
Ethan menyandarkan dirinya ke tiang pembatas balkon kamarnya. Dia tidak kedinginan meski angin malam itu terasa lebih kencang. Cowok itu menengadah menatap langit, bulan tampak malu-malu menyembunyikan sinarnya di balik awan. Setelah itu, Ethan menatap datar ke depan. Jarang sekali dia memperlihatkan raut wajah tanpa ekspresi seperti itu. Biasanya di wajah cowok itu selalu ada senyuman ramah untuk setiap orang terutama untuk, Irina.
Kejadian tadi siang, dimana Irina diculik oleh Kemal dan juga pesan yang dikirimkan oleh orang tersebut, menandakan kalau Kemal belum puas membalas Ethan. Entah apa yang membuat Kemal sangat membencinya. Seingatnya dulu, dia 'hanya' melemparkan papan ke wajah cowok itu hingga hidungnya berdarah. Tapi, Kemal seakan belum puas. Dia melibatkan orang terdekat Ethan untuk pembalasan dendamnya. Itu yang membuat Ethan takut, dia takut kalau nanti akan terjadi suatu hal yang lebih parah lagi di bandingkan tadi.
Tok... tok...
Ethan mengalihkan pandangannya ke pintu kamar. Sudah jam sepuluh malam, anak-anak panti yang lain sudah tertidur. Berarti yang mengetuk pintunya adalah, Bunda Indah.
"Masuk."sambut Ethan yang enggan beranjak dari balkon
Cklek. Pintu terbuka bersamaan Bunda Indah yang masuk kamarnya seraya membawa segelas teh hangat.
Bunda Indah meletakan teh hangatnya di atas nakas dekat tempat tidur Ethan. Dia berjalan ke arah Ethan yang sedang menatap lurus ke depan. Dengan lembut Bunda Indah menyentuh bahu cowok itu.
"Ada masalah?"tanya Bunda Indah
Ethan berbalik menatap Bunda Indah dengan senyuman paksa yang di yakini oleh wanita paruh baya itu. "Gak ada apa-apa kok, bun. Ethan cuma lagi suntuk aja."
"Kalo ada masalah cerita sama Bunda. Kamu tahu 'kan, bunda akan bantu sebisa mungkin."ucap Bunda Indah seraya mengelus bahu cowok itu
"Ethan baik-baik aja kok, bun."ucap Ethan meyakinkan Bunda-nya itu. Dia hanya tidak ingin beban yang ditanggung wanita paruh baya yang sudah mengurusnya dari bayi itu tambah besar. Bagaimana pun Bunda Indah lah yang menunjukannya kehidupan. Disaat orangtuanya membuang dirinya, Bunda Indah merawatnya, menemaninya saat kesepian.
"Terus kenapa belum tidur, ini udah malem! Belakangan ini kamu sering bergadang."
"Belum ngantuk aja, bun..."Ethan tampak ragu-ragu untuk melanjutkan perkataanya.
"Ada apa sayang, hm?"tanya Bunda Indah penuh perhatian
"Kalo ada orang yang kita sayangi sedang dalam bahaya, dan penyebab bahayanya itu kita... gimana?"tanya Ethan ragu
Bunda Indah terdiam sesaat, dia menatap pemuda yang saat ini terlihat enggan menatapnya dan hanya menatap lurus ke depan sana.
"Berusaha untuk melindunginya, atau mungkin lakukanlah apapun yang akan membuat dia terbebas dari bahaya itu? Bunda gak terlalu mengerti sama pertanyaan kamu."jawab Bunda Indah seraya terkekeh untuk mencairkan suasana.
Ethan terdiam. Bibirnya tertutup rapat sementara otaknya sedang sibuk mencerna apa yang dikatakan Bunda Indah.
"Apapun yang membuat dia terbebas dari bahaya?"gumamnya
"Hm, kamu bicara apa?"tanya Bunda Indah seraya menoleh pada Ethan
Ethan mengerjapkan matanya lalu terkekeh. "Nggak kok bun. Bunda sana masuk terus tidur! Udah malam, Ethan juga mau tidur."ucap Ethan seraya merangkul pundak Bunda Indah untuk masuk
"Kamu ini ya! Yaudah, bunda mau balik ke kamar. Jangan lupa minum tehnya, mungkin udah agak dingin. Mau bunda buatin lagi?"
"Gak usah bun, ini juga masih anget, kok."ucap Ethan seraya mengambil gelas yang berada di nakas
"Yaudah, kamu tidur yang nyenyak. Besok kan sekolah, selamat malam Ethan."ucap Bunda Indah setelah itu berlalu dari kamar cowok itu, tak lupa dia menutup pintunya kembali.
Senyum Ethan luntur ketika Bunda Indah sudah pergi dari kamarnya. Dia meletakan gelasnya dan dengan satu kali sentakan merebahkan dirinya ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan sendu.
"Haruskah?"gumamnya
----------------
23:04
Seorang gadis nampak tidak tenang dalam tidurnya. Dia terus bergerak gelisah kesana kemari. Irina membuka matanya, sedari tadi dia tidak bisa tertidur. Ingatan tentang dirinya yang diculik oleh Kemal terus berputar. Dia tidak memberitahu keluarganya. Lagipula, mungkin keluarganya itu tidak peduli dirinya diculik atau tidak. Irina menghela napasnya kasar. Dia meraba nakas di samping tempat tidurnya dan mengambil ponsel dan kalender kecil yang berada di sana. Dia menatap salah satu tanggal yang sudah ditandakan oleh tinta warna merah. Bibirnya mengulas senyum, satu minggu lagi ulang tahun Ethan.
"Bagusnya gue kasih kado apa, ya?"Irina bergumam
Dengan cepat dia meng-gooling, untuk menemukan kado yang cocok bagi Ethan. Namun sedetik kemudian bibirnya mengerucut karena tidak ada barang yang sesuai dengan selera. Irina tahu kalau Ethan akan pantas mengenakan apapun. Tapi kaus, jam tangan, sepatu, itu semua terlalu mainstream. Irina mau kadonya itu beda dari yang lain dan tidak mudah untuk dilupakan.
"Hm, apa ya?"pikir Irina. "Gue kado... jaket? Nggak-nggak itu terlalu mainstream. Oh gue tau... apa bingkai foto aja, ya? Nggak-nggak itu terlalu gimana gitu. Yaudah, gelang aja. Eh, tapi... masa gelang sih? Gak tau ah, pusing!"
Irina meletakan kembali kalender dan ponselnya. Dia menarik selimutnya sampai leher. Dia berbalik ke arah samping. Pikirannya menerawang saat kejadian tadi siang. Ponselnya masih berada di mobil Kemal dan sekarang dia menggunakan ponsel lamanya. Irina tersenyum kala mengingat kelakuan romantis Ethan. Cewek mana sih yang tidak baper sama perlakuan Ethan? Perlahan tapi pasti Irina mulai menutup matanya dengan senyuman yang tipis, berharap bahwa dia akan bertemu Ethan di dalam mimpi. Lebay, memang. Tapi siapa yang tahu hati yang sedang berbunga-bunga. Irina tidak tahu saja apa yang akan terjadi besok.
'Jadi, pengen cepet-cepet ketemu Ethan.'batinnya setelah itu menjelajah ke alam mimpi.
______________________________
Irina, Dewi, dan Gita berjalan beriringan di koridor kelasnya. Mereka bertiga menjadi pusat perhatian oleh murid-murid yang lain. Bagaimana tidak, di leher mereka sudah tergantung sebuah kertas yang bertuliskan 'saya kebo, saya telat masuk kelas'. Yap, mereka baru saja selesai di hukum menghormati bendera, kenapa? Jawabannya adalah mereka terlambat 1 jam pelajaran saat kelas sudah dimulai. Kenapa mereka bisa samaan? Jawabannya adalah mereka membuat kesepakatan untuk membolos satu jam pelajaran karena menonton drama korea yang baru saja di update. Mereka bertiga memang terlalu fanatik pada oppa-oppa korea itu.
"Sedih banget sih film tadi, kapan up-nya lagi?"ucap Gita mendramatis
"Kagak tahu, yang penting gue bakal nunggu setia, sedia kala."jawab Dewi dengan semangat yang membara
Sementara Irina, dia hanya menatap datar ke depan. Pikirannya sedang berkelut mengingat kejadian tadi pagi.
FLASHBACK
Tok... tok... tok...
Dengan perlahan Gita mengetuk pintu kelas. Jam sudah menunjukan pukul 08.25 pagi. Artinya mereka sudah terlambat 1 jam pelajaran. Irina dan Dewi menatap cemas ke pintu yang tertutup rapat itu. Pintu terbuka menampakan sosok yang menyeramkan sedang memelototkan mata pada mereka bertiga dengan tangan yang berkacak pinggang, dan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
Irina menelan ludahnya gugup. Dia merutuki dirinya sendiri karena menyetujui ajakan Dewi dan Gita. Habislah dia pulang sekolah nanti!
Gita memimpin jalan masuk ke kelas. Sedangkan Dewi dan Irina di belakangnya mengekor dengan harap-harap cemas.
"Kalian tahu ini sudah jam berapa?!"bentak Guru tersebut seraya menyobekan 3 lembar kertas dan dibuatkan kalung dari benang rapia.
"Tau, bu."jawab mereka serempak
"Terus, kenapa kalian bisa terlambat, hah?"
"Saat di perjalanan, kami liat nenek yang gak tahu jalan pulang bu. Jadi kami anterin aja dia."jawab Gita polos, dan mengarang cerita
Sedangkan Irina hanya meringis mendengar kebohongan sahabatnya itu. Dia mengalihkan pandangannya pada bangku yang berada paling belakang dan dekat dengan jendela. Sesaat pandangan Irina bertemu dengan Ethan. Irina memberikan seyuman tipis, tapi cowok itu malah mengalihkan pandangannya ke jendela.
Irina mengernyitkan keningnya. Biasanya cowok itu akan balas memberikan senyuman atau godaan nakalnya.
"HORMAT BENDERA SAMPAI JAM ISTIRAHAT!"
Teriakan gurunya membuat Irina tersentak. Dia menghela napas dan mengikuti temannya keluar kelas, sebelum benar-benar keluar Irina menyempatkan diri melirik Ethan. Cowok itu masih mengalihkan pandangannya.
'Kenapa dia?'.batin Irina
FLASHBACK OFF
"... Na... IRINA!"teriak Gita dan Dewi tepat di telinga Irina.
Irina mengerjapkan matanya lalu menatap kedua sahabatnya tajam. "Apaansih, kalo gue tiba-tiba tuli gimana?"
"Lagian lo ngelamun mulu, lo mau pesen apa?"tanya Dewi
Irina mengedarkan pandangannya, sejak kapan mereka sudah berada di kantin?
"Pesen apa buruan?"tanya Dewi kesel
"Samain aja, deh."jawab Irina
"Yakin?"
"Iya."
"Yaudah, kalian cari mejanya sana."suruh Dewi sebelum berlalu
Irina menoleh ke arah Gita, saat gadis itu menyikut tangannya. "Apa?"
"Itu pangeran lo mau kesini kayaknya."
"Eth--"ucapan Irina terhenti saat cowok itu hanya melewati mereka berdua tanpa menoleh dan sapaan sama sekali, bahkan raut wajahnya juga datar.
"Lo lagi berantem sama dia?"tanya Gira heran, pasalnya pasangan itu selalu terlihat harmonis setiap hari.
"Gue gak tau."gumam Irina. Dia juga merasa aneh, ada apa dengan Ethan? Dia merasa Ethan berbeda hari ini? Padahal kemarin hubungan mereka baik-baik saja.
"Hola kalian semua... maaf ya lama, antriannya panjang,"ucap Dewi seraya meletakan tiga mangkuk bakso di meja. "Kenapa?"tanya Dewi saat melihat wajah suram Irina
"Gak pa-pa-,"
"Gara-gara si Ethan."
Dewi menatap kedua temannya bergantian. Lalu kembali menatap Irina. "Ethan apain lo, Na?"
"Dia ngg-,"
"Ethan ngacuhin dia."potong Gita yang dihadiahi tatapan tajam Irina
"Hah... mungkin dia lagi banyak pikiran. Udah ah, gue mau makan laper."ucap Irina
"Kalo ada apa-apa cerita sama kita, ya."ucap Dewi
"Iya, Na. Kalo si Ethan sakitin lo, abis tuh cowok sama gue."sungut Gita
"Apaansih kalian. Ethan gak gitu, ya."ucap Irina seraya melanjutkan memotong-motong baksonya.
"Iya, deh. Ethan 'kan pangeran lo."ledek kedua sahabatnya
Irina hanya bisa memutar bola matanya malas. Kedua sahabatnya tidak tahu saja, Irina sedang memikirkan sikap Ethan padanya. Ada yang aneh dengan cowok itu.
-Tbc
Halo gaes...
Gak apdol kalo gak nyapa, ya..
Selamat bulan desember...
Itu aja.. dah..