
Irina memang sangat peka terhadap suara. Buktinya sekarang dia sudah terbangun saat mendengar bunyi dari luar tenda nya. Dia melihat jam yang tertera di ponselnya. Masih jam dua malam, dia mengucek matanya lalu menguap. Baru saja Irina akan tertidur kembali, suara itu sudah terdengar kembali. Seperti suara berbisik yang memanggil nama Irina. Gadis itu membawa selimutnya sampai ke hidung. Keningnya sudah berkeringat.
"Apaan tuh, serem."gumam Irina
Karena rasa penasaran Irina lebih besar daripada rasa takutnya. Irina memutuskan untuk mengintip sedikit. Irina membuka pintu tendanya dengan perlahan. Irina tersentak saat mendapati seseorang di depannya. Baru saja dia akan berteriak, orang itu sudah membekap mulut Irina dan membawanya masuk ke dalam tenda. Orang itu menyempatkan diri menutup pintu tenda Irina.
"K-kamu ngapain kesini?"bisik Irina
"Aku cuma khawatir, kamu tidur nyenyak apa nggak."ucap Ethan
"Gimana kalo ada yang liat. Nanti kita dikira ngapa-ngapain."
Ethan tersenyum geli. "Tapi buktinya kita gak ngapa-ngapain 'kan?!"
"Kamu cepet keluar."suruh Irina
"Kamu usir aku?"tanya Ethan dengan wajah yang tersakiti
"Bukan gitu. Tapi ya, kamu tau sendiri, nanti kalo ada yang liat kita bisa di hukum. Dan yang lebih parahnya lagi ki--"
Irina menghentikan katanya saat Ethan malah mendekatinya dan menumpukan tangannya pada selimut Irina. Cowok itu menjulurkan tangannya lalu mengusap wajah Irina dan memajukan wajahnya untuk mengecup kening Irina.
"Aku cuma mau bilang, semoga mimpi indah."
Siapa saja tolong selamatkan jantung Irina yang malang. Jantungnya berdebar sangat kencang sampai tangannya pun gemetar dan mencengkeram erat selimut.
"Aku balik dulu."ucapnya sebelum pergi dari tenda Irina.
Sedangkan gadis itu masih mematung dengan jantung yang berdetak cepat.
______________________________
Waktu tiga hari sudah berlalu. Irina sudah pulang ke rumah dan memulai sekolah seperti biasa, les, dan masih banyak lagi kegiatan yang menguras pikirannya.
Trilili
Irina mengambil ponselnya yang berdering. Irina mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia menekan tombol hijau untuk mengangkat telpon itu.
"Halo, ada apa lex?"
"Na, bantuin gue na."
"Lah... lo kenapa? Kenapa suara lo kayak kucing kejepit pintu, gitu?"
"Na, lo pokoknya dateng dulu ke cafe star! Gue tunggu."
Tanpa membalas menunggu jawaban dari Irina, Alex dengan tidak tahu dirinya memutus sambungan. Membuat Irina mengumpati cowok itu.
"Ma... Irina mau keluar dulu bentar, boleh?"tanya Irina pada Aleta
"Boleh, tapi bentar ya. Papa kamu bentar lagi pulang soalnya."
Irina tersenyum senang dia memeluk ibunya. "Makasih ma.. aku pergi dulu."
Ojek online yang di pesan Irina sudah menunggu di luar gerbang. Kenapa dia tidak mau di antar? Jawabannya adalah, ayahnya pasti akan marah jika tau dirinya bertemu dengan Alex.
"Ke cafe star ya, pak!"
"Iya, neng."
Motor yang Irina tumpangi berhenti tepat di depan kafe. Irina mencopot helm yang dikenakannya.
"Makasih, ya pak."ucap Irina seraya memberikan ongkos
"Sama-sama, neng."
Irina memasuki kafe tersebut. Dia celingukan mencari orang yang mengajaknya bertemu. Sebuah tangan melambai padanya. Membuat Irina berjalan menghampiri meja yang paling dekat dengan jendela itu.
"Ada apa lo ajak gue ketemu?"tanya Irina to the point
Alex mendengus pelan dan menatap gadis yang ada di hadapaannya.
"Santai aja kali. Baru juga dateng."
"Masalahnya, gue gak bisa lama disini."kesal Irina
"Gue butuh duit Na."ucap Alex langsung
Irina menatap Alex heran. Bukannya Alex itu berkecukupan, ya? "Buat, apa?"
"Adek gue sakit, butuh biaya yang besar,"Alex menatap Irina denga tatapan memelas. "Plis, bantuin gue Na."
"Jadi, lo mau pinjem uang sama gue?"tanya Irina
Alex mengangguk. Memang benar, penampilan cowok yang ada di depannya ini terbilang dia sedang tidak baik-baik saja.
"Berapa?"
Irina terdiam beberapa saat. Sepulu juta itu termasuk besar. Uang tabungannya juga cuma lima juta. Irina mengangguk, terpaksa dia harus menggunakan kartu ATM yang diberikan ayahnya.
"Oke, nanti gue transfrer ke rekening lo."ucap Irina yang membuat senyum terbit di bibir Alex dan menular pada Irina.
"Makasih, Na. Entar gue cicil deh."ucap Alex senang
"Kalem aja kali."
"Gimana les, lo?"tanya Alex
"Ya, seperti biasa. Pantesan gue jarang liat lo di tempat les."
"Hm, gue sibuk ngurus adek gue."
Irina mengangguk. Mereka mengobrol seraya bercanda, hanya sebatas teman. Sudah tiga tahun mereka berteman. Irina sangat nyaman berteman dengan Alex karena cowok itu selalu terbuka padanya. Jangan kira mereka terjebak friendzone. Alex sudah mempunyai pacar, dan Irina pun sama sekarang.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasinya di pojok ruangan. Dia memperhatikan bagaimana Irina tersenyum, bercanda, dan mengobrol santai. Dia menutup kepalanya dengan tudung hoddie yang dikenakannya. Orang itu mengambil selembar kertas kecil dan pena di saku hoddie nya. Entah apa yang dia tulis, orang itu melipat kertas itu menjadi kecil. Dia beranjak dari tempat duduknya dan memberikan kertas kecil itu pada pelayan yang akan mengantarkan minum pada meja yang du duduki oleh Irina.
"Permisi, ini minumannya."
"Oh, iya mbak. Makasih, ya."ucap Irina sopan
"Nona, tadi ada yang menitipkan ini pada saya."ucapnya seraya memberikan kertas kecil tersebut.
"Dari siapa?"Irina menerima kertas itu bingung
"Dia tidak memberitahu namanya. Kalau begitu saya permisi, selamat menikmati."
Irina menatap kertas itu bingung.
"Dari siapa?"tanya Alex
"Gak tau, gue."jawab Irina
"Coba buka."
Irina membuka kertas yang terlipat itu. Dan di kertas itu tertulis:
For my beatiful amour, how about a date?
A. Yes
B. Yes
C. Yes
D. I love you too
Angguk artinya Iya.
Ethan. Ag.
Seharusnya Irina sudah mempersiapkan hatinya jika berpacaran dengan cowok itu. Irina mengigit bibir bawahnya lalu mengangguk malu-malu. Alex yang melihat itu menatap aneh pada Irina.
"Lo kenapa, dah?"tanya Alex aneh
Irina tidak menjawab. Dia malah terus membaca tulisan tangan yang tidak terbilang rapi itu berulang kali. Tetapi, sedetik kemudian dia mengernyitkan keningnya.
Itu berarti Ethan ada di sini? Tapi dimana?
Irina menatap sekelilingnya. Namun dia tidak menemukan adanya cowok itu.
"Na, lo cari apa sih?"tanya Alex kesal karena dia merasa ngomong sendiri.
"Eh, nggak,"Irina melihat jam. "Gue harus balik. Nanti gue transfer ke, lo. Gue duluan, bye."
"Na, ini udah di bayar belom?"teriak Alex
"Udah."
Alex menghela napas lega. Untung saja kejadian waktu itu tidak terulang kembali. Dia melanjutkan makannya yang tertunda seraya berbalas pesan dengan pacarnya.
Alex mendongakan kepalanya saat merasa ada yang duduk di depannya. Dia menghentikan makannya.
"Hai."
-Tbc
Jangan lupa voment nya gaes...
Gimana menurut kalian??
See you nex chapter.. bhubhay..
Maaf kalo ada typo, dll..