
"Pagi," sapa Neron pada Ilena yang tengah sibuk membersihkan rumah "Selamat pagi," jawab Ilena "Sarapan sudah siap di meja, sarapan lah," sambung Ilena "Kau sudah sarapan?" tanya Neron "Belum," sahut nya "Kalau begitu aku akan menunggu mu selesai saja dan kita akan sarapan bersama," kata Neron lalu duduk di sofa sambil memperhatikan pergerakan ibu hamil itu
"Ayo sarapan," kata Ilena pada Neron setelah menyelesaikan pekerjaan nya "Apa kau bertelanjang tadi?" tanya Neron "Em," jawab Ilena "Kau keluar sendiri di pagi buta, apa kau tak takut?" rutuk pria itu "Apa yang harus ku takutkan Tuan," kata Ilena sambil tersenyum "Ayo makan lah," kata Ilena dan dengan segera Neron memakan sarapan nya
"Hp-mu terus berdering dari tadi," kata Ilena "Ya, aku sudah mematikan nya," jawab Neron "Apa kau akan dapat masalah, karena pergi dari Istana acara diam-diam?" tanya Ilena "Entah lah, kita lihat saja setelah kita pulang ke Istana," kata Neron sambil tertawa
"Apa enak?" tanya Ilena "Sangat enak, Terimakasih," kata Neron "Aku suka masalah mu dan kau harus memasakan ku setiap hari," sambung Neron
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Neron membantu Ilena membereskan meja makan dan mencuci piring "Ini cucian piring pertama mu?" tanya Ilena "Em, begitu lah." Neron menjawab sambil tertawa
"Setelah ini kau mau melakukan apa lagi?" tanya Neron "Apa kita belum akan kembali ke Istana?" tanya Ilena "Kita sudah terlanjur kabur kan, maka ayo fikirkan hari ini di luar Istana," jawab Neron "Kau pasti sangat bosan berada di dalam sana," kata Neron "Kalau begitu kita akan menonton film," tawa Ilena "Baik lah, apapun yang mau kau lakukan," kata Neron sambil tersenyum
Kedua nya duduk di sofa sambil menonton film yang disarankan Ilena. Neron berbaring di sofa panjang itu dengan paha Ilena sebagai bantal nya, Neron tak fokus menonton malah asik memperhatikan wajah cantik itu dari bawa "Lobang hidungmu terlihat cantik dari bawah sini," kata Neron jail "Aaa," rengek Ilena sambil menatap hidungnya dengan tangan dan sontak membuat Neron terpingkal geli
Neron mendudukan diri nya dan tiba-tiba mengecup bibir Ilena, Ilena terkejut tapi tak berkebaratan juga dan tidak berniat menghentikan lumatan pria itu juga, ciuman itu kian dalam bahkan Ilene sudah melingkarkan tangan nya keleher pria itu. Kedua nya hanyut dalam kegiatan itu menggerakan kepala mereka ke kiri dan kekamar agar ciuman itu makin dalam
Ilena mengelus bahu Neron, untuk memberi tau bahwa dia butuh oksigen untuk bernafas terlebih dahulu, Neron mengerti itu dan melepaskan ciuman mereka, lalu tersenyum bangka saat melihat Ilena terenagah dengan nafas menggebuh
Neron menatap mata Ilena dengan dalam, sedangkan Ilena segera memalingkan wajah nya karena terlalu malu jika harus mentap mata tahan itu. Ilena memejamkan mata nya saat berlahan Neron mengelap bibirnya
Neron mengecup kening Ilena, lalu mengecup kedua mata Ilena bergantian "Kau sangat cantik," bisik Neron tepat di teling Ilena dan seketik membuat nya merinding
"Mau melakukan sesuatu?" tanya Neron sambil mengelus pipinya Ilena lembut dan membuat jantung Ilena hampir lepas "Apa?" tanya Ilena dengan pipi merah karena malu "Aku menginginkan mu," bisik Neron "Sungguh aku menginginkan mu," sambung nya lalu menggendong tubuh Ilena menuju kamar
Dengan plan Neron membaringkan tubuh Ilena "Aku bertanya, kau mau melakukan nya dengan ku pagi ini?" tanya Neron sambil menatap mata Ilena "Jika kau keberatan, tak masalah aku bisa berhenti sampai disini," sambung Neron, Sungguh Ilena juga menginginkan kan nya
Neron membuka satu persatu pakaian Ilena dan pakaian nya sendiri "Hallo anak ayah," kata Neron sambil mengecup singkat perut Ilena dan berlahan kepupan itu makin naik hingga kebagian dada Ilena mengecup lembut hingga meninggalkan tanda diarea sana
Ilena hanya bisa merintih atas setiap sentuhan-sentuhan yang diberikan Oleh Neron, begitu pun dengan Neron, Neron begitu takjup dengan tubuh itu bahkan terlihat sangat menggairahkan dengan perut yang sudah membesar itu
"Apa tak masalah jika melakukan ini? apa tak berpengaruh pada bayi kita?" tanya Neron "Dokter pernah bilang tak masalah," jawab Ilena "Asal, kau melakukan nya dengan lembut dan pelan, kau sering hilang arah Dan tergesah-gesah," jawab Ilena dan membuat Neron tertawa "Apa selama ini aku memperlakukan mu dengan kasar saat melakukan ini?" tanya Neron sambil menggoda tubuh ibu bayi nya itu dengan jari-jari nya "Sedikit," bisik Ilena dengan suara merintih itu
"Kita akan melakukan nya dengan pelan," kata Neron, kedua nya hanyut dalam permainan ini, saling menyentuh dan memberi kenikmatan satu sama lain. memdengar rintihan seksi dari Ilena membuat Neron kalang kabut dan barusaha selembut mungkin agar tidak menyakiti Ilena dan bayi nya
Kedua nya berpelukan erat saat kegiatan itu berakhir dan menghantarkan kedua nya keatas awang kenikmatan "Aku menyakiti mu?" tanya Neron masih dengan nafas memburu dan hanya di jawab dengan gelengan oleh Ilena "Terimakasih," kata Neron mengecup bahu Ilena "Terimakasih banyak," sambung nya
"Ilena," pangil Neron "Apa?" tanya Ilena "Ada masalah besar yang terjadi dan nampak nya akan menyulitkan mu," kata Neron "Apa maksut mu?" tanya Ilena menoleh pada Neron "Kau mau menginap status mu sebagai selir?" tanya Neron dengan berhati-hati "Apa maksud mu!" kata Ilena kaget "Akan lebih aman jika kau terikat jelas dengan ku," kata Neron
"Lagi pula, kau mengandung anak ku kan kai bisa saja menjadi Ratu saat aku di terminal menjadi Raja," kata Neron dan membuat Ilena sedikit bingung "Tapi, aku tak pernah punya hasrat untuk menjadi Ratu," kata Ilena "Jangan salah faham, bukan itu maksud ku. Aku tau kau tak punya ambisi sedikitpun," kata Neron
"Kau harus tau bahwa masalah ini sangat rumit, besar dan bisa saja dapat mengancan keselamatan mu. Jika, kau terikat pada ku maka kau akan menjadi anggota keluarga kerajaan dan akan mendapat hak dan perlindungan dari Istana," jelas Sean Panjang lebar
"Sungguh aku tak mengerti maksut mu," gumam Ilena "Kau percaya pada ku kan?" tanya Neron "Nampaknya aku tak punya pilihan lain selain percaya pada mu," kata Ilena
"Akan ada waktu nya, dimana kita harus menghadapi hal besar dan kau adalah salah satu kekuatan kami Ilena," kata Neron mengecup bahu Ilena lagi
"Akan ada masa di mana aku lelah dengan semua kegilaan ini dan aku berharap kau selalu menyediakan pelukan hangat ini sebagai tempat aku beristirhat dan senyuman cantik itu sebagai obat penat." Neron mengatakan itu dengan sepenuh hati, sedangkan Ilena masih terpaku pada kata-kata madu itu