
"Kemarin ketauan, gak?"tanya Ethan pada Irina yang baru saja datang.
"Kalau ketauan, mungkin aku gak akan ada disini."jawab irina
Ethan terkekeh, dia menggeserkan kursinya mendekat.
"Yahh.. gak seru."
Gak seru? "Seru gimana?!"kesal Irina
Ekhem-ekhem
"Aduh Git... bener ya, yang makin deket tiap hari."ledek Dewi
"He'eh.. ck, kalian harus ngasih pj ke kita."ucap Gita
Gita dan Dewi memang sudah mengetahui kalau Irina dan Ethan sudah pacaran. Hanya mereka berdua, tidak yang lain. Karena Irina tidak mau kalau hal ini bocor pada ayahnya.
"Sans aja kali matanya Git."kesal Irina
Sedangkan Ethan, cowok itu malah terkekeh geli. Dia menyikut tangan Irina agar gadis itu menoleh kepadanya.
"Apa?"tanya Irina
"Bolos, yuk."ajak Ethan dengan wajah polosnya.
"Hah, apa?"tanya Irina kaget dengan ajakan polos Ethan.
"Bolos. Lagian gurunya juga gak datang-datang."ucapnya
Bukan gak datang, tapi belum kamvreto! Ingin sekali Irina menyuarakan itu. Tapi karena jaga image dia memilih untuk berdehem.
"Nanti kalo aku ketauan sama papa, gimana?"
"Aku bakal lindungin kamu, tenang aja,"ucap Ethan seraya mengelus punggung tangan Irina. "Aku mau ajak kamu ke panti, bunda kangen katanya."
"Pulang sekolah, aja."jawab Irina
"Tapi aku maunya sekarang! Gimana dong?"
Irina mendengus pelan, dia menatap cowok yang duduk disampinya. Ethan memangku dagunya dengan telapak tangan seraya tersenyum geli pada Irina.
"Gimana? Mau gak?"
"Em... g--"
"Tapi aku gak terima penolakan."potong Ethan
Ethan mengenggam tangan Irina dan menariknya berdiri. Dan membawa gadis itu keluar kelas tanpa mendengarkan teriakan dari teman-temannya. Mereka menuruni tangga dengan tergesa dan berlari kembali ketika sudah menginjak tanah.
Napas Irina terengah saat dirinya dan juga Ethan sudah memelankan langkahnya.
"Bisa manjat 'kan?"tanya Ethan seraya menatap tembok pembatas halaman belakang sekolahnya.
"Beneran kita mau bolos?"tanya Irina tidak percaya, karena baru pertama kali dia akan membolos sekolah.
Ethan tersenyum miring sambil menatap Irina. "Emangnya kenapa? Bukannya kamu sering 'bolos', ya?"
Irina mendelik ketika mendengar nada mengejek pada kalimat yang di lontarkan Ethan padanya. Cowok itu benar-benar berbakat membuat Irina tidak bisa berkata-kata.
"Yaudah."sebal Irina
"Yaudah, apa?"goda Ethan sambil menusuk-nusuk pipi Irina menggunakan jarinya.
"Tau, ah."Irina memalingkan wajahnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Cie, ngambek..."Ethan semakin gencar menggoda Irina. Membuat gadis itu nenghela napas kasar dan membalikan badannya sehingga berhadapan dengan Ethan.
"Kalo gak jadi, aku balik ke kelas nih."ancam Irina
Ethan memegang pergelangan gadis itu ketika akan pergi. Dia menatap tepat di mata Irina. Tangannya terangangkat satu untuk mengelus puncak kepala Irina.
"Jangan cemberut dong,"Ethan mencubit kedua pipi Irina yang menggembung. "Kamu jadi makin gemesin kalo cemberut gitu."
Deg deg deg
Sial. Jantung Irina berpacu sangat cepat. Seharusnya Irina sudah membiasakan diri akan gombalan receh yang keluar dari mulut cowok ini. Irina merasakan panas menerpa seluruh wajahnya, bisa dipastikan wajahnya sudah memerah sekarang.
Irina berdehem untuk mengusir rasa gugup. "Jadi gimana? Mau balik atau lanjut?"
Ethan tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Irina. Dia meletakan kedua tangannya ke pinggang Irina.
"E-eh... mau apa?"terkejut Irina
Ethan mengangkat tubuh Irina dan mendudukanya tepat di atas pagar tembok. Gadis itu memekik kaget, dia tahu kalau pagar belakang sekolah nya pendek tapi gak usah di angkat juga kali. Irina menggerutu dalam hati, dia menatap kesal Ethan yang sedang tertawa geli.
"Paansih, Than."ucap Irina menutupi malu. Dia memutar badannya dan turun keluar.
Ethan melompat ke samping Irina, dia tersenyum lalu menggengam kembali tangan Irina. Dia menautkan jari-jari tangannya dengan jari Irina. Hangat. Genggaman mereka terasa hangat sampai menyusup ke hati mereka masing-masing.
"Terus sekarang apa?"tanya Irina bingung
"Ngelakuin hal seru."
______________________________
Seorang gadis menatap datar pemandangan di depannya. Huft. Kenapa lagi-lagi ekspetasi tidak sesuai dengan realita? Gadis ituβ Irina menghela napasnya kesal. Dia melotot sambil menggertakan gigi pada orang yang duduk santai di sampingnya. Bisakah dia menampol orang itu sekarang?
"Sstt... enakan suasananya?"tanya Ethan seraya tersenyum manis
Enak, gundulmu. "Than, turun yuk."bujuk Irina
"Emangnya kenapa mau turun? Gak asik ya?"
Bukan tidak asik. Kalau ada Ethan di tempat apapun atau dimanapun akan terasa asik. Tapi sekarang masalahnya mereka sedang di atas menara jam sekolahnya. Ethan membohonginya soal akan mengajaknya ke panti. Cowok itu malah menarik Irina melewati tangga darurat yang di luar sekolah, tangga darurat itu tempat menuju atap gedung sekolah yang tersedia jam dinding yang besar.
"Than, ini tinggi banget loh."ucap Irina
"Sejak kapan menara jam sekolah pendek, Irina?!"
Irina menghela napasnya gusar. Demi apapun atap ini sangat tinggi, dia jadi teringat saat dirinya dan juga Ethan terjun dari atas gedung. Irina menggidikan bahunya, semoga aja kejadian itu tidak pernah terjadi lagi. Tapi tidak bisa dipungkiri, Irina juga suka dengan adrenalin yang berpacunya.
"Hei.. mikiran apa?"tanya Ethan memegang bahu Irina
"Hah?!"
"Kamu bengong lagi,"Ethan menyubit pipi Irina. "Jangan banyak bengong kalo lagi sama aku."
Irina menepis tangan Ethan yang mencubit pipinya. "Jangan main cubit."
Ethan terkekeh geli, dia mendaratkan jempol tangannya pada pipi Irina yang tadi dia cubit. Dia mengelus pipi Irina dengan perlahan.
"Kamu gak ada les?"
"Ada."
"Les apa?"tanya Ethan lagi
"Matematika, tapi kayaknya aku mau bolos lagi."ucapnya seraya memainkan jari tangannya.
"Kenapa kamu gak bilang aja pelan-pelan sama papa kamu, kalo kamu gak suka berbisnis?"
"Udah berapa kali aku coba, tapi tetep aja papa gak mau dengerin aku."Irina menundukan kepalanya lesu.
"Aku ada disini."
Irina menoleh menatap Ethan. Cowok itu menggengam tangan Irina dan tersenyum lembut padanya. Irina membalas senyuman itu. Ethan memang jarang berkomentar apapun tentang keadaan Irina yang terkekang oleh ayahnya.
"Makasih."ucap Irina seraya tersenyum tulus
"Eits... tapi di dunia ini gak ada yang gratis loh,"entah sudah berapa kali Ethan mengucapkan itu, yang membuat Irina memutar bola matanya malas. "Jadi semuanya harus di bayar, total--"
"Gak jadi makasih deh."potong Irina
Ethan menahan senyumannya. Tangannya terangkat untuk merapikan rambut Irina yang beterbangan oleh angin.
"Canda kali, Na.."
"Iya tau."jawab Irina acuh
Ethan terkekeh geli mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Irina.
"Than katanya mau ke panti?!"
"Kamu mau?"tanya Ethan
Irina menganggukan kepalanya.
"Oh iya, ngomong-ngomong bunda juga suka loh sama piano."
"Oh, ya?"tanya Irina penasaran
"Iya. Dia juga punya piano disana, mau liat?"
Irina tersenyum lebar dan mengangguk-nganggukan kepalanya semangat. Senyum Irina luntur ketika Ethan mendekatkan wajahnya ke telinga.
"Bayarannya aku tunggu."bisik Ethan tepat di telinga Irina membuat gadis itu menahan napasnya.
"Pftt... lucu banget, sih."Ethan tergelak saat melihat wajah merah padam Irina.
"Ih.... apaan sih."Irina menyembunyikan wajahnya ke dalam lipatan tangan.
"Aku 'kan pernah bilang, kalo malu peluk aja aku."Ethan menyembunyikan tubuh Irina ke dekapannya
"Jangan menyerah sama mimpi kamu ya, Na."ucap Ethan seraya meletakan dagunya di puncak kepala Irina.
Irina bisa mendengar detak jantung Ethan. Karena posisinya sekarang tepat di pelukan cowok itu. Irina mendongakan sedikit wajahnya. "Kenapa?"
"Karena kamu bagian dari mimpiku sekarang."
-Tbc
Hai gaes...
Gimana-gimana?
Jangan lupa vote+commenya di banyakin..
Berbagi itu indah gaes...
Semoga kalian dapat ketemu sama oppa-oppa kalian jika comenntnya dibanyakin... walau ketemunya di mimpi sih...ππ
See you next gaes... bhubhay...