Escape With You

Escape With You
Chapter 16



Irina berjalan dengan tergesa keluar dari kelasnya. Dia tidak mau berbicara pada siapa pun, karena cowok itu yang dengan percaya dirinya mengatakan itu pada Irina. Dan yang lebih parahnya lagi Irina hanya diam tidak menyangkal.


Mobil jemputan Irina sudah menunggunya. Dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil itu dan memegang dadanya yang berdegub kencang.


"Neng Irina kenapa?"tanya Mang Udin


"E-eh gak pa-pa mang. Sekarang les ya?"


"Iya, neng."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil berhenti tepat di gedung les Irina. Irina turun dari mobil dengan langkah malasnya. Selalu saja seperti ini, Irina sudah lelah berpikir, tapi harus berpikir kembali.


Irina menghela napasnya kasar saat mang Udin sudah pergi dari sana. Irina melangkahkan kakinya untuk memasuki gedung. Namun, baru saja Irina akan menaiki tangga, tangannya sudah di cekal oleh seseorang.


Irina membalikan badannya dengan kesal. Kenapa hari ini banyak sekali yang membuatnya kesal.


"Ethan?"kening Irina menyernyit bingung. "Ngapain lo disini?"


Ethan tidak menjawab. Dia malah menarik gadis itu.


"Eh.. eh, apa-apaan? Gue mau di bawa kemana?"tanya Irina panik. "Than gue harus les. Udah kebanyakan bolos."


Irina memberontak namun Ethan tetap menariknya menuju sebuah motor. Ethan melepaskannya saat mereka sudah berada di depan motor tersebut.


"Itu motor siapa? Terus lo ngapain ngajak gue kesini?"Irina menatap Ethan dengan bingung saat cowok itu mulai menaiki motornya.


"Gue harus les."tangan Irina di cekal kembali saat gadis itu akan kembali ke gedung les nya.


"Apa lagi sih?"kesal Irina


Irina membalikan badannya. Dan seketika dia menelan ludahnya dengan susah payah. Cowok itu sedang menatap Irina dengan tajam dengan raut wajah tidak sukanya.


Kenapa dia?


"Naik!"


"Eh, m-maksudnya?"tanya Irina tidak mengerti


"Naik sendiri, atau gue naikin?!"


Glek. Kata-kata yang sangat ambigu.


Dengan ragu Irina menginjak pedal dan duduk di kursi penumpang. Posisinya sekarang sangat dekat dengan punggung Ethan.


"Pegangan, ya!"


"Kemana?"tanya Irina bingung


"Boleh ke besi yang ada di belakang lo. Kalo mau ke pinggang gue juga gak apa-apa!"ucap Ethan seraya mengedipkan matanya nakal.


Karena Irina anak baik-baik, dia lebih memilih berpegangan pada besi yang ada di belakangan. Menepis rasa kesal nya. Ethan mulai menjalankan motor itu dengan perlahan.


Jika naik mobil memberikan rasa nyaman terhadapnya. Ternyata naik motor berefek sangat besar baginya.


Bukan karena angin bebas yang membelai wajahnya. Atau mengibarkan rambut yang sebagian tertutup helm nya. Tetapi adrelin karena kecepatannya yang membuat Irina semakin hidup. Apalagi aroma harum yang sedari tadi Irina cium dari tubuh Ethan menghantarkan kenyaman di hatinya.


"Ngomong-ngomong ini motor siapa?"teriak Irina karena takut tidak terdengar


"Motor Richard."balas Ethan teriak


Irina terdiam sebentar untuk menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.


"Lo mau bawa gue kemana?"tanya Irina bingung


"Mau culik, lo!"


Irina mengernyit heran cowok cantik ini benar-benar aneh. Perilakunya dapat berubah-ubah juga. Motor terhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, dan di depannya terdapat gapura.


Irina membaca tulisan pada gapuran tersebut 'Panti Bu Indah' itulah tulisan yang tertera disana.


"Than, lo ngapain bawa gue kesini?"tanya Irina seraya turun dari motor


Ethan tidak menjawab. Dia malah mengenggam tangan Irina untuk masuk ke dalam panti tersebut. Irina melihat sekelilingnya, di panti ini tidak begitu banyak anak-anak. Itulah kata yang terlintas pertama kali.


Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan mengendong seorang bayi.


"Bun,"Ethan mengecup tangan wanita tersebut. "Ini temanku, Irina."


Irina tersenyum seraya bersalaman dengan wanita tersebut.


"Oalah.. jadi ini toh, yang namanya Irina. Cantik banget,"ucapnya. "Saya Bu Indah, pemilik panti ini."


"Iya tan, saya Irina."


"Ayo sini duduk,"ucap Bu Indah seraya menepuk kursi yang terbuat dari kayu itu. "Mau masuk ke dalam?"


"Gak usah... disini aja, tan."ucap Irina sopan


"Eh, gak us--"


"Gak pa-pa. Gak ngerepotin, kok!"ucap bu Indah seraya masuk ke dalam


Ethan. Cowok itu terlihat sedang bermain dengan anak-anak di panti tersebut.


"Nak Irina, Ini di minum dulu."ucap Bu Indah seraya meletakan air minum dan kue kering di atas meja kayu yang membatasi kedua kursi.


"Makasih, bu."ucap Irina seraya tersenyum lembut.


"Kamu pasti bingung, kenapa Ethan mengajak mu kesini."perkataan Bu Indah  membuat Irina menatap wanita paruh baya yang sedang menepuk-nepuk lembut bayi yang sedang di gendongnya.


"Kenapa Ethan membawa kamu kemari, itu artinya kamu adalah orang yang dapat dia percaya."


"Maksudnya?"tanya Irina tidak mengerti


"Ethan adalah anak panti ini."


Irina mengernyitkan keningnya bingung. Bukannya cowok itu pernah bilang kalau dia tidak punya rumah? Tapi kenapa?


"Panti ini dibangun oleh orangtua bunda, dan diteruskan oleh bunda,"bu Indah menghela napasnya sejenak. "Saat usia bunda 20 tahun, saat hari itu hujan sedang turun dan angin sedang kencang. Bunda mendengar sayup-sayup suara bayi menangis, awalnya bunda kira salah dengar, tapi tangisan itu semakin nyata. Rasa penasaran memang selalu menang daripada rasa takut, benarkan?"


Irina mengangguk karena itu memang benar.


"Bunda melihat keluar, saat itu bunda sangat kaget karena di depan pintu sudah ada bayi di dalam keranjang dan selembar kertas yang diselipkan disana,"bu Indah menatap Irina yang sedang menyimak ceritanya. "Kamu tau bayi itu siapa?"


"Ethan?"


"Benar. Bayi itu Ethan, bunda sangat syok waktu itu. Tetapi akhirnya bunda memutuskan untuk merawat Ethan. Dia adalah anak pertama yang menetap di panti ini."


"Tan--"


"Panggil bunda saja."


"Bunda, apa yang tertulis di selembar kertas itu?"tanya Irina penasaran


"Hanya sebuah nama. Kamu tau kenapa Ethan tidak mau menyebutkan nama panjangnya?"tanya bu Indah


Benar juga. Ethan belum pernah menyebutkan nama panjangnya, bahkan perkenalan di depan kelas pun, hanya mengenalkan nama depannya saja.


"Irina gak tau, bun."


"Di selembar kertas itu tertulis nama 'Ethan Agapanthus'."


"Wah... nama yang bagus."komentar Irina


"Nama Ethan artinya pemberani. Kamu pernah dengar bunga Agapanthus? Bunga yang mengandung banyak cinta dan kaya akan keindahan. Namun Ethan tidak menyukai nama panjangnya karena dia pikir, dia terlahir tanpa cinta oleh sebab itulah orangtua nya membuangnya."


Irina mendengarkan dengan serius apapun yang dikatakan oleh bu Indah. Rasanya seperti dengan ibu sendiri karena bu Indah sangat santai sekali. Irina melirik jam yang mrlingkar di pergelangan tangannya.


"Aduh, gimana ini?"ucap Irina seraya menepuk keningnya. Sebentar lagi mang Udin akan menjemputnya di tempat les.


"Sudah jam setengah tujuh malem, kamu pasti mau pulang. Bentar bunda panggil dulu Ethan."


Irina mengangguk.


"Irina,"panggil bu Indah sebelum berlalu. "Terus lah kejar mimpi mu. Semua orang tidak akan seberuntung kamu."


Irina hanya terdiam karena tidak mengerti oleh perkataan yang dilontarkan bu Indah.


"Mau, pulang?"


Irina tersentak saat Ethan tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


"I-iya, tapi anterin gue ke tempat les aja!"Irina menoleh pada bu Indah yang berada di belakang cowok itu. "Bun, Irina pulang dulu."


"Hati-hati, ya."ucapnya seraya mengelus puncak kepala Irina.


Irina mengikuti Ethan yang berjalan ke arah motornya.


"Lo suka coklat?"tanya Ethan seraya menaiki motor


"Suka, kenapa?"


"Cuma nanya."Ethan tetaplah Ethan yang menyebalkan.


Irina kita Ethan akan memberinya gombalan manis seperti. 'Pantesan kamu manis banget' seperti itulah. Tapi nyatanya realita tidak sesuai dengan ekspetasi. Irina menaiki motornya dengan kesal.


"Ciee, di kira gue mau ngegombal, ya?"ledeknya


"Paansih, cepet jalan!"


"Iya-iya. Oh iya, lo tau gak kalo ada kecelakaan motor. Penumpang nya itu yang bakalan tewas duluan."ucap Ethan sebelum menjalankan motornya.


Irina mengernyitkan keningnya. Namun sesaat kemudian dia memukul punggung cowok itu.


"Ish.. gak usah nakut-nakutin! Gue gak jadi naik aja, deh."


Irina sudah akan turun dari motor, namun Ethan menarik kedua tangannya dan di letakan di pinggang cowok tersebut. "Kalo pegangan sama gue, lo pasti aman!"


Modus!


Irina merasakan telapak tangan nya bersentuhan dengan jaket yang digunakan cowok itu, dia mendengus. "Ya tapi tetep aja gue penumpang!"


"Tapi karena lo lebih milih pegangan sama gue daripada besi itu, gue bakalan lebih dulu lindungin lo!"Ethan melirik sekilas Irina dari spion. "Ngomong-ngomong soal coklat, gak usah dibandingin pun lo lebih manis dari itu."


Sialan! Gue baper.


-Tbc


Hola gaes...


Gimana menurut kalian gaes??


See you next chapter ya, gaes... bhubhay gaes....


Maaf kalo ada typo,dll...