
"Kakak, aku menemukan ini di ruangan itu," kata Pangeran Sean pada Putra Mahkota "Apa ini?" tanya Neron "Nampak seperti lukisan, tapi kau lihat ada simbol-simbol di sini," kata Sean sambil menunjuk lukisan tersebut "Simbol apa ini," desis Neron bingung sambil memperhatikan lukisan yang dimaksut oleh Sean itu
"Kak kau ingat permainan cari dan sembunyi yang sering kita mainkan bersama ayahku saat kita kecil?" tanya Sean serius "Ya," jawab Neron seketika ingat pada permainan itu "Ini adalah simbol berbahaya dalam permainan itu," jelas Sean "Ya, kau benar," gumam Neron
"Kau lihat ini, ini nampak seperti peta pulau chuang," analisa Putra Mahkota sambil terus menatap lukisan itu dengan cermat dan jeli
"Benar kak, aku yakin ayahku ingin menyampaikan pesan melalui lukisan ini," kata Sean dengan yakin
_______________________________________
Putri Ara baru saja pulang dari sekolahnya, dan berniat pergi ke kamar Ilena untuk mengerjakan tugasnya. Lalu tiba-tiba dia mendengar percakapan Putri Ayana dengan seseorang ditelpon "Aku akan melaksanakan tugas ku dengan baik di sini" kata Ayana
Ara tak terlalu mendengar dengan jelas perkataan Putri Ayana itu "Aaa! apa yang di katakan wanita ular itu," desis Putri Ara. Dari awal pertemuan mereka, Putri Ara sudah tak senang dengan Putri Ayana yang berstatus kakak iparnya itu
Ara melanjutkan perjalanan nya menuju kamar Ilena "Kakak," sapa nya "Putri," sapa Ilena sambil memberi hormat "Aku akan pergi bersama ibu dan wanita ular besok," adu Putri Ara "Kemana Tuan Putri?" tanya Ilena
"Jepang, aku pergi 3 hari, dan sangat sedih karena tak bisa bertemu dengan Kakak, " kata Ara "Mau di bawakan sesuatu saat pulang?" tanya Putri Ara pada Ilena "Yang penting Putri cepat pulang saja," jawab Ilena sambil tersenyum
Setelah berbincang cukup lama Putri Ara pergi dari sana dan betemu Ibu Suri
"Yang Mulia" sapa Ara "Halo Tuan Putri, bisa tolong nenek panggilkan kakakmu untuk ke kamar nenek," kata ibu suri "Baik lah," kata Putri Ara. Putri Ara pun bergegas ke kamar Putra Mahkota
"Kakak..," teriak nya tapi malah menemukan Pangeran Sean yang sedang tidur di atas kursi
Putri Ara memandang dalam wajah tampan yang terlihat sangat tenang dan hanyut dalam tidur itu "Kenapa kau melihat nya seperti itu," tiba-tiba Neron datang
"Tidak, aku tak melihat nya! Kakak di suruh nenek ke kamar nya," kata Putri Ara lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah memerah. Putra Mahkota bergegas pergi ke kamar Ibu Suri
"Yang Mulia..," hormat Putra Mahkota "Duduk lah" kata Ibu Suri "Ada apa Yang Mulia memanggil Saya, " tanya Neron
"Kandungan Ilena sudah masuk bulan ke tiga" kata Ibu Suri "Ya, lalu?" tanya Putra Mahkota bingung
"Menurut tradisi Kerajaan saat usia bayi memasuki bulan ke tiga dalam kandungan ibunya, ayahnya harus membacakan cerita pada jabang bayi" jelas Ibu Suri
"Jadi maksut nenek aku harus membacakan cerita pada bayinya?" tanya Putra Mahkota
"Bayinya kata mu? itu bayi mu juga," kata Ibu Suri sedikit kesal
"Ya maksut ku, bayiku nenek, " kata Putra Mahkota sambil mengendus halus
"Semua itu agar perkembangan janin nya baik dan mempererat ikatan antara ayah dan anak," jelas ibu suri
Setelah mendengar penjelasan itu Neron agak ragu tapi masih akan tetap mengikuti tradisi itu
Putra Mahkota memberikan pesan agar Ilena datang ke kamar nya malam ini
"Yang mulia," hormat Ilena pada Neron yang menyambut nya di depan pintu
"Kalian pergi lah, aku akan mengantar nya saat sudah selesai," kata Putra Mahkota pada kedua pelayan Ilena, pelayan itu pun mematuhi perintah itu dan bergegas pergi dari sana
"Kenapa tuan memanggil saya?" tanya Ilena penasaran "Tradisi ceritanya," kata Putra Mahkota
"Ya, saya sudah diberi tau, tapi kenapa harus di kamar yang mulia, tidak enak jika di lihat Putri Mahkota," kata Ilena
"Ini kamar pribadi ku, aku dan Ayana hanya sekamar pada saat-saat tertentu dan sudah di atur, jadi tak perlu khawatir," jelas Neron
"Berbaring lah di sebelah kiri," titah Putra Mahkota "Kenapa?" tanya Ilena dengan wajah polosnya "Karena aku ingin di sebelah kanan," jawab Neron "Tapi, saya juga mau tidur di sebelah kanan Yang Mulia," gumam Ilena dengan wajah melas nya "Terserah kau saja," kata Putra Mahkota tak mau berdebat lagi
"Wahh, Yang Mulia ini sangat nyaman," kata Ilena sambil membaringkan tubuh nya. Putra Mahkota tersenyum kecil saat mendengar rancauan Ilena yang terdengar sangat lucu itu
Putra Mahkota ikut membaringkan tubuh nya di samping Ilena. Lalu membaca sebuah buku
"Yang Mulia membaca buku sejarah untuk pengantar tidur, bukan kah itu aneh," kata Ilena
"Ya, harus nya mereka mencari wanita yang pintar, bukan pelayan seperti ku " kata Ilena dengan suara lesu nya
Putra Mahkota mengutuk omongan nya tadi, Ilena membuang mukanya kearah lain lalu mulai menangis, merasa begitu tersinggung padahal itu hanya omongan biasa
"Kau menangis lagi?" kata Putra Mahkota kesal tapi merasa bersalah juga "Kenapa kau sangat cengeng," sambung nya
"Maaf, suasana hati saya sangat muda berubah, saya akan kembali ke kamar saya saja," kata Ilena merajuk sambil menyeka air mata nya
"Baik lah aku minta maaf!," kata Putra Mahkota ketus "Kenapa permintaan maaf Tuan sangat seram," jawab Ilena sambil menghapus air matanya
"Ayo lah, aku akan mulai membaca buku nya, ku mohon," kata Neron membujuk
"Tapi saya mau dipeluk ya..," rengek Ilena dengan wajah hampir menangis nya, entah muncul dari mana kelancangan itu
"Tidak!" kata Neron menolak "Hiksss." Ilena mulai terisak lagi dan membuat Neron begitu kesal di buat nya
"Baik lah!" kata Putra Mahkota dengan nada putus asa dan sontak membuat Ilena langsung menghambur ke dalam pelukan Neron
Putra Mahkota mulai membaca buku itu, tangan nya di arahkan Ilena untuk mengelus perutnya yang sudah agak membesar
"dia suka dielus," bisik Ilena "Berhenti bicara, pejamkan saja mata mu," kata Putra Mahkota
"Kenapa sangat kasar sih!!." Ilena mendengus kesal "Kau sangat lancang akhir-akhir ini," sahut Neron sambil menatap Ilena dengan tajam. Ilena kembali memasang wajah yang hampir menangis lagi
"Baik maafkan aku.. jangan pasang wajah itu lagi," desis Neron
"Yang Nulia, boleh saya makan itu sebelum tidur," kata Ilena sambil menunjuk wafer yang ada di nakas samping ranjang
"Baik lah tapi setelah itu kau harus pergi ke kamarmu dan tidur" kata Neron sambil mengambilkan wafer itu dan Ilena pun mulai memakan wafer itu
"MEGA CHUANG PROYEK," kata Ilena sambil mengeja "Apa?" tanya Putra Mahkota penasaran
"Bacaan itu," tunjuk Ilena pada lukisan yang di berikan Pangeran Sean pada Neron waktu itu
"Kau bisa membaca simbol itu?" tanya Putra Mahkota kaget "Eem, itu mirip sandi balok romawi tapi dengan beberapa modifikasi," kata Ilena
"Apa maksutnya, jelaskan pada ku," pinta Putra Mahkota, mendengar itu Ilena tersenyum lebar dan ide pun muncul dalam otak nya
"Saya akan menjelaskan, tapi tuan harus menemani saya tidur malam ini," pinta Ilena dengan manja "Tidak bisa," jawab Putra Mahkota
"Jalau begitu saya juga tak bisa menjelaskan nya," jawab Ilena "Hais! baik lah! kau puas, " kata Putra Mahkota
"Yess!," teriak Ilena menang "Jelas kan sekatang!," titah Neron
"Peluk dulu," pinta Ilena sambil tersenyum manis kearah Neron dan membuat Neron mentap ngeri pada wanita itu. Mungkin karena hormon kehamilan nya yang membuat Ilena sangat berani pada calon Raja itu
Putra Mahkota tak dapat menahan senyum nya lagi, melihat tingkah menggemasakan ibu hamil itu "Kemari," kata nya sambil membawa tubuh Ilena kedalam pelukan nya, hati mana yang tak akan luluh di hadapan sikap manja dan menggemaskan itu
"Jadi simbol itu adalah huruf balok romawi, dengan tambahan simbol-simbol rahasia, hanya orang-orang istana yang bisa membaca nya," jelas Ilena
"Mustahil! Aku dan Sean tak bisa membaca nya," kata Putra Mahkota "Aneh tapi simbol itu di buat oleh mediang Raja ayah Pangeran Sean" jelas Ilena
"Lalu bagaimana kau bisa membaca simbol itu?" tanya Putra Mahkota penasaran
"Sebelum sakit, lalu meninggal ayahku memaksa ku untuk memperlajari simbol-simbol itu dan bersikeras agar aku masuk ke istana" jelas Ilena "Apa urusan ayahmu dengan istana?" tanya Neron
"Ayah adalah pengawal pribadi mediang raja, ayahku meninggal tak lama dari wafat nya mediang Raja" jelas Ilena
Sungguh semua nya menjadi sangat aneh, dan pasti ada hubungan nya antara Ilena yang di paksa belajar membaca simbol aneh dan pesan aneh yang di tinggalkan mediang Raja.Neron yakin semua pasti berhubungan dan akan membuka semua kejahatan
Ilena sudah tertidur sedari tadi, tanpa sadar Putra Mahkota mengecup kening Ilena dengan lembut, lalu menenggelamkan Ilena ke dalam pelukannya "Selamat tidur bayi nakal," kata Neron mengelus perut Ilena sambil tersenyum lebar