
"Pagi.." sapa pangeran Sean saat wanita di hadapan nya itu baru saja membuka mata.Putri Ara tak menjawab hanya dia sambil memandangi wajah tampan itu
"Kau harus segera pergi, atau tidak kita akan tertangkap," kata Ara sambil mendorong tubuh Sean agar menjauh dari nya, tapi L
Pangeran Sean tak juga melepas pelukan nya
"Sean..," teriak Putri Ara sambil memukul dada Sean "Ada apa?" tanya Pangeran Sean santai masih dengan menatap Ara "Hentikan itu, aku tak suka di tatap dengan tatapan itu," protes Ara
"Mau melakukan sesuatu?" tanya Pangeran Sean setengah bercanda "Berhenti mengatakan hal kurang ajar!" tegas Putri Ara
Bukan nya takut Sean malah kembali mencium bibir itu sambil mengeratkan pelukan nya. Belum juga lama berciuam, kedua nya seketika panik saat terdengar suara gedoran dari luar kamar
"Bagaimana ini?" tanya Putri Ara panik. Kedua nya langsung melompat dari ranjang "Sembunyi di lemari" perinta Putri Ara dan Pangeran Sean pun menuruti perintah itu
Sementara Sean bersembunyi Ara membuka pintu dan melihat para pelayan nya di sana
"Yang Mulia tidak apa-apa?" tanya pelayannya "Tidak," jawab Ara gugup "Kami akan mempersiapkan pakaian Putri" kata pelayan nya "Aku akan menyiapkan nya sendiri, aku ingin tidur sebentar lagi, kembali laj kemari nanti," kata Ara
"Tapi Yang Mulia, anda harus ikut sarapan pagi ini," jelas pelayan nya lagi "Katakan pada semua nya aku masih ingin tidur," kata Putri Ara
"Pergi lah!" perintah nya. Pelayan nya pun bergegas meninggalkan tempat itu sesuai perintah Putri Raja itu
Putri Ara segera menutup pintu kamar nya kembali dan memegangi dada nya yang terasa hampir pecah karena degup kencang jantung nya
"Aaa..," teriak Putri Ara saat tiba-tiba Pangeran Sean memeluk nya dari belakang "Sudah ku katakan berhenti melakukan hal kurang ajar!" bentak Ara. Pangeran Sean tak bergeming malah membenamkan wajah nya di leher putih Ara
"Eem..," desis Putri Ara saat Sean mendaratkan kecupan di tengkuk nya
Berkali-kali Pangeran Sean memberikan kecupan di sana dan diselingi dengan sesapan dalam untuk merasakan aroma khas tubuh Ara yang menjadi candu untuk indah Indra penciuman nya
"Hentikan," kata Ara saat tangan Sean mulai meraba-raba tubuh nya "Kau seperti orang gila!" bentak Ara melepas paksa pukan Sean
"Tatap aku," kata Sean sambil meraup kedua pipi Ara "Kau jatuh cinta pada ku sejak awal kan?" tanya Sean "Apa maksut mu!" jawab Ara "Akui saja, aku benarkan," bisik Sean pada telinga Ara dan sekali lagi Ara tergoda dengan rayuan pria lihai itu
Bukan nya menolak, Ara berakhir di bawah kuasa pria itu lagi
_________
Sementara Putri Ara dan Pangeran Sean tengah memadu cinta di kamar, Ilena kembali mendapat undangan untuk sarapan dengan Raja dan Ratu
"Bagaimana kandungan mu?" tanya Raja pada Ilena yang duduk tak jauh dari nya itu "Semua nya baik Yang Mulia" jawab Ilena sambil tersenyum
Sedangkan Putra Mahkota tak bisa melepaskan pandangan nya dari wajah cantik ibu hamil itu "Ini," kata Neron memberikan potongan apel pada Ilena
Sontak membuat semua orang menoleh karena perhatian sang Putra Mahkota, terlebih lagi tatapan tajam dari wanita yang berstatus istri Putra Mahkota itu
"Terimakasih Yang Mulia," kata Ilena tak enak dengan semua tatapan orang
"Dimana Putri Ara dan Pangeran Sean mereka tak ikut sarapan?" tanya Ratu "Maaf yang mulia, Putri Ara tak ikut sarapan karena kembali tidur, sedangkan Pangeran Sean tak ada di kamar nya," jawab pelayan
"Oh.. baik lah" kata sang Ratu "Kita akan segera mengatur pernikahan adikmu, " kata Raja pada Putra Mahkota
"Dengan siapa?" tanya Putra Mahkota "Dengan keluarga terhormat dari tiongkok," jelas Raja "Tanyakan pada nya, dia mau atau tidak," kata Neron
Dan di sambut batuk oleh Ilena yang terkejut, Ilena berfikir bagaimana bisa menyampingkan perasaan seseorang untuk kepentingan istana
"Kau tak apa," kata Putra Mahkota bangkit dari duduk nya dengan cepat ke arah Ilena
"Minum dulu," kata Neron sambil mengelus belakang Ilena dengan lembut. Sekali lagi perbuatan Putra Mahkota itu menjadi sorotan semua orang
"Ampuni saya yang mulia," kata Ilena sambil menundudukan tubuh nya
"Tak masalah sayang.., lanjutkan sarapan mu," kata Ibu Suri
Setelah menyelesaikan sarapan Ilena dan Putri Ayana di persilakan untuk menerusakan aktifitas mereka sedagkan Putra Mahkota, Raja, Ratu serta Ibu Suri melanjut kan diskusi mengenai rencana pernikahan Putri Ara
"Kalian tau bagaimana Ara, dia tak akan mudah menerima semua nya," kata Neron
"Seperti yang ibu mu katakan pernikahan nya penting untuk menjaga hubungan antara kita dengan negara mereka," jelas sang Raja
"Dan menyampingkan perasaan putri mu? aku mohon sekali saja tepatkan diri ayah sebagai orang tua dan bukan sebagai Raja," desis Putra Mahkota
"Putra Mahkota jaga bicara mu!" kata Ratu "Cukup aku! cukup aku yang menjadi korban dari permainan ini jangan jerumusakan adik ku juga!" kata Putra Mahkota dan hendak pergi
Belum juga pergi, langkah kaki nya tertahan karena celetukan Ibu Ratu
"Karena itu kau sangat perhatian pada pelayan murahan itu!" teriak Ibu Ratu "Siapa yang menjadikan nya murahan Ibu Ratu? kalian yang memaksa nya!" teriak Putra m
Mahkota
"Dan jangan lupa dia adalah ibu dari anak ku!" sambung Putra Mahota "Dia bukan ibu anak mu Neron!" tegas Ibu Ratu "Tak satu peraturanpun yang bisa menghilangkan hubungan ibu dan anak!" debat Putra Mahkota pada Ibu Ratu
Lalu meninggalkan tempat itu sambil membanting kursi
"Putra mahkota!" teriak Raja dengan murka melihat ketidak sopanan itu
Putra Mahkota berjalan dengan cepat di ikuti dengan pelayan dan sekertarisnya
"Ilena," panggil Putra Mahkota saat melihat Ilena tengah duduk di taman bersama pelayan nya "Yang Mulia..," hormat Ilena "Kemari," panggil Neron. Ilena pun mendekati Putra Mahkota
"kalian semua ku perintahkan untuk membalik tubuh kalian!" titah Putra Mahkota
Semua orang di sana membalik tubuh mereka
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Ilena bingung
Putra Mahkota memeluk tubuh Ilena dan sontak membuat Ilena terkejut, jadi ini alasan nya menyuruh semua orang berbalik
Setelah melepas pelukan nya Putra Mahkota mengecup bibir ibu hamil itu dengan lembut dan penuh cinta "Yang Mulia," desis Ilena
"Aku hanyan ingin memastikan sesuatu" bisik Putra Mahkota "Apa?" tanya Ilena "Cinta ku," jawab Putra Mahkota
Putra mahkota pergi dan meneruskan perjalanan dan di ikuti oleh seruruh rombongan nya
________