Escape With You

Escape With You
Chapter 17



"Supir lo datang jam berapa?"teriak Ethan


"Sekitar lima belas menit lagi."jawab Irina.


Ethan menambah kecepatan motor membuat cengkeraman Irina pada jaket Ethan mengerat.


"Than jangan ngebut."seru Irina takut


Tapi Ethan malah tergelak dan menambah lagi kecepatannya. Tangan Irina sudah terasa dingin karena sapuan angin malam.


"Than... jangan ngebut! Gue takut!"teriak Irina


Seakan ucapan Irina hanyalah angin lalu, dia malah menambah kecepatan motornya. Membuat Irina mengeratkan pegangan di pinggang Ethan.


"Irina rem-nya blong!"


Bagai tersambar petir Irina kaget bukan main. Baru saja dia ditakutkan karena cowok itu menjalankan motor diatas rata-rata, beda dengan temannya Alex. Sekarang dia sudah dikejutkan dengan kalimat itu.


"Ha ha ha... lo pasti becanda 'kan?"tanya Irina dengan tawa yang di buat-buat


"Buat apa gue becanda?"ucap Ethan dengan santainya


Aduhh, kok perasaan gue gak enak ya?!batin Irina


"Irina."panggil Ethan


"Apa?"jawab Irina panik


"Lo punya pilihan di dalam hidup lo... dan cuma lo sendiri yang bisa nentuin pilihan itu..."


Belum sempat Irina menjawab, Ethan sudah menambah kecepatan motornya membuat Irina semakin erat memeluk pinggang cowok tersebut. Motor melaju dengan kencangnya membuat Irina terkesiap.


Dan hal yang paling mengejutkannya adalah, Ethan memutar tubuhnya ke belakang dan memeluk Irina agar melompat dari motor bersama-sama.


Mereka berguling bersama di atas aspal menuju dedaunan kering di samping pagar tembok yang tinggi. Ethan menahan kepala Irina agar tidak terbentur dan memeluk pinggang Irina dengan erat.


Saat berhenti Ethan berada di atas Irina yang sedang membelalakan matanya. Ethan menumpukan tangan nya di samping kiri dan kanan wajah Irina. Dia tertawa melihat wajah kaget Irina.


Irina beringsut mundur dan mendorong cowok tersebut agar menjauh. "Lo gila?!"


"Sorry,"Ethan mendekati Irina dan memeluknya dengan erat. "Lo pasti kaget 'kan?"


Saking kaget nya rasanya Irina akan mati. Ethan kemudian memeriksa dari kepala hingga kaki keadaan gadis itu.


"Ada yang sakit atau luka?"


Tidak, tidak ada sama sekali luka ataupun rasa sakit. Namun jantung nya sekarang yang hampir copot. Irina menghela napasnya untuk menghentikan debaran yang menggila itu. Beberapa saat kemudian debaran itu mulai hilang dan tergantikan dengan rasa yang aneh, bangga, dan geli bercampur seketika.


"Entah kenapa, gue suka memperkenalkan sesuatu yang menantang, sama lo!"sorot mata Ethan melihat lampu-lampu jalanan yang terpasang.


Ethan membatu Irina agar berdiri. "Hei, jangan bengong..."ucap Ethan seraya mengusap pipi Irina


Lidah Irina terlalu kelu untuk menjawab. Apalagi sorot mata Ethan yang membuat tubuhnya mematung. Di bawah sinar rembulan malam ini menjadi saksi bisu debaran yang aneh menyapa keduanya.


Ethan merapikan rambut Irina dan membersihkan daun kering yang menyangkut disana.


"Ini yang gue maksud lindungin lo! Sebahaya apapun itu, gue akan selalu berusaha buat lo baik-baik aja!"


Seusai berkata seperti itu Ethan tersenyum seraya beranjak menuju motor yang terseret jauh. Sedangkan Irina hanya menatap punggung Ethan yang menjauh. Dia memegang dada nya.


Bukan, ini bukan perasaan seperti waktu gue kaget ataupun takut, tapi apa? Apa gue udah jatuh cinta?batin Irina


"Rin.."panggil Ethan seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.


"E-eh, ya?"


"Lo gak mau cepet-cepet pergi? Jemputan lo bentar lagi dateng 'kan?"


Irina melihat jam tangannya. "Aduh sial! Gue duluan, bye..."


"Malam ini gue udah gak lagi numpang di gudang lo."


Irina menghentikan langkahnya, dia membalik. "O-oh iya, itu terserah lo aja,"ucapnya. "Gue duluan ya."


Irina berlari dari sana karena takut mang Udin sudah ada. Sedangkan Ethan cowok itu berjalan ke arah motor yang tadi terseret jauh. Sebenarnya tengan rem blong tadi, dia berbohong. Ethan hanya ingin melakukan seseatu yang nenyenangkan dengan Irina.


Menarik!


______________________________


Ping!


Irina membuka ponselnya seraya mendudukan dirinya ke tepi ranjang. Handuk kecil masih bertengger di pundaknya. Dia membuka pesan yang di terimanya.


+62xxxxxxx69


Gimana tadi menyenangkan?


Irina mengerutkan keningnya. Siapa yang mengirimi pesan? Apakah dia mengenalnya?


Me


Siapa?


+62xxxxxxx69


Gue!


Me


Ethan?


Entah kenapa pikirannya melayang pada Ethan.


+62xxxxxxx69


Ya.


Irina berbalas pesan dengan Ethan sampai pukul sepuluh lebih. Saat matanya sudah mulai memberat, tanpa disadarinya dia tertidur dengan ponsel yang sudah tergeletak di sampingnya.


Ping!


sEthan😈


Besok gue jemput lo!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BULTARA—


Pip


Irina mematikan alarm di ponselnya. Dia meregangkan tangannya ke samping setelah itu mengucek matanya. Dia melihat kalender di ponselnya, ternyata hari ini adalah tanggal merah.


Irina memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Ethan semalam. Matanya membelalak kaget saat dengan seenaknya dia akan menjemput dirinya. Lagipula hari ini, tanggal merah. Kemana cowok itu akan menjemputnya? Karena tidak ingin orangtuanya tahu kalau dirinya suka bermain dengan cowok, Irina memutuskan untuk menghubungi cowok cantik itu.


"Halo?"


Saat telpon sundah tersambung, Irina dengan cepat menempelkan ponselnya ke telinga.


"Lo ngapain mau jemput gue segala?"


"Lah... bukannya hari ini kita harus ke puncak, ya?"


"Puncak? Mau ngapain?"


"Lo gak baca grup kelas?"


"Ng-eh, tunggu-tunggu. Jangang bilang kalo itu tugas sekolah?!"


"Yap. Seratus buat lo!"


"Terus gimana dong? Gue belum bilang sama orang tua gue."


"Ya, tinggal bilang. Apa susahnya."


Irina menghembuskan napas kesal. Bukannya membantu memberikan solusi, cowok itu malah seenaknya bicara seperti itu.


"Rin.."


"Oh, iya? Yaudah gue tutup dulu, mau ijin sama papa. Lo jangan jemput gue!"


"Kenapa?"


"Huft... papa gue terlalu protektif. Udah ah, lo jangan jemput gue! Berapa hari kita di puncak?


"3 hari."


"Oh, yaudah. Gue tutup, by--"


Tututt


Sial. Bukan Irina yang menutup teleponnya malah dia diputusin secara sepihak. Bahkan ucapannya juga belum selesai.


Jadi gini ya perasaan orang yang selalu gue tutup telpon nya sepihak. Kayak ada pait-paitnya gitu.Irina membatin seraya menatap ponselnya.


Miris memang. Tapi karma itu selalu ada. Right?


Irina bergegas ke ruangan kerja ayahnya. Kebetulan hari ini ayahnya ada di rumah. Dan tidak berkeliaran dengan kolega bisnisnya. Irina menarik napasnya panjang saat akan mengetuk pintu berwarna cokelat tua itu. Tangannya sudah mengangkat akan mengetuk pintu. Namun pintu sudah terbuka menampakan ayahnya yang terbalut dengan jas, yang berdiri di hadapannya. Irina menurunkan tangannya yang mengambang di udara.


"P-papa... Irina mau minta ijin, 3 hari ke depan Irina ada tugas dari sekolah untuk pergi ke puncak. Sama temen-temen yang lain juga kok, boleh?"tanya Irina penuh harap


"Catat semua nomor telepon bodyguar papa. Setelahnya kamu boleh berangkat."ucap ayahnya dingin lalu berlalu begitu saja dari hadapan Irina.


Awalnya Irina bingung kenapa dia harus nencatat nomor telepon mereka semua? Namun karena jarang sekali ayahnya membolehkan Irina, jadi dia akan mencatat nomor mereka.


Untung syaratnya cuma itu. Tapi tumbenan papa bolehin gue pergi? Bodo lah...


Irina melangkahkan kakinya ke dalam kamar setelah dia berhasil mencatat nomor telepon para bodyguard ayahnya. Dia memasukan baju secukupnya ke dalam ransel yang agak besar.


"It's really-really, happiness!"serunya


-Tbc


Maafkeun kalo ngebosenin... maklum baru pertama...


But, i'm really bener-bener usaha lah, pokokna...


See you next chapter...


Bhubhay....