
Irina tidak mengindahkan air hujan yang menciprat ke wajahnya semakin keras. Dia juga tidak menghiraukan gigitan udara malam yang melingkupi tubuhnya karena memakai pakaian tipis.
Irina meraup wajahnya untuk mengusir air dari sana. Dia menatap lurus pada pepohonan di luar sana. Hujan rintik-rintik itu berubah menjadi gerimis yang agak besar. Irina membiarkan dirinya basah oleh air hujan. Irina terus berdiri di balkon kamarnya.
"Kenapa? Apa karena itu kamu jauhin dan sikap kamu aneh sama aku?"gumam Irina
FLASHBACK
Irina baru saja keluar dari kafe itu. Dia menolak penawaran yang di berikan oleh kedua sahabatnya untuk diantar. Oh, ayolah! Irina sudah jarang sekali pulang sendiri naik bis dan jalan kaki. Lagi pula itung-itung olahraga. Dia mendudukan dirinya pada salah satu bangku di halte.
"Kak Irina, ya?"
Irina menoleh saat seseorang duduk di sampingnya dan bertanya.
"Iya."jawab Irina pendek
"Kakak tau aku gak? Aku yang tadi ke kelas kakak."ucap gadis kelas itu semangat
Irina mengernyit, lalu sedetik kemudian mengangguk saat tahu kalo gadis ini yang memanggil Ethan tadi pagi.
"Iya, ada apa ya dek?"tanya Irina
Adik kelas yang diketahui bernama Bunga Lestari dari name-tag-nya, tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Irina memandang aneh adik kelas itu.
"Selamat ya kak! Aku baru tau kalo kakak pacar kak Ethan. Pantesan waktu aku nyatain perasaan sama dia, kak Ethan nolak aku dengan alasan dia udah suka sama yang lain,"ucap Bunga dengan nada tulus yang dibuat-buat
Irina semakin mengernyit aneh. Adik kelasnya ini salah makan obat ya? Sok-sok'an akrab.
"Iya, terus kenapa?"tanya Irina kesal karena bus belum juga datang. Tahu akan begini dia nerima saja ajakan dari Dewi sama Gita.
"Sekarang aku yakin dia itu gak bener-bener sayang sama kakak, buktinya ini,"Bunga menyerahkan sebuah formulir pada Irina. "Yaudah kak, aku duluan ya!"
Irina memandang punggung Bunga yang menjauh dengan aneh. Apa adik kelasnya itu begitu frustasi karena pernyataan tidak di terima oleh Ethan?
Irina mengamati formulis di tangannya dia membaca satu demi satu kalimat yang di tulis disana. Saat itu juga pikiran Irina menjadi kosong. Dia tidak tahu harus bahagia atau sedih sekarang.
FLASHBACK OFF
______________________________
Irina membuka mata dan mendapati langit-langit yang tidak asing baginya. Ia mengerang saat merasakan kepalanya terasa di tusuk oleh ribuan jarum. Kemudian seluruh kejadian kemarin teringatnya, Irina mendudukan dirinya dengan sekali sentak. Siapa yang memindahkannya ke dalam kamar? Rasanya kemarin dia masih ada di teras balkon.
Irina turun dari ranjang. Dia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka tidak ada niatan untuk mandi. Dia memakai baju dengan pilihan acak dan mengikat rambut dengan asal.
Irina menuruni tangga dengan tergesa, tidak peduli jika dia akan jatuh.
"Mau kemana kamu?!"
Suara dingin dari ayahnya membuat Irina menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Dia menoleh sekilas pada ayahnya, Irina tahu kalau rencana ini pasti sebagian besar adalah ulah ayahnya.
"Mau ke rumah temen."jawab Irina setelah itu berlalu tanpa memperdulikan Aldi sama sekali. Dia menaiki sepedanya menuju panti Bunda Indah.
Langit pagi ini tampak mendung. Mungkin langit belum puas menumpahkan kesedihannya tadi malam. Irina mengayuh sepedanya seperti orang kesetanan. Dia bahkan menulikan telinganya pada orang-orang yang memaki karena hampir menabrak. Sekelebat momen-momen yang dia lewati bersam Ethan muncul. Bagaimana cowok itu selalu menyemangatinya, selalu menganggap Irina ada, dan jangan lupa kata-kata manisnya. Irina rindu itu semua, sungguh.
Dua puluh menit kemudian, Irina sampai ke panti Bunda Indah. Irina memarkirkan sepedanya dengan asal. Panti asuhan itu tampak kosong, tidak anak-anak seperti biasa. Mungkin saja Bunda Indah sedang bepergian, tapi dia yakin kalau Ethan masih ada disini.
Irina menggelengkan kepalanya. Dia perlu menatap kepastian dari Ethan. Dia perlu bicara pada Ethan. Dia perlu mendengar langsung dari cowok itu. Irina mengetuk pintu berwarna cokelat tua itu. Tidak ada balasan.
Dia meraih ponselnya dan memanggil kembali nama yang terakhir dia hubungi tidak diangkat. Dengan susah payah karena jarinya gemetar hebat.
Langit sudah menurunkan rintik-rintik hujan. Tetapi Irina bersikeras mengetuk kembali pintu itu dengan ponsel yang masih setia menghubungi Ethan. Air hujan semakin deras, membuat sebagian baju Irina basah.
"Ethan."panggil Irina lirih. Lama-lama cuaca membuatnya takluk juga.
Ia menggeser tubuhnya untuk bersandar di daun pintu, menjauh dari terpaan hujan. Irina bersedekap erat-erat dengan kepala yang bersandar di daun pintu. Tubuhnya mengigil hebat.
"Ethan?"bisiknya dengan mata terpejam. Keasadaran mulai meninggalkan dirinya hingga ia tidak peduli sebuah sosok yang berjalan ke arahnya dan berjongkok di hadapannya.
"Ethan,"bisiknya semakin melemah. Dia meringkuk dengan kepala yang terkulai ke depan.
"Keras kepala sekali,"ucap Aldi pelan seraya menyentuh pelan pipi putrinya yang dingin bagaikan es. Tanpa sepengetahuan Irina, dia mengawasi gerak gerik hubungannya Ethan dan Irina setelah peringatannya pada pemuda itu beberapa minggu lalu. Dia bisa memperkirakan hal seperti ini bisa terjadi.
Aldi beringsut ke samping Irina dan menyelipkan tanganya ke leher dan lutut Irina, membopong nya tanpa kesulitan. Kepala Irina langsung terkulai di bahunya.
"Siapkan mobilnya. Kita pulang!"ucap Aldi pada Mang Udin yang berdiri disana bagai patung seraya memegang patung.
-Tbc
So, berikan dukungan kalian...