Escape With You

Escape With You
Chapter 26



Cup


Irina mematung dengan mata yang membelalak. Napasnya tertahan. Tangannya yang tadi dicekal gemetar dengan hebatnya membuat dia ingin mencakar tangannya sendiri.


Sentuhan Ethan di bibirnya terlalu nyata untuk disebut sebuah khayalan dan Irina tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Sebelah tangan Ethan terangkat memegang sisi wajah Irina, sedangkan tangan yang lain mengenggam tangan Irina. Napas cowok itu yang mengenai pipi Irina seolah membakar dirinya.


Bibir mereka hanya menempel, dengan tekanan lembut dari Ethan. Irina lupa kapan dia menutup matanya dengan rapat, tetapi ketika bibir mereka terlepas satu sama lain, Irina terlalu malu untuk menatap ke depan.


Irina menundukan kepalanya dalam. Dia menghembuskan napasnya secara perlahan.


Ethan menarik kepala Irina untuk bersandar di dadanya. Irina pun menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Perlakuan Irina sontak membuat Ethan tertawa dan memeluknya. Dia menenggelamkan hidungnya ke rambut yang beraroma strawberry Irina.


"Na, boleh gak aku minta sesuatu sama kamu?"tanya Ethan dengan masih mempertahankan pelukannya


Irina sedikit mendongakan wajahnya untuk menatap wajah Ethan. "Permintaan apa?"


"Apapun yang terjadi, kamu harus nurut kata-kata aku, ya!"


Irina diam beberapa saat. Dia tidak mengerti kenapa cowok itu meminta 'permintaan' yang seperti itu. Dia menelan salivanya gugup, apa yang akan terjadi? Kenapa cowok itu meminta itu? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di pikiran Irina membuat gadis itu terdiam.


"Na..."


"Hah? E-eh, iya."jawab Irina tidak yakin membuat Ethan melepaskan pelukan mereka.


Ethan tersenyum lembut seraya mengenggam tangan Irina. "Maaf ya, tadi kamu pasti terkejut."


"Kenapa minta maaf?"


"Karena muka kamu menjelaskan itu semua,"Ethan menatap dalam Irina. "Gimana sakit perut kamu?"


"Oh, udah agak mendingan."


"Mendingan ya? Oh, aku tau! Karena tadi aku udah cium kamu, otomatis kamu langsung sembuh,"Ethan mengerling pada Irina yang wajahnya sudah semerah tomat. "Ya 'kan... ya 'kan..."


Astaga. Irina sudah hampir lupa kalau Ethan sudah mencuri ciuman pertamanya, dan sekarang bisa-bisanya Ethan mengucapkan kata itu dengan nada yang tenang dan menggoda.


"Diem, ish.."gerutu Irina seraya mencubit pinggang cowok itu.


"Na,"


"Hm?"


"Kalo sakit lagi, jangan lupa hubungi aku, ya!"Ethan mengaitkan tangan mereka. "Aku khawatir kalo kamu sakit."


______________________________


Di kelas sudah mulai bising karena pergantian jam pelajaran terakhir. Irina sudah kembali lagi ke kelasnya sejak bel istirahat ke satu terdengar.


Irina menatap Gita, saat temannya itu berjalan ke depan kelas dan berdiri disana seraya tangan yang merentang seolah meminta perhatian.


Gita mengacungkan kertas berwarna pink diatas kepalanya. "Gue hari ini ulang tahun, dong... lo semua di undang. Lebih-lebihnya lagi nih, lo semua beruntung, karena gue ngundang band yang lagi hitz sekarang. Dan gue jamin lo semua belum ada yang pernah nonton mereka."


Sorak gembira langsung menyambut pengumuman dari Gita. Banyak yang menanyakan band apa yang akan diundang. Sementara anak-anak lain ribut, Irina dan Ethan saling melemparkan pandangannya.


"Perlu kita kasih tau mereka gak, nih?"bisik Ethan


Irina menyubit pinggang cowok itu karena akan bertindak jahil. Sebenarnya Irina sangat tahu apa yang dimaksud kalimat yang dilontarkan oleh Ethan. Irina sengaja tidak mengumbar hubungan mereka, hanya teman terdekatnya lah yang tahu. Ethan hanya terkekeh dan mencubit pipi gadis itu.


"Ethan."bisik Irina dengan suara yang rendah


"Maaf,"cengirnya.


"Suka lupa!"


Gita kembali ke kursinya, dia berbalik menghadap Irina, dan siap melayangkan titah tak terbantahnya. "Plis ya... gue gak akan ngulangin permohonan ini dua kali. Tahun ini lo harus dateng ke pesta gue gimana pun caranya. Atau kalo perlu gue suruh nyokap gue nelpon rumah lo."


Irina menerima uluran kartu yang bertuliskan nama Gita di depannya. "Gak janji ya. Kemarin sih gak dibolehin."


Awalnya Irina kira Gita akan mengatakan 'tidak' pada Ethan. Namun siapa sangka gadis itu memberikan surat undangan itu pada Ethan dengan mata yang mendelik.


"Gue ngundang karena kalo ada lo, anak-anak pasti gak akan mikir dua kali buat dateng, ngerti?!"


"Siap. Dimengerti,"ucapnya dengan senang meneriman undangan dari Gita. "Gue ajak pacar, boleh?"


"Alah... orang pacar lo juga udah gue undang! Dasar gak tau malu."galak Gita


Ethan merentangkan tangannya ke sandaran kursi Irina. "Ya, namanya juga pacar. Harus disayang-sayang, dong. Iya, nggak, Na..."


Irina hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum yang terbit di bibirnya. Gita berdecak melihat pasangan di depannya, tidak ingin dianggap sebagai lalat pengganggu Gita memilih untuk berbalik dan menyantap bekalnya.


"Na."


"Hm?"


"Nggak, cuma manggil aja."ucapnya santai


Irina menatap datar Ethan. Tadi dia dibuat baper, lah sekarang dia malah dibuat kesel. Apasih maunya cowok ini? Irina menggerutu kecil yang membuat Ethan terkekeh geli.


"Apasih, Than?"kesal Irina karena kaki cowok itu tidak mau diam di bawah sana.


Ethan mendekatkan kepalanya ke telinga Irina. "Nanti aku jemput, ya."


"Iya-iya. Tapi bisa gak sih, kaki kamu diem!"ucap Irina dengan mata yang melotot


"Abisnya sayang kalo dianggurin 'kan."bisik Ethan


Blush. Lagi dan lagi Irina merasa hawa panas menerpa wajahnya. Dia mendelikan matanya pada cowok itu. Apalagi kaki Ethan yang semakin gencar mendorong-dorong kakinya. Dia menatap geram pada cowok itu dengan wajah yang masih memerah. Namun lihat cowok itu bahkan sedang santai mencatat dengan kakinya yang bekerja di bawah sana.


Irina menyenggol tangan Ethan. Tapi cowok itu tetap tenang menulis. "Than."


"Hm."


"Ethan, kakinya bisa diem nggak?"tanya Irina yang sudah jengah


"Hm."


"Than, jangan belagak 'tsundere' deh."


Ethan menoleh pada Irina yang sudah memasang wajah kesalnya.


"Mau dong di 'sun'."ucapnya seraya menunjuk-nunjuk pipi kirinya, setelah itu melanjutkan kembali kegiatannya.


"Ethan..."geram Irina


"Iya, apa sayang..."


Astaga. "Ish, ngeselin banget sih."ucap Irina seraya menginjak kaki Ethan yang membuat cowok itu meringis.


Suara bising di luar membuat Ethan mengalihakan pandangannya ke jendela. Terdapat empat orang murid yang bisa dikatakan pembawa onar sedang mengacau, dan salah satunya adalah,


Kemal.


Cowok itu sedang menatap kearahnya di luar sana. Bukan, lebih tepatnya dia menatap ke arah Irina. Ethan mengenggam tangan Irina membuat gadis itu menatapnya bingung. Ethan tahu apa arti dari tatapan itu, dan itu semua bukanlah pertanda bagus. Dia semakin mengeratkan genggamannya dengan mata yang masih bersikukuh dengan orang yang berada di seberang sana.


Tbc


Hehe... halo gaes...


Maaf kalo ada typo, dll...


Maaf thor telat update...🙏


Tadi ada kerja kelompok dulu...🙏


See you next... bhubhay...