
~Terkadang membiarkan orang lain menghalangi sinar kita bisa membantu semesta memvisualisasikan keindahannya~
***
Gamma meraih jaket yang ia gantung di dekat pintu kamar lalu menyambar kunci motor yang ada di nakasnya. Pemilik manik hitam itu segera meninggalkan kamarnya dan melangkah menuruni tangga. Ia langsung mendekati motornya sesaat berhasil menutup kembali pintu rumah di belakangnya.
"Aa' mau ke mana?" tanya Bang Mamang yang sedang membersihkan garasi itu.
"Ke rumah temen, Bang."
"Loh, kok udah mau pergi aja? Kan baru pulang tadi, lho. Mau Bang Mamang anter aja? Dijamin aman," tawar pria setengah baya itu. Gamma tersenyum tipis.
"Nggak, Bang. Abang mah kayak yang nggak kenal Gamma aja. Ya, nggak?" ujar Gamma meyakinkan sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya juga, sih. Yaudah hati-hati, A'. Jangan lupa kalo ada apa-apa segera hubungi," pesan pria yang Gamma sebut dengan panggilan Bang Mamang itu.
"Siap, Bang! Pake helm dulu, yak?" ujar Gamma sambil memasangkan helm itu.
"Iya lah. Masak nggak pake helm. Ada-ada aja A'."
"Haha. Yaudah Gamma berangkat," pamit pemilik manik hitam itu seraya melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah dengan cat abu-abu itu.
Raut wajah Gamma berubah saat melewati tikungan pertama di dekat rumahnya. Rupanya Gamma masih ingat caranya memakai topeng, berpura-pura bahagia memang adalah pilihan terbaik untuknya. Tidak ada gunanya ia menangis, menyebut dirinya hancur saat semua orang masih mencoba membuatnya bangkit. Padahal ia sendiri tahu dirinya tidak semudah itu untuk dibangkitan hanya dengan seuntai kalimat yang mungkin saja tidak diucapkan dengan tulus. Sehingga Gamma lebih memilih untuk berpura-pura baik-baik saja agar mereka berhenti mengucapkan semangat dan kalimat motivasi untuknya yang malah terdengar munafik. Walau terkadang ia juga sadar berpura-pura adalah cara terbaik untuk melukai dan menikmati luka.
Gamma turun dari motornya dan segera melangkahkan kakinya mendekati area penjagaan. Setelah berhasil memenuhi apa yang memang harus ia penuhi, cowok itu duduk di sebuah ruang tunggu yang terasa dingin baginya. Aroma aneh menguar dan memenuhi indra penciumannya. Seseorang yang sudah lama tidak ia lihat wajahnya itu masuk ke ruangan yang sama diantar oleh petugas. Pria itu menatap Gamma dengan langkahnya yang bergetar mendekati sang pemilik manik hitam yang juga menatapnya. Keduanya duduk berhadapan.
Masih hening sejak sepuluh menit keduanya berada di ruangan yang terasa dingin itu. Gamma tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan ini. Ia tidak memiliki banyak waktu tapi ia juga merasa seakan lidahnya mendadak kelu. Sempat terlintas ia ingin pulang saja dan membatalkan semuanya tapi ia sadar sudah sejauh ini.
"Apa kabar?" tanya pria yang mulai membuka percakapan itu. Gamma mendongak dan menatap manik pria itu.
"Nggak tahu. Papa?" tanya Gamma yang langsung membuat lawan bicaranya itu terkejut bukan main. Sebulir air mata tanpa sadar menuruni pelupuk Tomi.
"Papa? Aku tidak salah dengar, kan?" Gamma menggeleng sebagai jawaban.
"Iya, Papa. Gamma sudah tahu semuanya. Papa kenapa nggak bilang dari awal? Kenapa nggak bilang kalo Gamma anak kandung Papa?" tanya Gamma setengah tercekat.
"Ternyata kamu sudah tahu, ya? Ya itu karena Papa sadar kamu nggak akan nerima Papa dan itu bukan waktu yang tepat untuk memberi tahukan kenyataannya," jawab Tomi dengan tatapan menerawang.
"Termasuk kenyataan kalo Gamma anak haram maksudnya?" tanya Gamma lirih dan langsung mendapat tatapan dalam dari lawan bicaranya itu.
"Siapa yang bilang itu? Itu tidak benar, Nak."
"Kenapa tidak benar? Mama Novi selingkuh, kan?"
"Papa minta maaf sama kamu. Papa sangat berterima kasih kamu udah mau nganggep Papa sebagai ayahmu. Tapi," ucap Tomi terputus.
"Tapi apa? Papa dan Mama nggak sengaja melakukan itu? Iya, kan?" seru Gamma yang mulai merasakan panas di hatinya itu.
"Kami memang selingkuh tapi kami sempat nikah siri dan melakukan semua itu setelah kami menikah," papar Tomi membuat Gamma terkejut bukan main.
"Jadi?"
***
Bulan berdecak saat panggilannya kembali berakhir pada suara lembut operator. Ia mengembuskan napas lelah karena sudah berkali-kali mengunjungi gedung-gedung yang biasanya mata kuliah jurusan teknik geofisika diadakan. Namun, ia tak kunjung menemukan laki-laki yang sedang ia cari. Ia kembali menempelkan ponsel di telinga kirinya tapi tetap saja berakhir pada suara lembut operator. Gadis itu memilih untuk menuju salah satu tempat parkir di kampusnya, berharap menemukan motor Langit di sana. Langit sore seakan sedang menemani langkahnya yang terasa menyebalkan karena baru saja ia sampai di salah satu termpat parkir tapi tetap tidak menemukan motor merah milik Langit. Bahkan, gadis itu sudah memasang mata elangnya. Namun, gadis berambut cokelat itu tidak mau menyerah begitu saja. Ia bergegas menuju tempat parkir lain di kampusnya walau jaraknya kali ini cukup jauh.
Bulan benapas lega saat sebuah motor yang sedari tadi ia cari akhirnya berada di depan matanya. Tanpa pikir panjang, Bulan mendekati motor itu dan bersandar padanya. Ia akan menunggu, tidak peduli seberapa lamanya. Kali ini, semesta seakan sedang mendukungnya. Pemilik motor yang sedang disandari Bulan itu tiba-tiba memasuki area parkiran dan mendekati Bulan. Gadis dengan netra cokelat itu langsung memasang senyum indahnya berharap Langit juga menyambutnya dengan senyuman.
"Minggir," ucap Langit, dingin hingga membuat senyum Bulan langsung pudar.
"Gue mau ngomong sebentar," balas Bulan tanpa berniat menggeser tubuhnya. Langit mendengkus dan memilih diam menatap gadis di hadapannya seakan memberi gadis itu waktu.
"Gue mau minta maaf karena akhir-akhir ini gue sering nggak dateng kerja," tutur Bulan. Langit tersenyum sekilas sambil merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Laki-laki pemilik manik cokelat itu memainkan ponselnya membuat Bulan menatapnya bingung karena merasa diabaikan.
"Lang, lu dengerin gue nggak, sih?" tegur Bulan.
"Gue udah transfer gaji lu yang pertama dan terakhir," ucap Langit seraya menunjukkan layar ponselnya yang berisi bukti pembayaran ke hadapan Bulan.
"Lu nggak perlu kerja lagi di butik gue," ucap Langit terasa sangat dingin.
"Tapi Lang, gue beneran minta maaf kalo sela–"
"Lu bisa kerja di Butik Indah, pemiliknya juga baik. Butik itu sering kerja sama dengan butik gue, kemarin gue tahu mereka cari orang baru. Kebetulan gue kenal juga sama pemiliknya. Jadi nanti gue tinggal bilang dan lu bisa kerja di sana," jelas Langit.
"Tapi, Lang..."
"Oh iya, masalah alamat butiknya nanti gue kirim lewat chat. Urusan udah selesai, kan? Jadi minggir," pungkas Langit dan menggeser paksa tubuh gadis yang masih mencerna kalimat Langit tadi. Pemilik manik cokelat itu segera memundurkan motornya dan meninggalkan area parkiran.
Bulan menatap kepergian Langit dengan nanar. Memang apa yang sudah Bulan lakukan hingga membuat laki-laki itu seperti ini? Bulan mengambil ponselnya dan melihat ada notifikasi sejumlah uang beberapa menit lalu masuk ke rekeningnya. Langit benar-benar melakukan itu. Seakan tak sadar, Bulan luruh dan terduduk di tempat Langit memarkirkan motornya tadi. Pikirannya melayang mencoba mengingat apa yang membuat Langit menjadi semarah ini padanya. Sayangnya, ia belum menemukan jawaban pasti karena hal itu hanya Langit yang tahu. Bulan menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk bangkit setelah entah berapa lama ia berkelana bersama pikirannya hingga sebuah notifikasi kembali masuk ke ponselnya. Langit baru saja mengiriminya lokasi sebuah butik.
***
Langit melangkahkan kakinya menapaki anak tangga setelah memarkirkan motornya. Tampaknya ada orang lain di tempat ini dan sepertinya ia juga tahu siapa orang itu. Ia mengembuskan napas berat setelah berhasil berada di lantai paling atas gedung itu dan benar saja dugaannya. Seseorang yang sedang menatap langit senja itu seakan tidak terganggu akan kedatangan Langit. Langit melangkah pelan mendekati laki-laki yang seakan tenggelam bersama senja yang ia tatap. Wajah kokohnya terlihat lebih indah ketika diterpa sinar senja. Langit ikut menatap apa yang sedang laki-laki itu tatap. Tidak ada sepatah kata pun, hanya suara kendaraan yang menjadi pengisi suara di antara keduanya. Langit berdeham sebelum memilih menatap laki-laki yang masih enggan membuka bibirnya itu.
"Kenapa suka ke sini?" tanya Langit berusaha membuka percakapan.
Gamma mendengkus. "Bukan urusan lu," balasnya dingin.
Langit menarik napasnya dalam, berusaha terbiasa dengan sikap Gamma. Ia kembali menatap langit sore. Langit mengakui bahwa pemandangan dari rooftop gedung ini memang sangat indah. Pantas saja laki-laki pemilik manik hitam yang berada di sampingnya itu sangat betah berada di sini. Ya walaupun sebenarnya Langit tidak pernah tahu pasti alasan yang sebenarnya. Ia melirik Gamma yang sedang merogoh sakunya dan membuka sebungkus permen karet.
"Mau?" tanya Gamma singkat sambil menyodorkan sebungkus permen karet. Sebenarnya Langit tidak menyukai permen yang tidak dapat ia telan itu tapi Langit memilih meraihnya dan memakannya.
"Makasih."
"Suka gedung ini, suka permen karet, suka apa lagi?" tanya Langit yang masih berusaha.
"Suka sendiri."
"Ah maaf kalo lu terganggu. Gue baru tahu," ujar Langit tapi masih diam di tempatnya.
"Gue nggak bakal maksa apa yang bukan milik gue untuk tetep sama gue," tutur Langit membuat Gamma menoleh, menatap sisi samping wajah Langit yang belum pernah ia tatap sedekat itu.
"Bukannya kebalik?" tanya Gamma. Langit menggeleng kemudian tersenyum tipis.
"Seseorang yang nggak pernah mengakui gue sebagai miliknya, berarti gue bukan milik dia." Gamma tercekat mendengar kalimat itu. Ia mengalihkan pandangannya pada langit senja yang semakin gelap.
"Lu berhak buat dapetin apa yang memang seharusnya jadi milik lu. Bukan karena seseorang tidak mengakui lu sebagai miliknya tapi kalo emang lu milik dia, lu selamanya akan tetap jadi milik dia." Hening sejenak menyelimuti keduanya.
"Lu udah lewatin masa-masa berat itu. Lu bahkan udah berjuang sekuat tenaga untuk dapetin hak lu. Jadi, untuk alasan apa lu ngerelain hal itu begitu aja? Emang lu pengecut?" ucap Gamma pelan. Langit mendengkus.
"Ya. Gue pengecut. Sepengecut pria yang bunuh orang tua orang lain cuman untuk dapet kebahagiaannya sendiri, kan?" Gamma diam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
"Atau sepengecut gue yang baru berniat merebut dia setelah kehilangan nyokap?"
"Merebut itu punya kata dasar rebut, yang artinya mengambil dengan paksa milik orang lain. Dia bukan punya orang lain, dia punya lu."
"Gue rela kok, Gam. Gue rela kalo seandainya dia milih untuk tinggal sama lu. Gue rela kalo seandainya gue yang harus kembali sendiri. Gue juga rela buat nggak dia anggep anak," lirih Langit membuat Gamma menoleh pelan.
"Lagi pula ini bukan hanya tentang Dandi," lanjut Langit membalas tatapan Gamma.
"Maksud lu?"
"Lu ngerti maksud gue," tutup Langit sambil menepuk pelan pundak Gamma dan melangkah meninggalkan Gamma dengan beribu pertanyaan di otaknya itu.
***
Terima kasih sudah membaca:)
Tertanda,
Bungkus permen karet Gamma
vinsinurlita