Escape With You

Escape With You
Chapter 12



Sesaat Irina merasakan kenyaman di posisi itu. Namun detik berikutnya dia mendorong cowok itu dengan kasar dan menyandarkan punggung nya ke tepian pembatas. Dia menatap Ethan dengan tangan yang gemetar.


"Sorry,"Ethan mengusap tengkuknya sendiri. "Entar lo jatuh!"


Irina menganggukan kepalanya. Dia menundukan kepalanya untuk menetralkan deguban jantungnya. Tangannya saling meremas satu sama lain.


"Jadi gimana soal penawaran gue?"tanya Ethan


Tanpa sadar Irina menganggukan kepalanya membuat Ethan tersenyum puas. Suara ponsel yang berdering mengalihkan perhatian cowok itu. Dia menjauh sedikit dari Irina dan mengangkat telepon tersebut. Setelah telepon berakhir, Ethan menatap Irina sekilas dan berjalan ketumpukan barang yang ada di sudut.


Ethan mengambil seutas tali tambang, dia mendekati Irina dan mengikat tali simpul dengan sempurna. Irina yang diperhatikan sedemikian rupa merasa wajahnya memanas karena malu.


"M-mau nga-nga-ngapain lo?"Gagap Irina kambuh karena terlalu gugup.


"Ngelakuin hal yang seru."jawabnya percaya diri. Cowok itu meraih lengan Irina dan memeluk pinggangnya seperti tadi. Kali ini Irina dapat memberontak, namun percuma Ethan memeluk pinggangnya sangat erat.


"Than... lo mau apa?"


"Gue belum pernah bilang sama lo, ya?"Ethan mendekatkan wajahnya sedangkan Irina harus menahan napasnya, karena wajah Ethan berjarak satu jengkal dengan wajahnya. "Penasaran sama gue itu bahaya!"


Lah? Tapi 'kan gue belum bilang kalo gue penasaran sama lo!


Ethan menggiring tubuh Irina dan menjepitnya di palang pembatas gedung. Hingga tubuh Irina terjepit oleh palang pembatas dan tubuh cowok itu.


"Rasa penasaran lo itu, mengundang bahaya. Lo ngikutin gue kesini tanpa tau apa akibatnya. Boleh gue simpulin apa artinya?"Ethan melanjutkan perkataannya.


Irina menelan ludahnya gugup. Kata-kata yang sudah dari tadi dia susun, perlahan-lahan hilang karena perkatan cowok itu.


"Mungkin,"Ethan mempertahankan tatapannya pada mata jernih Irina. Sedangkan tangannya sedang melilitkan tali ke pinggang Irina dengan simpul kuat namun tidak menyakitkan. "Lo suka hal yang kayak gitu, tapi gak tau gimana rasanya."


Apa? Rasa strawberry? Mint? Jeruk? Leci? Rasa bagaimana maksudnya? Tolong sederhanakan perkataannya karena Irina sedang tidak mau berpikir sekarang. Belum lagi dengan kedekatan mereka sekarang. Setelah Ethan melilitkan tali ke pinggangnya, cowok itu menyambung lilitan ke tubuhnya tanpa simpul. Hal yang membuat tubuhnya mereka merapat dan demi apapun Irina mendapat serangan jantung karena Ethan memberinya senyuman dengan jarak yang sedekat ini.


"G-gue... gue..."


"Irina,"panggil Ethan. Satu tangan cowok itu berada di punggung Irina sedangkan tangan yang lain menekan belakang kepala Irina. "Biar gue tunjukin hal menarik apa yang gue tawarin."


Bisa Irina rasakan cowok itu mengeratkan pelukannya, membuat Irina tidak bisa memberontak. Cowok itu mengangkat bersamaan tubuhnya dengan Ethan yang menaiki tepian pembatas gedung. Hati Irina mencelos keluar saat Ethan melompat dari atap gedung dengan masih mempertahankan pelukannya.


Irina bahkan tidak sempat berteriak dia hanya menahan napasnya. Perut Irina rasanya tergelitik oleh sapuan angin yang menerpa kulit-kulit tubuhnya. Hanya terlihat kilasan kabur di matanya. Tubuh mereka merambat tegang karena di tarik oleh gravitasi. Mereka berayun ke dinding gedung, namun Ethan dengan tegas menahan ayunan kaki nya.


Tali yang mereka gunakan mengencang membuat keduanya bergantungan di sisi gedung. Irina berteriak histeris kala melihat tidak ada pijakan di bawah nya. Dia memeluk leher cowok itu dengan erat.


"Hastagaa... gue gak mau mati muda.. huwaa tolongin gue than, gue gemeteran. Masa nanti ada berita 'dua orang anak SMA diketahui meninggal dunia dikarenakan melompat dari atap gedung dengan sengaja dan tanpa keterangan yang jelas karena apa?!"cerocos Irina seraya mengeratkan pelukannya ke leher cowok itu dengan kedua mata yang tertutup rapat.


Ethan yang mendengar itu malah terkekeh geli. Bisa-bisanya Irina berpikir tentang berita seperti itu. Entah gadis ini terlalu pintar apa bodoh, begitulah kira-kira pikirannya.


Ketegangan Irina berganti menjadi kekesalan saat mendengar Ethan yang tergelak. Satu tangan cowok itu melilit tali yang ada dia atas seolah menahan beban, dan satunya lagi di lingkarkan di pinggang Irina.


"Gue gak akan biarin ada berita kayak gitu, tenang aja."perkataan Ethan seperti penenang bagi Irina. Hanya Ethan yang menjadi pegangannya sekarang. Dan cowok itu terlihat menikmatinya.


Seolah keadaan mereka belum cukup buruk bagi mereka, tali yang di gunakannya bergerak. Bersumber dari seseorang di ujung tepi gedung. Seseorang melongokan kepalanya ke bawah seraya menyeringai.


Dengan samar-samar Irina mendengar orang itu berkata. "Bos gue liat Ethan... dia mau kabur sama tali. Tapi dia gak sendiri, dia sama cewek.."


Sebenarnya ada apa ini?!


"Irina,"karena wajah mereka bersisian, bisikan itu terdengar keras oleh Irina. "Bisa tolong ambilin pisau lipat yang ada di saku celana gue!"


Irina menggelengkan kepalanya, dia malah mengeratkan pelukannya di leher Ethan. Ia tidak ingin melepaskan pelukannya karena takut terjatuh.


"Atau lo mau kita ketangkep sama mereka. Emang sih mereka cuma ngincar gue. Tapi besar kemungkinan nya lo juga bisa ketangkep!"


Irina memundurkan wajahnya dan menatap Ethan. Ngincar? Jadi mereka sedang di serang sekarang? Jadi itu sebabnya Ethan membawanya meloncat dari atap gedung?


Sialan!


Kenapa dia harus menuruti rasa penasaran nya tadi. Ternyata perkataan Ethan tidak main-main tentang bahaya. Dengan terpaksa Irina melepaskan salah satu tangannya dia meraba saku celana belakang Ethan. Dengan mudahnya Irina menemukan pisau lipat itu.


Ethan mengambil pisau itu dengan tersenyum sedangkan Irina membalas nya dengan senyum terpaksa.


Irina mendongak memperhatikan setiap gerakan dari Ethan, bagaimana cowok itu juga mendongak dan mengiris tali tersebut dengan tenang seolah sudah terbiasa. Rahangnya yang tegas dan hidung nya yang mancung, tentu saja sungguh sia-sia jika tidak melihat pemandangan di depan nya.


Ethan menurunkan tatapannya.


"Gue bakal meluk lo lebih erat."Ethan memeluk Irina dengan erat saat mereka mulai terjatuh, teriakan Irina teredam oleh bahu Ethan. Cowok itu memutarkan tubuhnya saat masih di udara membuat punggung cowok itulah yang terlebih dahulu mendarat ke tanah yang berumput sedangkan Irina tepat di atasnya.


Irina kira cowok itu akan meringis kesakitan. Tapi justru dia membawa Irina berdiri. "Lo gak apa-apa 'kan?"


Bukannya kebalik? Harusnya Irina yang menanyakan itu pada Ethan. Selain syok, kaget dan tegang, ada perasaan lain di hatinya. Yaitu perasaan yang menyenangkan.


"Malah bengong,"Ethan mencubit hidung Irina, membuat gadis itu meringis. "Kita masih harus lari!"


Seperti kejadian di saat Irina terjebak dengan para preman, Ethan mengenggam tangan gadis itu dengan pasti dan mulai mengajaknya untuk berlari dari sana.


Kenapa Irina bisa mempercayai orang yang belum lama dikenalnya. Tapi di saat dada nya masih bergejolak, keringat yang keluar dari sela pori-porinya dan juga adrenalin yang masih dirasakannya. Irina bisa mempercayainya.


Disaat Ethan berhenti.


Irina yakin kalau mereka sudah cukup jauh berlari. Irina merasa napasnya terputus-putus sekarang.


"Hehe... capek ya?"


Irina mendelik saat mendengar ejekan dari Ethan. Irina tidak membalas karena napasnya yang sudah melebihi kapasitas. Membuat ia luruh ke tanah. Irina memegang dada nya yang bisa ia rasakan sedang berdetak dengan cepat.


Irina mendongak saat merasakan puncak kepalanya. Dia melihat Ethan sedang berbincang lewat panggilan telepon nya. Tidak banyak yang ia dengar kecuali, apakah situasi disana sudah aman? Apakah pengincar itu sudah pergi? Dan entahlah Irina terlalu syok untuk mendengar lebih lanjut.


"Katanya udah aman,"ucap Ethan seraya menutup panggilan. "Richard berhasil mancing mereka."


Rasanya Irina ingin berjoged ria akibat rasa bahagia nya.


Ethan menekuk sebelah kakinya di hadapan Irina.


"Gimana... seru 'kan?"


Hah, apa seru? "Bentar... g-gue... masih... perlu.. napas..."


Ethan terkekeh geli melihat Irina. Tanpa aba-aba dia membalikan badannya dan menyodor kan punggung nya.


"Ayo naik!"


"Gue masih bisa jalan kok!"Irina mencoba untuk berdiri dia menopang kan tangannya di atas lutut kaki nya, bisa dia rasakan kakinya masih belum berhenti bergetar. Ethan masih setia berjongkok sambil menyodorkan punggungnya.


Dengan berat hati Irina meraih bahu Ethan dan mengijinkan cowok itu untuk menggendongnya, karena kakinya masih terkulai lemas. Bisa Irina rasakan punggung cowok itu bergetar karena menahan tawa. Ethan mengaitkan tangannya di bawah lutut Irina dan kembali menyusuri jalan.


"Lo gak terlalu lemah, dari kelihatan nya.."


Harum citrus yang menguar dari rambut Ethan membuat Irina rileks dan tanpa dia sadari, dia menumpukan dagu nya ke bahu cowok itu. "Itu sebab nya, pernah ada yang ngomong ke gue jangan pernah menilai seseorang dari tampilannya."


Ethan terkekeh saat mendengar jawaban dari Irina. "Lo tilai gue gitu juga?"


"Mungkin,"Irina menganggukan kepala. "Richard itu temen lo yang tadi?"


"Iya."Ethan menolehkan kepalanya dengan langkah yang tetap santai.


"Kenapa lo bisa diincar sama mereka? Lo musuhan sama orang-orang tadi?"


"Sebenernya mereka itu musuh Richard."


Irina mengernyitkan keningnya tidak mengerti. "Terus kenapa mereka jadi ngincar, lo?"


"Mereka nganggap gue bagian dari Richard. Soalnya gue pernah bantuin Richard waktu dia berantem sama mereka."


Irina mengangguk. "Lo berantem juga?"


"Gak. Gue lemparin petasan sama mereka, terus ngebantu Richard sama temen-temennya kabur, karena mereka udah terdesak."jelasnya santai


Irina meringis, apakah cowok itu mempunyai kebiasaan melempar sesuatu ke orang?


Ada perasaan tidak nyaman yang menyerang hati Irina karena cowok itu menjekaskan dengan tenang.


"Siapa musuh Richard?"tanya Irina


"Kemal,"Ethan membenarkan letak gendongannya sedangkan Irina berusaha keras supaya hanya berpegangan pada bahu cowok itu. "Dia musuh abadi Richard. Jangan tanya kenapa, karena gue gak tau."


"Gue turunin."Ethan menurunkan Irina dengan hati-hati sehingga gadis itu bisa berdiri dengan kaki nya sendiri. Ethan menatap Irina dari atas hingga bawah memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


Irina menatap sekelilingnya ternyata mereka sudah sampai di tempat dimana mereka terjun tadi.


"Gue bawa tas lo dulu."Ethan berlari memasuki gedung dan beberapa saat cowok itu keluar dengan ransel di tangannya.


"Makasih. Mang Udin udah jemput, dia nunggu di halte bis sekolah. Em.. gue balik dulu ya!"


Ethan mencekal pergelangan tangan Irina. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Irina.


"Lo udah setuju sama penawaran gue tadi. Jadi jangan lupa jengukin gue jam delapan malem di gudang lo! Jangan lupa bawa selimut sama makanan sebagai bayaran gue!"bisiknya


******!


-Tbc


Hola gaes... aduhh author udah dari dulu mikiran chap ini... gimana menurut kalian??


Kalo ada typo maklumin aja ya gaes...


See you next chapter... bhubhay...