
Sinar matahari masuk ke celah-celah jendela kamar gadis yang masih bergelung dengan selimutnya. Bukannya terjaga, gadis itu malah makin menenggelamkan kepalanya ke bantal.
Diantara semua nama di kalender, hari Minggu adalah hari yang paling di sukai Irina. Bukan hanya Irina, namun semua siswa juga mendambakan hari itu. Hari minggu harusnya dipakai dengan kegiatan olahraga atau kumpul-kumpul keluarga. Tapi bagi Irina hari minggu bisa dia gunakan untuk bermalasan. Karena hari minggu memberinya sedikit kebebasan walau waktunya tidak lama.
Tok... tok... tok...
Irina berdecak, dia menulikan telinga dan menarik selimutnya sampai ke kepala membuat tubuhnya terbungkus sempurna.
Tok... tok... tok...
'Apa sih?'batin Irina kesal
Dengan kesal Irina menyingkapkan selimutnya dan beranjak membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, ma?"tanya Irina setengah menguap karena masih terasa mengantuk
"Ya ampun... kamu itu anak gadis, jam segini belum mandi?"Aleta berkacak pinggang seraya menatap Irina garang
Irina terkekeh. "Mumpung libur, ma."
"Mama mau minta tolong sama kamu,"Aleta menatap Irina. "Tolong cek kebun bunga mama yang ada di komplek depan ya."
"Siap. Tapi aku kesananya naik sepeda aja ya, ma."mohon Irina
"Boleh, tapi hati-hati. Sekarang kamu mandi sana, nanti mama buatin makanan!"titah Aleta
Irina memberikan hormat pada ibunya, seperti menghormat pada bendera. "Siap."
Dengan semangat yang membara Irina bergegas ke kamar mandi. Kapan lagi dia bisa naik sepeda berkeliling komplek, coba? Irina melupakan acara bermalasannya, dia meraih ponsel dan mengetik pesan pada Ethan agar menemui di alamar tertentu. Yap. Irina menggunakan kesempatan ini sebagai alat agar mempertemukannya dengan Ethan, makanya dia ingin naik sepeda tidak mau diantar oleh mang Udin.
______________________________
Setelah setengah jam Irina mengayuh sepeda ke kebun bunga milik ibunya. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di bangku yang sudah tersedia disana. Ethan—cowok itu belum membaca ataupun membalas pesan darinya. Mungkin cowok itu belum membuka ponselnya.
Irina menegak air minumnya. Dia mulai berjalan berkeliling melihat-lihat berbagai jenis bunga. Ibunya memang suka sekali dengan bunga, jadi ayahnya membuatkan kebun bunga khusus untuk ibunya.
Srekk... srekk...
Ini memang perasaan Irina saja atau mungkin benar, dia merasa ada yang mengikutinya. Setahunya kebun bunga ini tidak ada yang tahu tempatnya. Apakah Ethan? Rupanya Ethan mau bermain-main dengannya. Dengan sengaja Irina menghentikan langkahnya, lalu mempercepat jalannya. Irina juga merasa orang yang mengikutinya juga melakukan hal yang sama. Sampai pada akhirnya Irina memilih berhenti, namun suara langkah kaki di belakangnya tetap melaju sampai Irina bisa merasakan hembusan napas di puncak kepalanya. Irina mengigit bibir bawahnya untuk menahan senyuman yang akan keluar. Dengan perlahan Irina berbalik.
"Apa sih Et— Lo!"Irina tersentak dengan jari telunjuk yang terangkat, dia sampai mundur beberapa langkah.
"Halo, Tuan Putri."sapa Kemal seraya menyeringai
Irina menurunkan tangannya yang sudah gemetar. Bagaimana bisa cowok itu ada di sini? Apakah dari awal Irina sudah diikuti? Dan lihat penampilannya, luka di area dahi dan memar-memar yang berada di wajahnya. Irina jadi teringat tentang perkataan Ethan mengenai darah yang ada di tangannya, bukanlah darahnya melainkan darah cowok ini.
Kemal memajukan langkahnya sampai ujung sepatunya menempel dengan ujung sandal Irina. Irina yang masih kaget, sontak menjauhkan tubuhnya empat langkah.
"Kenapa... lo bisa ada disini?"tanya Irina dengan suara yang bergetar.
"Menurut lo?"tanya Kemal dengan nada sinis
"L-lo ikutin gue?"bisik Irina
"Bener."
Irina mendongak menatap wajah Kemal. Cowok itu malah tersenyum nakal padanya. Dalam hati Irina berdoa semoga saja Kemal tidak bersama anak buahnya. Irina sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari, namun Kemal dengan gesit mencekal pergelangan tangannya.
"Lepas!"bentak Irina
Irina meringis ketika cekalan itu semakin mengerat. Dia mencoba melepaskan cekalan itu.
"Lo cukup dengerin ucapan gue dan jangan berontak!"bentak Kemal seraya menyeret Irina ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan gedung.
Irina hanya diam. Percuma kalau dia berontak, tenaganya tidak sebanding dengan cowok itu. Apalagi tiba-tiba saja kepalanya terasa pening. Irina mencoba menendang bagian vital Kemal, namun cowok itu dengan segera menangkisnya.
"Jangan macem-macem sama gue!"ancamnya.
Kemal mendorong tubuh Irina untuk memasuki mobil. Kemal mengitari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi.
Mobil mulai melaju. Irina menoleh ke belakang, banyak mobil yang juga mengikuti mereka. Itu pasti mobil anak buahnya Kemal, sekiranya itu yang ada di pikiran Irina. Tangan Irina sudah basah dengan keringat dingin. Dia melirik sekilas Kemal yang sedang menyetir dengan fokus.
Dengan hati-hati Irina mengambil ponselnya yang berada di tas-nya. Sekali lagi gadis itu melirik Kemal yang memandang lurus ke depan. Tangannya bergerak mematikan suara ponsel agar tidak terdengar. Dia meletakan ponselnya di pinggir dekat pintu mobil dan kakinya. Dengan wajah yang lurus ke depan namun pandangan sedikit ke ponsel, Irina mengetikan pesan pada Ethan dan Mang Udin. Dia hanya mengetikan pesan 'SOS'. Hanya kalimat itu yang berhasil Irina tulis, karena mobil tiba-tiba berhenti di sebuah rumah kosong.
Kemal membuka pintu mobilnya. Dia menyeret Irina untuk mengikuti langkahnya.
"Kemal, sakit."lirih Irina karena cowok itu mencengkeram tangannya terlalu keras.
Cowok itu tidak mengindahkan ucapan Irina. Dia mendorong Irina untuk masuk ke dalam rumah kosong tersebut. Sarang laba-laba langsung menyapa penglihatan Irina ketika masuk.
"Denger, jangan coba-coba kabur. Karena tujuan gue itu... bukan lo! Tapi Pangeran lo, itu."desis Kemal seraya mendudukan Irina ke kursi kayu dan mengikat tubuh gadis itu.
Deg!
Irina mencoba untuk berontak. Namun cowok itu malah semakin berbuat kasar padanya. Berteriak? Percuma. Karena di daerah sini sangatlah sepi.
"Brengsek, lo."gumam Irina
Kemal hanya terkekeh sinis. "Baik-baik disini ya, Tuan Putri."
"Lo mau kemana?"teriak Irina saat Kemal berbalik dan membuka pintu.
"Mau kemana, ya?"Kemal mengetuk dagunya dengan gaya yang menyebalkan. Dia menatap Irina dengan seringainya. "Mau beli sesuatu dulu——"
"——Seperti pengaman, contohnya."lanjut Kemal seraya menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Irina hanya bisa terdiam. Perasaannya kalut. Dia hanya bisa berdoa dalam hati, agar Ethan ataupun Mang Udin cepat-cepat menemukannya.
'Gue harus tetap tenang. Jangan panik. Semoga aja mereka ngerti pesan gue!'batin Irina
-Tbc
Halo gaes...
Maaf kalo thor baru update...
Rencananya Thor mau buat dulu semua chpter sampai tamat. Abis itu crazy up, deh...
Tapi, takutnya kelamaan, jadi Thor update satu eps aja sekarang. Dan selanjutnya thor bakalan up sampe tamat. Soalnya beberapa chp lagi story ini bakalan end.
Jadi di tunggu ya...
Jangan lupa lho, dukungannya😉
Oke itu aja. See you next... bhubhay...😙