan dengan percaya dirinya.


Shitt!


-Tbc


Maaf pendek gaes...


Aku lagi urgent nih....


Maaf kalo ada typo, dll..


Jadi see you next chapter... bhubhay...