
20:00 WIB
Irina menatap jam yang tertera di ponselnya. Meskipun sudah tiga hari Ethan menumpang di gudang Irina dan cowok itu banyak sekali mengajukan perintah, namun Irina jarang menurutinya. Dia pun tidak tahu apa cowok itu benar-benar menumpang di gudang apa tidak. Irina sebenarnya ingin memastikannya malam ini, namun dia takut Ethan menjahilinya tentang itu.
"Tentang omongan lo soal gue gak punya rumah... itu bener"
Sekelebat ucapan Ethan tadi sore mendengung di telinganya. Irina menepuk pipinya sendiri agar tidak terpikirkan perkataan itu terus menerus. Irina menyanggakan dahunya di lutut kakinya.
"Cowok itu bener-be--"
Tok tok tok
Suara pintu diketuk membuat Irina beranjak dari tempat tidurnya dia membuka pintu itu dengan perlahan.
"Kamu belum tidur? Nggak belajar?"tanya Aleta—ibunya.
"Belum mah, Irina udah belajar kok."jawabnya
Aleta melongokan kepalanya ke dalam kamar Irina. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil saat melihat buku yang sudah berjejer rapih di meja belajar.
"Yaudah, cepet tidur! Udah malam,"Aleta menyempatkan dirinya mengecup kening Irina sebelum berlalu dari hadapan gadis itu. "Selamat malam, mimpi indah!"
Irina mengangguk seraya tersenyum senang. Dia menutup pintu kamarnya saat Aleta sudah tidak terlihat. Dia berjalan dan duduk di tepi ranjangnya. Dalam hatinya Irina bertanya, kenapa ibunya mendadak jadi suka menjenguk dirinya?
"Hahh..."satu helaan napas kasar keluar dari mulut Irina. Gadis itu melirik jam yang berada di nakas, sudah menunjukan jam delapan lebih dua puluh menit. Dia mengambil jaket rajut berwarna gading dan mengenakannya.
Irina membuka pintunya dengan perlahan, dan berjalan mengendap-ngendap layaknya maling. Alasannya karena dia ingin memastikan apakah cowok itu benar-benar ada di gudangnya, apa tidak?
Saat pintu menuju belakang rumah sudah di depan matanya, suara batuk seseorang mengangetkannya.
"Neng Irina mau kemana?"tanya Bi Sul setengah sadar, karena matanya sudah terlihat mengantuk.
"Mau pipis, bi."jawaban asal dari Irina dibalas anggukan oleh Bi Sul dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Irina. Kelihatannya wanita paruh baya itu sangat mengantuk.
Irina menghela napasnya lega, dia meraih kunci cadangan yang berada di saku piayama tidurnya. Gadis itu membukanya dengan perlahan sampai tidak terdengat decitan pintu pun. Dia melangkah keluar dan mengunci pintu itu kembali. Irina berjalan mendekati gudang yang berjarak tidak jauh dari sana. Tangannya sudah bergerak menyentuh knop pintu itu, namun dia menariknya lagi. Rasa ragu mulai menguasainya. Bagaimana kalau cowok itu hanya main-main dengan perkataannya?
Saat Irina sedang merenung di depan gudang. Suara tidak asing menyentak lamunannya.
"Kenapa gak masuk?"
Irina membalikan badannya kala mendengar suara itu.
"Hai."
"L-lo, be-beneran?"
"Maaf gue telat. Ada hambatan dikit tadi."ucap Ethan seraya masuk ke gudang mendahului Irina.
Irina hanya diam melongo di tempatnya. Santai sekali cowok itu seakan tempat ini adalah tempat dirinya.
"Ayo masuk! Jangan bengong."suara Ethan kembali menyentakan Irina. Gadis itu mengerjapkan matanya dua kali setelahnya masuk ke dalam gudang.
Irina menutup pintunya terlebih dahulu sebelum duduk di samping cowok itu.
"Kok gak bawa makanan? Terus mana selimutnya?"tanya Ethan
Irina menoleh pada Ethan. "Gue kira lo main-main sam--"
"Gue gak pernah tuh, main-main."tutur Ethan
"Kalo gitu gue bawa du--"
Irina menghentikan ucapannya saat mendengar suara ribut diluar.
"Eh tadi gue denger suaranya dari sini, bro!"
"Masa sih? Tapi disini gak ada siapa-siapa juga."
"Di dalem gudang kali."
"Terus gimana? Mau di periksa aja?"
"Ayo aja."
Irina membelalakan matanya saat para bodyguard ayahnya akan memeriksa gudang yang sedang ditempati oleh mereka. Irina menoleh pada Ethan dengan pandangan bimbang, sedangkan cowok itu malah asik dengan bermain game dengan ponselnya, seakan tidak peduli apa yang akan terjadi. Irina yang nelihat itu naik pitan, dia merebut ponsel yang sedang dimainkan oleh Ethan. Cowok itu melemparkan pandangan bertanya pada Irina.
"Gimana ini? Mereka mau kesini."bisik Irina
Ethan menggidikan bahunya acuh.
"Than, gue serius."ucap Irina gregetan
"Sembunyi aja. Apa susahnya."Irina tidak percaya pada perkataan tenang cowok itu.
Irina tersentak saat Ethan mengenggam tangannya dan membawa gadis itu sembunyi di balik papan-papan yang berjejer rapih di sudut ruangan. Karena tempatnya sempit, Ethan memojokan Irina ke tembok dengan dirinya yang berdiri dihadapan gadis itu.
"Ssstt... lo diem aja! Jangan banyak perotes."Irina menutup mulutnya kembali saat mendengar bisikan dari Ethan.
Samar-samar mereka dapat mendengar suara pintu yang dibuka dan percakapan orang-orang itu.
"Tuh 'kan apa gua bilang! Gak ada orang disini."
"Tapi jelas-jelas tadi gua denger ada suara orang lagi ngobrol!"
"Tapi buktinya gak ada."
"Cari aja ke segala sudut, kali aja ada maling 'kan."
Jantung Irina berdetak lebih cepat ketika para bodyguar itu mulai menggeledah ruangan ini. Ditambah lagi posisinya sangat dekat dengan Ethan. Irina memberanikan dirinya untuk mendongakan kepala.
Deg
Irina menyesali keptusannya untuk mendongak. Karena sekarang rasanya jantung gadis itu akan keluar. Mata Irina bersitubruk dengan mata Ethan yang sedang menunduk. Seketika Irina hanyut dalam pandangannya, bahkan rasa khawatir yang tadi sempat dia rasakan menghilang begitu saja. Irina bisa merasakan hembusan hangat menerpa wajahnya. Entah perasaan Irina atau cowok itu mendekatkan wajahnya, Irina menutup matanya saat kening mereka sudah menyatu.
Fuhh....
Irina membuka matanya saat merasakan angin yang bertiup di depan wajahnya. Dia menatap Ethan yang sedang tergelak sambil memegang perutnya. Wajah Irina memanas karena tadi dirinya sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Hahaha... muka lo.."
Irina mendengus sebal, dia menginjak kaki cowok itu dengan kencang sampai si empunya meringis.
"Mereka udah pergi."ucap Ethan seakan mengerti dari sikap bingung Irina.
Irina mengangguk seraya memalingkan wajahnya. Rona merah di pipi Irina membuat Ethan gencar menggoda gadis itu.
"Cie.. lo ngarep gue cium, ya?"goda Ethan seraya menaik turunkan alisnya.
"Huft... apaan sih, minggir!"kesal Irina seraya mendorong bahu cowok itu kebelakang.
Ethan mencekal tangan Irina dan memojokan gadis itu ke tembok seperti tadi. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Irina.
"Kalo lo mau, gue siap kok."bisiknya
Lah, itu kesannya kenapa gue yang ngebet, ya?batin Irina
"Paan sih, minggir."Irina mendorong tubuh cowok itu ke belakang, namun sepertinya tenaga Irina kurang kuat melawan cowok itu.
Irina menahan napasnya saat merasa Ethan menumpukan keningnya ke bahu Irina. Cowok itu menghela napas lelah, sesaat Irina merasa bahwa banyak sekali beban yang ditanggun cowok itu.
"T-than..."panggil Irina gugup karena hembusan napas Ethan menggelitik bahunya.
"Hm."
"Gue mau balik ke rumah. Entar kalo ada yang tau gue gak dikamar, bisa berabe."ucap Irina
"Hm"Ethan menyahut tanpa ada keinginan untuk bergerak.
"Than."panggil Irina lagi seraya menepuk bahu cowok itu.
"Iya-iya."
Cup
Irina membelalakan matanya saat cowok itu menyempatkan diri untuk mengecup sekilas pipi gadis itu.
Ethan tersenyum geli, sedangkan Irina mematung dengan tangan yang meraba pipi yang baru saja di kecup oleh seseorang.
"L-lo..."
"Buat nambah tenaga."ucap Ethan seraya tersenyum nakal
Apa-apaan Ethan ini. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu pada gadis yang sedang jomblo. Nanti kalau Irina baper, gimana? Siapa yang tanggung jawab?
Irina mendengus kasar. Dia mendorong cowok itu dan berlari ke rumahnya dengan wajah yang memerah.
Ethan menatap punggung gadis yang sekarang sedang membuka pintu belakang rumahnya dengan tergesa, dengan senyuman gelinya. Dia berpikir, bisa-bisanya dia melakukan hal seperti tadi.
Untung tadi gue sempat nahan diri. Ya, walaupun nggak juga sih.batin Ethan
-Tbc
Hola gaes...
Gimana sama chap ini?
Berikan dukungan kalian terus, ya...
Bantu share juga, jangan lupa folow juga...
Maaf kalo ada typo, dll.
Thor pamit dulu... bhubhay...