
Dancing on the hood
In the middle of the woods
On an old mustang,
Where we sang
Song whit all our chillhood friend
And it went like this, say
Oops, i got 99 problems singing bye, bye, bye
Alunan musik yang berjudul '2002' yang dinyanyikan oleh 'anne-marie' mengalun indah mengiringi semua orang yang singgah di kafe star tersebut.
Seorang predator sedang mengawasi pintu masuk dengan tatapan yang tajam. Untung saja matanya tidak mengeluarkan laser, kalau iya, sudah berlubang mungkin itu pintu. Dia mengawasi mangsa-nya yang sebentar lagi memasuki kafe. Tetapi predator itu menghela napasnya, ketika mangsa-nya tidak datang sendiri, melainkan bersama kawanannya.
"GILA. MEREKA KEREN ABIS! YA AMPUN... RAHIM GUE ANGET. HAMIL ONLINE GUE."
"HAHAHA."
Para pengunjung lainnya menatap ketiga gadis yang duduk di pojok dengan tatapan tidak sukanya. Ketiga gadis itu sepertinya tidak terganggu dengan tatapan para pengunjung lainnya, mereka malah asik dengan layar laptop di hadapannya.
"Dek.. maaf jangan berisik. Disini tempat umum! Kalo mau berisik mendingan di rumah-nya aja."ucap salah seorang pengunjung dengan nada yang sinis
"Yaampun... maaf ya tante, kita gak akan berisik lagi, kok! Lagian ini itu week day, bagi para pelajar seperti kami ini, hiburan itu sangat dibutuhkan."ucap Irina yang ujung-ujung nya malah jadi curhat.
"Enak aja. Saya masih muda, bukan tante-tante."sungut orang itu
"Salah siapa pake baju ketat apalagi bibirnya merah kayak udah di tabok seratus kali, aja."bela Dewi
Skakmat!
Wanita itu tidak bersuara lagi. Dia keluar dari kafe dengan langkah kesal. Sedangkan ketiga gadis itu malah tergelak bersama.
Seorang predator tadi nampak terhibur dengan aksi ketiga gadis tersebut dia terkekeh geli. Sampai akhirnya berlalu dari dalam kafe. Mungkin dia bisa lain kali saja bermain dengan mangsanya.
Gadis dengan kuncir kuda itu menutup laptopnya saat tayangan yang ada di depannya sudah habis.
"Abis ini kita kemana lagi, guys?"tanya gadis yang berkuncir kuda, tidak lain adalah Irina
"Kemana aja deh. Yang penting perut gue udah terisi penuh."ucap Gita
"Hati gue juga udah happy, gara-gara oppa-oppa korea."sambung Dewi
Mereka bertiga memang senang dengan hal-hal yang menyangkut dengan idolanya. Apalagi kala idola nya itu sudah menunjukan roti sobek nya, bisa-bisa kejadian diatas terulang lagi.
"Mau nonton bioskop, gak?"tanya Irina pada kedua sahabatnya
"Mau."ucap mereka berdua
Irina tersenyum seraya
memasukan laptopnya ke ranselnya.
"Let's get it."ucap mereka bertiga
______________________________
Irina berpamitan pada kedua sahabatnya yang masih betah bermain di time zone. Setelah mereka pergi menonton bioskop mereka memutuskan untuk bermain di time zone. Namun karena sekarang sudah jam lima sore Irina harus pulang. Kalau tidak dia akan dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, karena bukannya belajar Irina malah asik bersenang-senang dengan temannya, itupun tanpa persetujuan dari orangtuanya. Orangtuanya menghadiri proyek yang ada diluar kota, sedangkan kedua kakaknya sangatlah sibuk.
Irina menyusuri jalanan komplek dengan langkah tenang. Dia tidak naik ojek dari depan kompleknya karena hari masih terang belum gelap, lagipula menurutnya jalan kaki lebih seru daripada harus naik kendaraan. Jalan kaki juga dapat mengurangi polusi udara.
Irina memelankan langkahnya saat melihat ada orang yang sedang terkulai lemah bersandar di pohon kelapa.
Kok gue ngerasa dejavu, ya?
Irina tidak memperdulikan orang itu, dia terus berjalan maju. Namun rasa penasaran mulai menghampiri. Rasa takut Irina terkalahkan oleh rasa penasarannya. Dia berbalik arah menuju orang itu. Dengan perlahan Irina mendongakan kepala orang itu. Mata Irina membelalak ketika orang itu adalah orang yang dia kenal.
"Than... bangun."ucap Irina seraya mengguncangkan bahu cowok itu
Penampilan cowok itu sangat mengerikan menurutnya. Apalagi ditambah dahinya yang mengeluarkan darah.
"Aduh... ini gue musti gimana?"Irina mengigiti kukunya sendiri. "Apa gue telepon mang Udin, aja? Jangan-jangan nanti ketauan orang rumah lagi."
Irina menatap cowok yang sedang terkulai lemas itu dengan kesal.
"Kenapa sih kejadian seperti ini keulang lagi?! Masa gue harus bopong lo, lagi? Sadar diri dong, lo itu besar. Lah gue? Kecil. Tau ah, gue mau pulang keburu malem."cerocos Irina, jika ada yang melihat Irina mungkin dia akan di sangka tidak waras karena malah memarahi orang yang sedang terluka bukan membantunya.
Irina melanjutkan kembali jalannya, namun baru saja lima langkah dia sudah berbalik kembali dan membantu cowok itu.
"Nyusahin aja, lo! Akrab juga, nggak!"ucap Irina seraya menyampirkan tangan Ethan di bahunya.
Setelah mereka berdiri dengan sempurna, mereka berjalan terseok-seok. Entah keberuntungan atau malah malapetak bagi Irina. Gerbang rumahnya memang sudah dekat, tapi di gerbang itu banyak yang menjaga. Irina terdiam dulu seraya membenarkan letak tangan Ethan. Napasnya sudah terengah, keringatnya sudah bercucuran dari kening. Dia terpaksa memutar jalan untuk menuju belakang rumahnya.
Irina mendongak menatap tembok yang lumayan tinggi itu. Dia bisa saja memanjat, tapi nasib cowok ini bagaimana? Bagaimana Irina membantunya memajat pagar tembok ini.
Irina menepuk keras pipi cowok tersebut. "Than.. bangung dulu dong! Entar lo bisa lanjut lagi pingsan nya."
Irina semakin brutal menepuk cowok itu. Membuat cowok itu sedikit meringis dan membuka matanya dengan susah payah.
"Than lo gak pa-pa 'kan?"pertanyaan bodoh itu yang malah meluncur dari mulut Irina. "Than lo bisa nahan pingsan lo bentar aja. Kita panjat dulu dinding ini."
Ethan yang sepenuhnya sadar hanya menganggukan kepalanya. Niatnya mau mencegat mangsanya malah bernasib buruk pada predator itu sendiri.
Irina naik mendahului cowok itu. Dia mendarat dengan sempurna tanpa menimbulkan suara. Irina melihat Ethan yang sepertinya sudah tidak tahan menahan pening di kepalanya.
"Than, ayo lompat! Gue tangkap."ucap Irina polos seraya merentangkan tangannya
Ethan mau tidak mau terkekeh geli karena kelakuan menggemaskan gadis itu. Dia menggelengkan kepala lalu mendarat dengan agak sempoyongan. Irina yang meliha Ethan sudah mendarat, menghampiri cowok itu dan membantunya berjalan.
Irina membuka pintu gudang yang berada di belakang rumahnya. Dia membantu Ethan untuk di sofa yang sudah agak usang.
"Than.. lo tunggu di sini bentar ya. Jangan berisik nanti ada yang tau! Gue mau ambil obat dulu."ucap Irina
Ethan hanya mengaanggukan kepalanya seraya menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanya.
Irina yang melihat itu merasa kasihan pada cowok itu. Dengan langkah terburu Irina memasuki rumahnya.
"Bi Sul, kotak obat dimana ya?"tanya Irina
"Eh neng Irina... nanti bibi ambilin dulu, tapi buat apa? Neng Irin terluka?"tanya Bi Sul beruntun
"Bukan bi, tapi buat-- itu apa? Tugas! Iya tugas."bohong Irina
Bi Sul menyerahkan kotak P3K pada Irina. Dengan secepat itu pula Irina berlalu dari dapur. Irina mengendap-ngendap memasuki gudang, dia menutup pintu itu dengan perlahan. Gudang Irina memang jarang di kunci hanya di kunci slot saja, jadi memudahkan Irina untuk memasukinya.
"Ethan.."
Ethan membuka matanya, dia tersenyum lemah.
"Gue obatin dulu, ya?"
Ethan menganggukan kepalanya. Dengan hati-hati Irina membasahi kapas dengan air biasa dulu, dia membersihkan luka yang mengering di sudut bibir cowok itu dan darah yang mengering di dahinya. Irina meneteskan sedikit obat alkohol pada kapas dan mengoleskan pada yang luka.
"Than, gak pa-pa nih kalo gak di perban? Soalnya gue gak bisa."
"Gak pa-pa. Sini duduk!"Ethan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya
Irina mendudukan dirinya di sebelah Ethan.
"Kenapa lo bisa luka-luka, gitu?"tanya Irina penasaran
"Mau tau, atau mau tau banget?"canda Ethan
Jika saja cowok itu sedang tidak kesakitan, Irina pasti akan mencubit lengannya dengan keras.
"Gak jadi deh."
"Cie, ngambek!"goda Ethan seraya mencubit pipi Irina
"Ish, apaan sih main cubit aja."
"Lo mau tau?"tanya Ethan yang diangguki oleh Irina
"Oke. Tapi Irina, lo inget 'kan waktu gue bilang di muka bumi ini gak ada yang gratis?"
Irina menganggukan kepalanya dan mendengus kesal. "Yaudah sih, gak jadi."
"Beneran nih, gak jadi?"Ethan menaik-naikan alisnya
Apa cowok itu sudah bernergi kembali, sampai bisa menggoda Irina seperti itu? Atau kesakitan yang beberapa saat lalu dia alami hanya lelucon? Kalau benar begitu, Irina akan memasukan cowok itu ke dalam sumur.
"Yaudah iya, jadi."ucap Irina menyerah
"Perkata harganya sepuluh ribu rupiah, sedangkan kalo gue cerita sama lo pasti menghabiskan beberapa ribu bahkan juta, atau tak terhingga kata. Jadi gimana lo mau bayar? Pasti bakalan mahal, tuh!"ucap Ethan panjang lebar
Irina memasang muka datarnya.
"BO. DO. A. MAT. LAH!"
-Tbc
Hola gaes...
Gimana chap ini?
Ngebosenin? Iya?
Maafkeun author kalo gitu.
Soalnya author masih amatir...
maaf kalo masih banyak typo, dll..
Tapi tenang aja author setrong kok...
Jadi jangan lupa voment kalian ya... supaya author cepet-cepet up to do date nya... see you next chapter.. bhubhay