Escape With You

Escape With You
Chapter 18



"Ethan."panggil Irina


Ethan membalikan badannya. Terdapat Irina yang sedang melambai ke arahnya. Ethan menghampiri gadis itu.


"Bawa apa aja?"tanya Ethan heran karena Irina menggendong ransel yang besar.


"Ya, kebutuhan gue lah. Jangan heran kebutuhan cewek sama cowok itu beda."kesal Irina


Ethan terkekeh geli, dia mengacak-acak rambut Irina. "Mau naik bis atau mau naik motor sama gue?"


Hah, motor? "Em, g-gue naik bis aja deh, lagipula.."


Irina menatap bus itu dengan khawatir karena dia tahu kalau kedua temannya tidaak ikut ke puncak, alasanya karena mereka lebih memilih berlibur ke singapura.


Ethan menaikan sebelah alisnya. "Jadi gimana?"


"Em, itu gue..."


"Kelamaan. Lo, ikut gue aja! Lagipula di dalam sana gak ada temen-temen lo."ucap Ethan seraya menunjuk bis dengan dagunya.


Ethan menarik Irina agar mengikutinya.


"Nih, pake."ucapnya seraya menyodorkan helm pada Irina.


Dengan ragu Irina menerima helm itu. "Punya Richard, lagi?"


"Hm. Tapi tenang aja, rem-nya udah di benerin, kok!"ucap Ethan meyakinkan


Ethan yang gregetan karena Irina tetap diam tidak memakai helm nya. Dia menarik helm itu dari Irina dan memakaikanya di kepala gadis itu.


"Kalo lo bengong terus, nanti kita bisa ketinggalan."bisik Ethan tepat di depan wajah Irina.


Irina tersadar dari lamunannya dia mengerjapkan matanya dua kali. Dan dengan ragu naik ke motor yang dikendarai oleh Ethan.


"Than, jangan ngebut."ucap Irina seraya mencengkeram sedikit jaket yang digunakan oleh cowok itu.


"Iya, nggak."ucap Ethan seraya terkekeh saat motor sudah melaju


"Beneran?"tanya Irina memastikan


"Gak janji maksudnya."


Irina memcengkeram erat jaket Ethan karena menahan rasa kesalnya. Ethan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang membuat Irina menghela napasnya lega.


Harum citrus yang menguar dari tubuh Ethan membuat Irina tanpa sadar memeluk pinggang cowok itu dan menumpukan dagunya di bahu Ethan. Dan Ethan pun tampak menikmati posisi tersebut. Irina memejamkan matanya saat semilir angin menyapanya. Udara semakin dingin karena sudah mendekati puncak. Keheningan yang terjadi antara mereka tergantikan dengan suara degub jantung yang bertumpang tindih.


Ethan melirik sekilas ke arah spion, dia tersenyum kala melihat Irina menutup matanya dan menyandarkan dagu miliknya ke bahu cowok itu. Debaran jantung yang menggila membuat keduanya sesak dengan kebungkaman. Tidak ada yang mau mengalah untuk berbicara. Mungkin mereka lebih memilih deguban jantung itulah yang berbicara satu sama lain.


Motor berhenti saat mereka sudah sampai di puncak. Murid-murid pun berhamburan turun dari bis. Mereka membangun tenda di lapangan lumayan luas. Entah di sengaja atau tidak Ethan membangun tendanya di dekat Irina. Mereka semua memang bebas memasang tenda dimana pun, karena satu tenda milik sendiri. Mata mereka bersitatap lalu tersenyum bersama dan memalingkan wajahnya bersamaan. Semenjak turun dari motor kecanggungan mulai terjadi antara mereka.


"Rin, lo mau ikut gue cari kayu?"tanya Ethan


Irina mengangguk dan mengikuti langkah Ethan. Lagipula kalau dia tidak bersama Ethan, dia tidak ada teman lagi. Irina tersentak saat Ethan mengenggam tangannya dan menariknya untuk berjalan bersisian.


"Jangan jauh-jauh."ucap Ethan seraya memasukan tangan Irina yang sedang di genggamnya ke dalam saku jaket.


Detak jantung Irina dua kali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana ini, Irina tidak bisa menahan perasaanya. Lagipula ini juga salah Ethan, yang tidak memperlakukan Irina layaknya teman biasanya. Bukankah hati perempuan itu memang lemah.


"G-gu, bukan— aku suka.."bisik Irina, namun bisa terdengar oleh Ethan.


Ethan menghentikan langkahnya dan replek Irina pun ikut berhenti. Dia berdiri di hadapan Irina tanpa melepas genggaman tangannya.


"Tadi lo bicara, apa?"tanya Ethan lembut seraya menatap Irina yang sedang menunduk.


Irina menggelengkan kepalanya. Tapi hati nya menyatakan kalau dia harus berbicara yang sejujurnya pada Ethan.


Ethan menarik tangan Irina agar lebih dekat dengan nya. Dia mengangkat dagu Irina menggunakan jari telunjuknya agar gadis itu mau menatapnya.


"Kamu tadi ngomong apa?"tanya Ethan seraya menatap kedua mata Irina


"A-aku suka.."bagaikan terhipnotis oleh tatapan menenangkan itu, Irina mencoba berbicara walaupun dengan berbisik.


"Apa, hm? Aku gak denger."bohong. Tentu saja Ethan berbohong tentang dirinya yang tidak mendengar, tetapi dia sangat mendengar jelas. Namun Ethan hanya ingin memastikan saja.


"A-a..aku..."napas Irina tercekat, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya yang sudah di mulutnya. Rasa panas mulai menyerang wajahnya. Irina akan menundukan kepalanya, tapi Ethan menahan dagunya untuk tetap menatap mata cowok itu.


"Apa? Aku ingin dengar, sekali lagi."minta Ethan dengan lembut, entah sejak kapan sebelah tangan Ethan sudah memeluk pinggangnya.


"Aku menunggu kata-kata itu."lirih Ethan. "Tapi kamu kalah, karena aku duluan yang suka sama kamu!"


Irina menahan napasnya. Bagaimana mungkin Ethan?


"A-apa?"tanya Irina gugup


"Aku duluan yang suka sama kamu. Saat pertama kali kita bertemu, aku berpikir bagaimana seorang gadis membawa orang asing masuk ke kamarnya diam-diam, apalagi itu laki-laki."


"Ta-tapi..."Irina bingung dengan keadaan sekarang. Napasnya yang sesak tergantikan dengan euforia yang luar biasa.


"Aku suka, suka sekali sampai rasa suka ini bisa membahayakan kamu, Na."ucap Ethan seraya menatap dalam Irina.


"Tapi aku suka Ethan dengan tulus."rasanya Irina ingin menampol mulutnya sendiri yang seakan bergerak sendiri. Tapi perasaanya tidak bisa ia tahan lagi. Semakin Irina tahan, semakin dia sesak karena kemungkinan buruk yang terjadi.


Irina menghela napasnya. Bisa saja kan Ethan hanya mengucapkan candaan tadi. Cowok itu memang suka sekali bercanda benar, bukan?


"Em, lupakan. Mungkin kita tadi sedang khilaf."ucap Irina seraya menjauhkan dirinya. Namun tangan Ethan lebih tangkas, dia menarik Irina untuk mendekat.


"Setelah ngomong kayak tadi, kamu mau pergi gitu aja?"usapan tangan Ethan meluncur ke dagu, meninta Irina agar menatap matanya. "Kamu gak bisa semudah itu lari dari aku, Na!"


Irina membelalakan matanya, atmosfer disekitarnya menjadi panas. Apalagi ditambah detak jantung yang berdegub keras. Irina hanya bisa menatap sepasang bola mata teduh itu tanpa menjawab, karena lidahnya terasa kelu.


"Ulangin lagi. Aku pengen denger sekali lagi, Irina..."


Mungkin karena ucapan lembut dari Ethan yang membuat Irina berani membuka mulutnya.


"Aku..."


"Iya?"


Irina menghela napasnya pendek-pendek. "Aku... suka... Ethan..."


Ethan tersenyum lembut, dia memeluk Irina yang terdiam bagaikan patung.


"Kamu tau? Tetap saja kamu kalah, karena duluan aku sukanya."ucap Ethan seraya mengelus rambut Irina.


Irina tidak bisa berkata-kata. Dia hanya berusaha menenangkan ledakan yang terjadu di hatinya.


"Mungkin aku bukan cowok yang baik buat kamu. Tapi biar aku ngebuktiinya. Gimana?"


Irina ingin sekali berteriak mengatakan iya. Namun sekarang dia sedang dilanda euforia yang menyenangkan. Dia hanya bisa tersenyum konyol dan mengangukan kepalanya.


"Ngangguk artinya iya?"


Irina mengangguk sekali lagi dan tidak bisa menahan senyumnya.


Ethan dengan senang hati menjahilinya. "Iya apa?"


"Itu..."


Ethan menaikan kedua alisnya seraya menyunggingkan senyum


"Jadi pacar... Ethan."ucap Irina seraya mencubit tangan Ethan, membuat cowok itu tergelak.


"Yaudah kalo maksa,"cowok itu menjawil dagu Irina. "Aku 'kan jadi seneng."


Irina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa malu di tatap intens oleh Ethan.


"Jangan malu, 'kan udah jadi pacar!"ucap Ethan seraya menarik turun telapak tangan Irina yang menutupi wajahnya.


Ethan menjulurkan telapak tangannya ke hadapan Irina. Dan Irina menerima uluran itu. Mereka berjalan saling menggenggam di tengah pepohonan pinus.


Kata orang, pohon pinus adalah obat penenang pikiran atau stress karena aroma nya yang menenangkan. Tetapi kata Irina dan Ethan pohon pinus adalah saksi bisu dimana untuk pertama kalinya mereka menyatakan perasaan yang selalu mereka elak. Aroma yang khas bercampur dengan semilir angin yang lembut menuntun mereka, entah tetap bertahan atau justru meninggalkan.


-Tbc


Jangan lupa voment nya gaes...


Akhirnya mereka jadian dan tidak terjebak friendzone lagi..


Maaf kalo ada typo, dll..


See you next chapter... bhubhay...