
"Kita harus bicara" kata Sean menarik tangan Putri Ara "Apa-apaan kau ini!" gumam Putri Ara kesal dan berusaha melepas genggaman pria itu
"Kenapa kau menghindar dari ku?" tanya Pangeran Sean "Siapa yang menghindar?" bentak Ara menepis tangan Sean
"Kau menghindar dari ku" kata Sean kembalo menggenggam erat pergelangan tangan Ara, hingga Ara mengedu sakit karena cengkraman itu begitu kasar
"Kau menyakiti ku" gumam Ara. Pangeran Sean mengunci tubuh Ara ke tembok lalu mencium bibir nya dengan kasar, Putri Ara meronta berusaha melepaskan diri
"Plakkkk" Ara menampar pipi Sean dengan sangat kencang "Jaga sikap mu brengsek!" kata Ara meninggalkan Sean disana sambil menangis, sedangkan Pangeran Sean hanya terdiam dan menjambak rambut nya frustasi
"Ara," kejar nya Pangeran Sean "Maafkan aku," teriak nya "Ara..," kata Pangeran Sean menarik tubuh mungil itu kepelukan nya "Lepas kan aku" kata Ara sambil menangis
Pangeran Seab menarik Ara ke kamar nya agar bisa berbicara dengan puas dan aman. Saat tiba di kamar nya Sean memeluk Ara yang tengah menangis hebat "Maafkan aku," lirih Sean "Aku takut," kata Putri Ara
"Apa yang akan terjadi pada ku" sambung nya
"Kita melakukan nya! apa yang harus ku lakukan!" teriak Ara tertahan di dekapan hangat dada bidang itu
"Kita melakukan nya berdua kan! jadi ayo hadapi berdua, jangan seperti ini Ara, aku mohon," desis Pangeran Sean
"Apa yang bisa ku lakukan" kata Ara terseduh menangis "Aku Putri dari negri ini tapi aku tak bisa menjaga kehormatan ku, mungkin kau biasa saja karena kau sudah biasa melakukan nya. Tapi aku? aku tak ada harapan di masa depan! aku akan mencoreng wajah istana jika suamiku nanti tau" kataAra dengan tangisan nya
"Aku melakukan hal yang sangat buruk" desis Ara "Aku berjanji semua nya akan baik-baik saja," kata Pangeran Sean "Apa nya yang akan baik! kau bisa mengembalikan nya!" kata Ara membentak
"Ya aku tak bisa mengembalikan nya, tapi kita bisa memperbaiki nya," bujuk Pangeran Sean
"Aku sangat takut" kata Putri Ara mengeratkan pelukan nya pada tubuh pria itu
Sudah hampir 15 menit mereka dalam posisi saling memeluk dan kini hanya terdengar deruh nafas teratur dari Ara yang ternyata sudah tertidur
Pangeran Sean membaringkan Ara dengan berlahan di ranjang nya, lalu menyelimuti tubuh wanita itu
Pangeran Sean duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah Ara yang terlihat tenang itu. Pangeran Sean kembali memikirkan perkataan Ara, tak masalah untuk perempuan lain melakukan hal itu untuk bersenang-senang tapi tidak dengan Putri Ara, dia adalah seorang Putri negri ini
Pernikahan nya akan di atur dengan orang yang penting, dan akan menjadi sangat memalukan untuk nya jika suami nya nanti mendapati bahwa sang Putri sudah tak gadis lagi
Dan kini dia bingung harus melakukan apa, jalan satu-satu nya adalah mempertanggung jawabkan perbuatan nya
Tapi apa yang akan di katakan orang-orang istana..
Pangeran Sean mengelus lembut wajah Putri Ara lalu memutuskan untuk membaringkan tubuh nya di samping tubuh Putri Ara
______
"Ilena.." panggil Putra Mahkota pada Ilena yang tengah sibuk membaca "Iya Yang Mulia?" jawab Ilena
"Kau mencintai ku?" tanya tiba-tiba "Apa yang Tuan katakan" kata Ilena malu
"Aku bertanya kau mencintai ku?" tanya Putra Mahkota sekali lagi "Enatah lah" jawab Ilena dan membuat Neron merengut lucu
"Yang Mulia boleh minta sesuatu?" tanya Ilena "Apa?" tanya Putra Mahkota "Boleh saya memeluk Tuan?" tanya Ilena dengan mata berbinar "Kemari" kata Neron menarik pinggang Ilena
"kenapa kau sangat suka memeluk ku?" tanya Neron "Eemm anak mu yang ingin memeluk mu, saya sama sekali tak tertarik untuk memeluk Tuan" jawab Ilena
"Kau selalu memakai anak kita untuk memerintah ku" kata Neron sambil tertawa "Anak kita?" tanya Ilena, hati nya menghangat saat Neron menyebut anak ini adalah anak kita
"Emm, memang nya kau membuat nya sendiri, tidak kan?" kata Neron sambil tertawa
"Saat di lahir aku tak ingin dia tumbuh di lingkungan istana, aku mau dia tumbuh menjadi anak biasa," kata Putra Mahkota
"Kenapa?" tanya Ilena "Aku tak mau dia tumbuh menjadi mausia tak berperasaan seperti ku" jawab Putra Mahkota
"Apa Tuan tak ingin menjadi raja?" tanya Ilena "Tida, aku tak mau, aku mau hidup sebagai orang biasa, yang tak perlu memikirkan perebutan kekuasaan, aku sudah banyak menyaksikan kejahatan karena jabatan, orang-orang itu rela melakukan apa saja demi jabatan dan kekuasaan" jawab Putra Mahkota
"Tak masalahkan jika anak kita nanti tak menjadi putra mahkota" sambung Neron "Kita akan pergi dari sini saat semu sudah berakhir" kata Putra Mahkota sambil mengecup kening Ilena
"Kau mau kan ikut bersama ku?" tanya Neron "Tentu saja, saya akan ikut kemana pun yang mulia pergi" jawab Ilena sambil mengecup dagu pria itu
________