
Setelah malam menegangkan kemarin. Karena kemarin malam Irina pulang pukul dua belas malam dan keberuntungan datang pada Irina karena keluarganya masih belum pulang. Mungkin mereka pulang subuh atau mungkin tadi pagi. Buktinya saja mereka sudah berkumpul di ruang makan sekarang.
"Gimana les kamu?"
Suara dingin dari ayahnya membuat Irina menghentikan kunyahannya. Dia melirik ayahnya sekilas lalu fokus lagi dengan rotinya.
"Berjalan lancar kok, pa."
"Kamu udah keluar dari les musik kamu itu?"
Irina terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa, tapi dirinya masih belun keluar dari les musiknya.
"Kalo belum, segera tinggalkan tempat itu atau papa yang akan gusur tempat itu."tegas Aldi
"Pa—"
Ucapan Irina terhenti saat ayahnya mengangkat sebelah tangannya seolah tidak ingin ada bantahan. Irina menghela napasnya pelan, kenapa di keluarga ini Irina selalu merasa sendirian. Bahkan ibunya pun tidak membela dirinya dan lebih sibuk pada Sena dan Satria.
"Iya."jawab Irina dengan suara pelan
Irina mendorong kursinya ke belakang hingga terdengar decitan.
"Kamu mau kemana? Itu makanan kamu belum abis."ucap Aleta lembut
"Irina udah kenyang kok mah."
"Tapi 'kan kam--"
"Gak pa-pa, Irina udah biasa kok gak sarapan."ucapnya sebelum pergi dari sana meninggalkan semua orang yang sedang mematung
---------
"Apa kamu gak mau mikir-mikir dulu?"
Pertanyaan itu muncul kembali saat Irina sudah mulai memantapkan hatinya.
"Maaf, bu Winda. Mungkin kesempatan itu lebih cocok di kasih sama orang lain aja."
Seakan masih belum menerima keputusannya, Bu Winda sampai memegangi tangannya. "Kamu serius? Padahal ini kesempatan yang bagus untuk kamu. Temen ibu disana minta rekomendasi pemain dari sini. Kalo kamu lolos mungkin kamu bakalan jadi pemain inti dari musik klasiknya."
Sudah cukup. Makin dijelaskan semakin sakit menyerang hatinya karena Irina sangat menginginkan kesempatam itu. Irina memejamkan matanya untuk menghalau air mata yang akan tumpah keluar.
"Tolong pertimbangkan,"ucap Bu Winda masih memburu. "Kalo perlu ibu yang minta ijin sama orangtua kamu."
Tapi sayangnya, Bu Winda tidak mengerti keadaanya.
"Maaf Bu Winda,"hanya kata itulah yang terlontar sebelum akhirnya Irina beringsut pergi pada Ethan yang sudah menunggunya di parkiran.
Dan benar saja cowok itu sedang berjongkok memberi makan pada kucing jalanan.
Ethan berdiri saat melihat Irina sudah berdiri di depannya, cowok itu menyodorkan air mineral yang sudah di buka tutupnya.
"Kamu suka kucing?"tanyanya setelah menegak air minum
"Suka,"Ethan menunduk karena kucing itu sudah melingkari kakinya. "Mereka sering deketin aku."
Irina tersenyum seraya menatap kucing yang sedang melilit di kaki Ethan. "Dulu aku pernah punya kucing."
"Oh, ya? Tapi aku gak liat ada kucing di rumah kamu."
"Aku lepasin karena kasian,"Irina menghela napasnya. "Aku kira, waktu itu aku bakalan di marahin sama papa karena bawa kucing liar ke rumah. Eh, tau-taunya papa juga ikutan ngerawat kucing itu."
"Papa kamu baik."
Irina tersenyum miris. "Itu dulu, tapi sekarang... papa jadi terobsesi jadiin aku sama sepertinya."
"Ada aku."
Hanya dua kata. Ya, hanya dua kata. Meskipun itu hanyalah kalimat yang sederhana dan mungkin oleh sebagian orang lain tidak dianggap begitu spesial. Namun bagi Irina, kata-kata itu seakan penyemangat bagi dirinya. Penawaran Bu Winda masih teringat di pikirannya membuat sesak di hatinya terasa lagi.
"Kamu tau, dulu aku gak punya impian,"
"Aku selalu berpikir, buat apa punya impian toh, ujung-ujungnya juga gak akan kecapai,"Ethan menatap Irina dan membawa tangannya untuk di genggam. "Tapi semenjak ada kamu... semenjak itu aku punya impian, aku ingin——"
"——liat kamu berhasil sama impian kamu. Karena kamu adalah impian--tidak maksudku kamu adalah cita-citaku."
Deg. Deg. Deg
Jantung Irina memompa cepat. Selalu saja Ethan bermain curang seperti ini. Rasanya Irina ingin menenggelamkan dirinya ke sungai karena malu ditambah wajahnya terasa panas.
Sampai disitu tidak ada yang bicara. Ethan memberhentikan taksi. Mereka tenggelam dalam sunyi sepanjang perjalanan menuju ke tempat les matematikanya. Setelah sampai, rupanya mang Udin belum datang kesana.
Ethan tiba-tiba mengenggam tangan Irina. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Dia mendongak menatap Ethan yang mengenakan hoddie berwarna hitam hari ini. Dan juga genggaman tangannya sangat hangat.
Ethan kembali berkata. "Ada aku."
Dua kata itu selalu terngiang di benak Irina. Gadis itu tersentak saat Ethan membawa tangannya untuk dikecup.
Ya.
Benar, ada tempat bersandar untuknya sekarang. Tapi akankah Irina mampu melawan kata-kata ayahnya yang membesarkan dirinya.
Sayangnya, untuk menjadi egois tidak semudah itu.
"Kalo bukan kamu, aku gak akan suka. jangan jadi orang lain."
Tapi bagaimana dengan perkataan ayahnya?
"Kata orang, setiap orangtua ingin yang terbaik buat anaknya 'kan? Aku yakin papa kamu juga gitu. Siapa yang tau, kalo mungkin suatu hari nanti papa kamu akan berubah pikiran. Suatu hari nanti, mungkin aja papa kamu yang akan ngebela dan selalu jadi penonton setiap pertunjukan piano kamu."
Belum cukupkah Ethan selalu membuat jantungnya berdebar?
Seolah perkataannya belum menyentuh hati Irina, Ethan memberikan usapan pada pipi gadis itu seraya tersenyum. "Paling nggak, kamu harus lebih terbuka sama keluarga kamu. Kamu minta ijin dulu mau les musik bukannya diem-diem kayak gini. Buktiin ke mereka kalo kamu bisa."
Irina sunggung tidak tahan lagi untuk menenggelamkan dirinya pada pelukan cowok itu. Perbedaan tinggi antara keduanya, membuat Irina nyaman dalam dekapan cowok itu.
Sampai sorot menyilaukan menyorot mereka. Membuat Irina bergeming.
"Irina!"teriakan itu menyusul dengan suara gebrakan dari pintu mobil
"Pa-pa."
"Kamu!"meski kemarahan masih menyulut wajah awet mudanya, kalimatnya terhenti saat matanya menemukan Ethan. Yang membuatnya semakin berang.
"Pa..."ucapnya bergetar, karena tertangkap basah
"Ikut papa pulang!"Aldi menarik tangannya, namun bahu Irina ditahan oleh Ethan
"Saya Ethan, teman sekalas Irina."
Aldi menatap dingin cowok itu. "Saya tidak peduli kamu siapa. Lepaskan anak saya!"
"Tolong jangan kasar sama Irina, om."ucapnya tenang, namun masih mempertahankan kehormatannya.
Rupanya emosi Aldi sudah sampai di ubun-ubun. Pria paruh baya itu mendorong tubuh Ethan agar melepas cekalannya pada Irina. Karena Ethan tidak mau Irina terluka, dia memilih melepasan rangkulan itu.
Setelahnya, Irina diseret pergi dan masuk ke dalam mobil. Aldi mengintrupsikan mang Udin untuk menjalankan mobilnya. Entah apa lagi yang dikatakan ayahnya Irina hanya memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
Ethan, cowok yang mengerti keseluruhan dirinya daripada kedua orangtuanya itu, masih berdiri di luar sana. Matanya masih menatapnya lurus menembus kaca hitam mobil. Tanpa Irina sadari air mata sudah turun membasahi pipinya.
-Tbc
Terima kasih sudah menyempatkan cerita ini..
Jangan malu ngasih like sama koment, kalo malu tanda mau soalnya... ehhehe...
Tunggu kelanjutan ceritanya dan persiapkan hati anda sekalian... karena meningkat gula darah kalian naik... // plak
See you... bhubhay...