Eclipse

Eclipse
Eclipse 8



~Apa kau percaya dengan ungkapan, 'Jika kau kehilangan seseorang maka hidup akan memberikanmu orang baru'?~


***


Bulan baru saja menutup pintu sebuah gedung yang baru ia kunjungi pertama kali seumur hidupnya. Sebenarnya ia sedikit bersyukur akan sikap Gamma tadi yang seakan mengacuhkannya sehingga ia tidak perlu berdebat dulu dengan cowok itu dan bisa langsung ke tempat ini. Gadis itu mengembuskan napas lega dengan hati yang penuh harap selepas keluar dari gedung tadi. Wajahnya sedikit berbinar, berbeda dengan saat pertama kali memasuki gedung yang sebenarnya ia sendiri memiliki rasa takut yang cukup besar sebelum memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Bulan dan membuatnya menghentikan langkah sejenak. Wajah berbinarnya tadi langsung berubah lesu membaca pesan yang baru masuk itu. Gadis itu memejamkan matanya sejenak sebelum kembali melangkah dengan kesal. Sepanjang perjalanan ia menendangi apa yang menjadi penghalang jalannya dan tak peduli dengan sakit yang ia rasakan di ujung kakinya. Embusan napas kesal terdengar darinya dan dering ponsel yang tiba-tiba masuk membuatnya semakin kesal.


"Kenapa muka lu kesel gitu?" tanya seseorang yang sedang melakukan panggilan video dengan Bulan itu.


"Motor gue nyasar," keluh Bulan dengan raut wajah yang terlihat semakin masam.


"Lah kok bisa?"


"Ya mana gue tahu, Nung. Udah gue tungguin lama tuh motor nggak sampe-sampe eh tau-tau malah nyasar. Gatau kapan bakal sampe. Dasar itu ekspedisi ngeselin banget. Gue udah tulis alamat bener juga," omel Bulan dengan kedua alis yang hampir tertaut. Gunung yang melihat gadisnya itu mengomel malah tertawa di seberang sana.


"Kok lu malah ketawa, sih? Lu tahu nggak kalo tuh motor nggak cepet sampe ke sini, yang ada gue terus-terusan jalan kaki. Atau nggak..." ucap Bulan terputus.


"Atau apa? Dianterin sama cowok yang itu lagi ya?" goda Gunung.


"Ih apa, sih! Males banget tahu dianterin dia. Gue udah kayak tahanan aja ditarik-tarik," gerutu Bulan seraya mendekatkan ponselnya ke mulut agar Gunung bisa mendengar jelas gerutuannya.


"Paling lu aja yang nakal sama dia. Toh dia anterin lu sampe selamat, kan?"


"Kok lu malah dukung dia, sih? Gue cewek lu, loh. Kalo gue kenapa-kenapa gimana? Tiba-tiba besok pagi lu bangun dan baca berita dengan judul, mahasiswi ITB tewas setelah diantarkan teman bejatnya. Gimana?"


"Ngaco lu. Kali aja dia suka sama lu. Itung-itung cari yang seiman," bisik Gunung dengan wajah sendu.


"Hey hey hey, lu ngomong apa, sih? Nggak ada pembahasan begini lagi. Kalo lu udah capek sama gue bilang aja, gue nggak apa-apa tapi tolong jangan jadiin hal itu alasan lagi." Nada Bulan lirih tapi masih terdengar oleh lawan bicaranya.


"Nggak gitu maksudnya, Bulan. Gue minta maaf," sesal Gunung. Bulan tak menjawab dan langsung mematikan sambungan secara sepihak. Maniknya terasa panas, bulir bening sudah mengantre untuk jatuh. Gadis itu melangkah seraya mendongakkan kepalanya agar bulir tadi tidak jadi jatuh. Ia mengembuskan napas pelan berusaha menurunkan deru napasnya yang semakin memburu.


Bulan sadar akan apa yang ia lakukan, atas apa yang sedang ia jalani selama ini. Sayangnya, ia tidak bisa semudah itu melepaskan. Ia juga percaya jika sungguh-sungguh dalam menjalani suatu hal, ia tidak akan pernah kecewa. Ah, lebih tepatnya ia berharap agar ia tidak pernah kecewa karena sebenarnya pemilik manik cokelat itu sudah bosan dengan rasa kecewa.


***


Gamma mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia masih mondar-mandir bak setrika yang sedang digosok. Padahal tadi ia sudah menguatkan dirinya sendiri untuk berani melakukan rencana yang sudah ia susun tapi tampaknya nyalinya tidak sebesar yang ia duga. Pengecut? Ya, Gamma memang pengecut menurut dirinya sendiri. Cowok itu menarik napas panjang sekali lagi untuk memantapkan dirinya. Ini kesempatan yang harus ia lakukan sebaik mungkin karena di rumah sedang tidak ada Papa, Mama, atau pun Alula.


Gamma mengetuk pintu putih di hadapannya. Sebenarnya ia tidak berharap banyak pintu itu akan dibuka mengingat Bi Min dan Bang Mamang biasanya mengetuk sambil memanggil nama seseorang di kamar ini, berbeda dengannya. Namun tak disangka, seorang gadis membukanya perlahan. Maniknya menatap datar manik hitam milik Gamma.


"Abang boleh masuk?" tanya Gamma lembut. Tak ada jawaban tapi pintu kamar dibuat terbuka oleh gadis itu. Itu artinya Gamma boleh masuk. Pemilik manik hitam itu melangkahkan kakinya memasuki kamar dengan nuansa biru. Maniknya menangkap beberapa kertas hvs yang tercecer di lantai dengan sebuah laptop hitam di tengahnya.


"Lu sibuk?" Gamma berdeham sebentar sebelum pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Namun, gadis tadi hanya menggeleng dan memilih kembali duduk di depan laptopnya.


"Gue minta maaf."


"Apa yang salah dan apa yang perlu dimaafin?" Suara serak Gemi membuat Gamma yang sedari tadi berdiri di belakang gadis itu kaku tiba-tiba.


"Nggak seharusnya perasaan itu masih ada," cicit Gamma.


"Memang. Tapi nyatanya apa bisa perasaan itu hilang dalam sekejap hanya karena sebuah permintaan maaf?" Gadis dengan rambut cokelat itu berhenti melakukan kegiatannya. Namun, masih tetap pada posisinya, membelakangi Gamma.


"Sekali lagi gue tanya sama Abang, selama ini Abang punya cewek sebagai pelarian?" Suaranya rendah tapi sukses membuat Gamma terpaku di tempatnya.


"Abang nggak jawab, berarti iya."


"Gue punya alasan." Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut cowok bernama Gamma itu.


"Karena masih suka sama gue kan, Bang? Iya?" Pertanyaan telak itu membuat Gamma menghela napasnya. Kenapa ruangan ini terasa lebih panas sekarang? Apa gadis ini mematikan AC? Tampaknya tidak. Namun, kenapa Gamma jadi banyak berkeringat seperti ini?


"Bayangin kalo seandainya yang dimainin itu gue, Bang. Abang sadar nggak, sih?" Suara gadis itu meninggi. Bahkan, sekarang ia sudah berdiri di hadapan Gamma.


"Dengerin Abang," mohon Gamma.


"Apa?"


"Iya makanya dengerin Abang!" Gamma kembali memohon hingga membuat gadis tadi diam.


"Abang sudah bilang sama mereka kalo Abang bisa aja nyakitin mereka. Abang udah kasih semua konsekuesinya, Abang udah bilang semuanya. Terus lu nyalahin Abang seutuhnya? Kalo mereka tahu mereka bakal sakit, seharusnya mereka nggak pernah terima Abang. Abang bilang kok kalo Abang masih berusaha lupain seseorang." Gadis di hadapan cowok itu menelan salivanya susah. Ia tercekat, lidahnya kelu, tak bisa mengucapkan sesuatu.


"Jadi tolong jangan salahin Abang sepenuhnya. Abang berusaha hapus semua itu dan maaf kalo Abang masih suka buat puisi itu. Cuman itu yang bisa bikin Abang tenang, maaf." Gadis di hadapan Gamma itu meneteskan air matanya sebelum jatuh di pelukan Gamma. Gamma terperenjat tapi ia memilih membalas pelukan itu. Menyalurkan rasa hangat agar gadis itu tenang.


"Maafin Gemi, Bang. Maaf. Gue kira Abang jahat sama mereka," sesal Gemi.


"Gimana bisa Abang nyakitin cewek saat Abang masih punya perasaan ke cewek dan punya adik cewek," ujar Gamma seraya mengusap puncak kepala gadis di pelukannya itu.


"Bang," panggil Gemi seraya menyembulkan wajahnya di antara dada bidang Gamma. Gamma hanya mengangkat sebelah alis tanpa mengurai pelukannya.


"Gue mau es krim, pergi yuk!" ajak Gemi.


"Kan nggak ada mama," balas gadis itu dengan cengiran konyolnya.


"Oh iya juga. Ya udah ayok Abang tunggu di bawah." Gadis itu mengangguk cepat. Gamma segera keluar dari kamar yang dengan penuh warna biru itu. Ia melangkahkan kakinya ke kamar sebelah, mengambil sebuah hoodie merah di lemari dan kunci mobil. Kemudian, kakinya melangkah menjauhi kamarnya.


"Jangan lama-lama, Gem!" teriak Gamma seraya menuruni tangga. Sesungguhnya Gamma masih tidak percaya Gemi mau memaafkannya.


***


Sinar rembulan menyinari gadis yang memiliki nama sama dengan benda langit yang terlihat cukup menawan malam ini. Jujur saja, ia sudah lelah melangkahkan kakinya mengelilingi kota Bandung, keluar masuk tempat-tempat yang kiranya akan menerimanya sebagai salah satu pegawai paruh waktu di tempat mereka. Namun, hingga kakinya sudah terasa berotot saja masih tidak ada yang menerimanya dengan berbagai macam alasan. Salah satu alasan konyol yang paling ia ingat adalah mahasiswi ITB sudah sibuk dengan akademik mereka yang berat, susah jika bekerja. Katanya, lebih baik mengajar anak-anak saja, lumayan dapat upah. Sayangnya, Bulan akan tetap lebih memilih untuk keliling kota Bandung saja mencari pekerjaan lain daripada mengajar anak-anak.


Bulan mendongakkan kepalanya, menatap langit malam kota Bandung yang masih terlihat indah dan tidak pernah gagal membuatnya takjub. Ia memejamkan matanya sejenak hingga bunyi klakson membuyarkannya. Gadis itu membuka matanya dan menoleh ke arah kanan. Maniknya terbelalak melihat sebuah motor hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.


"Heh lu liat-liat dong kalo naik motor! Masa orang segede gaban gini mau lu tabrak?" sungut Bulan menatap tajam cowok yang menggunakan helm fullface-nya itu.


"Udah ayo naik!"


"Naik-naik jidat lu itu? Lu mau culik gue, ya?" bentak Bulan sebelum dihujani klakson dari pengendara yang lain karena posisi kedua insan yang sedang berseteru itu terbilang cukup menutupi jalan. Akhirnya, Bulan mengalah dan segera naik ke motor cowok yang tak ia kenal itu.


Motor merah itu berhenti di sebuah kafe. Bulan masih tetap di posisinya karena ia tidak ingin tiba-tiba saja ditinggal di depan sebuah kafe yang ia sendiri kurang tahu itu di mana. Pengemudi motor yang tadi hampir saja menabrak Bulan itu turun susah payah dalam posisi Bulan yang masih duduk di jok penumpang. Bulan memutar bola matanya karena merasa tidak nyaman, ia menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"Lu nggak mau turun?" tanya cowok yang sedang membuka helmnya itu.


"Lah, lu?" pekik Bulan sesaat menyadari siapa yang sedari tadi memboncengnya.


"Bulan, kan?" tanya Langit memastikan. Gadis itu mengangguk dan segera turun dari motor merah milik Langit.


"Sorry ya perihal tadi. Yuk masuk!" ajak Langit. Bulan menurut dan memilih membuntuti cowok itu.


"Kenapa jalannya di belakang? Emang lu buntut gue?" tanya Langit di akhiri tawa renyah. Bulan tersenyum kikuk tapi tetap saja berjalan di belakang Langit. Keduanya memilih duduk di dekat jendela.


"Lu mau apa?" tawar Langit.


"Matcha ada, nggak?" Langit mengangguk seraya memanggil pelayan.


"Matcha sama mocha masing-masing satu, Mbak."


"Jadi kenapa tadi jalan sambil ngedongak? Nyari mati?" tanya Langit setelah pelayan tadi menjauhi meja keduanya.


"Nggak, lah. Gila aja, gue lagi liat langit," aku Bulan.


"Liat gue?" tanya Langit sambil terkekeh.


"Dih," timpal Bulan dengan wajah jijik.


"Kok lu inget sama gue, Kak?" selidik gadis yang sedang membenarkan ikatan rambutnya itu.


"Langit aja. Gue nggak suka ada embel-embel di depannya. Padahal gue mahasiswa FTTM, teknik geofisika. Biasanya adik tingkat FTTM kalo manggil kakak tingkat harus ada embel-embel Abang ke kating cowoknya. Gue nggak suka padahal," ujarnya. Bulan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Lu fakultas apa? Maba, kan? Gue nggak pernah sadar selama ini ada lu. Padahal gue sering loh terlibat dalam pengenalan kampus kemarin."


"Iya, Gue FMIPA. Maklum gue tersembunyi jadi susah ditemuinnya." Langit manggut-manggut mendengar jawaban Bulan. Maniknya beralih pada pelayan yang datang dan meletakkan pesanan keduanya di meja lalu pergi.


"Lu liat cicak di sana, nggak?" tanya Langit seraya menunjuk salah satu sudut ruangan setelah keduanya diam beberapa saat.


"Iya. Kenapa?"


"Gue bingung, kenapa sih cicak itu mutusin ekornya tiba-tiba? Padahal kan bisa dibicarain baik-baik," ujarnya tanpa dosa. Bulan tersenyum gemas mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan cowok yang bisa-bisanya memasang wajah serius itu.


"Ternyata lu receh juga ya. Kirain lu tuh cowok dingin yang nggak banyak bacot atau playboy gitu," sindir Bulan.


"Ya ampun, gue udah dapet impresi buruk aja dari maba. Gue juga penasaran, apa kalo gigi kita dicabut kita bakal jadi matic ya?" ujar Langit seakan tanpa beban.


"Hahahaha. Lu liat tuh kaktus di jendela ikutan ketawa gara-gara lu," ucap Bulan di tengah tawanya.


"Tanaman emang bisa mengerti kita, kok. Bisa ketawa bareng, nangis bareng, sedih bareng, bukan cuman hewan kayak kucing dan semacamnya," celetuk Langit dengan senyum tipis.


"Lu suka tanaman ya?"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita