Escape With You

Escape With You
Chapter 31



Irina terjaga dari tidurnya, rasa pening lansung menyerang kepalanya. Entah berapa lama dia menangis sebelum tertidur. Buktinya saja dia masih mengenakan baju yang sama. Irina sangat malas untuk bergerak sekarang. Namun semboyannya yang selalu menyembutkan harus mandi jika sudah berpergian membuatnya mau tak mau melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Setelah menyadari matanya memerah dan sembab, Irina tidak mau terlalu lama memandangi cermin. Ia ingin kembali lagi ke tempat tidur dan memejamkan matanya selagi malam masih mengijinkannya terlelap. Baru saja Irina tertidur, dia langsung bangun terduduk kembali dan mencari ponselnya.


Sesuai dugaannya, ada beberapa pesan dan panggilan dari Ethan.


'Kamu cita-citaku, ingat.'


Irina kembali berbaring. Dia mengusap nama Ethan dan pesan manis yang ditulisnya. Tentu saja dia masih ingat. Siapa yang bisa lupa kalau ada seseorang yang menjadikanmu cita-citanya. Di masa depan sana.


Sekarang, Irina bahkan merasa gagal bahkan belum sempat memulai.


Irina mengetik pesan, yang menanyakan keberadaan Ethan yang di balas saat itu juga.


'Dimana pun kamu mau, aku ada disana.'


Irina ingin sekali bertemu Ethan. Merasakan pelukan nyamannya, dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Mungkin juga kepalanya akan di usap lembut atau pipinya akan dicubit. Tapi bersamaan itu, Irina tidak akan menangis lagi.


Irina tidak mau menangis di hadapan Ethan sekarang. Oleh karena itu, dia menjanjikan pertemuan esok hari di sekolah. Ditambah alasan karena sudah malam.


Irina menekan tombol kirim. Dia berguling dengan ponsel yang masih di genggamannya dan belum meninggalkan room chat supaya tepat waktu membaca pesan dari Ethan.


Ponselnya bergetar lagi. Tapi bukan karena pesan masuk melainkan karena panggilan dari Ethan.


"Mau tidur?"tanya Ethan diseberang sana


Irina berdehem untuk menormalkan suaranya. "Iya," namun tetap saja suaranya serak karena kelamaan menangis


Ethan menghela napasnya berat. "Sayang...,"terdengar nada khawatir disana. Itu menandakan bahwa Ethan tahi kalau dirinya sudah menangis


Dan suara Ethan dengan perpaduan panggilan sayangnya membahayakan Irina. Meruntuhkan pertahanan Irina, karena gadis itu mulai meneteskan kembali air matanya ke bantal.


"Aku... udah gak nangis, kok!"


"Iya,"Ethan akan selalu mempercayainya walaupun dia tahu kalau Irina sedang berbohong padanya. "Maaf, papa kamu harus tau dengan cara kayak tadi."


Ethan juga selalu merasa bersalah tentang apapun walau kejadian tadi tidak ada hubungannya dengan dia. "Ini bukan salah kamu, kok. Cepat atau lambat papa pasti bakalan tau."


"Separah apa dimarahinya?"


Irina bergumam. Ethan tahu apa yang dibicarakan Irina, dia mendengar denga serius hal-hal yang dikatakan Irina.


"Aku sekarang lagi di tempat Richard. Kamu mau aku kesana?"


Irina menoleh menatap jam nya. Pukul dua dini hari. Bertemu dengan Ethan memang sangat menggoda tapi Irina tahu apa yang terbaik bagi mereka sekarang.


"Gak usah, udah malem."


"Kalo gitu kamu jangan nangis lagi."


"Iya."ucap Irina seraya menghapus sisa air matanya


"Buktinya?"


Menakjubkan. Irina merasa bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Mau bukti kayak gimana?"


"Mmm... jangan tutup telpon nya."


Mungkin hal tersebut sudah biasa bagi sebagian orang. Namun bagi Irina ini adalah perhatian yang belum dia dapat sebelumnya.


"Oke,"Irina menarik selimutnya sampai dada dan memasangkam headseat pada telinganya. "Kamu lagi apa?"


"Lagi rebahan. Pake kaus putih, celana pendek hitam."


Irina mengagguk, tanoa sadar dia membayangkan Ethan. "Kok gak balik nanya?"


"Kamu lagi apa cantik..?"


Irina mengukir senyumanya. Beruntung sekarang mereka hanya melakukan panggilan suara. "Sama. Rebahan, baru selesai mandi. Tadi ketiduran."


"Aku bisa bayangin gimana manisnya wangi kamu sekarang."


Wajah Irina menghangat.


"Dan aku juga tau kalo kamu lagi gigitin bibir bawah kamu."


Irina menutup wajahnya karena tebakan Ethan benar. Walau hanya panggilan suara cowok itu masih saja suka berkata-kata manis.


"Aku boleh pasang musik? Gak akan keras kok."


"Boleh."


Suara nada mengalun dari seberang sana. Petikan gitar mengalun merdu di telinga Irina. Dia memejamkan matanya, merangkat notasi dan membayangkan kalo musik tersebut dimainkan oleh piano.


Tidak ada yang berbicara. Baik Ethan maupun Irina keduanya sama-sama menikmati musik yang diputar secara rendah tersebut. Sampai akhirnya Irina bisa mendengar suara gesekan kain dan helaan napas lembut Ethan.


"Than?"panggil Irina


Bolehkah sekarang Irina mengatakan bahwa dia mencintainya sekarang?


Irina tertawa dalam hati. Mereka belum cukup dewasa dalam mengartikan rasa. Namun bagi Irina, kehadiran Ethan membawa warna dalam hidupnya yang monoton.


Irina ingin mencobanya namun mengapa rasanya menggelikan dalam lidahnya. Keterdiaman Irina membuat keheningan yang berjangka panjang. Namun Irina tahu kalau Ethan sedang menunggunya melanjutkan kalimat tadi.


Irina menghembuskan napasnya pelan. "Selamat malam, Ethan."


"Iya,"entah dengan cara bagaimana Irina harus menjelaskan bahwa diringa sekarang yakin kalau cowok itu sedang tersenyum di seberang sana. "Aku juga."


--------------------------


Paginya Irina datang ke sekolah tepat lima meni sebelum masuk seperti biasa di diantar oleh Mang Udin. Dan yang lebih mengesalkan lagi mang Udin akan menunggunya sampai dia masuk ke kelas, itu perintah langsung dari ayahnya.


Saat Irina memasuki kelas, Ethan langsung menatapnya dengan lekat seolah berpikir seberapa lama dirinya menangis semalam.


Biasanya Ethan akan langsung berdiri dan membiarakan dirinya lewat. Tapi kali ini tidak.


"Pagi,"sapa Ethan


Irina melirik pada Gita dan Dewi yang sudah menaruh perhatian padanya. Karena memang semua siswa sudah duduk di bangkunya masing-masing.


"Pagi,"jawab Irina ragu.


Cowok itu masih diam dan tidak memberinya jalan untuk lewat.


"Mau lewat?"


Dengan kebingungan yang bertambah dan juga tatapan dari teman sekelas, Irina mengangguk.


"Maaf aja ya, yang duduk disini cuma yang memiliki senyum yang lucu seantero kelas."ucapnya mengundang sorak sorai dari teman sekelasnya.


"Ethan,"Irina menahan senyumannya. "Apaan sih.."


"Nah, itu."Ethan menyentuh ujung bibir Irina. "Lebarin lagi dong."


Sorak teman sekelasnya semakin menjadi apalagi di kompori oleh Gita yang saat ini sudah berdiri diatas kursi.


"Jadi gini Na, tiket masuknya adalah senyum. Meski gue gak tau apa yang dimaksud sama senyum manis itu. Apa gue aja nih, yang senyum?"tanya Gita yang langsung ditarik oleh Dewi agar duduk


Meski kelas masih dipenuhi dengan derai tawa. Ethan seakan tidak peduli, cowok itu malah menikmatinya. Dia mengulurkan tangannya ke atas tepat di bawah dagu Irina. "Mana, jatohin senyumnya..."


Detik berikutnya Irina tidak dapat lagi menahan senyumnya. Yang langsung ditangkap oleh Ethan dan dimasukan dalam saku kemejanya.


Ethan berdiri dan menggeser kursinya. "Silahkan tuan putri..."yang langsung memacu sorak sorai dari siswa lainnya


Irina mencubit tangan Ethan yang berada di bawah meja. Bukannya kesakita cowok itu malah mengintip apa yang dilakukan Irina.


"Kamu lagi apa?"


"Malu-maluin."desisnya


Suara tawa murid-murid langsung lenyap saat guru berambut pendek memasuki kelas. Terlihat guru itu meletakan tasnya ke kursi. Dan yang lebih parahnya lagi, dia memanggil nama Irina.


"Irina, mulai hari ini duduk kamu pindah ke depan."


Sorak kecewa dari murid  langsung terdengar di kelas. Mereka merasa tidaka adil karena tidak akan ada tontonan yang manis.


"Diam!"bentak guru tersebut yang membuat kebisingan itu lenyap seketika. "Irina..."


Irina menghela napasnya. Dia mengambil ranselnya yang ada di samping kursinya. Ini pasti ulah ayahnya, sekiranya itulah yang ada dipikiran Irina.


Sekali lagi Ethan berdiri untuk memberikan ruang Irina untuk lewat. Berada di dekat cowok itu membuatnya nyaman, dan tidak perlu memikirkan hal lain selain bahagia. Disayangi. Namun secepat itu pula semuanya berlalu.


Punggungnya ditepuk saat Irina sudah duduk dikursi depan. Dia menoleh dan mendapat sobekan kertas. Karena posisinya paling depan, Irina harus ekstra hati-hati. Dia menyempatkan kertas itu di tengah-tengah bukunya.


Irina membuka lipatan kertas itu. Ada sebuah emoji senyum dengan dua titik dan lengkungan yang besar, terdapat tulisan di bawahnya, yaitu


'Ini aku balikin senyum yang tadi. Jangan lengah, nanti aku curi lagi'


Tertanda


Ethan, Ag.


-Tbc


Hai-hai kawan-kawan yang cantik... selamat hari minggu...


Kalo ada typo, atau kalimat yang kurang tepat maafkan saja, oke...


Maklum lah masih Amatir...


See you next... bhubhay...