Escape With You

Escape With You
Chapter 34



"Pagi Nona..."sapa Gita dengan cengiran saat Irina sampai di mejanya. "Lebih ceria dikit dong mukanya. Apa kata Pangeran lo, kalo mukanya kusut kayak gitu."


"Dewi,"panggil Irina. "Temen lo nih!"


Dewi yang sepagi itu sedang memainkan game online nya menyahut tanpa menoleh. "Bukan temen gue..."


"Kalian berdua itu... jahat!"seru Gita mendramatisir dengan satu tangan yang berada dada, dan tangan yang lain di kepala.


Irina dan Dewi bergidik ngeri melihat perlakuan temannya itu. Mereka saling berpandangan dan menggidikan bahu bersama.


Irina memilih menghiraukan Gita, yang pagi-pagi otaknya sudah koslet. Dia memilih mengeluarkan novelnya untuk menunggu jam pelajaran dimulai. Tapi, ada yang mengganjal di hatinya. Irina belum melihat Ethan pagi ini, biasanya cowok itu sudah masuk saat lima menit yang lalu.


Tettt


Bel pelajaran sudah berbunyi bersamaan dengan guru Matematika yang masuk. Kenikmatan yang haqiqi pagi-pagi sudah di beri sarapan hitung-menghitung. Irina sedikit menolehkan bangkunya ke belakang. Kursi itu masih kosong. Lalu mengalihkan pandangannya ke pintu kelas yang sudah ditutup rapat.


'Apa mungkin, dia telat?'batin Irina


Guru Matematika tersebut mulai mengabsen satu-satu nama. Tepat bagian nama Ethan, semuanya tidak ada yang menjawab.


"Ethan Agapanthus? Kemana dia?"tanya Guru itu


"Izin bu,"sahut anak laki-laki yang duduk di belakang sana.


"Mana suratnya?"


"Dia gak ngirim surat, tapi dia ngasih saya pesan."


Guru Matematika tersebut mengangguk walau tidak setuju karena 'mengirim pesan' bukanlah sikap yang formal.


Pelajaran di mulai. Guru itu mulai membagikan tugas tanpa menjelaskan lebih dahulu, membuat semua murid mendesah kesal.


Irina berusaha memfokuskan pikirannya pada soal, berusaha untuk menyingkirkan pemikirannya pada Ethan. Kenapa cowok itu tidak memberitahunya kalau dia tidak akan masuk sekolah? Bukankah kemarin malam mereka baru saja bertemu?


"Ssstt... Na, nomer 3 apa?"bisik Gita di belakang sana, membuat Irina tersentak.


Irina melihat kertas jawabannya, kertas itu tampak masih bersih belum ada coretan apapun. Irina menggidikan bahunya tanda tidak tahu, membuat Gita meringis.


"Huft... ayolah, gue bener-bener harus fokus."gumam Irina


Irina mulai fokus pada soal, walau dalam hatinya dia merapalkan kata-kata.


'Perasaan gue gak enak.'batinnya


______________________________


Tes.


Rintik-rintik air hujan mulai membasahi tanah. Seorang pria yang memakai hoddie hitam dan celana sekolah yang sudah kotor menetralkan napasnya di balik tembok yang tinggi.


Tes. Kali ini bukan hanya air hujan, tapi setetes darah dari tangannya yang jatuh ke tanah. Ethan duduk di tanah dengan punggung yang disandarkan. Ya, pria itu adalah Ethan, orang yang saat ini tidak masuk sekolah walaupun tubuhnya sudah terbalut pakaian sekolah. Tatapan matanya kosong ke depan, bersamaan dengan kilasan yang baru saja terjadi.


FLASBACK


Ethan memasukan kedua tangan pada saku celananya. Dia berjalan dengan santai seraya bersiul. Rencananya, pagi ini dia akan datang lebih awal daripada Irina ke sekolah. Dia akan meminta bayaran yang setimpal karena datang lebih dahulu ke sekolah.


Tin... Tin...


Klakson mobil membuat Ethan menghentikan langkahnya. Dia merasa jika klakson itu ditujukan padanya. Ethan membalikan badanya.


Seorang pria paruh baya terlihat keluar dari mobil berwarna hitam itu. Ethan tahu siapa pria paruh baya itu. Dengan gayanya yang begitu arogan tapi berwibawa, dan juga tatapan matanya yang dingin. Siapa lagi kalau bukan Aldi Wijaya.


"Om.."sapa Ethan dengan senyuman


Aldi tidak menjawab dia hanya diam berdiri dengan pandangan yang tidak lepas dari Ethan.


"Saya tahu sekarang kamu butuh uang untuk biaya kuliah,"Aldi melipatkan tangannya di depan dada. "Saya tahu pengurus panti kamu tidak punya biaya lebih untuk membiayai semua anak disana."


"Benar, tapi saya bisa membantu bunda."


"Saya juga tahu belakangan ini, pengurus panti itu sedang sakit keras."


Deg.


Ethan tersentak. Bagaimana bisa Aldi tahu kalau Bunda sedang sakit? Oh, ya. Dia lupa kalau seorang Aldi bisa tahu tentang dirinya.


"Benar."jawab Ethan berusaha tenang


Aldi menaikan sebelah alisnya. "Bagaimana kalau saya mengajukan perjanjian. Kamu akan saya kuliahkan di New York, dan saya akan membiayai pengobatan pengurus panti itu. Dengan syarat, kamu harus jauhi putri saya!"


Ethan menghela napasnya, dia tahu apa yang akan terjadi bila percakapan ini terus berlanjut. Dengan keadaannya sekarang, Ethan sangat tergiur pada perjanjian itu. Tapi, dia tidak mau terseret dalam 'perjanjian setan' itu. Ya, Ethan menyembutnya perjanjian setan, karena akan mengorbankan perasaanya.


"Saya tahu anda akan bilang demikian."ucap Ethan


"Pikirkanlah dulu. Kamu tahu akan menghubungi siapa, kalau setuju."ucapnya sebelum berlalu dari sana


Ethan terdiam. Menyaksikan mobil itu menjauh dari sana. Dia meneruskan langkahnya yang terasa berat sekarang.


Saat di perempatan jalan, Ethan kembali menghentikan jalannya. Dia menatap datar pada orang-orang yang sedang menyeringai padanya.


"Gue lagi gak mood, awas!"ucap Ethan malas


Kemal mengacuhkan ucapan Ethan, dia malah menggidikan kepalanya pada anak buahnya.


"Sial."umpat Ethan, dia sudah berjanji pada Irina untuk tidak terluka kembali. Apakah dia harus lari lagi sekarang?


FLASBACK OFF


Ethan mengurut keningnya. Jadi, sekarang dia harus apa?


Tiba-tiba sekelebat bayangan Irina sedang tersenyum menghampiri pandangannya membuat dia tersenyum.


"... dia lari ke arah sini."


Samar-samar Ethan mendengar orang-orang yang pasti adalah suruhan Kemal sedang mencarinya.


Ethan berdiri dan mulai berjalan ke arah gang sempit. Dia menoleh ke belakang tanpa memperdulikan ada orang yang berjalan di depannya dan sedang menunduk.


Brukk..


Klasik. Memang. Adegan dimana keduanya tersentak kaget dengan saling memandang.


"Irina"


"Ethan,"


Ethan menatap Irina panik dia menarik Irina ke sebuah pohon yang agak besar.


"Kamu ngapain jalan kesini?"tanya Ethan


"Kamu kenapa gak masuk, terus,"bukannya menjawab pertanyaan dari Ethan, Irina malah menatap cowok itu kesal. "Tangan kamu kok berdarah? Di jaket kamu juga ada darah? Kamu ngebiarin diri kamu di gebukin lagi?"


Ethan mengenggam kedua tangan Irina. "Ini bukan darah aku."


"Terus darah siap— HAH?"


Ethan membekap mulut Irina. "Ssst... jangan kenceng-kenceng."


Rintik-rintik hujan itu semakin deras. Ethan dan Irina hanya dilindungi oleh dahan-dahan dari pohon yang membuat sebagian baju mereka basah.


"Terus darah siapa?"tanya Irina dengan suara yang gemetar.


"Kemal."jawab Ethan tanpa melihat Irina


Satu kata itu membuat jantung Irina mencelos. Perkataan Bunda Indah tentang bagaimana Ethan membuat seseorang jatuh koma terngiang.


".... Na... Irina,"Ethan mengguncang pelan bahu Irina. "Maaf."


"Kenapa minta maaf? Aku yakin kamu cuma ngebela diri."


"Makasih udah percaya sama aku, Na."ucap Ethan dengan senyumannya. "Kita cari tempat neduh."


"Iya."


Sejujurnya Irina masih syok.  Dia memang sering melihat Ethan terluka. Tapi, melihat darah yang ada di jaket dan tangannya bukan dari lukanya, membuat jantung Irina berdetak hebat.


Mereka lebih memilih berteduh di warung kopi yang ada di sekitar sana. Ethan memesan teh hangat pada pemilik warung tersebut.


"Jangan takut sama aku ya, Na."ucap Ethan seraya mengenggam tangan kanan Irina yang berada di atas meja.


"Kenapa aku harus takut? Kamu Ethan."


Ethan tersenyum mendengarnya. Setidaknya dia bisa mengobati penatnya dengan melihat senyum Irina. Tapi jauh di dalam sana, cowok itu juga sedang diambang dilema.


-Tbc


Halo gaes...


Maaf telat update ya gaes...


Thor baru punya kuota ditambah thor sekarang lagi ulangan😭


Sedikit info: Thor itu memilih visual bebeb Taehyung sebagai Ethan. Yap, thor itu k-pop gaes... tapi sedikit sih.😅


Nah, kalo nama Ethan, Thor terinsfirasi dari nama lain alkohol yaitu Ethanol. Ethanol itu dingin, kayak tatapan kamu ke aku... eaaa... paansih thor gaje.. plak//


Maaf pala thor abis ke bentur sama mikroskop jadi kayak gini🌚


Makasih buat kalian yang udah setia nunggu end baca cerita ini...


Semoga kalian sabar menunggu story ini ya...


Maaf kalo ada typo, dll...


See you next... bhubhay...