Empress

Empress
Siasat



Ilean, Putra Mahkota, Putri Ara beserta Pangeran Sean sedang berda di kamar Putra Mahkota untuk membicarakan kertas yang di temukan Pangeran Sean


"Tulisan nya cukup panjang," desis Ilena


"Ya, itu lebih mirip sebuah surat kan?" tanya Pangeran Sehun "Iya" seru yang lain


"Aku akan mencoba membaca nya," kata Ilena


"Waah ini sedikit sulit, banyak tulisan yang terpotong disini" kata Ielna "Santai saja kau pasti bisa," kata Putra Mahkota sambil mengelus kepala Ilena yang berdiri di samping nya "Ada yang aneh dengan kalian" desis Putri Ara "Apa?" pelotot Putra Mahkota


"Kakak, bagaimana jika ibu juga terlibat dalam semua ini?" tanya Putri Ara


"Kita lihat saja nanti," jawab Putra Mahkota


"Apa maksud mu kakak," kata Putri Ara penuh kebingungan


"Dengarkan aku baik-baik, semua yang kita ketahui jangan sampai di ketahui oleh orang lain," jelas Putra Mahkota


"Bagaimana?" tanya Putra Mahkota langsung mengalihkan perhatian nya kepada Ilena


"Aku belum bisa merangkai kata nya, kata-kata nya di susun secara acak," kata Ilena


Setelah itu keempat orang itu terkejut dengan teriakan dari luar


"YANG MULIA RATU TELAH TIBA" teriak pelayan dari luar


Cepat-cepat Putra Mahkota menyimpan kertas yang ada di hadapan mereka itu


"Yang Mulia," hormat keempat nya pada Ibu Ratu


"kenapa kalian lebih sering menghabiskan waktu di kamar orang lain ketimbang kamar kalian sendiri," desis Ibu Ratu


"terlebih lagi kau Ilena, tak sepantas nya kau berada di kamar Putra Mahkota," kata ibu ratu


"Maaf Yang Mulia" kata Ilena


"bukan karena kalian bisa makan bersama lalu itu menjadikan derajat mu sama dengan mereka" sambung Ibu Ratu


Semua orang terdiam Ibu Ratu memang bicara dengan sangat lembut tapi begitu menyakiti hari orang yang mendengar nya


"Tunggu apa lagi?" kata ibu ratu


"Segera kembali ke kamar mu" sambung Ibu Ratu memerintah Ilena. Ilenapun hendak segera pergi dari sana tapi tangan nya di tahan oleh Putra Mahkota


"Dua masih ada urusan dengan ku Yang Mulia Ratu"kata Putra Mahkota "Aku memanggil nya kemari karena ada kepentingan" sambung nya


Ilwna hanya menundukan kepala nya tak enak saat di perlakukan demikian


"Kalian bertiga.. datang lah untuk sarapan besok, " kata ibu ratu pada ketiga orang yang akan meneruskan pemerintahan istana itu


"Kau juga" kata Ibu Ratu pada Ilena


Setelah ke pergian Ibu Ratu dari sana ke empat orang itu melanjut kan diskusi mereka


Tapi belum juga mendapatakan apa yang mereka mau, Ilena belum bisa menterjemahkan kode-kode yang ada di sana karena banyak menggunakan kode rahasia lain nya. Jadi mereka memutuskan untuk membubarkan diri


Putra Mahkota memeluk tubuh ibu hamil di depan nya itu sambil memberikan kecupan di pundak nya


Belum juga lama dalam posisi itu, kedua nya terkejut karena kedatangan Putri Ayana


"Ku fikir tak perlu karena ini kamar suami ku, ternyata ada sedikit duri di sini," kata Putri Ara sambil tersenyum


"Yang Mulia ada yang harus kita bicarakan sebagai suami istri" kata Ayana "pelayan kau harus pergi dari sini" perintah Ayana pada Ilena


"Saya undur diri Yang Mulia," kata Ilenan. Putra Mahkota hanya menatap Ilena yang pergi meninggalkan kamar nya


"Ada apa?" tanya Putra Mahkota


"Kita harus pergi, menemui undangan ayah ku" kata Ayana "Aku tak bisa," jawab Putra Mahkota


"Aku tau jadwal anda sudah habis suami ku, kau harus menunaikan kewajiban mu sebagai menantu juga," kata Ayana


Setelah perdebatan penjang akhir nya Neron yang sudah terlalu lelah pun mengimuti kemauan Ayana untuk pergi ke acara yang di adakan mertua nya itu


"Yang mulia" sapa Jiyan pada Putra Mahkota yang berstatus menantu nya itu


"Ayaah" kata Putra Mahkota memberikan salam


Semua orang bertepuk tangan saat melihat kehadiran Putra Mahkota di acara itu


Sedangkan Putri Ayana terus memegangi perut nya yang terasa tak nyaman karena harus memkai bantalan di sana


"Kau sangat pandai bersandiwara," bisik Putra Mahkota pada Ayana "Dari mana kau dapat benda bodoh itu," sambung nya sambil mentap perut Ayana dengan tatapan jijik


"Kau sudah mempersiapan semua nya," desis Putra Mahkota


"Kenapa sedikitpun kau tak bisa menghargai ku sebagai istri mu" kata Ayana "Dengar kau masuk istana dengan licik maka ku pastikan kau keluar dengn cara yang sama," kata Putra Mahkota


"Apa maksud mu?" kata Ayana dengan jawah yang tak dapat di artikan


Setelah acara nya selesai tamu undangan pun berangsur meninggalkan tempat itu


Sedangkan Putra amahkota di ajak berdiskusi oleh Jiyan ayah mertuanya itu


"Putra Mahkota ayah akan membangun perusahan di pulau chuang," kata Jiyan "Tapi ini baru rencana, ayah akan butuh bantuan mu nanti," sambung nya


"Benarkah?" jawab Putra Mahkota singkat "hal ini juga akan sangat menguntungkan untuk mu dan untuk keluarga kerajaan," kata Jiyan


"Wahh itu luar bisa ayah, aku akan membantu jika di perlu kan," kata Putra Mahkota sambil menyesap wine yang ada di gelas nya


"Kau bersungguh-sungguh kan?" tanya Jiyan


"Tenntu ayah, tak ada yang lebih penting untuk ku kecuali Istana," kata Putra Mahkota dengan tenang berusaha mengikuti arah permainan ayah mertua nya itu


"kalau begitu bisa kau setujui peraturan NOL PAJAK saat kau sudah menjadi Raja?" tanya Jiyan yang mulai masuk perangkap


"Tentu.., tapi aku harus menjadi raja dulukan, bagaimana bisa aku menjadi Raja, Raja masih sangat sehat sekarang," kata Putra Mahkota


"Benar aku yakin kau akan segera menjadi Raja menantu," kata Jiyan tersenyum "jika begitu berarti maksud mu adalah Raja yang sekarang akan mati tak lama lagi?" kata Putra Mahkota mulai memancing Jiyan lagi


"Tidak begitu menantu," jawab Jiyan gugup "Tapi siapa yang tau dengan umur," sambung nya sambil menyesap wine nya


"Kalau begitu.. libatkan aku juga dalam proyek itu ayah" kata Putra Mahkota


"Baik lah.., Ayana putri ku satu-satu nya kepada siapa aku mempercayakan semua ini jika bukan pada kalian," kata Jiyan sambil tersenyum


Sedangkan Putra Mahkota berteriak hore di dalam hati nya, siapa yang mengira Jiyan semudah ini percaya pada nya