Escape With You

Escape With You
Chapter 21



"Ini bakalan lebih mudah, kalo kamu biarin aku ketemu sama orangtua kamu!"


"Sstt.. kamu mau aku dipenggal sama ayah aku, apa?"kesal Irina


Malam ini adalah dimana akan menjadi malam pertama kencan mereka. Namun sudah lima belas menit Irina belum juga keluar kamar, karena ayahnya masih terjaga di ruang tamu.


"kamu di mana sekarang?"tanya Irina pada seseorang di seberang sana


"Tepat di bawah balkon kamar kamu, tuan putri..."


Irina melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sebenarnya Irina lelah karena seusai pulang dari les-nya dia di ceramahi berjam-jam oleh ayahnya, ditambah lagi ibunya tidak mendukungnya. Rasanya Irina tidak enak jika harus membatalkan acaranya. lagipula cowok itu yang sudah menunjukan berbagai warna dalam kehidupannya sekarang.


"Irina. Kamu denger aku gak?"


"Eh? Kamu ngomong apa?"


"Orangtua kamu udah tidur, belum?"


"Papah masih di ruang tamu. Jadi gak bisa turun."


"Mau loncat?"


"Hah? E-enggak. Aku pake rok."sebenarnya bukan hanya itu, Irina juga takut karena balkon kamarnya terbilang lumayan tinggi


"Ijinin aku nangkap kamu, sekali aja! Pasti seru."


Irina melirik jam yang ada di nakasnya, sudah jam sepuluh lebih lima belas menit namun ayahnya belum juga beranjak. Dia memutuskan untuk jalan ke arah balkon. Ethan melambaikan tangannya di bawah sana seraya tersenyum.


"Ayo loncat!"


Dengan ragu Irina melangkahkan kakinya ke tepian pembatas, dia melongokan kepalanya ke bawah. Setelah itu menatap lurus ke depan seraya menelan salivanya dengan susah payah.


"Ayo Irina, jangan takut. Aku bakalan nangkap kamu."


Bagai sebuah matra. Rasa takut yang tadi menguasai Irina menghilang begitu saja.


"Jangan ngintip."bisik Irina. Bisa dia lihat cowok itu sedang menahan tawanya.


Ethan merentangkan tangannya. Seolah dia akan dengan tepatnya menangkap Irina, dan mempercayakan hidupnya pada cowok itu. Irina terkekeh geli.


"Ssstt... ketawanya jangan pake suara, entar katauan! Ayo cepetan lompat!"


Ethan mendekap tubuh gadis itu dan terjatuh di rerumputan tanah. Irina tidak merasakan sakit apapun, karena bisa di bilang dia mendarat tepat di atas cowok itu.


"Ternyata bener,"ucap Ethan saat keduanya sudah berdiri.


"Apa?"


"Bidadari emang jatuh dari langit!"


Sialan! Pinter banget dia buat gue baper.


"Siap, tuan putri?"tanya Ethan


"Siap."jawab Irina seraya mengangkat tangannya.


Ethan mengenggam tangan Irina menuju motornya.


"Kenapa dilepas?"tanya Irina yang bingung melihat Ethan melepas jaket nya.


"Kamu pake baku begini, nanti kebuka naik motornya."Ethan menalikan jaket itu ke pinggang Irina


"Tapi aku pake celana pendek kok di dalemnya."ujar Irina seraya melihat Ethan yang sedang menalikan jaket tersbut.


"Tetep aja,"Ethan mengusap rambut Irina sekilas. "Ayo naik."


Irina menaiki motor tersebut dan langsung memeluk pinggang cowok itu.


"Ciee... gak perlu aku jelasin dulu nih?"goda Ethan, yang membuat Irina memukul bahu cowok itu.


Irina tersenyum seraya memeluk erat pinggang Ethan dan meletakan dagunya di bahu cowok. Dia menggeleng, senyuman yang menggelitikan perutnya dan dia tahu Ethan pun sedang melakukan hal yang sama.


______________________________


Tepat pukul sebelas kurang tiga menit, Ethan menghentikan motornya di komplek pertokoan yang sepi. Banyak motor juga mobil yang terparkir di ujung jalan buntu sana.


Jika bukan karena mau menonton konser. Irina tidak tahu mereka akan apa, karena sejak tadi yang terdengar hanyalah suara binatang malam. Tidak ada panggung ataupun sejenisnya. Karena Irina tidak ingin terihat memalukan, dia lebih memilih menutup mulutnya daripada bertanya.


Setelah memarkirkan motor, Irina menyerahkan kembali jaket milik Ethan. Cowok itu diam menatap Irina dari atas hingga bawah, membuat gadis itu berdiri kikuk. Tetapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menggengam tangan Irina dan masuk ke dalam.


Ethan menyerahkan dua tiket konser itu dan tangan mereka di beri cap agar bisa masuk. Pintu ganda pertokoan berkarat itu terbuka dan memperlihatkan tangga yang menuju ke bawah.


Irina menghentikan langkahnya karena di ujung tangga tidak terdapat penerangan. Seolah tahu apa yang dipikirkan Irina, Ethan memeluk pinggang gadis itu dengan lembut.


"Ada aku."hanya karena dua kata yang membuat ketakutan Irina sirna. Irina mengeratkan pegangannya pada tangan Ethan, seolah dia mempercayakan sepenuhnya pada Ethan.


Gelap yang memenuhi lorong itu perlahan menghilang karena ada cahaya yang samar.


Pintu masuk bertuliskan 'Hello There' dengan tinta berwarna merah membuat Irina semakin merapatkan dirinya. Semakin banyak lampu-lampu berwarna-warni mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang dingin. Pantas saja Irina tidak mendengar suara apapun diluar, karena tempat konser terdapat di ruang bawah tanah yang kedap suara.


Terdapat lampu berwarna kuning berbentuk kotak disetiap sudut ruangan. Lampu disco pun terdapat di tengah-tengah panggung, meja bar yang terletak di bagian kanan, dan kursi penonton yang terletak dibagian kiri.


Tapi yang disadari Irina sejak masuk adalah penonton yang berpasang-pasangan. Ada yang duduk saling berpangkuan dan yang berdiri saling memeluk sebelum acara di mulai pun.


Irina berdiri kikuk diantara mereka, karena semua sudut yang berada disini terasa salah.


Sebenarnya memang benar Irina merasa tidak nyaman. Namun dia juga tidak enak jika harus pulang lagi.


"Nggak kok. Nama band nya apa?"


"Hanya band jalanan aja. Mungkin jenis musiknya gak pernah kamu denger."ucap Ethan


"Aku denger musik apapun, kok!"


"Tipe pemusik sejati."ucap Ethan seraya tersenyum


"Kamu sering kesini?"


Penonton mulai berdesakan karena ingin menonton di bagian depan. Membuat Ethan memindahkan Irina kesamping lengannya.


"Ini baru yang pertama."


Irina mengerutkan keningnya.


"Richard. Tempat ini punya temannya Richard,"Ethan menunduk melihat Irina. "Harusnya aku tau kalo kamu gak akan nyaman sama tempat ini. Maaf."


"Kenapa minta maaf?"


"Karena harusnya aku bawa kamu ke tempat yang lebih bagus dari ini!"


Irina menyentuh tangan Ethan yang berada di bahunya. "Ini gak seburuk itu, kok!"asalkan bersama Ethan ini akan menjadi indah, bukan?


Suara vokalis menggema. Dia mengucapkan salam dan disambut oleh sorak sorai dari penonton. Dari penampilannya Irina bisa menilai kalau mereka adalah band rock atau sejenis rock yang lain.


Saat suara hentakan mulai terdengar, para penonton bersorak. Dan yang lebih berkesan Irina menyukai hentakan itu. Berbeda dengan suara dentingan piano yang lembut. Hentakan itu terasa menyulut debar jantungnya. Membangkitkan euporia yang menyenangkan.


Irina menarik baju Ethan supaya cowok itu menunduk. "Seru banget, Ethan!"


Ethan terkekeh dia memeggangi bahu Irina agar tidak terhimpit oleh penonton.


Suasana semakin panas. Beberapa pasangan ada yang melompati bahu pasangannya, dan mengikuti


Suara hentakan.


Irina berputar ke arah Ethan, dia berjinjit membuat Ethan membungkukan badannya. "Aku gak tau kalo nonton konser, bisa seseru ini!"


Ethan memalingkan kepalanya dan berbisik di telinga Irina. "Baguslah,  kalo kamu suka!"


Mereka tertawa. Irina kembali menghadap ke depan dan ikut berteriak bersama yang lain. Dia tidak memperdulikan keringat yang ada di keningnya ataupun tatanan rambut yang sudah rusak. Malam ini rasanya Irina seperti burung yang keluar dari sangkarnya. Hidupnya yang dulu membosankan kini lebih berwarna, dan Irina merasakan hidup yang sesungguhnya sekarang.


Entah sudah berapa lama musik berjalan, napasnya sudah mulai tersenggal. Kakinya juga sudah lemas. Untung saja Ethan dengan sigap menahan pinggangnya. Perasaan terlindungi hinggap di hati Irina, dia merebahkan kepala belakangnya di dada bidang Ethan. Irina merasakan Ethan metakan dagunya di kepala Irina.


Musik mulai melambat. Entah sejak kapan mereka menggerakan pelukannya ke kiri dan kanan. Petikan musik yang terakhir memacu tepuk tangan yang meriah. Irina mengikuti tepukan itu dengan wajah berseri, namun tidak lama kemudian wajah berseri itu langsung hilang tergantikan dengan wajah terkesiap.


Pasangan lain banyak yang berciuman, bahkan pemain band yang tadi pun didatangi oleh pasangan masing-masing. Irina menutup mulutnya dengan tangan, sedangkan Ethan menutupi mata Irina.


Ethan melepaskan jaketnya dan menutupi kepala mereka. Irina mendongak melihat wajah Ethan yang tersenyum geli.


Musik sudah berhenti namun degub jantung Irina belum juga berhenti. Irina merasakan helaan napas Ethan menyapu wajahnya. Irina meremat baju Ethan saat cowok itu menyatukan keningnya.


"Kita pergi dari sini, setuju?"bisik Ethan


Tentu saja, kenapa tidak? Benar, bukan? Haruskah Irina bahagia atau sebaliknya?


Ethan menggengam tangan Irina dan mengajaknya berlari ke parkiran. Ethan tergelak saat sudah mencapai parkiran. Dia mencubit pipi Irina yang memerah.


"Lucu banget sih..."


"Apaan sih, Than.."ucapnya seraya memalingkan wajahnya.


Irina terkesiap saat Ethan menaikan dirinya ke motor. Dia menumpukan tangannya di samping tubuh Irina.


"Pulang, sekarang?"tanya Ethan


Irina menganggukan kepala.


Ethan menurunkan kembali Irina dari motor, dia mengikatkan kembali jaketnya ke pinggang Irina.


Setelah Ethan menduduki motor, cowok itu menoleh. "Irina."


Suara itu membuat Irina tersadar dari lamunannya. Dia mengerjapkan matanya. "Eh, iya?"


Ethan menarik tangan Irina untuk memeluk gadis itu sebentar sebelum menstater motornya. "Jangan bengong!"


Irina mengangguk kemudian menaiki motor. Dalam hatinya dia bertanya kenapa Ethan tidak menciumnya tadi? Namun kemudian dia memukul keningnya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu sekarang.


-Tbc


Hola gaes...


Gimana menurut kalian chap ini?


Jangan lupa berikan dukungannya.


See you next chapter...


Bhubhay..


maaf kalo ada typo,dll..