Escape With You

Escape With You
Chapter 9



Irina menekan tuts piano yang berada di depannya. Sudah dua hari dia membolos les matematika dan kabur untuk les musiknya. Tidak ada yang menghetahui kalau Irina les musik, bahkan orangtuanya pun. Bisa-bisa Irina mati berdiri kalau ayahnya tahu.


Tempat les musik Bu Windi memang terkenal sepi, karena itulah Irina bisa tenang. Belakangan ini Irina kerap berbohong karena ingin les musiknya aman dan tetap berjalan.


"Irina kamu ada masalah?"tanya Bu Windi karena jika diperhatikan permainan yang dimainkan Irina sangat kacau.


Irina mengerjapkan matanya dua kali. Dia menghentikan tangannya yang sejak tadi hanya menekan tuts secara acak.


"Eh.. eh Bu.. em, aku baik-baik aja."ucap Irina seraya tersenyum


Bu windi duduk di samping Irina. Dia menggengam sebelah tangan Irina. Wanita paruh baya itu tahu, jika senyum Irina adalah palsu.


"Kalau ada masalah, kamu cerita aja sama ibu. Anggap aja ibu sebagai, ibu kamu sendiri."ucap Bu Windi


"Emm... Irina baper gimana, dong? Bu Windi harus tanggung jawab."ucap Irina seraya mengusap air mata yang ada di sudut matanya.


Bu Windi tersenyum lembut. Dia membawa gadis yang sekarang sedang terisak ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung kecil Irina. "Ssstt... semua masalah pasti ada jalan keluarnya."


Irina melepaskan pelukannya, dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Irina terkekeh geli.


"Pelukan ibu nyaman. Pelukable banget, pokoknya!"ucapnya seraya mengacungkan dua jari jempolnya.


Bu Windi tergelak mendengar perkataan gadis itu.


"Bu. Saya harus pulang! Nanti dimarahin lagi sama orang rumah."pamitnya seraya membawa ransel yang ada di sudut ruangan.


"Yaudah, hati-hati di jalan yah."ucap Bu Windi


Irina mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum keluar dari tempat les-nya.


Irina menyampirkan ranselnya ke pinggir untuk membawa headseat yang ada di saku ranselnya. Irina memakai headseat itu dan ikut bersenandung dengan suara kecil. Dia menghentikan langkahnya saat sudah di tepi jalan.


Inilah kelemahan tempat ini. Susah sekali taksi muncul karena tempatnya yang agak terpencil. Mau menghubungi Mang Udin pun dia takut ketahuan kalau dia bohong soal kerja kelompok nya. Irina mengalihkan pandangannya ke jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.


"Ck, kapan datangnya nih taksi?"gerutu Irina, padahal gadis itu sudah memesannya lewat online tapi tetap saja lambat.


Ting!


Suara ponsel membuat Irina, dengan cepat dia membuka ponselnya. Raut mukanya langsung berubah lesu saat melihata permintaanya dibatalkan oleh taksi online tersebut.


"Ck, kenapa tadi diterima kalo akhirnya dibatalin juga!"Irina menghela napasnya kasa. "Masa gue harus jalan kaki."


Irina menelan ludahnya saat melihat penerangan minim di jalanan. Kalau di pikir-pikir Irina ngeri juga, saat ini dirinya sendirian dan juga masih terbalut seragam sekolah, di jalanan yang sepi.


Tiba-tiba ingatan saat dirinya di cegat oleh ketiga preman waktu itu menghantuinya. Untung saja waktu itu Ethan datang, kalau tidak, ah Irina tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Huft... oke, Irina tenang. Jangan panik."Irina menarik napasnya lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Kalo di pikir-pikir, kasian juga ya, gue. Gak ada yang khawatirin gue, bahkan orang rumah gak ada yang nelpon gue."gumamnya lirih


Tin.. tin..


Suara klakson yang memekakan telinga membuat Irina menoleh. Tangan Irina gemetar, karena pengendara tersebut turun dari motornya dengan masih mengenakan helm.


Lah, lah. Kok dia kesini? Mau apa? Jangan-jangan penculik lagi?! Gak lucu dong, kalo ada berita seorang gadis kelas 12 SMA di duga hilang karena terlalu sering berbohong pada orangtuanya.


Pikiran Irina mulai melantur kesana-sini. Saat pengendara itu sudah ada di depannya, Irina memundurkan langkahnya. Baru saja Irina akan berlari, pergelangan tangannya sudah di cekal oleh orang itu.


"Lepas! Atau saya teriak!"ancam Irina dengan suara yang bergetar.


Bisa Irina rasakan kalau orang itu sedang tertawa di balik helm yang dikenakannya. Orang itu membuka helm nya dengan sebelah tangan, karena tangannya yang lain memegang pergelangan tangan Irina.


Irina membelalakan matanya saat helm yang dikenakan orang itu sudah lepas. "Lo!"


"Iya. Abisnya lo dikelas jarang ngobrol sama gue!"


Irina memutarkan pergelangan tangannya agar terlepas dari cekalan orang itu. Tapi bukannya mengendur, cekalan itu malah semakin menguat membuat Irina meringis.


"Sshh... sakit."cicitnya


"Makanya jangan berontak! Yuk, gue anter pulang."ucap orang itu seraya menarik Irina. Tetapi gadis itu menahan kakinya agar terdiam di tempat. Orang itu menaikan sebelah alisnya seolah bertanya.


"Gue, g-gak mau pulang bareng lo!"ucap Irina gugup


"Kenapa?"


Ethan menulikan pendengaran dia bersikeras untuk menarik Irina ke motornya.


"Ethan lepas! PDRP banget sih, lo!"teriak Irina


Ethab tetap diam. Dia menatap Irina dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ini udah malem. Lo itu cewek, jadi gak baik kalo lo masih keliaran!"


"T-ta--"


"Naik sendiri atau gue naikin!"ucap Ethan datar


Ambigu, ****. "I-iya. Iya, gue naik sendiri."


Dengan terpaksa Irina menaiki motor Ethan. Motor mulai melaju dengan perlahan. Hanya keheningan yang mengisi udara sekitar, mungkin yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok.


"Bolos lagi?"tanya Ethan memecahkan keheningan


"Ya? Hm."


"Jadi, lo diem-diem ambil les musik?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Karena, orangtua gue gak suka gue ambisius sama musik! Dia pengennya gue ke bisnis."Irina menutup mulutnya kembali. Kenapa dia jadi banyak omong sama cowok cantik ini?


"Setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi setiap anak juga harus punya keinginannya,"jelas Ethan. "Lo bagus, karena punya keinginan."


Ethan mulai memberhentikan motornya di belakang rumah Irina.


"Makasih, ya."ucap Irina setelah turun.


"Buat?"tanya Ethan bingung


"Buat... ya... karena lo udah ngaterin gue."ucap Irina bingung


"Semua yang ada di muka bumi ini, gak ada yang gratis."


"Ha?"


"Jadi, lo harus bayar sama gue!"Ethan menengadahkan telapak tangannya di depan Irina. "Oh. Satu lagi, karena jaraknya jauh dari rumah lo, terus lo orang pertama yang jadi penumpang. Gue kasih diskon."


Irina mengerutkan keningnya aneh.


"Tadinya gue mau lo bayar satu jutaan lah. Tapi karena di diskon, jadi lo cuma bayar, sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu lima ratus rupiah. Gimana?"


Irina menahan napasnya kesal. Cowok ini gila, ya? Mana ada diskon cuma lima ratus perak?


"Gue gak mau bayar! Lagipula gue gak minta lo anter. Lo sendiri yang maksa!"sebal Irina


Ethan mencekal pergelangan tangan Irina saat gadis itu akan berlalu begitu saja. Dia menyudutkan gadis itu ke tembok.


"Yaudah gue ganti aja. Sebagai bayarannya, lo jangan cuekin gue lagi disekolah. Apalagi kita sebangku, berasa sebangku sama patung gue kalo dicuekin terus."gerutunya


Sedangkan Irina harus menahan napasnya karena sekarang dia sangat dekat dengan Ethan. Irina merasakan wajah Ethan mendekat bukannya menjauh.


"Cepet masuk! Sebelum gue hilap!"bisik Ethan tepat di telinga Irina


Irina mendorong dada Ethan dengan keras dan berlari dengan cepat dari sana. Sedangakan cowok itu tergelak di tempatnya.


Dia menatap arah balkon kamar Irina.


"It's show time."ucapnya seraya menyeringai


-Tbc


Bakal double up kalo kalian banyak voment ok!!


See you next chapter... bhubhay...


Maaf kalo banyak typo, dll.