
"Lo!"teriak Irina seraya menunjukan orang itu.
"Hai."ucapnya santai
Irina yang sebal, memaksakan kakinya untuk berdiri. Namun sayang, baru saja dia berdiri tapi sudah terjatuh kembali.
"Butuh bantuan?"tanya orang itu seraya mengulurkan telapak tangannya
Irina menepis tangan itu. Dan berusaha untuk berdiri kembali, tapi usahanya sia-sia. Pergelangan kaki kirinya sangat sakit.
"Ayo gue bantu."
"Gak. Gue bisa sendiri."ketus Irina
Tanpa mengindahkan perkataan Irina, orang itu menarik tangan Irina untuk berdiri tegak. Lalu merangkul bahu gadis itu agar tidak terjatuh.
"Gue bilang, gue bisa sendiri Ethan!"
Ethan—cowok itu setelah sekian lama tidak menampakan batang hidungnya, dia malah datang dengan diam-diam mengikuti Irina.
"Lo mau kemana? Gue anter."ucap Ethan
"Gak. Gak usah!"ketus Irina
Ethan terkekeh geli. Dia mengeratkan pelukannya pada bahu gadis itu, saat Irina akan terjatuh.
"Disana ada bangku. Kita duduk dulu disana!"ucap Ethan
Irina hanya diam tidak berbicara. Sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Jadi sekarang dia sedang gugup, jadi Irina memilih diam daripada nanti omongan ngelantur.
Ethan mendudukan Irina di bangku tua yang terbuat dari kayu itu. Dia berjongkok untuk melihat kaki Irina.
"Eh, ngapain?"panik Irina saat cowok itu membuka sepatu yang dipakainya.
Ethan menatap Irina yang jauh lebih tinggi darinya, karena sekarang gadis itu duduk di bangku. "Pergelangan kaki lo terkilir. Gue mau liat!"
"Eh, g-gak. Gak usah."ucap Irina seraya menarik kaus kakinya kembali
Ethan menahan tangan Irina. "Lo gak mau 'kan kaki lo membusuk karena terkilir? Dan gak cepat-cepat di obatin?"
Irina menelan ludahnya. Apakah benar kakinya akan membusuk karena tidak cepat di obati? Irina menarik tangannya kembali dari kakinya.
Ethan tersenyum dan mulai memijat lembut pergelangan kaki Irina, sesekali memutarnya membuat Irina meringis.
"Sshh.."
"Sakit, ya?"tanya Ethan polos
Irina menahan tangannya dipangkuan agar tidak menjitak cowok yang ada di hadapannya.
"Ya, iyalah sakit! Lagipula ngapain lo ngikutin gue kayak gitu?"solot Irina
Ethan tersenyum geli seraya memijat pergelangan kaki Irina. "Iseng."
What. Apa katanya iseng? Apakah Irina salah dengar? Atau mungkin pendengaran Irina yang bermasalah? Emosi Irina semakin memuncak, dia terus menahan kepalan tangannya di atas pahanya.
Tahan. Sabar Irina. Tahan. Lo kuat kok!
Irina menarik napasnya dan menghembuskan secara perlahan. Ethan memasangkan kembali kaus kaki kemudian sepatu Irina. Dia berdiri dari posisinya yang berjongkok.
"Lo kenapa?"tanya Ethan saat melihat wajah Irina yang memerah
Irina menatap Ethan seperti pemburu yang mengintai mangsanya. "Lo! Huft... gila!"
"Yap. Gue emang gila."Ethan membenarkan letak rambutnya yang berantakan
Irina memelongokan matannya. Cowok ini benar-benar! Tidak mau ambil pusing dia berdiri dari duduknya.
"Anyway, ngapain lo ada disini?"tanya Irina
Ethan menatap Irina seraya menaikan kedua alisnya membuat cowok itu bertambah radar kecan-eh, kegantengannya.
"Harusnya gue yang nanya sama lo! Ngapain lo kabur dari tempat les, lo?"
Berbicara soal tempat les, Irina jadi teringat dengan Alex—temannya. Apakah dia sudah ada disana, ya? Tapi yang lebih gawat lagi, apakah Mang Udin sudah menjemputnya, ya?
Dengan tergesa Irina melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sial! Sepuluh menit lagi mang Udin jemput!
"Em... gue duluan, ya!"ucap Irina seraya berlari dengan cepat menuju tempat les nya, walau kakinya masih agak sakit, tapi tidak sesakit tadi.
Irina menengokan kepalanya ke belakang sebelum dia lanjut berlari, Ethan—cowok itu masih disana menatapnya.
"Huft... untung aja masih kesisa dua menit lagi!"ucap Irina terengah.
Mobil terparkir tepat dihadapannya. Mang Udin keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang.
"Neng Irina kayak yang capek begitu?"tanya Mang Udin
"Eh, em.. itu mungkin karena tadi pusing materinya."ucap Irina yang diangguki oleh Mang Udin.
______________________________
Ting!
Irina membuka pesan yang masuk ke ponsel nya.
Kelek~
Rin, maaf ya! Tadi gue gak bisa jemput lo, soalnya ayang gue minta di jemput juga;(
Irina hanya membaca pesan itu tanpa harus membalasnya. Dia mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas nakas.
"Sayang..."
Irina memiringkan badannya ke kanan saat mendengar panggilan.
"Kamu kok belum tidur? Tadi gimana les nya?"tanya Aleta seraya mendudukan dirinya di pinggir ranjang
"Em, ya gitu. Gak ada yang spesial."bohong Irina, karena sebenarnya tadi dia tidak masuk les.
Aleta mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Yaudah sekarang kamu tidur!"
Irina memejamkan matanya menikmati elusan lembut di kepalanya. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan hangat ini. Biasanya ibunya akan selalu ke kamar Sena—kakak perempuanya untuk memastikan apakah dia sudah tidur, apa belum. Tapi hari ini ibunya menemani Irina sampai tertidur.
"Mah... Irina pengen tanya, kenapa papa.."Irina tidak melanjutkan ucapannya karena rasa ngantuk menyerangnya.
"Sstt... ayo tidur. Puk.. puk.."Aleta menepuk-nepuk puncak kepala Irina, membuat gadis itu tersenyum dalam tidurnya.
Cup
Aleta mengecup kening Irina dan menaikan selimutnya hingga leher. "Mimpi indah, sayang..."
Aleta menutup pintu kamar Irina dengan perlahan. Walaupun Irina sudah kelas dua belas SMA, tapi tetap saja menurut Aleta, dia adalah gadis kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BULTARAUNE...
FIRE.... OH E—
Pip
Irina mematikan suara alarm dari ponselnya. Suara alarm tepat di sampingnya membuat telinga Irina berdengung.
"Good moorning world..."erang Irina seraya merenggangkan tangannya.
"Ck. Sekarang 'kan hari minggu. Ngapain gue setel alarm, coba?!"rutuk Irina setelah melihat tanggal yang tertera di ponselnya.
Tok... tok... tok...
"Non, ini bibi. Waktunya sarapan.."
"Oh bi Sul. Masuk aja bi, gak dikunci, kok!"suruh Irina, sebenarnya nama aslinya adalah Bi Sulis tapi entah kenapa Irina hanya memanggilnya Bi Sul.
Bi Sul memasuki kamar Irina dengan membawa nampan di tangannya. "Sarapan dulu non."
"Makasih ya. Oh iya bi, mamah ada?"tanya Irina
"Nyonya sedang berada di kebun bunganya."
Irina menganggukan kepalanya. "Kalo bang Satria?"
"Gak ada non, katanya lagi keluar kota."
"Sena?"
"Sama non, gak ada."
Irina bersorak dalam hati.
"Kalau begitu bibi pamit dulu, non."pamit bi Sul
Irina menganggukan kepalanya. Dia mengarahkan kepalan tangannya ke udara seraya bersorak. Dia meraih ponselnya dan meletakan nampan makanan di nakas. Dia melakukan video call bersama kedua sahabatnya.
"Gaes... kumpul yuk!"ucap Irina
"Kemana?"
"Kafe star yang deket sekolahan ajaa gimana?
"Setuju! Oke gaes... gue mau siap-siap dulu. Bubay!"
Pip
Irinaa tersenyum seraya melangkah senang menuju kamar mandi.
Yes. Tiga pengganggu gak ada di rumah! Gue bisa bernapas lega sementara.
Yang dimaksud dari tiga pengganggu adalah, Ayahnya, Sena dan juga Satria.
-Tbc
Gimana-gimana?
Gimana menurut kalian chap ini?
Maapkeun kalo masih banyak typo, dll. Maklumin aja author nya masih amatir...
See you next chapter... bhubhay....