Empress

Empress
Manis (2)



"Apa yang kau lakukan di luar?" tanya Neron pada Ilena yang tengah asik memandang langit yang terlihat sangat indah dengan taburan gemerlap bintang dan ditemani dengan sinar indah rembulan "Menatap langit," jawab Ilena "Masuk lah, udara sangat dingin," kata Neron, Ilena hanya diam sambil menundukan kepala nya


"Hei, ada apa?" tanya Neron sambil mengangkat dagu ibu hamil itu "Hei, kenapa menangis?" tanya Neron lagi "Aku rindu ibuku, adikku dan rumahku juga," kata Ilena sambil menghapus air matanya, Neron hanya diam kehabiaan kata-kata lalu membawa wanita itu kedalam pelukan nya


Neron menggendong Ilena untuk masuk kedalam kamar, melihat itu semua pelayan Ilena keluar dari kamar itu. Tangis wanita itu makin Jadi sambil teresu "Aku ingin pulang," rengek nya manja "Hikss.., aku ingin pulang kerumah ku," sambung Ilena sambil menangis tersedu "Stttttt, Janhan menangis," kata Neron kembali memeluk Ilena "Aku mau pulang!" rengek nya lagi


"Ya, aku akan mengantar mu besok pagi," kata Neron "Tapi, aku mau sekarang," kata Ilena sambil menatap mata Neron penuh arti dan harap "Tapi, ini sudah sangat malam," kata Neron "Ya sudah!" jawab Ilena merajuk, lalu menghempaskan diri nya sendiri ke ranjang dengan cukup kencang "Kau ini!" bentak Neron karena kaget dengan apa yang di lakukan oleh ibu hamil itu


"Kenapa kau sangat jahat, kenapa membentak ku." Ilena kembali menangis bahkan dengan volume lebih koncang ketimbang tadi "Jika tak mau mengantar ku tak apa, tak perlu marah dan beteriak," sambung nya dengan tangan persis seperti anak kecil


Neron tak bisa menahan tawanya lagi, sumpah demi apapun ibu bayinya itu terlihat sangat menggemaskan dan lucu "Aku tidak marah sayang," kata Neron "Tapi kau beteriak!" kata Ilena dengan wajah lucu nya "Aku hanya terkejut saat melihat mu jatuh seperti tadi." Neron kembali merengkuh tubuh ibu hamil itu kedalam pelukan nya "Aku mau pulang," Bisik Ilena


Neron melapas pelukan nya lalu menatap Ilena sambil tersenyum dan menghapus air mata ibu hamil itu "Pakai mantel dan kaos kakimu. Kita akan kabur malam ini," kata Neron "Yang Mulia seriuskan," kata Ilena "Ya, ayo cepatlah," kata Neron


Dengan cepat Ilena memakai mantel nya dan di bantu Neron memakai kaos kaki dan sepatu "Aku sudah siap untuk kabur," kata Ilena sambil tersenyum "Ayo," ajak Neron


"kata mu kita akan kabur, kenapa di antar oleh pengawal mu?" tanya Ilena "Kenapa kau merasa sangat keren Jika benar-benar Kabur?" tanya Neron, Ilena hanya diam sambil menunduk "Kau ini memang terlalu sering menonton drama dan berhayal," kata Neron "Jangan sampai anak ku mewarisi sifat buruk mu itu," sambung nya bercanda tapi malah kembali membuat Ilena tersinggung


"Ya, aku harap bayi ini hanya mewarisi sifatmu yang baik dan tak satu pun mewarisi sifatku." Ilena bicara dengan nada yang bergetar, Sungguh hatiku begitu mudah tersinggung akhir-akhir ini, aku hanya tak enak hati saat pria itu mengatakan hal itu. Ya, aku hanya pelayan yang memang sebenar nya tak pantas mengandung anak nya, tapi bagaimana pun aku sudah mengandung anak nya, apa pantas dia merendahkan ku seperti itu


Butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah Ilena dari Istana, selama di jalan Ilena hanya diam tak bersuara sedikitpun. Ilena masuk kedalam rumah nya tanpa menoleh pada Neron "Kau boleh kembali ke Istana, aku hanya ingin sendiri," kata Ilena pada Neron "Apa lagi? kau kesal lagi?" tanya Neron, Ilena hanya diam sambil menggelengkan kepala nya


"Kau marah lagi? karena bercandaan ku tadi?" tanya Neron "Ayo lah Ilena, itu Hanya bercandaan," "Ya, maaf." Ilena bicara tak acuh dan langsung meninggalkan Neron, Ilena masuk kedalam kamar lalu membaringkan tubuh nya disana dan segera disusul oleh Neron


Memdengarkan itu Neron Sungguh merasa bersalah ditamabah saat wanita itu barusaha meredam tangis nya dengan membekap mulutnya, Neron menanyakan tangan itu seketik tangis ibu hamil itu kembali pecah "Maaf, aku tak bisa mengontrol emosi ku." Ilena menghambur kepelukan Neron sambil tersedu


"Aku benci akan semua ini, semua orang di Istana bodoh itu mengganggap ku rendah, demi langit dan bumi aku tak serendah yang mereka fikir," lirik Ilena "Dan kai juga, kau selalu saja menghancurkan hati ku dengan hina-hinaan mu itu!" sambung Ilena


"Aku memang tak pantas mengandung bayi mu, aku hanya pelayan rendahan bahkan sekarang semua orang menjuluki ku pelayan yang bekerja di ranjang," adu Ilena, memdengar itu jantung hati Neron seketik merasa sakit, seakan juga merasakan apa yang dirasakan wanita itu


"Semua orang menghinakan aku, aku benci semua orang yang merendahkan ku, termasuk kau juga. Aku benci pada mu! Aku benci!" kata Ilena histeris sambil memukul dada Neron dengan lemah karena Sungguh sudah tak ada lagi tenaga yang bisa dia pakai


"Maaf," bisik Neron "Mulai sekarang akan ku katakan kau aman dan nyaman," sambung Neron "Maaf untuk semua bercandaan ku yang menyakiti hatimu, sungguh aku tak bermaksud menyakiti mu atau merendahkan mu. Sungguh, aku aku tak pernah mengganggap mu rendah," kata Neron sambil mengeratkan pelukan nya


"Jangan menangis lagi," kata Neron "Mana senyuman cantik ibu anak ku?" tanya Neron sambil menggoda Ilena sampai Ilena tak kuasa menahan tawa nya lagi "Aaaa, senyuman itu sangat cantik," sambung Neron "Maaf," kata Neron lalu mengecup bahu Ilena "Maaf," Kata Neron lagi


"Ini kamar mu?" tanya Neron pada Ilena "Ya," jawab Ilena sambil tersenyum dengan semangat "Jadi kita akan tidur disini malam ini?" tanya Neron "Tak apa kan?" tanya Ilena "Tentu saja, kita akan tidur di sini malam ini," kata Ilena


"Ayo kemari," kata Neron mengejak Ilena untuk berbaring dalam pelukan nya dengan senang hati Ilena berbaring sambil memeluk Neron "Maaf ya, aku sangat ke katakan dan terlalu emosional," kata Ilena "Jangan sebal pada ku ya," sambung Ilena "Tidak, aku tidak sebal pada mu," kata Neron lalu menyecup kening ibu hamil itu


"Apa kau masih mual saat pagi?" tanya Neron "Tidak, hanya sesekali," jawab Ilena "Anak ayah memang pintar," kata Neron mengelus perut Ilena "Aku harap dia mewari mata indahmu," kata Neron mengecup mata Ilena


Kedua orang itu tidur bersama sambil berpelukan