
Irina merasa dunianya terbalik secara tiba-tiba. Saat ayahnya tahu kalau ia dekat dengan Ethan, perjagaan Irina diperketat. Bahkan sepulang sekolah dia tidak di ijinkan untuk kemana-mana, ditambah lagi guru les matematikanya mengajar langsung di rumah.
Irina mengaduk-ngaduk makanannya tanpa ada niatan untuk memakannya. Matanya melirik sekilas pada Sena yang sedang bermanja ria pada ayahnya. Detik berikutnya dia merotasi matanya dan mendengus kesal. Kenapa ayahnya itu terkesan dingin dan selalu mengaturnya?
Ck, serasa orang luar.batin Irina berdecak
"Makan!"
Irina tersentak sampai tak sadar menjatuhkan sendok makannya saat mendengar suara dingin menyapa pendengarannya. Dengan perlahan dia mengangkat wajah menatapa ayahnya yang duduk seberang sana. Sedetik kemudian Irina mengalihkan pandangannya dan memungut sendok yang tadi terjatuh.
"Sayang... kenapa cuma diaduk-aduk makanannya? Gak enak ya?"
Irina menatap ibunya dengan senyum. Dia merasa ada tersirat nada sedih di perkataan ibunya.
"Masakan Mama selalu enak, kok."ucapnya seraya menyuapkan nasi yang sudah tercampur dengan sayur. Perlakuannya sontak membuat Aleta tersenyum bahagia.
"Kalo gitu makan yang banyak, ya."ucap Aleta dengan tangan yang akan menambahkan lagi nasi ke piring Irina, namun gadis itu langsung menahannya.
"Aku udah kenyang. Lagipula aku masih ada tugas sekolah yang belum dikerjain." Irina memberi alasan pada ibunya.
Baru saja Aleta akan angkat bicara lagi, Aldi sudah lebih dulu memotongnya.
"Baguslah. Setelah selesai makan, kamu kerjain PR, kalo gak ada PR, kerjain soal latihan masuk Universitas. Kata guru kamu disana banyak kisi-kisi soal tes nanti."
"Pa,"
Aldi menatapnya.
"Kalo Irina gak mau kuliah di jurusan yan papa maksud, gimana?"
Aldi meletakan sendok dan garpunya. Suasana menjadi mencekam tiba-tiba, hanya jam dinding yang berdentang menunjukan jam malam.
"Ini pasti karena preman itu 'kan?"
Irina menghela napasnya, dia tahu pasti siapa yang disebut 'preman' oleh ayahnya.
"Dia bukan preman, pa,"jawab Irina dengan suara bergetar. "Lagipula Irina suka main piano, gimana kalo jurusan seni atau musik?"
Aldi tertawa seakan menganggap itu hanyalah lelucon yang lucu. "Itu bukan masa depan, Irina. Itu hanyalah hobi, kamu harus bisa bedain itu."
Sekali lagi gadis itu menunduk menatap makanan yang sudah tersisa setengahnya, bahkan nafsu makan Irina sudah menguap begitu saja sekarang.
"Dengar, berhenti bermain piano dan berhubungan dengan preman itu!"
Irina mengepalkan tangannya di bawah meja untuk menghalau cairan bening yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Lebih baik sekarang kamu belajar, habis itu tidur. Sekarang jangan mikirin musik atau apapun itu, apalagi cowok jalanan itu."
Irina tertawa pedih dalam hati. Seolah sedang berdiri di depan cermin cerita yang menampilkan kehidupannya.
Menyedihkan.
___________
Sementara itu di waktu yang sama. Ethan menatap ponselnya karena panggilannya tak kunjung di jawab oleh Irina. Dia menghela napasnya pelan, mungkin Irina butuh waktu sendirian.
Cowok itu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia mengurut pangkal hidungnya ketika pening menghampirinya. Ethan memandangi potret seorang gadis di ponselnya, siapa lagi kalau bukan Irina. Dirinya merindukan gadis itu, tapi dia tidak kunjung menjawab panggilannya.
Senyum kecil terbentuk di bibir Ethan kala membayangkan wajah Irina. Cowok itu menatap bulan yang berbentuk sabit. Langit malam ini tak seindah malam dimana hanya ada dirinya dan juga Irina. Ethan berdiri untuk menghampiri meja belajarnya, dia menyobekan selembar kertas dan membawa satu buah bolpoin.
Dalam kegelapan dan hanya di terangi oleh cahaya bulan dari luar, Ethan mengukir satu demi satu huruf di kertas tersebut menjadi sebuah kalimat. Entah apa, hanya dirinya lah yang tahu.
"Kira-kira dia suka cokelat gak, ya?"gumamnya
Ting
Suara dentingan dari ponsel Ethan yang menandakan pesan masuk membuat dia menghentikan kegiatannya. Dia membuka ponsel tersebut, dengan berharap kalau itu pesan dari Irina.
+6208*******69
[Temui saya besok jam 2 siang! Akan ada yang menjemput besok.]
______________________________
14:00
Ethan memandang bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya. Dia mengetik pesan pada Irina untuk jangan khawatir, karena dirinya pulang dengan tergesa dari sekolah.
Setelah mendapat pesan dari nomor tidak di kenal kemarin, orang itu benar-benar mengirimkan jemputan padanya. Ethan mengangkat kepalanya saat mendapati seseorang berdiri di hadapannya.
"Tuan Ethan 'kan? Mari ikuti saya, Tuan Aldi sudah menunggu anda."ucap seorang pria paruh baya yang ber-name tag 'Joey' itu.
Ethan mengangguk dan mengikuti pria paruh baya tersebut. Mereka memasuki gedung yang Ethan kenal milik Aldi. Ethan mengikuti pria paruh baya itu tanpa bicara, hingga menyebabkan keheningan terjadi. Mereka menaiki lift hingga lantai paling atas sebelum joey membuka lift dan mempersilahkan Ethan keluar lebih dulu. Setelahnya, ia mengatar Ethan pada sebuah ruangan. Joey menepi dan mempersilahkan Ethan untuk mengetuk pintunya.
"Masuk!"sambut suara dari dalam setelah Ethan mengetuk pintunya.
Ethan menuruti perintahnya. Dia memasuki ruangan serba mewah dan perabotan mahal. Namun, bukan vas langka dari China di sudut ruangan yang menarik perhatiannya, bukan pula hiasan dinding yang indah. Melainkan Aldi Wijaya, yang tak lain pemilik gedung ini. Pria itu duduk di kursi kebanggannya dengan tangan dilipat di depan dada menambahkan kesan arogan nya.
Aldi membiarkan Ethan berdiri lama di hadapannya sebelum dia melepaskan kaca matanya. Dalam hatinya Aldi sedikit kagum dengan pembawaan Ethan, bukan karena badan tegap ataupun wajah tampan. Melainkan tatapan pemuda itu penuh dengan kelembutan namun terasa tegas. Ethan juga bersikap tenang tidak menunjukan ketegangan sedikitpun.
Aldi mengamati Ethan dari atas hingga bawah seakan sedang menilai. Untuk mendapat informasi tentang kehidupan Ethan, tentu saja itu adalah soal yang mudah baginya. Dari sana, dia tahu kalau Ethan tinggal di sebuah panti asuhan dan pernah terlibat tawuran hingga mendekam di penjara selama dua bulan. Namun, lihat bahkan pemuda itu berdiri tenang tanpa gentar sedikitpun.
"Silahkan duduk."Aldi menggedik ke kursi yang berada di depannya. Dan Ethan menurut.
Ethan diam seolah menunggu apa yang akan dikatakan pria paruh baya itu.
"Jauhi Irina!"
Kalimat tegas itu meluncur, membuat Etha mengepalkan tangannya walau wajahnya masih saja bersikap tenang.
"Dan kenapa saya melakukannya?"balas Ethan
"Karena kamu tidak pantas untuk anak saya."
Ethan terdiam sejenak.
"Saya tidak menyangka, anda masih memilih latar belakang untuk alasannya,"ucap Ethan tanpa ada nada menghakimi, biat bagaimanapun Aldi adalah ayah dari Irina yang harus dia hormati. "Kalo memang benar itu alasannya, anda tidak perlu khawatir. Saya akan lebih bekerka keras, jadi anda tidak perlu menyuruh saya menjauhi Irina."
Aldi berdecak kagum oleh kalimat yang dilontarkan dalam hatinya. Namun Aldi tetap menarik napasnya dalam-dalam."
"Saya tahu kamu akan mampu. Tapi, melihat kondisimu sekarang ini, saya rasa kamu tidak akan mampu." kata Aldi.
Tajam, memang. Dan dalam. Bahkan sedikit menyentil pendirian Ethan, meski cowok tersebut tetap bersikap tenang.
"Saya sangat berterima kasih karena kamu telah banyak memotivasi Irina. Namun, setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi, jauhi Irina dari sekarang!"
Aldi tiba-tiba berdiri dan menyilangkan tangannya di belakang. Dia menatap Ethan lekat-lekat.
"Saya hanya seorang ayah yang menginginkan hal terbaik untuk putrinya,"kata Aldi. "Kelak jika kamu menjadi seorang Suami, dan Ayah. Kamu pasti akan mengerti."
Ethan menghela napasnya, dia ikut berdiri di hadapan Aldi.
"Saya tahu. Tapi terkadang kekangan yang kuat itu akan menyakitkan. Anda mungkin merasa hal itu adalah yang terbaik untuk Irina. Tapi, pernahkah anda menanyakan perasaan Irina, atau berusaha memahaminya?"
Ethan tersenyum saat melihat Aldi terdiam.
"Dan jawaban saya tetap sama. Saya tidak akan menjauhi putri anda. Permisi."ucapnya sebelum berlalu dari ruangan itu meninggalkan Aldi yang terdiam.
-Tbc
Maaf baru update sekarang gaes...
Tugas numpuk, ditambah full day, estrakulikuler nambah... penderitaan yang haqiqiðŸ˜ðŸ˜
Maaf kalo ada typo, dll...
Makasih untuk semuanya yang udah mampir ke story dan tetap nunggu thor update...
See you next... bhubhay...