Empress

Empress
Jiwa



Pagi ini Ilena berjalan-jalan di taman dan tampa sengaja bertemu dengan rombongan Putri Ayana


"Kenapa kau bisa ke sini? Ini adalah tempat khusu untuk para wanita di Istana" kata Putri Ayana memojokan Ilena


"Maafkan saya Yang Mulia, tapi saya dapat izin dari Ibu Suri," kata Ilena menjelaskan


"Oh..," jawab Ayana sinis "Dasar tak tahu malu" sambung nya sambil melewati Ilena


"Kau" kata Putri Ayana menunjuk Ilena "Ikuti aku," sambung nya


Ilena pun mengikuti Putri Ayana dan Putri Ayana mengajak Ilena untuk duduk di salah satu paviliun yang ada di taman itu


"Tuang kan teh untuk ku," titah Putri Ayana pada Ilena


Dengan senyuman Ilena menuangkan teh ke cangkir Putri Ayana "Tiup untuk ku," perintah nya lagi


Ilena pun mulai meniup teh itu, kedua pelayan Ilena telihat sangat gelisah karena Nyonya mereka di perlakukan seprti itu oleh Putri Ayana


"Ini Yang Mulia," kata Ilena menyodorkan teh dingin itu pada Putri Ayana "Kau pelayan terbaik yang pernah ku temui," desis Putri Ayana dengan nada mengejek


"Jangan hanya karena kau di panggil Nyonya di Istana ini kau merasa dirimu itu istimewa ya," kata Putri Ayana


"Kau hanya pelayan rendahan yang ditiduri oleh Putra Mahkota untuk mengandung anak kami, ku harap kau tak lupa dimana tempat mu," sambung Putri Ayana untuk melukai hati Ilena


Ilena hanya menundukan wajah nya dan menerima hinaan-hinaan dari istri Putra Mahkota itu


"Kau lihat pas bunga mawar itu," kata Putri Ayana menunjuk ke arah pas bersar yang berisi mawar hidup tak jauh dari paviliun


"Iya Yang Mulia," jawab Ilena "Bawakan itu untuk ku," kata Ayana


Ilena menghela nafas membayangkan betapa berat nya pas bunga itu


"Tapi Yang Nulia saya..," kata Ilena terputus "Kau membantah ku!" desis Putri Ayana


"Yang Mulia biarkan saya yang melakukan nya Nyonya tak boleh mengangkat barang seberat itu," kata pelayan Ilena berlutut


"Aku tak butuh perkataan kalian," kata Putri Ayana


"Pelayan, lakukan perintah ku," kata Putri Ayana pada Ilena


Dengan berat hati Ilena pun beranjak dan menuju pas bunga itu


Benar saja pas bunga itu sangat berat, Ilena tak kuat jika harus mengangkat nya, terlebih lagi dengan perut besar nya


"Sabar ya sayang," kata Ilena mengelus perut nya. Lalu berusaha mengangkat pas berat itu


"Prangggggg..," pas bunga itu terjatuh


"Ilena, " teriak Putra Mahkota melompati pagar saat melihat tubuh mungil itu hampir tertimpa pas bunga


Mendengar teriakan kencang itu Putri Ayana terkejut dan menyadari siapa yang datang.Ilena hanya diam merasakan nyeri di tangan nya


"Nyonya" kedua pelayan Ilena dan pelayan lain nya juga berlari ke arah Ilena


"Kau tak apa?" tanya Putra Mahkota takut dan merasa khawatir pada ibu hamil itu


"Sakit..," adu Ilena hampir menangis "Dimana yang sakit sayang?" tanya Putra Mahkota


"Ini," kata irene menunjukan telapak tangan nya yang berdarah terkena pecahan pas


Putra Mahkota melepas dasi nya lalu mengikatkan dasi nya di luka itu untuk menghentikan pendarahan nya


"Tak ada yang sakit lagi?" tanya Neron "Ya tak ada lagi," jawab Ilena


"Kau serius?" tanya Putra Mahkota khawatir, Ilena menganggukan kepala nya


"Siapa yang mengizinkan ibu hamil ini mengangkat pas seberat itu!" teriak Putra Mahkota penuh amarah


Muka Pustri Ayana seketika menjadi pucat karena takut. Semua pelayan menunduk karena takut pada amarah Putra Mahkota


"Putri Ayana yang memaksa Nyonya Yang Mulia," lirih pelayan Ilena sambil menangis


"Aku yang akan membunuh mu jika terjadi hal buruk pada nya!" bisik Putra Mahkota


"Yang Mulia," kata Ayana terkejut


"Pastikan ini kali terakhir kau melakukan hal ini, jika terjadi lagi aku tak akan segan memberi mu pelajaran," sambung Neron sambil menghempas tangan Ayana kasar


Putra Mahkota menarik tangan Ilean lalu menggandeng nya menuju kamar Ilena


"Yang Mulia semua orang memperhatikan kita," bisik Ilena "Langkahkan saja kaki mu, berhenti bicara," kata Neron


"Kau ada mulut kan!" kata Putra Mahkota tiba-tiba marah.l


"Kau bisa menolak perintah gila nya itu," sambung putra Neron


"Siapa aku?" gumam Ilena, sambil tersenyum untuk menutupi tangis nya


"Siapa aku yang bisa menolak perintah Putri Mahkota" sambung Ilena


Putra Mahkota menghela nafas nya kesal


"Jangan menangis.. Aku mohon" kata Putra Mahkota memeluk Ilena


"Jangan menangis," kata Putra Mahkota lalu mengecup punca kepala Ilena


"Jangan katakan jangan menangis, aku akan tambah menangis jika Yang Mulia mengatakan itu" gumam Ilena serius tapi terdengar sangat lucu


"Seperti itu?" kata Neron menahan tawa nya "Jangan tertawa," desis Ilena kesal "Baik lah" kata Putra Mahkota sambil membawa Ilena ke ranjang


Lalu Putra Mahkota mengobati luka di tangan Ilena


"Peluk aku," rengek Ilenab"Tidak mau," kata Putra Mahkota tapi langsung medekap tubuh Ilena


Kedua pelayan Ilena hanya tersenyum geli melihat kelakuan kedua orang itu lalu memutuskan untuk keluar kamar agar tak menganggu kedua nya


_________


Malam pun tiba, Ilena sedang berada di kamar Putra Mahkota karena Putra Mahkota akan membaca kan cerita untuk anak mereka malam ini


Putra Mahkota membacakan buku sambil mengelus perut Ilena sedangkan Ilena tak bisa memalingkan pandangan nya dari wajah tampan itu


"Berhenti memandang ku seperti itu" kata Neron mengusap lembut wajah Ilena "Aaa! " teriak Ilena manja


"Kenapa kau sangat manja sii," desis Putra Mahkota lalu mempererat pelukan nya pada tubuh Ilena


________


Pangeran Sean sedang mengetuk pintu kamar Ara tentu saja dengan cara menyelinap agar tak ketahuan siapapun


"Kenapa ini sudah sangat larut" kata Putri Ara pada Pangeran Sean "Biarkan aku masuk dulu," kata Pangeran Sean


"Ada apa?" ketus Ara, "seharian ini aku hanya memikirkan mu, aku juga tak bisa tidur karena memikirkan mu, ku fikir aku merindukan mu," kata Sean pada Ar dan sontak membuat Ara tertawa


"Kenapa kau sangat berlebihan" kata Putri Ara tertawa "Mungkin karena kau yang sudah bersemayang di hati ku," kata Pangeran Sean sambil menatap Putri Ara dalam


"Aku hampir saja terbang karena perkataan mu itu" desis Ara "Kalau begitu ayo terbang bersama ke surga" jawab Pangeran Sean


Pengeran Sean menarik tengkuk Putri Ara dan sekali lagi mengecup bibir itu dan sekali lagi Putri Ara terbuai dengan pria itu


Pangeran Sean melepas ciuman itu lalu mentap Putri Ara penuh arti


Lalu mengelap bibir Putri Ara yang terlihat bengakak dengan ibu jari nya


"Aku menginap disini ya," bisik Pangeran Sean "Kau sangat tidak sopan" desis Ara


Pangeran Sean hanya tersenyum lalu mengangkat rubuh Arabdan membawa nya ke ranjang "Ayo tidur," kata Pangeran Sean sambil memeluk tubuh itu


_______


Jangan lupa Vote ya biar semangat aku nya