Eclipse

Eclipse
Prolog



Masih tentang gelap dan terang yang terasa samar


Masih tentang bilur yang masih terasa perih


Namun aku tak lagi peduli dengan fajar dan senja, baik nama maupun ilusi keduanya


Untuk sekarang, aku bosan menulis tentang patah tapi aku juga bodoh tentang tawa


Aku hanya ingin bertanya,


Untuk apa membunuh perasaan yang sudah tumbuh?


Apa dengan membunuhnya semua akan menjadi seperti yang kau inginkan?


Aku pikir tidak.


Atau mungkin kau punya jawaban lain?


Mungkin kau bisa membunuhnya tapi apa kau bisa memastikan bahwa kau benar-benar bisa membunuhnya?


Tanpa ada rasa sedikit pun lagi yang tak seharusnya kau miliki itu.


Maaf, aku terlalu banyak bertanya.


Karena aku hanya ingin memastikan.


Karena jika kau memang benar-benar bisa, katakan padaku!


Tolong, ajari aku melakukannya!


Sekarang!


***


Embusan angin masuk melalui jendela di samping laki-laki yang sedang menenggak kopi yang sudah tersisa setengah. Maniknya beralih menatap keluar jendela, angin tadi meniup anak rambutnya yang terurai. Angin sore memang tidak pernah gagal membuatnya berkelana bersama pikiran yang entah muncul dari mana. Tidak, ia tidak menginginkan pikiran itu untuk kembali memenuhi otaknya. Namun sayangnya, daun yang tertiup angin pun mampu mengalahkan dirinya. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi. Lelah? Mungkin ya tapi rupanya masih asyik untuk dinikmati. Bahkan, hiruk pikuk kendaraan yang masih terdengar hingga ke dalam kafe tidak mengusik laki-laki dengan manik hitam itu. Pikirannya masih tertuju pada ingatan yang mengoyak hatinya secara tiba-tiba. Memang tidak ada salahnya perasaan rindu itu muncul. Namun sayangnya, perasaan itu harusnya sudah sirna bersama waktu yang bahkan sudah lelah menemani laki-laki yang entah kapan akan benar-benar bangkit dari lembah dusta yang ia buat sendiri itu.


"Hei, udah. Ayok!" Pemilik manik hitam itu melepaskan pandangan dari jendela tempatnya melihat apa yang berhasil membuat pikirannya melayang begitu saja.


"Oh udah? Bentar ya gue bayar dulu," balas Gamma dan segera bangkit. Embusan napas terdengar darinya bersamaan dengan langkah kakinya menuju kasir. Ia memejamkan matanya sejenak ketika wanita di balik meja kasir itu menghitung pesanannya.


"Semuanya 156 ribu, Kak." Gamma hanya diam seraya menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Terima kasih." Laki-laki itu hanya kembali tersenyum tipis seraya mengambil kembalian dan berbalik untuk menemui gadis yang tadi berhasil membuyarkan lamunannya.


"Mau ke mana lagi Tuan Putri?" tanya Gamma dengan senyum yang terlukis di wajahnya.


"Pengen ke toko buku, buat cari alat tulis yang lucu-lucu. Stok di rumah hampir habis," balas gadis yang sedang merapikan barang-barang di meja yang sempat menjadi tempatnya makan tadi.


"Ngapain harus ke toko buku buat cari yang lucu-lucu? Emang yang di depan lu belum cukup lucu?" goda Gamma seraya meraih jaket yang ia sampirkan di kursi tempatnya duduk.


"Dih, pede banget, sih. Boleh ya ke toko buku? Bentar aja, janji."


"Ah oke. Inget, jangan kalap nanti di sana," sindir Gamma yang sudah kembali memakai jaketnya dan mulai melangkahkan kakinya menjauhi meja tadi, diikuti gadis cantik yang sejak tadi berbicara dengannya.


"Hmm, iya. Makasih udah ngingetin buat nabung," sahut gadis berambut hitam dengan senyum yang membuat matanya kian menyipit. Gamma ikut menyipitkan matanya untuk mempertajam pandangannya sebelum mengangkat sebelah bibirnya. Sedangkan tangan kanannya bergerak mengusap puncak kepala gadis tadi hingga membuatnya cemberut.


"Terus aja berantakin. Nyebelin!"


***


Terima kasih sudah membaca:)


Tertanda,


Bungkus permen karet Gamma


vinsinurlita