Escape With You

Escape With You
Chapter 28



Setelah acara tiup lili tadi. Acara ulang tahun Gita terlihat lebih santai terlebih lagi musik yang dimainkan sedikit melow.


Irina menjadi teringat saat dirinya dan juga Ethan berada di posisi canggung waktu itu. Mereka saling melirik dan melemparkan senyum.


Irina meletakan minumannya ke atas meja. Dia menoleh ke belakang menatap Ethan. "Aku mau ke toilet."


Ethan mengangguk lalu meletakan minumannya, menggiring Irina melewati kerumunan. Padahal Irina hanyalah memberitahu, bukan untuk minta diantar.


Suasana langsung terasa berbeda ketika memasuki bagian dalam rumah. Mungkin karena musik yang teredam.


Ethan melepaskan ikatan pita yang melingkar di pergelangan Irina sebelum gadis itu memasuki toilet. Setelah menuntaskan keperluannya di kamar mandi, Irina menemukan Ethan yang sedang bersandar pada pintu. Dia menepuk bahu cowok itu yang membuatnya menoleh.


"Kita disini dulu,"ucap Ethan


"Bosen, ya?"


"Sama kamu mana bosen,"Ethan mengangkat tali pita di hadapan Irina. "Mau diiket lagi?"


Irina tertawa geli. Dia mengambil alih pitanya dan memasukan ke dalam tas yang dikenakannya.


"Kenapa dimasukin?"


Irina tidak menjawab, dia malah ikut bersandar di samping Ethan. "Kata Gita, pacaran kita ketara banget karena sering liat-liatan kayak anak sd. Apa mungkin anak-anak lain gak curiga, ya?"


"Mereka sering liatin kamu sih di sekolah."


Irina memutar bola matanya malas. "Mereka liatin kamu, Ethan."


"Masa?"


"Kamu nggak sadar? Kamu selalu narik perhatian dimana-mana, disekolah bahkan disini juga."


Ethan menggidikan bahunya. "Aku gak merhatiin tuh. Yang aku perhatiin cuma kamu doang."


Astaga. Sepertinya Ethan terlahir menjadi cowok yang suka berkata manis walau terkadang menyebalkan. Dia tidak tahu saja seberapa bahayanya kalimat itu untuk jantung Irina.


"Semoga gak ada yang nyadar. Dan gak perlu nyebar ke telinga guru juga."


"Kamu setakut itu?"


Irina menoleh, dia mengangguk antara rasa bersalahnya.


Ethan menghela napasnya. "Mungkin kalo bukan aku, kamu gak akan setakut ini."


Irina mengernyitkan keningnya, dia berdiri dihadapan cowok itu. "Maksudnya?"


Irina sangat bingung. Pasalnya bukankah hubungan mereka sedang baik-baik saja. Tapi kenapa Ethan harus berbicara seperti itu? Apakah perkataan Irina tadi menyinggungnya?


"Maksudnya, kalo orang lain yang jalanin hubungan sama kamu, mungkin itu lebih baik."


Kerutan di kening Irina semakin kentara. Dia tidak tahu kenapa cowok itu berkata demikian, tapi pertakaannya barusan benar-benar membuatnya kesal. "Aku gak tau kamu ngomong apa. Tapi denger, bukan masalah sama siapanya, karena orangtua aku gak ijinin aku pacaran."


Ethan menunduk, memandangi lantai atau mungkin menghindari tatapan dari Irina.


"Tapi seenggaknya, orang lain bukan mantan napi."


Mendengar Ethan yang berbicara seperti itu, membuat Irina menutup mulutnya. Cowok itu bahkan terlihat tidak percaya diri. Irina tidak habis pikir kenapa Ethan harus memikirkan hal yang tidak penting itu. Padahal tadi dia baik-baik saja, ada apa sebenarnya?


"Sekali lagi, aku gak ngerti kamu ngomong apa."ucap Irina lalu berbalik menuju pesta, meninggal Ethan yang menatapnya dengan tatapan yang sulit dia artikan.


Irina hanya tidak suka sesuatu yang buruk disandingkan dengan Ethan. Menurutnya Ethan bukanlah orang yang seperti itu. Lagipula dia tidak mengerti alasan Ethan yang merubah sikapnya seperti tadi. Padahal baru saja tadi Irina merasakan hal yang menyenangkan.


Belum lagi sekarang Irina seperti menabrak bahu seseorang karena berjalan sembari melamun. "Maaf...,"ucapnya karena memang Irina yang tidak memperhatikan jalan


Namun perhatiannya kembali teralihkan saat menyadari siapa orang yang berdiri di depannya.


"Tumben, tuan putri sendirian."ejek Kemal. Entah hanya perasaan Irina atau cowok itu jadi berubah, ditambah Irina sudah tahu kalau 'Kemal' yang ini orang yang sama dengan cerita Ethan.


Cowok itu menyeringai padanya, untung saja Irina cukup peka saat Kemal berjalan ke arahnya, dia melangkah mundur dua kali.


Irina jadi teringat akan perubahan sikap Ethan tadi. Apakah Ethan sudah menyadari kehadiran cowok ini. Irina merutuk dalam hatinya karena dia meninggalkan Ethan sendirian disana. Kalau dia tahu akan seperti ini, mungkin Irina akan tinggal saja bersama Ethan disana.


Seolah kerisauan dalam hatinya terdengar, seseorang sekarang sedang berdiri dihadapannya. Menutupi pandangannya dari Kemal yang semakin melebarkan seringainya.


"Dia ngapain kamu?"tanya Ethan tanpa memandang, tapi Irina bisa merasakan dingin yang menjalar sampai ke tengkuknya.


"Apa yang bisa gue lakuin di tempat yang banyak orang?"Kemal menatap sinis mereka berdua


"Jangan bicara lagi sama Irina,"Ethan tidak memajukan badannya untuk menantang walaupun kalimatnya penuh dengan ancaman. Dia malah mundur dan menyematkan jarinya diantara jari Irina, dan menggengam tangan Irina.


"Santai," Kemal terkekeh. "Gue cuma nyapa sesama temen."ucapnya seraya melirik Irina dari atas hingga bawah dengan tatapan yang kurang ajar. "Tapi mungkin, lo bisa peringatin gue nanti kalo gue bawa cewek lo ke tempat yang sepi."


Pegangan tangan mereka terlepas saat Ethan dengan cepat meraup kerah baju Kemal, dengan tangan lain yang mencengkeram lehernya seolah itu hal yang biasa. Namun tetap saja itu terasa menyakitkan bagi Kemal, karena cowok itu sudah membuka mulutnya dengan tangan yang menggapai-gapai tangan Ethan karena kehabisan napas.


Irina terkejut bukan main. Matanya membelalak. Dia tidak pernah melihat Ethan yang terpancing emosi seperti ini, cowok iti biasanya hanya melarikan diri.


Kemal berdiri di ujung kakinya. Irina tidak tahu sekuat apa Ethan. Namun saat ini Ethan benar-benar mencekiknya.


Sebelum Kemal kehabisan napas. Irina memberanikan dirinya untuk melangkah maju hanya untuk memberenggut kemeja bagian belakang Ethan dengan tangan yang gemetar.


"Than lepas, lepasin dia..."


Tidak sampai lima detik. Cengkeram itu sudah terlepas dengan menyisakan Kemal yang terbatuk-batuk, namun seringai masih terterap seolah itu hanyalah hal biasa. Itu semua karena ingin membuat Ethan kesal.


"Yang perlu lo lakuin itu cuma waspada. Bukan ke gue,"ucap Kemal terbatuk, dia mengangkat telunjuknya ke udara dan memutar merotasi angin. "Tapi siapa orang yang ada di sekitar lo."


Setelah puas mengatakan itu, Kemal berlalu meninggalkan mereka berdua dalam keheningan. Irina beralih memeluk lengan Ethan, untung saja mereka masih dipinggir halaman yang tertutupi pohon yang berjejer rapih. Menutupi dari sinar cahanya dan melindungi mereka dari banyak mata yang bisa saja melihat kejadian tadi.


"Kita pulang sekarang ya..."tidak meminta persetujuan dari Irina, cowok itu membawanya ke arah motor yang terparkir. Disaat Ethan menyerahkan helm padanya, barulah Irina mengeluarkan suara.


"Aku belum bilang sama Gita."


"Nanti aku bilangin,"ucapnya lalu memasangkan helm pada kepala Irina dengan tergesa


"Apa yang sebenernya terjadi, Than?"


"Pake jaketnya. Dingin."Ethan akan memakaikan jaketnya namun Irina menahan tangannya.


"Kamu mau aku nurut. Tapi aku gak tau apa-apa. Sekarang apa yang terjadi?"


Ethan masih menutup mulutnya membuat Irina kesal sendiri. Ethan mencoba memakaikan jaketnya lagi namun Irina tetap menghindarinya.


"Kemal bawa anak buahnya."


Jawaban singkat dari Ethan membuat Irina pasrah membiarkan Ethan memasangkan jaket padanya. Irina terlalu syok mungkin.


"Mobil putih, garis melingkar merah pada ban diseberang jalan. Itu mobil milik anggotanya Kemal."bisik Ethan saat membantu Irina menaiki motor


Irina memeluk pinggang Ethan dengan tangan yang gemetar, dia melirik dengan sudut matanya pada mobil yang dijelaskan oleh Ethan.


Mobil itu memang terlihat biasa. Tapi sangat menyeramkan ketika tahu siapa yang duduk di belakang kemudi. Ethan menyentuh punggung tangan Irina, dengan lembut dia mengusapnya. "Jangan takut. Kamu gak akan kenapa-napa, cukup peluk aku erat."


"Kamu mau ngebut?"tanya Irina saat Ethan mulai menaikan standar dan bunyi motor yang meraung.


"Nggak juga. Pelukan kamu nyaman soalnya."


Motor melaju dengan kecepatan sedang membuat mobil yang tadi diam mulai mengikuti mereka.


-Tbc


Hai-hai...


Gimana menurut kalian??


Berikan dukungannya selalu, oke...