Empress

Empress
BUNTU



"Aku takut," bisik Ilena pada Neron yang berjalan di samping nya "Apa yang kau lakukan?" tanya Neron "Bagaimana jika Raja menghukum ku?' tanya Ilena lagi "Jika dia menghukum mu makan dia juga akan menghukum ku. Jangan khawatir," kata Sean menyenangkan Ilena


Saat tiba di ruang pertemuan, semua orang sudah berkumpul disana "Ilena dari mana kau? kau menghilang tanpa pemberitahuan," kata Raja "Aku bisa saja memberintahkan penjaga memancung kepalamu sekarang juga!" sambung Sang Raja pada Ilena


"Saya mengejak nya keluar semalam," kata Neron dan dengan segera Ilena menggelengkan kepala nya "Kau sangat lanang Putra Maggots!" kata Raja murka "Apa yang kau lakukan? kenapa kau melakukan itu!." Raja terlihat begitu marah dan kesal pada putra nya yang sebentar lagi akan menjadi Raja itu


"Bagaimana bisa kau melakukan hal severing itu?" teriak Raja "Aku hanya menjalankan kewajiaban ku, sebagai calon ayah," kata Neron santai "Aku hanya barusaha membuat bayiku dan ibunya bahagia," sambung Neron


"Siapa yang kau sebut dengan ibunya Yang Mulai Putra Mahkota?" tanya Ibu Ratu sambil menatap Neron "Tentu saja Ilena, siapa lagi dia ibu dari bayi ku kan?" tanya Neron sedikit lancang pada tetua Istana


"Aku perlu mengkoreksi mu putraku, Ilena bukan ibu dari bayi itu, ibu dari bayimu adalah Putri Ayana yaitu istri mu!" debat Ibu Ratu "Entah dunia berhenti berputar sekarang juga tak tetap akan ada yang mampu mengubah fakta bahwa Ilena adalah Ibu dari anakku!" tukas Neron


"Tutup mulut mu!" teriak Ratu "Ratu!" teriak Raja "Rendahkan bicara mu," sambung Raja dan membuat Ibu Ratu terdiam seketika "Putra Mahkota, tak seharus nya kau bersikap seperti ini," kata Raja "Lalu, seperti apa aku harus bersikap Yang Mulia Raja," kata Neron tanpa ragu sama sekali


"Aku sudah menjalankan kewajiban ku sebagai Putra Mahkota," kata Neron "Apa kalian sadar kalian menjadikan kami boneka," sambung Neron "Aku, Sean, Ara dan kami semua apa kah ada di antara kalian yang pernah bertanya apa yang kami inginkan!" kata Neron penuh emosional


Pangeran Sean dan Putri Ara hanya menatap Neron dengan tatapan sedih akhir nya emosi itu meluap juga "Bisa kah, sekali saja kalian memperlakukan kami seperti anak, sekali saja Jangan perlakukan kami sebagai Pangeran dan Putri Istana bodoh ini," kata Neron tanpa memutus tatapan nya pada Raja


"Putra Mahkota!" Raja berteriak dengan begitu kencang penuh amarah, mengembil pedang yang ada di dekat singgasana nya berjalan mendekati Neron dan mengencungkan pedang itu keleher Neron, Ilena lemas seketika penglihatan nya muram begitu takut dengan apa yang akan terjadi


"Kenapa berhenti Yang Mulia?" kata Neron menatap Raja "Ayo, anda punya hak untuk membunuh siap saja karena anda adalah Raja," sambung Neron "Kau bersikap sangat Kurang ajar hari ini," desis Raja pada putranya itu sedangkan Neron hanya bisa tersenyum miring


"Silakan membubarkan diri," kata Raja sambil memijat keningnya. Karena melihat keadaan Raja yang sedang tak baik semua orang membubarkan diri termasuk Ilena dan Neron


"Putra Mahkota, ke kamar ibu sekarang," kata Ratu pada Neron "Ara, tolong antar Ilena ke kamar nya," kata Neron sambil tersenyum "Apa yang akan terjadi?" tanya Ilena takut "Tak akan ada yang terjadi, tenangkan diri mu dan beristirahat lah," kata Neron sambil mengelus rambut Ilena "Ayo kak," kata Ara memegangi tangan Ilena


Neron berjalan menuju kamar Ibu Ratu sambil menyiapkan jawaban atas semua pertanyaan yang mungkin saja ditanyakan pada nya nanti


"Duduk lah," kata Ibu Ratu pada Neron "Ada apa ibu?" tanya Neron "Nak, kenapa kau bersikap seperti itu pada ayah mu?" tanya Ratu "Seperti apa?" tanya Neron "Kau bersikap sangat kasar hari ini," kata Ibu Ratu


"Aku hanya lelah dengan semua sandiwara dan tipu muslihat yang ada di Istana ini Ibu. Aku benci dan terkadang merasa jijik pada diriku sendiri," kata Neron


"Karena itu adalah resiko mu sebagai Putra Mahkota," kata Ratu "Tapi, aku tak pernah menginginkan posisi ini," kata Neron dan membuat Ibu Ratu kehilangan kata-kata sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putra nya itu


Setelah perdebatan panjang itu selesai Neron berjalan dengan gontai dengan semua rasa yang menghantuinya, sungguh dia lelah dengan semua ini, ingin rasa nya pergi ketempat yang jauh dan membiarkan semua rasa menyakitkan ini musnah


Neron masuk kedalam kamar Ilena "Yang Mulia," hormat pelayan pada Neron "Kalian boleh keluar," kata Neron dan membuat mereka semua keluar "Ada apa?" tanya Ilena "Aku butuh pelukan," kata Neron dan mendekati Ilena lalu memeluk tubuh ibu hamil itu serasa menumpahkan semua beban yang ada pada dirinya


________________________________


Jangan lupa vote dan komen yang banyak biar aku nya juga semangat buat update Hehe. Terimakasih ya semua semoga terhibur