
Awalnya kecepatan motor mereka sedang namun saat mereka sudah berada di jalanan besar, Ethan menaikan kecepatannya membuat Irina memeluk erat pinggang cowok itu.
Untung saja mereka menggunakan motor karena lebih memudahkan menyelinap di sisi-sisi mobil membuat jarak yang terlentang antara mereka.
Irina memejamkan matanya erat, dia membenamkan wajahnya pada bahu Ethan. Demi apapun, keadaan ini sangat membuat Irina gemetar dengan hebat. Dia tidak pernah membayangkan kalau akan dikejar dengan sejumlah preman yang mengerikan.
Motor melambat saat mereka sudah berada di jalanan yang sempit dan sepi. Hanya ada dinding dari tembok bata yang membentang di depan sana. Berarti mereka sedang berada di jalan buntu.
Ethan menghentikan motornya. Dia membantu Irina turun dan disusul olehnya.
"Kenapa kita kesini? Nanti kalo mereka tau gimana?"tanya Irina panik
"Justru ini tempat paling aman,"Ethan menangkup wajah Irina dengan kedua tangannya. "Kalo aku bawa kamu pulang ke rumah kamu, mereka pasti akan ngejar dan kamu gak akan aman. Kalo kita ke panti, anak-anak sana gak akan aman."
Suara deru mobil terdengar oleh mereka berdua, membuat mereka menoleh ke arah sana. Ethan membawa tangga yang ada di ujung jalan sana, dia menyandarkan tangga itu pada tembok bata yang ada di depam sana. "Ayo naik."
"Kita mau kemana?"
"Entar aku jelasin,"suara raungan mobil dari kejauhan membuat Irina panik. "Kita gak punya banyak waktu sekarang."
Irina pun bergegas naik. Dia sangat bersyukur kalo dia cukup mahir dalam menaiki tangga. Irina kira dia akan melompat ke bawah sana, namun tanpa di duga ada tangga lain disana.
Tiba di sisi tembok. Ethan langsung mengenggam tangan Irina dan menariknya untuk berlari dalam kegelapan malam. Irina kira Ethan akan membawanya berlari ke dalam hutan karena banyak sekali pepohonan disana. Namun seperkian detik selanjutnya kegelapan itu mulai sedikit mengurang karena ada cahaya.
Irina membelalakan matanya tidak percaya pada pemandangan yang ada di depannya. Lampu-lampu kecil bergantung pada pohon membentuk melingkar, terlihat sebuah rumah kecil di atas pohon berwarna hijau tua dengan lampu kerlap-kerlip. Dengan pot-pot bunga yang bergantungan pada sisi rumah kecil tersebut.
RUMAH POHON.
kalimat itulah yang pertama kali terlintas di pikiran Irina. Tapi milik siapa rumah pohon ini? Irina menoleh pada Ethan yang sedang menggulung tali tambang entah dari mana dan buat apa.
"Kenapa bengong? Ayo naik. Keadaan disana belum aman, mereka mulai nyari kita."
Tanpa bertanya Irina menaiki tangga yang menjuntai dari atas sana. Dia melongokan kepalanya ke bawah saat sudah sampai atas. Terlihat Ethan yang sedang tersenyum seraya menaiki tangga.
"Ayo masuk."
Kriet
Pintu terbuka menampakan dalamnya. Irina menatap sekeliling saat masuk ke dalam banyak potret-potret pemandangan yang tergantung di tembok. Dan yang membuat pipinya merona adalah ada foto dirinya disana, dia melirik Ethan sekilas kapan cowok itu mengambil fotonya?
Suara hewan malam terdengar bersahutan disana. Irina melihat jam dari ponselnya, sudah jam sembilan lebih. Irina menghela napasnya kasar dia khawatir orangtuanya akan tahu dia tidak ada di rumah.
Sentuhan lembut di pipinya membuat Irina tersentak dari lamunannya.
"Kenapa bengong?"tanya Ethan seraya menatap lembut Irina
"Gak apa-apa, cuma takut aja."
"Takut kenapa, hm?"
"Biasalah..."
"Papa kamu? Aku bisa ijinin ke papa kamu nan--"
"Jangan. Gak usah, biar aku aja."ucap Irina membuat Ethan menganggukan kepalanya
"Ini rumah pohon punya kamu?"tanya Irina yang sudah duduk di tikar yang berada di dekat jendela tanpa kaca
Keheningan menyapa mereka berdua. Irina memalingkan wajahnya menatap bulan yang sedang mengintip di celah-celah awan sana. Bulan malam ini sangat cerah di tambah lagi dengan taburan bintang yang berkerlap-kerlip. Irina berdiri dari duduknya, dia menumpukan kedua tangannya ke pembatas jendela. Angin berhembus membelai rambutnya dengan lembut, menerbangkan sebagian rambutnya. Dia menutup matanya, untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Biarkan dia terbebas dari kekangan ayahnya yang membuat harinya menyesakan.
Ethan yang melihat Irina sangat menikmati udaranya tersenyum lembut. Dia mengambil ponselnya dan memotret Irina. Cantik. Itulah kesan pertama Ethan. Cowok itu mendekati Irina dan berdiri di sampingnya. Ethan merangkul bahu Irina membuat gadis itu tersentak kaget.
"Apa?"tanya Irina
"Cantik."bisik Ethan bersamaan dengan angin yang menerbangkan kata-katanya
Detak jantung Irina tidak stabil saat Ethan menarik bahunya untuk menghadap pada cowok itu. Ethan menatapnya lekat dengan senyum yang bisa membuat semua orang terhipnotis. Tangan cowok itu terulur membelai rambut Irina dengan lembut. Dia menarik kedua tangan Irina untuk di tempatkan di bahunya, sedangkan tangannya dia letakan di pinggang Irina. Entah sejak kapan mereka bergerak ke kanan dan kiri seolah sedang berdansa.
Mulut mereka memang membisu, tetapi kedua mata mereka berbicara satu sama lain. Mungkin ini terdengar lebay atau semacamnya, namun tatapan mereka sungguh-sungguh saling menyalurkan kasih sayang.
Irina menutup matanya saat Ethan menyatukan kening mereka. Sedangkan Ethan menatapnya dengan lekat dari jarak yang sangat dekat. Jantung keduanya berpacu sangat cepat ketika hidung mereka sudah bersinggungan. Irina menahan napasnya saat napas hangat Ethan menyapu wajahnya.
Cup
Sesuatu yang lembut menyentuh keningnya. Irina membuka matanya yang sedari tadi menutup dengan erat. Dia mendongak menatap Ethan yang sedang tersenyum seraya mengusap pipinya.
"Ck, susah juga ya nahannya."gumam Ethan yang masih terdengar oleh Irina
Irina tertawa. Hatinya menghangat ketika Ethan hanya mengecup keningnya dan tidak lebih. Tangan Irina terangkat untuk mengelus pipi cowok itu.
Ethan memejamkan matanya menikmati elusan di pipinya. Dia menagkap tangan Irina dan mengecupnya. Helaan napas berat dari mulut Ethan membuat Irina mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu cantik banget, sih?"tanya Ethan seraya mencubit kedua pipi Irina, membuat gadis itu memekik
"Nunduk dikit."suruh Irina
"Dasar pendek."
Ethan menundukan kepalanya menjadi sejajar dengan gadis itu. Ethan terkekeh saat melihat wajah masam Irina. Tak tahu kah Ethan bahwa ada dua hal yang membuat mood cewek jadi berantakan, yaitu disebut 'pendek dan gendut'.
Tak.
"Kok..."Ethan menatap Irina bingung saat gadis itu dengan polosnya menjitak kepalanya.
"Itu balasan karena kamu udah panggil aku 'pendek' sama nyubit pipi aku."ucap Irina dengan mode galaknya
"Lah.. tapi ka--"
"Semua di dunia ini gak ada yang gratis. Kamu nyubit pipi aku harus ada bayarannya."
Skakmat. Kalimatnya dikembalikan oleh Irina. Ethan hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan canggung. Ternyata marahnya wanita itu menyeramkan.
-Tbc
Gimana menurut kalean??
Berikan dukungannya terus ya...
maaf kalo ada typo, dll...
Kurang jahat apalagi coba thor triple up di malam minggu...