Escape With You

Escape With You
Chapter 25



Irina memelankan kunyahan saat mendengar ibunya yang sedang berseteru dengan ayahnya. Dia menghela napasnya pelan, hanya karena Sena belum juga memberi kabar dari kemarin ayahnya sampai tega membentak ibunya? Napsu makannya langsung hilang seketika. Dia meraih ranselnya sebelum dia keluar rumah Irina menyempatkan dulu dirinya melihat kedua orangtuanya. Terlihat ayahnya sedang meminta maaf pada ibunya, diapun menghela napasnya lega.


"Pa, mah. Aku berangkat dulu."pamitnya sebelum benar-benar berangkat


Irina melihat mang Udin yang sudah menyiapkan mobilnya. Dengan langkah gontai dia memasuki mobil tersebut.


"Neng Irina kenapa?"tanya mang Udin


"Gak pa-pa mang. Biasalah 'bulanan'."jawab Irina seraya tersenyum tipis


______________________________


"Lo kenapa?"tanya Dewi melihat wajah Irina yang pucat.


"Hah... biasalah, dapet bulanan."ucap Irina berusaha santai


Irina sedikit meringis ketika merasa perutnya terasa di peras. Dia menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangan supaya rasa sakit itu berkurang. Keringat dingin sudah membasahi kening dan telapak tangannya. Dia juga bergerak gelisah.


"Na, lebih baik lo ke UKS deh."saran Gita yang mengusap-ngusap punggung Irina.


"Iya deh kayaknya."jawab Irina seraya menegakan punggungnya. Wajahnya terlihat pucat dengan bulir keringat di keningnya.


"Yaudah yuk kita anter."ucap mereka bersamaan. Irina hanya menganggukan kepalanya, dan berjalan dengan sempoyongan, kalau Dewi dan Gita tidak merangkulnya mungkin dia akan terjatuh.


Mereka membaringkan Irina di kasur yang berada di UKS. Irina menyamankan posisinya dulu.


"Kalian ke kelas aja. Lagipula sebentar lagi bel bunyi."suruh Irina pada kedua temannya


"Gak-gak... kita disini aja. Itung-itung bolos."ucap Gita yang langsung mendapat jitakan di kepalanya


"Si Ethan kemana? Kenapa jam segini belum datang tuh anak?"sungut Dewi


Irina mengurut pangkal hidungnya. "Sana kalian berdua ke kelas. Gue baik-baik aja, kok!"


"Beneran?"tanya Dewi tidak yakin, yang Irina jawab dengan anggukan


"Yaudah kalo gitu kita balik ke kelas dulu, ya."pamit Dewi seraya menggandeng tangan Gita. "Ayo, Git."


"Lah? Kita gak jagain Irina?"tanya Gita yang mengernyit tidak suka


"Gue tau lo cuma pengen bolos 'kan?"tebak Irina


"Suka bener aja kalo ngomong, Na."Gita hanya terkekeh geli, dan detik berikutnya gadis itu mengerucutkan bibirnya saat Dewi menariknya kekuar UKS bertepatan dengan bel masuk yang berbunyi.


Irina memejamkan matanya saat kedua temannya sudah keluar dari ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan itu. Keningnya mengernyit saat merasakan perutnya terasa terlilit, dia memeluk perutnya dengan kedua tangannya.


Cklek


Pintu ruang UKS terbuka membuat Irina membuka matanya. Dia sedikit menyingkapkan tirai yang menutupi dirinya berbaring. Ada seorang pria yang berbaring di kasur sebelah dengan posisi memunggunginya. Irina menghela napasnya, dia merasa canggung jika satu ruangan dengan pria di ruangan itu. Irina menutup kembali tirainya dan berusaha memejamkan matanya. Gadis itu kembali meringis ketika mendapat tekanan yang amat sangat menyakitkan di perutnya.


Sementara itu di balik tirai pria yang tadi memunggunginya mengerutkan keningnya saat mendengar ringisan di tempat tidur sebelahnya. Dia membalikan badannya menghadapan tirai yang menjadi penghalang  diantara kasur tersebut. Tangannya terulur menyingkap tirai tersebut. Dia tersentak sampai terduduk, karena melihat seorang gadis yang meringkuk dengan wajah yang pucat. Pria itu berdiri menghampiri gadis yang dia kenal itu.


"...Na, Irina..."ucapnya seraya menepuk pelan pipi gadis itu


Irina membuka matanya. Bibirnya yang pucat mengukir senyuman yang sangat tipis. "Eh, ternyata lo! Gue kira tadi siapa."


"Lo kenapa?"tanya cowok itu khawatir melihat keadaan Irina.


"Gak pa-pa, cuma sakit perut aja."ucapnya seraya mencoba untuk bersandar.


"Mau gue panggilin gu--"


Cklek


Pintu UKS terbuka bersamaan dengan seseorang yang berdiri mematung disana. Raut terkejut sangat jelas tertera di wajah orang itu dengan tubuh yang menegang.


"Than..."lirih Irina


Yap. Orang itu adalah Ethan, cowok itu menormalkan kembali wajahnya. Dia melangkah tenang ke arah dua orang remaja itu. Yang satu dengan wajah pucatnya dan satunya lagi dengan wajah sinis. Ethan tahu apa arti tatapan yang diberikan oleh cowok yang sekarang berdiri di samping kekasihnya.


"Lupa. Hehe..."kekeh Irina


Sementara itu orang yang tadi menemani Irina hanya menatap datar mereka berdua. Bola matanya bergulir menatap Ethan dengan kebencian. Ethan yang merasakan ada pandangan yang tidak enak dari sampingnya, menolehkan kepalanya dengan senyum tipis yang masih melekat.


"Lama gak ketemu ya, Kemal."ujar Ethan


Rahang Kemal mengeras. Tatapan matanya tersirat sangat kental dengan kemarahan. Irina yang merasa suasananya menjadi Awkwrd berdehem untuk mengusir keheningan itu.


"Kamu kenal sama dia?"tanya Irina bingung, membuat Ethan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan


"Gue keluar."ucap Kemal dengan nada dingin sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


Irina berjengit kaget saat pintu UKS di tutup dengan kencang oleh Kemal. Dia menatap Ethan yang saat ini sudah duduk di sampingnya.


"Kenapa?"tanya Irina


Ethan menghela napas kasar. "Bodoh."


What? "Ck, aku ini pinter ya! Makannya bisa ranking di kelas."sebal Irina melupakan perutnya yang sedang sakit


Ethan mengurut pangkal hidungnya. Dia tidak habis pikir jika Irina melupakan perkataannya waktu. Sebenarnya Irina itu pintar apa ****?


"Ck, kamu lupa lagi?"nada suara Ethan naik satu oktaf, dia menghela napasnya lalu mengenggam tangan Irina. "Coba deh, kamu inget-inget lagi!"


Irina mengernyitkan keningnya, mencoba untuk mencerna perkataan Ethan barusan. Memangnya apa yang dia lupakan? Apakah sesuatu yang penting? Irina tersentak saat pikirannya melayang jauh saat pembicaraan dirinya dan juga Ethan tempo hari. Dia menatap Ethan dengan pandangan yang panik.


"Jangan bilang kalo 'Kemal' yang itu sam--"


"Yap. Mereka orang yang sama! Kamu juga liat 'kan tadi dia natap aku gitu banget."jelas Ethan


Irina menundukan kepalanya. Tangannya saling mengait satu sama lain, dia menghela napas pelan, bisa-bisanya dia lupa orang yang sebahaya Kemal.


"Kenapa?"


Irina mendongakan kepalanya menatap Ethan. "Apa?!"


"Kenapa kamu gak kabarin aku kalo kamu sakit?"lirih Ethan


"Maaf."


Ethan menghela napasnya, dia menatap Irina dengan lekat. Lalu sedetik kemudian dia memajukan wajahnya ke depan wajah Irina.


Irina memundurkan wajahnya saat Ethan mendekat. Dia tersentak saat hidung mereka sudah bersinggungan, tangan Irina terjulur untuk mendorong dada bidang cowok itu, namun kecepatan Irina kalah dengan Ethan yang sudah menggenggam kedua tangannya.


"8 huruf, 3 kata, 1 makna! 'I Love You'."


Cup


.


.


.


-Tbc


Hola gaes...


Gimana-gimana??


Jangan lupa berikan dukungan kalian...


Maaf kalo ada typo, dll...


See you next... bhubhay...