
Setelah berhari-hari berlalu sejak dia pingsan di depan panti, Ethan tidak pernah datang lagi ke sekolah. Membuat Irina merasa ada yang kosong dalam hidupnya. Dan sore tadi dia kembali mengunjungi panti namun cowok itu tidak ada disana.
Rambutnya masih sedikit basah ketika berbaring malas di atas tempat tidur. Tenaganya seolah benar-benar terkuras meski kegiatannya hanya berbicara pada anak kecil seraya bermain piano.
Pikirannya lah yang membuatnya lelah. Terutama pembicaraan-nya dengan bunda Indah tadi.
'Jangan benci dia'
Rasanya bukan benci yang Irina rasakan sekarang. Melainkan, keputus-asaan.
Jika benar Ethan harus pergi, seharusnya cowok itu sendiri yang memberitahunya. Mungkin mereka bisa membicarakan itu, kemudian mencari jalan keluar bersama.
Pasti ada hal lain. Yang membuat Ethan bersikap seperti sekarang. Cowok itu selalu berusaha menjaganya, dan pasti sekarang pun juga. Namun, segala cara sudah Irina lakukan tapi berakhir sia-sia.
Mungkin jalan terakhir baginya memang menunggu.
Ponsel Irina berbunyi. Satu pesan dari grup-nya yang berisi Dewi dan Gita, mengajaknya untuk hangout akhir pekan nanti. Irina balas menyetujui nya daripada dia suntuk seharian di rumah.
Dewi: demi apa lo mau kita ajak keluar?!
Gita: biasanya juga nyungsep di rumah karena dilarang sama bokap! Tapi gue seneng akhirnya lo mau ikut kumpul.
Akhir-akhir ini kedua sahabatnya itulah yang menjadi penyemangatnya. Irina tersenyum tipis ketika Dewi dan Gita memulai lagi pertengkaran mereka hanya karena masalah kecil. Dia menggelengkan kepalanya kedua sahabatanya itu memang jarang akur tapi mereka tidak bisa terpisahkan.
Dewi: kita cuma pengen liat lo senyum lagi kayak dulu❤
Irina hanya menatap deretan kalimat itu dalam diam. Ia jadi ingat perkataan Ethan waktu di pesta ulang tahun Gita dulu. Bahwa masih ada cowok yang baik untuknya. Dan harusnya Irina bersama orang lain, bukan Ethan.
Apa kemungkinan seperti ini yang dimaksud Ethan? Jika dirinya akan menyakitinya.
Apakah Irina tersakiti saat ini?
Irina menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Ia mencintai Ethan. Tapi mengapa semuanya jadi rumit.
Ia membiarkan pesan dari grupnya tidak terbalas. Segala keletihan itu membuat Irina tidak merasa jatuh terlelap bahkan dengan posisi kedua kakinya masih tergantung di ujung tempat tidur.
Tidur Irina yang tidak nyaman itu terganggu oleh suara alarm dari ponselnya. Ia bangkit duduk lalu menggantungkan handuk yang ternyata masih melilit di bahunya. Ia turun tanpa suara menuju dapur. Mengeluarkan kotak berukuran sedang berisi kue cokelat dari kulkas dan membawanya kembali ke kamar.
Sebenarnya, Irina sendiri tidak tahu akan apa yang tengah dilakukannya. Saat pulang dari panti melewati sebuah toko roti, Irina langsung meminta Mang Udin untuk berhenti.
Irina juga memasang alarm tepat jam dua belas malam di tanggal tiga puluh yang membangunkannya tadi. Ia menyiapkan kue cokelat yang sedang dia pasangin lilin ini, bahkan mencari jepit pita di laci kemudian memasangkannya di rambut.
Semuanya bukan tanpa alasan.
Karena Irina ingin merasakan keberadaan Ethan. Irina ingin menyanyikan lagu ulang tahun. Merayakannya meski hanya dalam khayalan.
Irina duduk bersila, bersandar di tepi tempat tidur. Ia memandangi ponselnya yang tergetak di lantai, persis di samping kue. Irina mengigit bibir bawahnya ragu, Irina memutuskan untuk memotret kue lalu mengirimkannya ke nomor Ethan.
Centang dua, tapi tidak ada balasan. Tentu saja. Walau jauh di dalam hatinya Irina mengharapkan keajaiban. Irina menggenggam ponselnya, lalu menutup mata seraya berdoa.
'Selamat ulang tahun, Ethan.'
Irina tersenyum saat membayangkan bagaimana jika cowok itu berada di hadapannya sekarang ini. Ethan pasti akan meledek pita di kepalanya. Lalu tersenyum dan memeluknya.
Mempertahankan pikiran menyenangkan itu lalu dia meniup lilin, tepat saat sebuah ketukan terdengar.
Irina terkesiap. Itu berasal dari jendela. Ia menahan napas karena takut jika yang di dengarnya tadi adalah sebuah khayalan.
Namun ketukan kembali terdengar. Tanpa menunggun, Irina bangkit beralari menuju jendela, membuka tirai dengan cengkeram begitu keras dan hampir terjatuh saat itu juga ketika mendapati apa yang dia lihat.
Yang ini bukan termasuk khayalan.
Ethan memang sedang berdiri tepat di hadapannya. Di balkon kamarnya.
Irina membelalak. Ponsel jatuh dari genggamannya. Irina tahu jika dia tidak bernapas sekarang karena bahkan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Senyum tipis dari cowok berambut pirang kecokelatan itu hampir membuat Irina kejang.
Irina menyambar kunci jendela. Memutarnya dua kali dengan kecepatan menggila. Saat menggeser penghalang terbuka diantara mereka, Ethan justru menutup kembali jendela dari sisi luar.
Ditatapnya bolak-balik antara Ethan yang menahan jendela tetap tertutup, dan dirinya yang berusaha membuka dari dalam.
"Ethan..."Irina masih berusaha menggeser jendela. "Ethan, please..."tapi kekuatannya tidak sebanding dengan cowok itu. Jendela masih tertutup. Dan Irina tidak punya pilihan selain terisak.
"Ethan..."Irina tahu cowok itu mendengarnya. Ia menghapus air mata karena itu menghalangi pandangannya melihat Ethan. Kedua tangannya menempel di kaca, ingin sekali menyentuh cowok itu.
Di sisi luar yang berangin malam dingin itu, Ethan merogoh ponsel di saku dan melakukan panggilan. Tidak berapa lama, ponsel Irina bergetar.
Dengan panik Irina mengambil ponsel di lantai dan menjawan panggilan itu.
"Ethan!"pekik Irina. "Ethan biarin aku buka jendelanya!!"
"Jangan nangis, Na."
Kalimat pertama yang ia dengar dari suara Ethan yang begitu dirindukannya. Bagaimana Irina bisa berhenti menangis?
Irina mencoba kembali menggeser jendela. Tapi lagi-lagi Ethan mencegahnya.
Lewat kaca jendela yang membatasi mereka ini, Irina tahu Ethan melihat kue di kamarnya. Lalu pandangannya berpindah pada pita yang ada di kepala Irina.
Ethan meletakkan tangannya di kaca jendela, seolah mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Jangan sedih terus, ya."
"Ethan..."Irina tidak sungkan menggedor jendela kamarnya sendiri. "Kamu kemana aja? Kenapa gak ngasih kabar?!"
"Ada yang harus aku selesaikan. Maaf. Aku gak bisa bilang sekarang."
"Kamu akan kuliah bahkan menetap di New York? Aku tau. Aku gak pa-pa kita berhubungan jarak jauh. Itu nggak masalah..."
"Bukan itu, Na..."
"Kita masih bisa berkomunikasi lewat telepon. Atau aku bisa sesekali kunjungin kamu ke sana. Aku sama sekali gak keberatan..."
"Irina..."
"Apa aja akan aku lakuin. Asal kamu tetep sayang aku..."
Sepasang mata teduh Ethan berkaca saat mengatakan ini. "Aku sayang kamu."
Irina semakin menekan kaca jendela. Ia bahkan menempelkan dahinya di sana. Yang di lakukan juga oleh Ethan di sisi luar. Genggaman tangannya pada ponsel bergetar, begitu pula seluruh tubuhnya yang ikut terisak.
"Kamu perempuan yang aku sayang setelah Bunda, Irina. Orang yang selalu ingin aku bikin seneng. Aku bisa mengorbankan apapun asal kamu aman."
Irina menutup mata. Meresapi suara Ethan yang mengisi penuh hatinya.
"Aku sayang kamu, sampai rasanya aku gak bisa berhenti bahagia karena punya kamu di duniaku."
Irina sudah tidak peduli jika ia harus menghancurkan jendela ini agar memeluk Ethan. "Kamu masih punya aku."
"Aku harus pergi."
Irina tersentak.
"Ingat, ya."Ethan melangkah mundur menjauhi jendela. "Kamu selalu jadi cita-citaku."
"Ethan, tunggu! Jangan pergi. Apa maksud kamu?"setelah pertemuan menyedihkan ini, pernyataab perasaan barusan, cowok itu malah berniat pergi. Lagi.
Sebelum Ethan menutup telepon yang menjadi penghubung mereka, Irina berteriak.
"Kalo kamu pergi, aku akan benci kamu!"
Sangat sakit mengatakannya tepat di depan orang yang sungguh disayanginya. Tapi Irina tidak ingin lagi Ethan pergi. Ia mundur, memberi pilihan pada cowok yang terlihar terkejut.
"Aku akan benci kamu."ulang Irina sebelum mematikan telepon. Irina berbalik memunggungi Ethan. Ia mempertaruhkan segalanya malam ini agar cowok itu tetap di sisinya.
Suara gesekan jendela yang terbuka membuat Irina menegang. Langkah pelan Ethan yang memasuki kamar terasa sangat jelas di balik punggungnya. Bersamaan dengan kehangatan yang melingkupi Irina.
Ethan memeluknya.
Irina semakin terisak ketika Ethan mencoba menenangkannya. Ia kira penantian ini sudah berakhir. Ethan tidak akan kemana-mana lagi.
Tapi sebuah kecupan di sisi kepalanya, serta bisikan serak dari Ethan memiliki arti lain dari yang Irina kira.
"Aku akan tetap sayang kamu."
Lalu Ethan pergi melompati jendelanya. Meninggalkan Irina yang jatuh lemas terduduk seraya meremat hatinya.
Ethan sudah memilih Irina untuk membencinya.
Cowok itu memilih meninggalkan kenangan yang sudah banyak mereka lewati. Cowok itu datang seberkas semu lalu menghilang setergesa itu.
Pada malam itu dua hati yang di bertemukan, terpaksa harus terpisah kembali karena takdir. Entah semua akan berjalan sesuai waku atau tidak.
-END-
Selamat malam...
Apa kabar kalian hari ini? Bagaimana tadi di sekolah? Atau kampus? Atau di tempat kerja?
Tidak apa-apa jika hari ini sangat melelahkan atau tidak sesuai rencana. Kalian sudah melakukan yang terbaik. Usahan besok jadi lebih baik lagi.
Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini. Terima kasih karena sudah bersamaku hingga hari ini. Aku tahu, ada banyak cerita yang lebih wah, dan bagus di luar sana. Dan kalian masih menyempatkan waktu untuk mampir kesini. Terima kasih. Semoga aku selalu menghibur dengan karya-karya ku.
Jangan ekspetasikan terlalu tinggi cerita ini. Karena memang, aku menulisnya murni untuk kesenangan diri. Kalo kalian juga senang, aku juga tambah senang.
I Purple U
IdNiss
Penulis amatir yang hampir lupa, kalau menulis adalah untuk menyenangkan diri.