Escape With You

Escape With You
Chapter 39



Bel sekolah sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Namun Irina masih berkutat dengan sapu dan lap pel-nya, untuk membersihkan kelas. Sementara murid-murid yang lain sudah keluar, hanya ada Irina dan Ethan di kelas karena mereka kebetulan kebagian piket di hari yang sama, sebenarnya bukan hanya mereka berdua masih ada Dewi dan Gita namun, dengan teganya Dewi dan Gita meninggalkan dia seorang diri dan Ethan dengan alasan perut mereka mulas? Bukan apa-apa, hanya saja sekarang suasananya sangat mencekam karena tidak ada yang membuka suara. Mereka sama-sama terbungkam dengan kegiatannya.


Sebenarnya Irina ingin bertanya, mengapa cowok itu hari ini sangat aneh padanya? Irina menghela napasnya pelan, dia melirik Ethan yang sedang menyapu lantai dengan ekor matanya.


"Than..."panggil Irina


Ethan mendongak dan menatap Irina sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada lantai. "Hm?"


Irina yang sudah tidak tahan dengan sikap cowok itu, menghampirinya dengan lap pel yang masih dia pegang. Irina berhenti tepat di hadapan Ethan yang menghentikan kegitannya. Sesaat mata mereka bertemu, Irina dengan pandangan bingungnya sementara Ethan dengan pandangan datarnya.


"Kamu kenapa?"tanya Irina bingung


Ethan menarik napasnya. "Gak apa-apa."


Irina hampir tersentak saat mendengar nada ketus disana. Namun dengan cepat gadis itu menormalkan kembali wajahnya, mungkin saja Ethan sedang ada masalah. Dia memutuskan untuk menggenggam salah satu tangan Ethan yang tidak memegang sapu.


"Kalo ada masalah cerita sama aku. Ya, walaupun aku gak bisa berkata-kata sama seperti kamu, setidaknya aku bisa dengerin cerita kamu sampe habis."ucap Irina lembut


Ethan terhenyak. Sebenarnya ada rasa sakit saat mendengar suara halus Irina. Dia rindu suara gadis di depannya ini. Ethan memejamkan matanya, kepalanya masih menunduk enggan menatap wajah gadis yang menatapnya khawatir.


"Than, kam-,"


"Aku gak pa-pa kok."potong Ethan seraya melepaskan tangan Irina dari tangannya.


Irina menghela napasnya pelan. Dia sungguh tidak mengerti dengan sikap Ethan padanya hari ini. Cowok itu cenderung menjauhinya. Entah kenapa tapi, rasanya ada rasa sakit di dalam sana saat Ethan memperlakukannya seperti itu. Tidak ada godaan, ataupun gombalan garingnya. Hanya ada wajah tanpa senyum disana. Irina memperhatikan cowok yang sedang sibuk dengan sapunya, dia menyapu kolong-kolong meja.


"Kalo kamu mau pulang... pulang aja,"Ethan melirik sekilas Irina setelah itu fokus kembali. Cowok itu sedang berusaha menekan hatinya yang berontak untuk segera memeluk gadis itu. "Biar aku nyelesain semuanya."


Irina terpaku. Entah kenapa matanya terasa memanas mendengar ucapan Ethan tadi. "Kalo aku ada salah, aku minta maaf. Tapi... kamu kenapa hari ini, Than?"


Genggaman Ethan pada sapu yang di peganggnya mengerat, sungguh dia tidak sanggup lagi untuk menahan dirinya. Namun dia masih ingat akan rencananya. "Kamu gak salah apa-apa, kenapa harus minta maaf?  Hari ini aku lagi ada masalah aja."


"Masalah apa, Than? Kamu cerita sama ak--"


"Gak bisa. Mendingan kamu pulang aja! Mungkin Mang Udin udah jemput."potong Ethan cepat


Irina mengigit bibir bawahnya seraya memalingkan wajahnya. Mendengar suara Ethan yang ketus membuatnya ingin menangis, biasanya cowok itu memanggilnya dengan lembut dan penuh godaan. Tapi apa sekarang? Apa Ethan sedang membuat prank?


"Aku gak tau hari ini kamu kenapa. Tapi... aku cukup sakit hati sama sikap kamu sekarang,"Irina berjalan mengambil ranselnya. "Yaudah aku pulang duluan, jangan lupa kunci kelasnya!"


Irina berlalu melewati Ethan yang diam mematung. Gadis itu terdiam sejenak saat sudah sampai di dekat pintu.


"Kamu pernah bilang, kamu bakal lindungin aku. Tapi, hari ini sikap kamu aneh. Jujur aku gak suka, tapi aku tau kamu butuh waktu sendiri dulu,"Irina menoleh ke belakang. Gadis itu tersenyum lebar yang membuat hati Ethan berdenyut karena dia tahu kalo senyum Irina itu palsu. Irina menghela napasnya panjang sebelum kembali berjalan meninggalkan Ethan sendiri.


Ethan menatap punggung mungil yang semakin menjauh itu sendu. Dia terlalu pengecut, melarikan diri hanya untuk bagaimana merasakan memiliki Irina tanpa harus di tentang waktu. Tanpa dirinya sadari hari ini dia telah membuat dua hati terluka.


Ethan mengepalkan tangannya. Dia segera meraih tas dan bergegas meninggalkan kelas. Hari ini dia sangat ingin memukul dirinya sendiri karena telah membuat seseorang yang dia cintai kecewa.


______________________________


"Irina!"


Irina tersentak dari lamunannya saat Aleta memanggilnya keras. Dia menolehkan kepalanya ke pintu kamar, ada ibunya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kamu mama panggil-panggil gak nyaut,"ucapnya seraya mendudukan diri di samping Irina. "Kamu udah pilih, mau kuliah kemana?"


Irina mendengus pelan. Memberi jawaban pun percuma, karena pasti tempat kuliahnya adalah tempat pilihan ayahnya. Irina jadi sebal memikirkan itu, mood-nya jadi turun sangat drastis. Dan  tumben sekali ibunya menghampiri dirinya, biasanya kalau sudah begini pasti Irina akan di suruh ini beli ini kesini, periksa ini kesana.


"Kamu--"


"Iya, ma. Irina mau, beli apa?"


Aleta mengernyitkan keningnya. Setelah itu suara gelak tawa dari wanita paruh baya itu terdengar di ruangan Irina. Gadis itu mengerutkan keningnya ketika mendengar tawa dari ibunya. Kenapa ibunya itu? Apa perkataanya ada yang lucu?


"Aduh... Mama gak akan nyuruh kamu kok. Mama cuma mau ngajak kamu makan,"ucap Aleta disela-sela tawanya. Aleta menghentikan tawanya dia menatap putrinya lembut, tangannya yang mulai mengkeriput menggengam tangan Irina. "Kamu kenapa? Ada masalah? Cerita sama mama."


Irina menatap ibunya penuh haru. Matanya terasa panas, sampai tidak sadar cairan bening sudah meluncur dari pelupuk matanya.


Aleta terkejut saat putrinya menangis tanpa suara, bahkan tatapannya pun kosong. Aleta menarik Irina ke dalam pelukannya. Bahu Irina berguncang tanda kalau gadis itu sedang menangis hebat namun tanpa suara. Aleta mengusap punggung putrinya. "Keluarin aja suaranya, jangan ditahan."


Irina terisak. Dia menumpahkan segalanya di bahu Aleta.


"Kamu kenapa? Cerita sama Mama..."


Irina menggeleng pelan. Dia menarik dirinya hingga pelukan terlepas. Irina tersenyum tipis, dia menghapus sisa air matanya.


"Irina lagi gak pa-pa kok Ma, cuma ya..."


"Kamu berantem sama pacar kamu?"


Pipi Irina merona saat ibunya menyebut 'pacarnya'. "Enggak kok mah... lagian dia-,"


"Mama udah tau dia pacar kamu, tenang aja Mama bakal seratus persen restuin kalian..."


Irina tergelak mendengar candaan ibunya. Setelah sekian lama mereka tertawa bersama lagi. Melupakan sejenak kesedihan di hatinya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengintip dari celah pintu. Orang itu tersenyum tipis, sangat tipis sampai harus dengan teliti jika ingin melihat senyum itu. Dia bahagia melihat istri dan putrinya tertawa seperti itu. Ya, orang itu adalah Aldi. Aldi berdoa semoga saja senyum itu akan bertahan lama. Meskipun dia selalu memaksakan kehendaknya pada Irina, namun jauh dalam hatinya dia ingin melihat putrinya bahagia.


-Tbc


Halo...


Menuju akhir😊😊


Huhuhu gak percaya udah sampe sini lagi, padahal waktu pertama kali buat bab pertama gak ada niat buat publish...


Tapi, karena berkat dukungan kalian thor jadi lanjut publish...😙😙


Oh, iya...


Gimana kabar kalian???


Semoga kalian selalu baik-baik saja. Mungkin satu atau diantara dua harimu tidak menyenangkan. Itu wajar dan tidak apa-apa. Semua mengalaminya dan kamu juga bisa ngelewatinnya👍👍👍


Sampai jumpa nanti... bhubhay...