Escape With You

Escape With You
Chapter 23



"Bunda kita datang."teriak Ethan saat sudah memasuki halaman panti


"Nak Irina, apa kabar?"tanya Bunda Indah seraya memeluk Irina


"Baik, bun. Bunda sendiri, gimana kabarnya?"


Ethan mendengus kesal. Bagiamana bisa dia diacuhkan begini. Tidak. Tidak bisa, dia tidak bisa diginiin.


"Bun, ini aku disini loh..."canda Ethan


Bunda Indah tergelak mendengarnya. Ethan selalu menjadi sosok lain jika bersamanya. Tetapi jika bersama yang lain Ethan juga akan menampilkan sosok yang berbeda lagi. Entah yang mana sikap Ethan sebenarnya. Bunda Indah menghela napasnya lega, setidaknya cowok itu sekarang sudah banyak tersenyum daripada dulu.


"Than... kamu ajak Irina masuk dulu."suruh bunda Indah


"Iya bun."Ethan mengenggam tangan Irina dan mengajaknya untuk memasuki panti.


Mereka menaiki tangga ke lantai dua panti itu. Bagi Irina bersama Ethan itu menyenangkan. Dia dapat dimengerti tanpa harus digurui. Dan pergi menjelajah tanpa harus dipandang lemah. Belajar berbagai macam hal yang belum dia ketahui dengan meminta sedikit kepercayaan. Dan Irina mendapatkan itu semua ketika bersama Ethan.


Pintu berwarna cokelat muda sudah ada di hadapan mereka. Irina mundur kebelakang supaya Ethan yang membuka pintu tersebut.


Cklek


Wow. Satu kata itulah yang terlintas di pikiran Irina saat pintu berwarna cokelat itu terbuka. Irina tidak menyangka kalau di panti Bunda Indah ada ruangan musik yang seluas ini. Di ruangan itu ada sebuah piano yang terletak di pinggir dekat jendela yang besar, lampu yang mewah terlihat menggantung di langit-langit ruangan. Lantai yang mengkilap layaknya lantai dansa yang ada di cerita dongeng kerajaan. Panti yang di luar terlihat sederhana itu memiliki ruangan yang sangat indah ini? Di tambah lagi langit-langit ruangan itu bergambar langit malam yang bertaburi bintang-bintang.


"Jangan bengong di depan pintu. Ayo masuk!"


Irina tersentak dari lamunannya dia menoleh pada Bunda Indah yang sudah ada di sampingnya. Bunda Indah menuntun Irina untuk memasuki ruangan itu. Bu Indah menyilahkan Irina untuk duduk di kursi seraya menunggu Ethan yang turun ke bawah untuk membawa cemilan.


"Kamu suka main piano?"tanya Bunda Indah


"Iya, bun. Aku suka banget, tapi sayangnya..."


Bunda Indah mengulas senyum, dia mengusap lembut bahu Irina. "Semua itu butuh proses."


"Ethan, anak itu dia kesepian dari kecil."Irina menoleh saat bunda Indah memulai pembicaraan lagi.


"Oh iya bun, dulu aku denger Ethan di penjara? Karena apa?"


"Dia terlibat tawuran. Sebenernya dia hanya membantu temannya yang sedang kesusahan, anak itu sangat marah ketika temannya babak belur. Dia memukul membabi buta mereka, sampai salah satu dari mereka ada yang koma."


Hah? Bukannya Ethan bilang, dia gak bisa berantem ya?


"Jangan heran Ethan berbicara tidak bisa berantem. Dia hanya trauma saja dengan apa yang dia lakukan di masa lalunya."ucap Bunda Indah seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Irina.


Irina duduk di kursi piano. Dia memperhatikan setiap tuts yang ditekan oleh bunda Indah. Alunan itu terasa lembut menghantarkan perasaan hangat pada hatinya. Terkadang alunan itu terasa sangat menyayat hatinya. Sebuah telapak tangan terulur ke depan Irina, dia mendongak untuk menatap wajah itu.


"Mau dansa?"Ethan membungkukan badannya, tangannya masih setia di depan wajah Irina.


Irina melirik sekilas bunda Indah, sebelum akhirnya menyetujui ajakan Ethan. Irina meraih telapak tangan Ethan.


Ethan mengajak Irina ke tengah-tengan lantai yang berpola bulat. Dia menuntun salah satu tangan Irina untuk ada di bahunya dan satunya lagi saling mengenggam di samping. Cowok itu meletakan satu tangan yang lainnya di pinggang ramping Irina. Mereka dansa sangat pelan mengikuti alunan nada.


"Tadi Bunda ngomong apa aja?"Ethan menunduk untuk menatap Irina


"Kata Bunda, dulu kamu bandel."jawab Irina seraya terkekeh geli


Ethan tampak mengerutkan keningnya. Dia berpikir kapan dia berbuat nakal?


"Enggak kok, aku itu anak yang baik, sholeh dan sholehah, berbakti sama nusa dan agama, ramah tamah dan juga..."Ethan menggantung kata-katanya membuat Irina menaikan sebelah alisnya. "Ganteng."


"Narsis sekali anda."dengus Irina


Ethan tergelak. Kedua tangannya sudah berada di pinggang Irina saat ini, yang otomatis kedua tangan Irina berada di bahunya. Ethan menarik pinggang Irina agar lebih mendekat padanya.


"Aku tarik kata-kata ku yang tadi. Sebenarnya aku emang bandel."


Irina menahan napasnya saat Ethan mendekatkan wajahnya. Gadis itu berniat memundurkan wajahnya tetapi kalah cepat dengan tangan Ethan yang menahan tengkuknya. Ethan melirik sebentar Bunda Indah yang sedang menutup matanya menikmati permainan, lalu kembali mendekatkan wajahnya pada Irina. Dia menatap wajah Irina yang sedang menutup mata ketakutan.


"Kamu beruntung disini ada Bunda."bisiknya tepat di depan bibir Irina


______________________________


Suara dingin menyapa indera pendengaran Irina saat memasuki rumahnya. Irina menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya sedang bersidekap dada di hadapannya.


"S-sekol--"


"Jangan banyak berbohong! Emangnya papa gak tau kalo selama ini kamu sering bolos les demi les musikmu itu?"


Irina menudukan kepalanya. Selalu saja begini. Selalu saja dia terlihat lemah di hadapan ayahnya. Tidak bisakah dia terlihat lebih kuat di depan ayahnya?


"Kenapa diam?"tanya Aldi menatap datar Irina yang sedang menunduk


"A-aku..."


"Tidak bisa menjawab? Jangan kira papa juga gak tau kalo kamu bolos sekolah hari ini,"Aldi menyerahkan selembar foto ke hadapan Irina. "Siapa dia?"


Irina tersentak saat melihat foto yang berisi dirinya dan juga Ethan yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Dengan cepat dia menyembunyikan eksperesi kagetnya. "Dia temen sebangku Irina."


"Anak pindahan itu?"


Irina mengangguk. Gadis itu menarik napasnya dan menghembuskan dengan pelan. Oke, sekarang dia sudah siap untuk menjawab introgasi selanjutnya dari ayahnya.


"Ganti pakaian, setelah itu makan!"ucap Aldi sebelum pergi meninggalkan Irina.


Irina cengo di tempat saat ayahnya tidak melanjutkan interogasinya dan malah menyuruh Irina untuk mengganti pakaiannya dan makan. Wah, apa ayahnya ada salah makan tadi pagi?


"Gue gak percaya ini."gumam Irina seraya menaiki tangga


Gadis itu membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan pelan. Irina meletakan ranselnya di atas meja belajar, dia duduk di tepi ranjang dan mulai berselancar di dunia maya nya.


Ting!


Irina membuka satu pesan masuk yang di kirimkan Ethan padanya. Dia mengernyit kenapa cowok itu mengirim gambar pemandangan padanya? Tetapi sesaat kemudian hati Irina menghangat, dia bisa merasakan Ethan berbicara dari pemandangan tersebut. Irina menutup ponselnya saat dia ingat kalo dirinya belum mengganti baju.


Tok tok tok


Kegiatan Irina mengganti bajunya di percepat saat mendengar pintunya di ketuk. Irina menggantungkan seragamnya di lemari, sebelum membuka pintunya.


"Ada apa?"tanya Irina pada orang yang ada di depannya


Orang itu menatap Irina memohon, membuat gadis itu mengernyitkan keningnya.


"Na... malem ini ikut gue yuk."ucap Satria—kakaknya


"Kemana?"


"Ke pertunangan mantan,"Satria menghela napasnya lelah. "Mau ya, plis..."


"Pfftt... jadi lo ajak gue karena gak mau di anggap jomblo ngenes, gitu?"tanya Irina menahan tawanya


"Ck, ucapan lo jleb banget. Jadi gimana mau, ya!"


Irina mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Tatapan merendahkan kakaknya yang sedang menatapnya melas. Irina menampilkan smirknya saat otak cantiknya menyatakan ide yang sangat brilian.


"Gue mau, asalkan——"


Satria menatap Irina dengan senang sebelum akhirnya mengerutkan keningnya.


"——lo kesananya jadi tukang bakso!"


Jedarr


-Tbc


Jangan lupa vote+comment ya gaes...


Maaf kalo ada typo,dll...


See you next chapter... bhubhay...