Escape With You

Escape With You
Epilog



3 tahun kemudian


30 Agustus 20xx


14:00


Teruntuk: Irina Anatasnya


Ternyata rinduku padamu begitu kuat.


Terus menghantam relung hatiku hingga membuatku sesak.


Lalu aku harus apa dengan rindu ini, selain pasrah dan membiarkan diriku terus di hantam keriduan.


Lama tak mendengar kabarmu. Aku harap bersamanya kamu lebih baik.


Tapi ingat, kamu tetap cita-citaku.


Sejauh aku melangkah, tidak ada yang aku tinggalkan tentangmu. Semuanya ikut bersamaku.


Aku memang sepengecut itu selalu melarikan diri hanya untuk memiliki waktu.


Lalu sekarang aku harus apa?


Tertanda


-Ethan Agapanthus


***


"Kamu nggak pa-pa, Na?"tanya Kafka yang melihat raut peubahan Irina. Irina menarik napas serta mengumpulkan kekuatannya untuk tetap tegar. Perempuan itu tersenyum menatap pria yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


"Gak pa-pa kok."


"Ethan, sering ngirim surat gituan?"tanya Kafka hati-hati. Takut jika pertanyaannya membuat Irina terganggu.


"Ini yang pertama."


Kafka mengangguk paham lalu meminum kopi susunya. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Kafka tampak menimang-nimang kapan dia harus mengutarakan alasannya menemui Irina saat ini.


Irina menatap curiga pada Kafka yang terlihat gugup. Gerak-gerik dari tunangannya itu tidak ada yang dia lewatkan. Beberapa kali Irina melihat Kafka yang menghela napas dan menggosok hidungnya.


"Kenapa, Kaf? Semua baik-baik aja, 'kan?"


Kafka menggosok telapak tangannya. Pandangannya ia alihkan sejenak sebelum akhirnya ia melepaskan cincin tunangan yang tersemat di jarinya dan dia letakan di atas meja.


Sontak apa yang Kafka lakukan membuat Irina menggelengkan kepala tidak mengerti.


"Maksudnya?"tanya Irina benar-benar tak mengerti dengan apa yang dilakukan Kafka.


"Kita selesai sampai disini, Na. Maaf kalo ini mendadak, aku... aku memilih mundur daripada melangkah ke pelaminan."


"Kafka, aku ada salah sama kamu?"


"Nggak, Na. Kamu gak salah."


"Terus kenapa kamu ambil keputusan ini? Tanggal pernikahan kita udah di tetapin, undangan udah siap disebar, persiapan udah semuanya, dan kita tinggal nunggu hari H. Kamu gak bisa gini dong, Kaf!" Irina menelan kenyataan pahit yang terus saja dia terima beberapa tahun ini.


Setelah kehilangan ayahnya yang pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya setahun yang lalu. Akankah hari ini dia merasakan kembali kehilangan? Mengapa satu persatu meninggalkannya?


"Sekali lagi aku minta maaf. Permisi."Kafka beranjak dari kursinya. Jas hitamnya yang dia sampirkan di sandaran kursi segera ia raih sebelum akhirnya meninggalkan Irina yang masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.


Sepeninggal Kafka, Irina ingin sekali menangis namun air matanya tak lagi mau keluar. Sesak di dadanya semakin hebat.


______________________________


2 tahun kemudian


"Nggak usah maksain diri, Na. Kalo nggak enak badan mendingan gak usah dateng ke acar reuni. Nanti biar gue yang ngasih pengertian sama yang lain."ucap Satria menatap wajah pucat Irina yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Akhir-akhir ini kesehatan Irina memang turun. Banyaknya beban pikiran membuat Irina kehilangan nafsu makannya. Belum lagi dia harus mengajarkan piano pada anak didiknya. Anak-anak didiknya semakin banyak membuat Irina kewalahan namun juga senang karena impiannya terwujud.


"Udah mendingan kok Bang. Cuma gue pengen ketemu sama mereka. Ini kali pertama kalinya gue dateng reuni. Reuni sebelumnya gue selalu gak bisa dateng!"


"Tapi lo...


"Gak pa-pa Bang. Cuma pusing dikit, nanti sampai sana juga hilang pusingnya. Udah setengah tujuh, berangkat sekarang."ajak Irina


"Kafka kemungkinan besar dateng. Lo gak pa-pa 'kan kalo ketemu Kafka nanti?"


"Gak pa-pa. Gue udah ikhlas. Apalagi yang harus gue lakuin selain ikhlasin Kafka? Toh, Kafka udah nikah sama Mika."


Satria mencoba tersenyum meskipun dalam hati dia ikut merasakan perih dengan akhir percintaan Kafka dan Irina beberap tahun yang lalu. Padahal tinggal selangkah lagi Irima dan Kafka melangkah ke pelaminan. Pada akhirnya Kafka menyerah dan memilih bersama perempuan lain, melepaskan Irina.


______


Yang Irina ingat pada masa sekolahnya itu hanyalah belajar dan menuruti kemauan ayahnya. Tiba-tiba semua membisu, tawa lenyap dan pandangan tertuju pria yang bersetelan rapi yang baru saja datang.


"Woaahhh!"pekikan heboh dan tepukan tangan menyambut kedatangan seorang Ethan Agaphantus yang dinobatkan menjadi tamu agung acara reuni ini. Karirnya yang berada di puncak kejayaan membuat kedatangannya dinanti-nantikan.


Ethan menyalami satu per satu teman-temannya dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi.


"Kirain gak bisa dateng, secara boss besar pasti sibuk."Ethan hanya tersenyum kecil seperti dulu saat salah satu temannya berceletuk.


Kini semua pasang mata menatap kagum pada Ethan. Tidak ada celah bagi pria itu. Tampan, mapan, dan terlihat sempurna untuk dijadikan pasangan.


Melihat Ethan yang berjalan ke arahnya, Irina menjadi gugup.


"Hai, apa kabar, Na?"


Irina ingin pingsan rasanya saat Ethan menyapanya dengan senyum lebar lalu duduk di sampingnya. Ia pikir Ethan tidak akan hadir di acara reuni.


"Ekhem."dehem teman-temannya untuk menggoda Ethan dan Irina.


"Baik, kamu gimana Than?"


"Baik juga."sahut Ethan lalu mengulas senyum pada Irina.


"Irina aja nih yang ditanyain kabarnya. Padahal pengen ditanyain sama pengusaha muda yang sukses. Biar kecipratan suksesnya."ejek Gita


"Irina mah beda. Spe-si-al."sambung Dewi


Ethan hanya menggelengkan kepala mendengar celetukan teman-temannya.


"Apa kabar Than? Makin-makin aja ya, lo. Gak nyangka aja bisa sekeren sekarang."celetuk Damar teman sekelasnya dulu


"Bisa aja, lo."sahut Ethan santai sambil menatap wajah Irina yang tersipu malu lantaran terus diratap oleh Ethan.


"Papi!!"


Ethan sontak memutus pandangan dari wajah Irina saat anak laki-laki berusia tiga tahun berlari me arahnya. Ethan pun beranjak dan menyambut kedatangan anak itu.


Sontak semua tercengang terlebih Irina dengan kedatangan anak itu yang memanggil Ethan 'Papi'. Selama ini mereka kira Ethan masih melajang mengingat dulu hubungannta dengan Irina terputus begitu saja. Dan Irina mempunyai tunangan saat Ethan akan kembali membuat pria itu mengurungkan niatnya kembali.


"Darimana aja, hm? Mulai nakal, ya?!"tanya Ethan pada anak usia 3 tahun itu yang sekarang sudah ada di gendongannya.


Anak itu tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dia malah menenggelamkan wajahnya pada pundak Ethan dengan manja.


"Oh iya, kenalin ini Raka. Anak gue."ucap Ethan memperkenalkan putra pertamanya. Kaget. Tentu saja mereka kaget. Kini seluruh pasang mata menatap Irina. Mereka menatap prihatin ke arah Irina. Irina pasti sedih mendengar status Ethan saat ini.


"Yang sabar ya, Na."ucap Gita mengusap pundak Irina seolah memberikan kekuatan.


"Dan ini Irina, istri gue yang bandel. Di bilang diem aja di rumah, malah kesini."sambung Ethan gemas pada istrinya. Ia mengusap pelan puncak kepala Irina dan mengecup keningnya lembut.


Kejutan lagi. Malam ini Ethan memberikan banyak kejutan yang tak terduga. Diam-diam menikah dengan Irina tanpa sepengetahuan apapun dan parahnya lagi sudah mempunyai anak.


Raka melepaskan pelukan di tubuh Ethan, anak itu mengulurkan tangan ke arah Irina minta di gendong. "Mami..."rengek Raka begitu manja pada Irina lalu beralih ke gendongan Irina.


"Yang katanya sakit malah ke acara reuni."sindir Ethan yang ditujukan pada Irina


Tadi pagi, Irina memang mengeluh tidak enak badan. Untuk itu Ethan membawa Raka ikut serta ke kantornya.  Ia juga sempat mengatakan pada istrinya bahwa ia tidak akan hadir diacara reuni. Kabar ketidakhadiaran Ethan lah yang membuat Irina datang ke acara reuni. Tapi diam-diam Ethan datang dan mengatakan yang sebenarnya pada semua orang.


Irina hanya tersenyum lebar serta mengusap kepala Raka yang sedari tadi terus menguap lantaran ngantuk. 


"Rusuh banget Raka tadi dikantor, Yang. Kacau semua kerjaan aku. Nakalnya keturunan siapa sih?! Perasaan Mami Papi nya kalem."adu Ethan tentang sang putra mahkotanya pada sang istri.


Irina hanya tersenyum dan memeluk erar Raka. Melihat Ethan yang cemberut, Irina merentangkan sebelah tangannya dan Ethan menyambutnya dengan memeluk kedua orang yang paling disayanginya.


-selesai-


Bener-bener selesai sampai disini.


Alurnya cepet banget?


Emang


Gantung? Emang


Bikin penasaran? Sengaja


Biara exicited aja sama ceritanya😂


Kan thor udah bilang jangan ekspetasikan cerita ini terlalu tinggi, entar jatuhnya sakit (canda)


Sampai jumpa di cerita berikutnya.


Bhubhay💜💜