Escape With You

Escape With You
Chapter 40



Irina berjalan di koridor kelas dengan langkah tenangnya. Sepasang headseat menggantung di telinganya. Koridor kelas dua belas masih terlihat sepi karena jam baru menunjukan jam 06.05 pagi. Irina menghentikan langkahnya saat pintu kelas sudah berada di hadapannya, pintu itu sudah terbuka. Itu artinya Ethan sudah datang lebih dulu kesini. Irina menarik napasnya panjang, sejujurnya dia masih sedikit kecewa pada sikap Ethan kemarin. Cowok itu lebih menutup diri daripada menceritakan masalahnya. Irina melangkah masuk kelas, pandangannya bersitubruk pada Ethan yang sudah duduk di bangku belakang. Belum ada murid lain, selain mereka berdua di kelas itu.


"Hai."sapa Irina setelah meletakan ranselnya di kursi paling depan. Dia berjalan menghampiri Ethan, gadis itu duduk di kursi depan Ethan.


"Hai."jawab Ethan pelan


Irina tersenyum tipis. Setidaknya Ethan mau membalas sapaannya. Tidak ada yang membuka suara lagi setelah itu, mereka berdua diam dengan mata yang saling menyelami perasaan masing-masing. Irina memalingkan wajahnya dan berdehem untuk menormalkan detak jantung yang menggila.


"Maaf."


Irina mendongak menatap Ethan. "Buat apa?"


"Buat semuanya."jawab Ethan pendek


Irina menghela napasnya pelan. "Gak pa-pa, kamu pasti butuh waktu sendiri."


"Na aku--"


"Kak Ethan!"


Ucapan Ethan terpotong oleh panggilan yang berasal dari depan pintu masuk. Mereka menoleh bersamaan ke arah pintu, ada adik kelas yang Irina ketahui bernama Bunga.


"Ya?"tanya Ethan dari bangkunya seolah malas berjalan kesana.


"Kakak dipanggil sama kepala sekolah."ucapnya lagi


Ethan menganggukan kepalanya, dia menoleh pada Irina yang menatapnya bertanya. "Aku kesana dulu."


Sebuah usapan pada kepala Irina membuat sang empunya mendongak. Ethan mengusap puncak kepalanya sebelum berlalu meninggalkan Irina. Tangan gadis itu terangkat pada kepalanya yang tadi diusap oleh Ethan. Usapan itu masih terasa hangat seperti biasanya, namun ada yang lebih aneh lagi. Kenapa rasanya menyesakan?


"Hayo... lagi mikirin apa lagi?!"


Irina terlonjak kaget saat Dewi menepuk pundaknya keras. Dia menoleh menatap dua sahabatnya itu kesal. "Gue lagi gak pikirin apa-apa."


"Yakin?"tanya Gita dengan nada yang menyebalkan.


"Yakin."


Dewi dan Gita menatap kesal Irina, sudah 2 hari ini sahabatnya itu selalu terasa lemas. Ya, siapa lagi kalau pemicunya bukan gara-gara Ethan.


"Na... pulang sekolah nanti kumpul di kafe star yuk! Udah lama banget kita gak kumpul."ajak Gita


Irina tampak berpikir sebentar. "Yaudah, gue bilang dulu sama Mang udin biar gak jemput hari ini."putusnya setelah itu berpindah tempat duduk ke kursi miliknya


"Yeay... akhirnya..."ucap Gita senang seraya memeluk Dewi yang di sampingnya.


Dewi menyentakan pelukan Gita seraya menatap horo padanya. "Gue masih normal!"


Gita mendengus kesal. Tangannya terangkat untuk menjitak kepala Dewi. "Ye... lo kira gue gak normal!"


Irina tertawa kecil menatap kelakuan kedua sahabatnya itu. Mereka berdua itu memang seperti Nobita dan Giant, kadang akur kadang juga tengkar. Tapi syukurlah setidaknya Irina merasa sedikit terhibur oleh kedua orang tersebut.


_______


"Ada apa bapak memanggil saya?"tanya Ethan pada Pak Kumar kepala sekolah disana.


"Oh, kamu sudah datang ternyata. Silahkan duduk."ucap Pak Kumar


Ethan mengangguk lalu duduk berhadapan dengan kepala sekolahnya itu. Dia menatap Pak Kumar yang bangkit dan berjalan ke tumpukan berkas. Yang Ethan ketahui berkas itu adalah soal-soal ulangan beserta jawabannya. Pak Kumar nampak menacari-cari sesuatu pada laci bawahnya.


Pak Kumar tersenyum saat menemukan sesuatu yang dicarinya. Dia kembali ke tempat Ethan menunggunya.


"Ini..."ucap Pak Kumar seraya menyodorkan beberapa lembar kertas.


"Apa ini?"tanya Ethan bingung


Ethan menatap sebentar formulir tersebut. Diatasnya dicantumkan beasiswa New York. Tunggu, New York? Ethan kira beasiswa-nya di sekitar sini.


"Bagaimana? Kamu menerimanya atau tidak itu terserah kamu. Tapi menurut bapak jangan sia-siakan kesempatan ini. Apalagi jarang lho murid baru yang seberuntung kamu."


Ethan menghela napasnya. Sungguh tawaran di depannya terlihat menggiurkan karena dia tidak perlu lagi nenjadi beban untuk Bunda Indah. Wanita paruh baya itu, sudah banyak berkorban untuknya. Tapi di lain sisi, dia tidak mau meninggalkan Irina sendirian disini, dia sudah berjanji akan menjaga gadis itu. Harus bagaimana dia sekarang?


"Than..."panggil Pak Kumar seraya memegang bahu Ethan


"Saya akan pikir-pikir dulu pak,"jawab Ethan


Pak Kumar mengangguk. "Tapi kalo kamu setuju segera hubungi bapak. Oh iya, tolong panggil Bunga kesini."


Ethan mengangguk. Dia pamit pada kepala sekolah dengan pandangan terus ke bawah.


Pak Kumar menghela napasnya. Dia melakukan ini atas perintah dari Aldi, ya pria paruh baya itu yang menyuruhnya memindahkan beasiswa pada Ethan. Entah apa tujuannya, tapi dia menyetujuinya karena Ethan cukup berprestasi.


"Anda memanggil saya?"


Pak Kumar meletakan dokumennya saat mendengar suara Bunga.


"Ah Bunga, Bapak ada informasi untukmu."ucap beliau seraya beranjak untuk mengambil dokumen di rak belakang.


Sedangkan Bunga, dia sama sekali tidak mendengarkan. Adik kelas yang tempo hari menyatakan perasaanya pada Ethan dan di tolak mentah-mentah oleh cowok itu, perhatiannya teralihkan pada sebuah nama di kertas formulir yang terletak di atas meja. Sambil mengawasi kepala sekolah, Bunga menyusupkan tangannya pada duplikat formulir yang asli.


Dalam hati Bunga menyeringai karena berhasil mendapatkan duplikat itu. Mungkin sebentar lagi ada pertunjukan yang seru.


______________________________


Suara musik berputar di kafe itu. Irina dan kedua temannya seperti biasa duduk di bangku paling pojok dekat dengan jendela. Mereka sudah memesan makanan dari sepuluh menit yang lalu.


"Jadi, kenapa si Ethan jadi gitu sama lo?"tanya Dewi seraya meminum jus melonnya.


"Gak tau. Lagi banyak pikiran, mungkin."jawab Iruna seraya memutar-mutar sedotan dengan malas


"Yaelah... tanya dong!"sungut Gita


"Gue jug--"


"Ini pesanannya, maaf menunggu lama. Semoga menikamati."ucap pelayan itu sebelum berlalu.


"--juga udah tanya, tapi dia bilang 'aku gak pa-pa kok'."lanjut Irina kesal


Irina memakan ramen-nya dengan kesal. Bertambah kesal lagi saat dia ingat wajah tanpa ekspresi Ethan setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Sebenarnya Irina ingin bertanya, tetapi terlalu malas karena Ethan pun terlihat kalut.


"Buset Na, udah gak makan berapa hari? Rakus amat!"


"Kesel bikin gue laper."jawab Irina dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Telen dulu makanannya, baru jawab. Dodol!"sungut Gita


Irina tidak menanggapi. Dia hanya asik menyeruput mie ramen itu dengan perasaan tidak enaknya. Entahlah apa yang dia rasakan. Tapi dia merasa bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu.


-Tbc


Menuju akhir....


Makasih buat kalian yang udah baca cerita ini...


Yap. Cerita abal-abal dari penulis amatir kayak thor..


Iya, dong penulis amatir. Namanya juga baru belajar..


Bhubhay...