
"Kenapa sendiri?" tanya Pangeran Sean pada Ilena yang menatap langis malam "Tak apa Pangeran," jawab Ilena "Ku tebak kau pasti menginginkan sesuatu kan," kata Sean asal
"Saya sangat sensitif akhir-akhir ini," adu Ilena pada Sean "Aku tau," jawab Pangeran Sean
"Ya dan yang paling lucu adalah saya selalu ingin berada di sekitar Putra Mahkota," cerita Ilena dengan senyum getir "Rntah kenapa aku merasa kau sangat menderita di sini" kata Pangeran Sean
"Sekali saja kau bilang ingin pergi dari sini, aku akan langsung membawa mu pergi" sambung Pangeran Sean
"Jika ingin sesuatu, kau harus mengatakan nya langsung pada kakak ku, dia tak akan bisa menolak mu," kata Pangeran Sean
"Tapi dia selalu menolak ku," kata Ilena mulai menangis. Entah lah, wanita itu bersikap sangat cengeng akhir-akhir ini
"Hei, kenapa kau menangis." Pangeran Sean tertawa terpingkal melihat reaksi lucu Ilena itu
"Ada apa?" tiba-tiba Putra Mahkota muncul dan ilena pangsung pergi dari sana dengan langkah cepat "Jangan sampai kau menendang kaki mu lagi!" Putra Mahkota memperingatkan
"Ada apa dengan nya? dia menangis?" tanya Neron pada Sean "Ya, dia menangis," jawab Sean
"Kenapa?" tanya Putra Mahkota "Dia bilang merindukan mu!" bisik Sean pada kakak nya itu
"Berhenti menggoda, aku serius!," tegas Putra Mahkota "Aku serius kakak," kata Sean sambil berlari dari sana
Karena penasaran Neron menyusul Ilena ke kamar nya, benar saja Neron melihat Ilena yang tengah sesegukan di atas ranjang nya
"Ada apa dengan nya?" tanya Putra Mahkota pada pelayan "Maaf Tuanku tapi saya tak tau," kata pelayan
"Ada apa dengan mu?" tanya Neron pada Ilena "Tak apa," jawab Ilena ketus sambil membuang muka "Kenapa kau sangat suka mencari-cari perhatian haa?" kata Neron dengan nada kesal dan membuat Ilena begitu tersinggung
"Neron!..," teriak Ilena penuh emosi di sertai dengan tangisan nya sambil mengacungkan jari telujuk nya ke wajah pria itu mengisyaratkan pria itu untuk berhati-hati dalam bicara
Semua orang terdiam mendengar teriakan itu, wanita yang selama ini terkenal dengan suara lembut dan kehalusan saat bicara itu dengah berteriak dengan amarah
Ilena berlari menuju luar kamar dan melewati Putra Mahkota yang masih terpaku
"kau mau kemana" kata Neron sambil mengejar Ilena
"Aku mau pergi! aku tak sanggup lagi menerima semua penghinaan ini," desis Ilena dengan suara parau akibat menangis sambil melangkah dengan cepat
"Ilena!" kata Neron sambil memegang tangan Ilena "Lepas kan aku!" bentak Ilena sambil mengacungkan telunjuk nya pas di muka Neron "Baik aku minta maaf," bujuk Neron
Ilena tak menghiraukan Putra Mahkota terus berjalan dengan wajah penuh dengan air mata, Ilena berjalan tampa alas kali dan tak menghiraukan kakinya yang menginjak benda tajam
"Ilena!!," bentak Neron "Aku juga bisa membentak Neron! " kata Ilena menatap Putra Mahkota dengan tatapan tajam nya
"Rendahkan suaramu saat bicara pada ku," sambung Ilena lalu melanjut nya jalan nya
"Jaki mu berdarah!," kata Putra Mahkota saat melihat tepak kaki Ilena yang berdarah
Ilena tak memperdulikan itu, hanya terus berjalan dengan tangan yang sibuk mengelap air mata nya. Irene sudah sampai ke gerbang utama istana
"Ilena," panggil Putra Mahkota sambil memegangi tangan Ilena
"Lepaskan aku," desis Ilena "Inii sudah malam,kakimu terluka, aku mohon" kata Neron
"Aku tak peduli, aku hanya ingin pergi dari mu, aku hanya ingin pergi dari istana bodoh ini" kata Ilena menangis. Mereka berdua tengah menjadi perhatian semua pelayan dan penjaga istana
"Kau fikir aku sudi menjadi pelacurmu seperti ini!," kata Ilena dengan tangisan nya "Kau meniduri ku! aku merasa sangat hina saat itu," sambung Ilena
"Apa yang kau katakan!" bentak Putra Mahkota
"Dengarkan aku" kata Ilena dengan suara bergetar
"Dengan sikap mu yang seperti ini aku merasa persis seperti pelacur kau tau," kata irene mulai memukul dada Nero
"Apa kau juga menganggap ku seperti pelacur yang mulia?" tanya Ilena masih dengan isakan tangis nya "Bahkan istri mu mengatakan bahwa aku adalah pelayan yang di tiduri Putra Mahkota sungguh aku tak serendah itu, aku tak menginginkan semua ini," adu Ilena dengan pilu
"Aku tak mau menjadi seperti ini, jika bisa aku juga tak mau bertemu dengan mu!" sambung Ilena terisak
"Apa lagi harus menjadi pelacur mu! aku juga tak sudi mengandung benih mu Neron yang terhormat!" bentak iIlena
"Aku juga tak tau, aku juga tak tau kenapa ingin selalu bersama mu, ku fukir aku punya hak untuk mengharapkan perhatian mu, karena paling tidak aku adalah wanita yang akan melahirkan anak mu, aku ibu dari anak mu" pilu irene dengan tangisan hebat nya
"Tapi ternyata tidak.. kau tak menganggap ku demikian, aku faham sekarang, aku hanya pelacur murahan di hadapan mu," sambung Ilena
"Bahkan anak ku tak boleh memanggil ku dengan sebutan ibu nanti nya" lirih Ilena pedih
Ilena lalu menundudukan kepalanya, tubuh nya merosot kebawah, dan langsung di raih oleh Neron, Putra Mahkota melepas jas nya lalu menutupi tubuh Ilena dan mengangkat tubuh Ilena ke gendongannya
Ilena tak menolak membiarkan tubuh nya di angkat oleh Neron, tangis Ilena tumpah di dada bidang itu, tangis nya kian jadi
Sedangkan Neron masih terus berjalan sambil mendengar isakan-isakan perih dari wanita yang tengah di gendong nya itu
Semua pelayan dan penjaga istana menundudukan kepala mereka saat Putra Mahkota lewat dengan Ilena yang berada di gendongan nya
Saat tiba di kamar Ilena, Neron membaringkan Ilena ke ranjang, lalu mengobati luka yang ada di telapak kaki Ilena
Sedangkan Ilena masih belum bisa meredam tangis nya, setelah memasangkan perban pada luka Ilena, Neron menyeka keringat yang ada di kening Ilena
"Mau makan sesuatu?" dengan tenang nya Neron bertanya pada Ilena seperti lupa akan keributan yang baru saja mereka lakukan
"Aku sedang marah," kata Ilena melengos "Tap, marah juga butuh tenanga kan," jawab Neron "Keluar dari kamar ku," usir Ilena
"Setelah kau makan," jawab Neron "Aku tidak ingin makan!" desis Ilena "Kalau begitu tidur lah" kata Neron
"Kau ibu anak ku," kata Neron dan membuat Ilena menoleh pada nya "Kau sangat seram saat marah" sambung Neron sambil tertawa
"Maafkan aku," kata Putra Mahkota lagi, tapi tak di perdulikan oleh irene
"Karena kau tak memperdulikan ku, aku akan pergi ke kamar ku saja," kata Nerom
"Aa!," teriak Ilena kesal "Jangan pergi," sambung nya "Kau sangat bodoh! bukan nya memeluk ku kau malah inhin pergi!," kata Ilena sambil menangis "Kenapa calo Raja negri ini sangat bodoh," kata Ilena kesal
Putra Mahkota terpingkal lalu mendekap Ilena yang menangis ke dalam pulukannya
"Maafkan kebodohan ku ya," bisik Neron pada Ilena, Neron menghapus air mata Ilena
"Dengarkan aku, dan tanam di hati mu, tak sedikitpun aku menganggap mu pelacur seperti yang kau katakan tadi," kata Putra Mahkota sambil menatap mata Ilena
"Kau adalah ibu dari anak ku! ku pastikan kepada mu kau tak akan kehilangan sedikitpun hak atas anak yang kau kandung, aku berjanji sebagai Putra Mahkota negri ini dan sebagai ayah dari bayi yang kau kandung!," sambung Nerom
"Bisakah aku mempercayai mu kali ini," kata Ilena
Putra mahkota tersenyum sambil mengangguk dan kembali menarik Ilena kepelukan nya
______________________________________