
Irina mendekap tas nya dengan erat. Dia berjalan mundur seraya terus merapalkan doa dalam hatinya. Tiga orang laki-laki berpakaian layaknya preman terus berjalan mendekat ke arah nya.
Sial. Ini semua karena kedua sahabatnya yang menyuruh dirinya untuk lewat jalan ini. Irina terus mendekap erat tas nya, bukan karena apa-apa. Tapi di dalam tas itu ada gelang berbandul piano, pemberian terakhir neneknya.
"Sampai kapan lu mau mundur? Udah beriin aja tas lu!"ucap orang yang berbadan tinggi dan besar.
Irina meneguk ludahnya saat dia punggung nya terpentok dengan tembok. Kenapa? Kenapa selalu ada adegan ini saat si pemeran utama ketakutan?
"Alah... gedeg juga gue sama bocah ini!"ujar seseorang yang badannya lebih kurus
"Sikat aja bro! Daripada lama."ujar seseorang yang berbadan tinggi
Sikat? Emang gue cucian apa, harus di sikat?
Irina memberanikan diri untuk menatap mereka. "T-tunggu. Gu-gu-gu..."
"HAHAHA... GU-GU-GU. Cantik-cantik gagap!"
Irina semakin gemetaran. Keringat mulai bercucuran di keringatnya. Kalo dia sedang takut ataupun gugup bicaranyaa memang susah untuk di kontrol
"Dengar. Jangan macem-macem sama saya, atau saya laporin!"ancam Irina setelah sekian lama, walau dalam hatinya dia merutuk tindakannya sendiri.
Ketiga preman itu malah tertawa terbahak seolah menganggap ucapan Irina adalah lelucon.
"Heh bocah. Gua udah cukup sabar ya! Serahin tas lu sendiri atau kita yang ambil,"laki-laki berbadan besar itu tersenyum miring. "Tapi kalo kita yang ambil sendiri, kita gak akan jamin lu gak terluka."
Kedua orang dari mereka mulai mendekati Irina. Mereka menyeringai dan memeggang kedua tangan Irina.
"Lepas. Lepasin!"berontak Irina seraya menendang dan menarik tangannya namun sayang, tenaganya tidak sebanding dengan kedua preman yang sedang memegangnya.
"Tolong. Tolmphh..."seseorang dari mereka membekap mulut Irina.
Sedangkan preman yang berbadan besar itu memungut tas Irina yang terjatuh.
BUKK...
Buah Jambu yang ukurannya agak besar terjatuh dari atas dan memantul mengenai hidung preman itu hingga berdarah. Kedua preman yang mencekal Irina melepaskannya dan mendekat ke arah, bisa dikatakan ketuanya.
Irina yang melihat itu, menggunakan kesempatan untuk kabur dari sana, dia mengambil tas nya dengan terburu-buru. Tetapi sepertinya keberuntungan tidak memihaknya, baru saja dia mau melangkah namun tangannya sudah di cekal.
"Mau kemana lu?"
BUKK..
Satu buah Jambu mendarat lagi tepat di wajah preman itu bersamaan dengan pelakunya yang melompat turun seraya memakan buah Jambu.
"Hai."ucapnya
Irina terperangah. Bukan tapi terkesima. Tidak tapi terkejut. Bagaimana bisa cowok itu ada disini?
"Kenapa lo bisa berurusan sama om-om jelek?"tanyanya
Irina menelan ludahnya. Sedangkan ketiga preman, dan dua korban diantaranya memasang wajah singa.
"Than..."lirih Irina. Dia bermaksud meminta pertolongan
"Wah... kita kedatengan pahlawan kemaleman nih!"
"Jadi lu, yang udah nimpuk gua sama Jambu, hah?"
"Kalian buta? Ini masih siang bukan malem."jawab Ethan santai
"Ethan.."panggil Irina greget karena bukannya menolong Irina, dia malah berucap seperti itu. Padahal pergelangan tangan Irina sudah sakit karena di cengkeram terlalu erat.
Ethan mengalihkan pandangan nya ke arah tangan Irina. "Rin... lo kok mau di gandeng sama om-om dekil sih?"
"HEH. BOCAH JANGAN BANYAK BACOT! SIKAT AJA BOCAH INGUSAN ITU!
Kedua orang preman sudah melayangkan tinjunya yang membabi buta pada Ethan. Namun cowok itu malah menghindarinya dengan santai seraya memakan buah Jambu. Entah kapan, tapi sedetik kemudian tangan Irina yang lain terasa di tarik dan dia sekarang sedang berada di depan dada bidang cowok itu.
Deg. Deg. Deg.
Bisa-bisanya jantung Irina berdetak sangat cepat saat situasi sedang genting begini.
"BALIKIN CEWEK ITU SAMA GUA!"
"Than..."lirih Irina.
"Hm?"
"Lo bisa 'kan lawan mereka?"
Oke cukup. Irina harus menahan rasa kesalnya. Irina menatap was-was ketiga preman yang sedang menatap mereka dengan tajam.
"HEH, LO BOCAH INGUSAN. UDAHLAH SERAHIN AJA CEWEK ITU. LAGI PULA LO GAK BISA BERANTEM."ledek preman yang berbadan kurus
"Emang."jawab Ethan enteng membuat Irina menahan kakinya agar tidak menginjak kaki cowok itu.
"Than, terus kita gimana?"bisik Irina
"Kabur aja."
Ethan mengambil sesuatu di saku jaketnya. Dia mengambil satu set petasan dan korek. Para preman itu mengernyitkan keningnya tidak mengerti sama hal nya dengan Irina.
"Kalo mau main. Mening pulang aja lu!"
Ethan tidak mengindahkan perkataan para preman itu, dia malah dengan tenang nya menyalakan petasan itu. Cowok itu tersenyum miring lalu melemparkan petasan-petasan itu ke arah para preman, membuat mereka berteriak kaget.
Ethan tergelak dia menggenggam tangan Irina dan membawa gadis itu berlari.
Irina berusaha mengimbangi berlari nya Ethan. Dia merasakan angin yang berhembus kencang membelai kulitnya. Jantung nya berdetak kencang, bukan seperti tadi, namun sekarang karena mereka berlari dengan sekuat tenaga.
Loh. Loh. Tapi ini kan bukan arah ke kafe!?
Terus gimana? Masa balik lagi kerumah?
Gak jadi dong? Yahhh
Irina menatap nanar ke belakang. Lalu memalingkan wajahnya kembali ke depan. Suara teriakan dari arah belakang membuat Irina menengok kembali, dan dengan secepat kilat menghadap ke depan. Para preman itu mengejar mereka.
Mereka memelankan larinya menjadi melangkah dengan cepat saat sudah sampai di gang yang sempit. Napas Irina sudah terengah dia menumpukan kedua tangannya di lutut. Ethan yang melihat itu terkekeh geli seraya mengambil buah Jambu yang ada di saku jaketnya, lalu memakannya.
"Untuk ukuran kaki sependek lo, gak buruk juga."ucapnya
Ingin Irina berkata kasar. Namun sekarang dia harus menormalkan napasnya yang terputus-putus.
"Lo! Gi--"ucapan Irina terpotong saat mendengar teriakan.
"BOCAH INGUSAN DIMANA LO?
Ethan membuang buah Jambu yang tinggal setengahnya. Dia menatap Irina dan memeggang bahu gadis tersebut.
"M-mau apa lo?!"tanya Irina gugup karena dirinya sangat dekat dengan cowok itu.
"Dalam itungan ketiga, lo harus lari!"
"Ha?"
"Ck. Lo harus lari kalo gue udah nyebutin angka tiga! Masa gak ngerti."gerutu Ethan
Para preman itu sudah berdiri dengan jarak yang lumayan jauh dari mereka.
"Emangnya kalian bisa kabur dari kami?"ledeknya
Ethan mendekatkan kepalanya ke telinga Irina.
"Satu."
"Eh, tapi lo gimana?"
"Dua."
"T-tapi--"
"Tiga. Lari!"
Bagai terhipnotis dengan kata-kata itu. Irina lantas melangkahkan kakinya berlari dari sana. Sebelum semakin jauh dia menoleh ke belakang untuk memastikan.
Irina bergidik ngeri saat melihat wajah para preman berdarah. Bukan karena tinjuan, tapi melainkan karena kena timpukan buah Pepaya yang pohonnya tidak jauh dari sana. Dia melanjutkan kembali larinya.
Apa cowok itu punya kebiasaan ngelempar benda yang ada di sekitarnya, ya?
-Tbc
Gimana gaes menurut kalean??
Jan lupa voment supaya Author kembali berenergi layaknya suparman-eh superman maksudnya...
Author pamit dulu... see you next chapter.... bhubhay..